Chapter 9 of 16

Kotak Memori yang Terbuka

2.2k words

Arya menjatuhkan diri di sofa ruang tamu, pandangannya terpaku pada sketsa Kirana yang ia genggam erat. Setiap goresan pensil di sana, setiap garis wajah yang terlukis, terasa seperti tusukan baru ke ulu hatinya. Udara di apartemennya terasa sesak, dipenuhi bayangan Kirana yang menari-nari dalam ingatan. Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantung yang sejak tadi berpacu tak karuan. Tiba-tiba, bel pintu berbunyi nyaring, memecah keheningan yang menyesakkan. Arya tersentak, kelopak matanya mengerjap. Siapa yang datang? Dia tidak memesan apa pun. Dengan langkah gontai, ia menuju pintu, membuka sedikit celah, dan melihat seorang kurir berdiri di ambang. "Pak Arya Daniswara?" suara kurir itu terdengar lugas. Arya mengangguk, dahi berkerut. Sebuah paket berukuran sedang disodorkan kepadanya. Kardusnya polos, tanpa logo pengirim, hanya tertera alamat tujuannya dengan tulisan tangan yang rapi dan feminin. Jantungnya berdesir aneh. Tulisan itu... terasa familiar. "Tanda tangan di sini, Pak," kata kurir, menunjuk kolom di perangkatnya. Tangannya sedikit gemetar saat meraih pena. Setelah formalitas selesai, Arya membawa paket itu masuk, menutup pintu dengan pelan. Ia meletakkan kardus itu di meja kopi, menatapnya curiga. Dari siapa? Kenapa? Firasat aneh merayapi dadanya, sesuatu yang dingin sekaligus menghangatkan. Aroma samar bunga lavender seolah ikut terbawa dari paket itu, menyeruak lembut di indranya. Ia mengambil gunting dari laci dapur, kembali ke meja. Jemarinya menarik perlahan solatip bening yang merekatkan kardus, seolah takut akan apa yang akan ditemukannya di dalam. Setiap gerakan terasa sengaja diperlambat, menambah ketegangan yang sudah memuncak. Ketika tutup kardus terangkat, lapisan kertas tisu berwarna krem menyambut matanya. Aroma lavender menjadi lebih pekat, menusuk hidung Arya, memicu ingatan akan Kirana yang selalu menyukai wewangian itu. Skarf rajutan Kirana yang ditemukan sebelumnya juga berbau lavender. Ada koneksi. Dengan hati-hati, Arya menyibakkan kertas tisu. Di bawahnya, sebuah kotak kayu kecil tersembunyi, berukuran sekitar dua puluh kali lima belas sentimeter. Kotak itu tampak tua, permukaannya halus, dengan ukiran bunga mawar di bagian atasnya. Jantung Arya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya. Ini bukan sembarang kotak. Ini pasti milik Kirana. Pikirannya langsung melayang. Kirana selalu menyimpan barang-barang kecil yang berarti baginya. Kotak-kotak kecil, album foto mini, jurnal. Ini persis seperti sesuatu yang akan dia miliki. Rasa penasaran bercampur takut membanjiri Arya. Takut akan apa yang akan ia temukan, takut akan kebenaran yang mungkin akan diungkap. Ia mengangkat kotak kayu itu. Beratnya pas di tangannya, memberikan kesan solid. Permukaan kayu yang sedikit usang terasa dingin di telapak tangannya. Matanya memicing, membaca tulisan kecil yang terukir di sisi samping: Kotak Memori Kita. Suara napas Arya tercekat, udara kosong terasa menyesakkan paru-parunya. Kotak kayu itu terasa seperti sebuah artefak dari masa lalu yang terkubur. Arya memutar-mutarnya perlahan, merasakan setiap lekuk ukiran bunga mawar di penutupnya. Tangannya gemetar samar, jantungnya memukul-mukul lebih kencang dari biasanya. Kotak Memori Kita. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, menggema dengan nada penyesalan. Kirana selalu detail, selalu sentimental, dan dia… dia selalu abai. Arya meletakkan kotak itu di meja, mengambil napas dalam-dalam. Dia tidak yakin dia siap untuk apa pun yang ada di dalamnya. Tetapi rasa ingin tahu, bercampur dengan kebutuhan menyakitkan untuk memahami, mendorongnya untuk membuka. Penutupnya bergeser mulus, tanpa suara derit. Aroma lavender yang kini bercampur dengan bau kertas lama dan sedikit kayu cendana langsung menyeruak, memenuhi ruang di sekelilingnya. Matanya membelalak. Di dalam kotak, tersusun rapi berbagai benda kecil yang familiar, namun juga terasa asing karena telah lama ia lupakan. Tumpukan surat-surat yang diikat dengan pita sutra berwarna marun terletak di bagian paling atas. Warna pita itu mengingatkannya pada skarf rajutan Kirana. Jemarinya bergerak sendiri, menyentuh kertas yang sedikit menguning itu. Di bawah tumpukan surat, terlihat beberapa lembar tiket bioskop bekas, potongan karcis konser, dan sehelai tiket masuk ke taman hiburan. Masing-masing memancarkan kilas balik singkat ke momen-momen yang pernah mereka bagi. Arya memejamkan mata sejenak. Tiket bioskop? Dia ingat Kirana selalu menyimpan tiket film yang mereka tonton bersama, menempelkannya di jurnalnya. Dia dulu menganggapnya kebiasaan aneh, kekanak-kanakan. Sekarang, rasanya seperti tamparan keras. Di antara tumpukan itu, terselip sebuah liontin perak berbentuk hati. Liontin itu tampak kusam, perlu dipoles. Arya mengangkatnya dengan hati-hati. Ini... ini liontin yang ia berikan pada Kirana saat ulang tahunnya yang ke-25. Ia ingat pernah mencarinya berhari-hari untuk menemukan desain yang unik, namun setelah memberikannya, ia tak pernah benar-benar menanyakannya lagi. Kirana memakainya setiap hari, ia tahu itu. Tapi setelah mereka putus, ia berasumsi liontin itu sudah dibuang atau tersimpan di dasar laci yang tak terjamah. Melihatnya di sini, di kotak memori ini, berarti Kirana menyimpannya. Bahkan setelah semua yang ia lakukan, setelah semua kata-kata kasar yang ia ucapkan, Kirana masih menyimpannya. Rasa bersalah menghantam Arya begitu kuat hingga napasnya tertahan di kerongkongan. Liontin itu terasa dingin di telapak tangannya, namun membakar jiwanya dengan bara penyesalan. Matanya kembali menatap isi kotak. Ada lagi. Sebuah bunga edelweis kering yang sudah pipih, tergeletak di samping liontin. Arya ingat. Itu bunga yang mereka petik diam-diam saat mendaki gunung. Kirana bersikeras menyimpannya, mengatakan itu adalah simbol cinta abadi mereka. Arya hanya tertawa kecil waktu itu, menganggapnya terlalu romantis. Sekarang, tawa itu terasa hampa, digantikan oleh kesedihan yang menusuk. Kotak itu bukan hanya berisi benda, melainkan kapsul waktu yang membuka kembali setiap adegan, setiap dialog, setiap sentuhan. Arya merasa seperti sedang menggali kuburan masa lalunya sendiri, dan setiap artefak yang ia temukan adalah sisa-sisa dari sesuatu yang begitu indah, yang ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Liontin perak itu masih ada di genggaman Arya, memancarkan kilau redup di bawah cahaya lampu. Jemarinya mengusap permukaannya yang kusam, seolah mencoba mengembalikan kilaunya yang pudar. Ia ingat Kirana selalu memakai liontin itu, bahkan saat tidur. “Ini pengingat kalau kamu selalu ada di sini, Mas,” bisik Kirana dulu, menunjuk dadanya, tepat di atas jantung. Arya dulu hanya tersenyum tipis, menganggapnya romantis berlebihan. Kini, kalimat itu terasa seperti pisau yang mengoyak. Ia meletakkan liontin itu perlahan, lalu beralih ke tumpukan surat yang terikat pita marun. Dengan napas tertahan, ia menarik salah satu surat yang paling atas. Amplopnya berwarna putih gading, dengan tulisan tangan Kirana yang rapi. Nama Arya tertulis di sana, lengkap dengan hiasan hati kecil di akhir huruf 'a'. Tangannya gemetar saat membuka lipatan kertas. Itu adalah surat yang Kirana tulis untuk ulang tahunnya yang ke-29. Arya ingat, ia hanya sempat membacanya sekilas karena terburu-buru pergi rapat. “Selamat ulang tahun, kesayanganku,” bunyi baris pertama. “Aku berharap kamu bahagia selalu, dan aku bisa terus mendampingimu melewati setiap musim.” Mata Arya memanas. Ia tidak pernah benar-benar mencerna kedalaman setiap kalimat itu. Ia terlalu sibuk, terlalu fokus pada pekerjaannya, pada target-target yang tak berujung. Kirana adalah prioritas terakhir, yang paling mudah diabaikan. Dan kini, setiap kata yang ia baca terasa seperti vonis, hukuman atas kebodohannya. Di bawah surat itu, ada setumpuk kecil potongan kertas berwarna-warni. Arya mengenalinya. Itu adalah love notes yang Kirana selipkan di kotak bekal makan siangnya, di dompetnya, atau di saku jaketnya setiap pagi. “Semangat kerjanya, Mas! Jangan lupa makan siang, ya. Love you!” Atau, “Pulang jangan terlalu malam, aku kangen.” Arya dulu sering membuangnya setelah membaca, atau hanya menyimpannya asal-asalan. Ia tak pernah berpikir Kirana akan menyimpan setiap remah kecil dari perhatiannya. Setiap love note itu kini membanjiri Arya dengan gelombang rasa bersalah yang tak tertahankan. Ini bukan hanya potongan kertas. Ini adalah bukti nyata betapa Kirana telah mencoba mengisi kekosongan hatinya dengan cinta dan perhatian yang konsisten, sementara Arya hanya menerimanya begitu saja, menganggapnya sebagai hak. Ia menggeser tangannya, menyentuh sehelai tiket konser musik indie yang mereka tonton di sebuah kafe kecil. Tanggalnya terpampang jelas: tiga tahun lalu, malam minggu terakhir sebelum Arya harus pergi dinas ke luar kota selama sebulan. Kirana bersikeras ingin menghabiskan malam itu bersamanya, menemaninya mendengarkan band favoritnya, bahkan rela berdiri berdesakan di tengah kerumunan. Arya bahkan lupa detailnya. Ia hanya ingat merasa lelah dan ingin segera pulang. Kirana, dengan senyumnya yang sabar, tak pernah mengeluh. Dia hanya memeluk lengannya erat, menyandarkan kepala di bahu Arya, menikmati setiap nada yang mengalun. Rasa pahit merayapi lidahnya. Betapa butanya ia dulu. Liontin, surat, love notes, tiket konser... semua ini adalah serpihan mozaik dari hubungan mereka, yang Kirana simpan dengan begitu hati-hati, seperti harta karun. Sementara Arya, ia hanya menyimpan kenangan buram, samar, dan bahkan melupakannya. Kotak memori itu bukan hanya berisi benda, melainkan cermin yang memantulkan betapa egoisnya Arya, betapa tidak adilnya ia pada wanita yang paling mencintainya. Perutnya terasa mual. Ia mencengkeram tepi kotak, seolah butuh sesuatu untuk berpegangan agar tidak limbung. Setiap benda adalah ingatan, dan setiap ingatan adalah penyesalan yang baru. Ia melihat tangannya gemetar hebat. Udara di sekelilingnya terasa semakin tipis, dan Arya merasa seperti tenggelam di lautan kenangan yang ia sendiri ciptakan, namun tak pernah ia hargai. Tangan Arya bergetar hebat, jemarinya terasa dingin meskipun tubuhnya dipenuhi keringat dingin. Ia sudah menjelajahi setiap sudut kotak, membolak-balik setiap lembar kertas, setiap potongan tiket, setiap benda kecil yang dulu pernah menjadi bagian dari kisah mereka. Rasanya seperti menggali kuburan masa lalunya sendiri, dan setiap item adalah sisa-sisa dari sesuatu yang begitu indah, yang ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Semua kenangan itu, yang ia anggap remeh, yang ia lupakan begitu saja, kini membanjiri Arya dengan gelombang penyesalan yang tak tertahankan. Ia melihat bagaimana Kirana menjaga setiap detail kecil, merawatnya seperti permata tak ternilai. Sementara Arya, ia sibuk membangun dinding tebal di antara mereka, menganggap semua itu sebagai gangguan dari ambisi pribadinya. Kotak itu hampir kosong, hanya menyisakan dasar kayunya yang polos. Arya menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih memacu tak beraturan. Ia pikir sudah tidak ada apa-apa lagi. Namun, ketika jemarinya menyapu dasar kotak, ia merasakan ada sesuatu yang terselip di celah tipis di bawah lapisan beludru. Alisnya terangkat, dahi berkerut. Dengan hati-hati, ia menusukkan ujung kukunya, menarik perlahan lapisan beludru itu. Sebuah celah tersembunyi terbuka, memperlihatkan selembar kertas yang terlipat rapi. Kertas itu tampak lebih baru dibandingkan surat-surat sebelumnya, warnanya masih putih bersih, belum menguning termakan usia. Arya menarik kertas itu keluar. Itu adalah surat. Sebuah surat terakhir. Tubuhnya menegang, semua indranya langsung siaga. Surat ini pasti berbeda. Tangannya gemetar saat ia membuka lipatan kertas itu, seolah sedang memegang bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Aroma lavender yang samar kembali tercium, kali ini lebih pekat, seolah membisikkan kehadiran Kirana langsung di sampingnya. Ia melihat tanda tangan di bagian bawah: Kirana. Kemudian, matanya menangkap tanggal yang tertera di sudut kanan atas: 15 Oktober. Tanggal itu menghantamnya seperti palu godam. Itu adalah hari terakhir mereka bertemu, hari di mana Kirana mengucapkan kalimat yang kini menghantuinya setiap malam: “Suatu hari nanti, kamu akan mencari sesuatu yang tidak pernah kamu hargai, Arya. Dan saat itu terjadi, aku tidak akan ada di sana.” Tenggorokan Arya terasa tercekat. Tangannya memegang surat itu dengan kaku, seolah takut akan apa yang akan ia baca. Ini bukan surat cinta biasa. Ini adalah sesuatu yang lain. Sebuah perpisahan, sebuah pernyataan, atau mungkin sebuah kutukan. Napasnya tertahan. Matanya menyusuri baris pertama, kata-kata yang terukir dengan tulisan tangan Kirana yang khas, kini terlihat lebih tegas, lebih dewasa, dan entah mengapa, lebih menyakitkan. Kalimat pembuka surat itu berbunyi: “Jika kamu membaca ini, itu berarti kamu akhirnya merasakan apa yang aku rasakan… kehampaan yang kamu ciptakan sendiri di ruang-ruang kosong apartemen kita.” Arya menghentikan embusan napasnya, menatap nanar barisan kata tersebut. Setiap huruf yang tergores di atas kertas putih itu terasa begitu hidup, seolah suara Kirana berbisik langsung di telinganya di tengah keheningan malam yang pekat. > "Aku tidak pernah membencimu, Arya. Sungguh. Kebencian terlalu melelahkan untuk diberikan kepada seseorang yang pernah menjadi seluruh duniamu. Yang ada hanyalah lelah. Lelah menunggu seseorang yang selalu ada di sebelah raga, tetapi jiwanya entah di mana. > Kotak ini kutinggalkan bukan untuk menyiksamu, dan bukan pula agar kamu berlari mengejarku demi sebuah kata maaf yang terlambat. Aku mengirimkannya agar kamu tahu bahwa cinta yang tulus pernah singgah dan memelukmu seerat-eratnya, sebelum kamu sendiri yang membuka pintu dan membiarkannya pergi di tengah hujan. > Jika kamu benar-benar ingin mencariku—seperti yang kutahu mulai berputar di kepalamu saat ini—jangan datang membawa rasa bersalah atau ego masa lalumu. Datanglah sebagai manusia yang telah belajar menghargai sunyi, menghargai waktu, dan menghargai ketulusan sekecil apa pun yang diberikan orang lain kepadamu. > Aku sudah menemukan duniaku di Surya Kencana. Bunga-bunga matahari itu tumbuh bukan karena meratapi malam, melainkan karena mereka belajar membalikkan wajahnya menyambut hangatnya matahari. Temukan cahayamu sendiri, Arya. Tanpa harus bergantung padaku." > Surat itu berakhir tanpa tanda tangan berlebihan, hanya sebuah titik rapi di ujung kalimat terakhir. Arya terpekur, menatap lembaran perkamen itu dalam diam yang panjang. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja, meluncur jatuh tanpa suara, membasahi ujung kertas surat milik Kirana. Tidak ada amarah yang tersisa, tidak ada lagi penyangkalan. Hanya ada kebenaran telanjang yang menghantam ulu hatinya dengan sangat telak. Ia memegang kunci perak di tangan kirinya dan surat itu di tangan kanannya. Dua petunjuk mutlak dari wanita yang paling ia cintai dan ia hancurkan. Ia tahu apa arti semua ini. Ia tidak bisa lagi lari dari kenyataan, tidak bisa lagi bersembunyi di balik tumpukan pekerjaan atau bayang-bayang masa lalu. Tempat pertemuannya dengan Kirana pertama kali—di bawah pohon rindang kampus lama—memanggilnya. Dan kunci perak itu adalah satu-satunya jalan masuk untuk menentukan apakah lembaran hidup mereka benar-benar telah tertutup selamanya, atau masih menyisakan sisa halaman untuk diperbaiki. Arya bangkit dari duduknya. Langkah kakinya yang tadinya terasa berat kini berubah mantap, membawa serta sisa-sisa tekad yang baru saja lahir dari abu penyesalannya.

End of Chapter 9