Chapter 8 of 16
Janji di Atas Kertas
1.2k words
Jari-jari Arya mengerat pada tepian foto polaroid yang pudar, permukaan kertasnya terasa dingin di bawah sentuhan telapak tangannya. Netranya terpaku lekat pada senyum Kirana, lebarnya seolah tak terbebani oleh detik waktu, tak terjamah oleh kehancuran batin yang kini merajai dirinya. Di latar belakang foto, bunga sakura mekar sempurna, kelopak merah muda beterbangan bagai salju musim semi, persis seperti hari itu. Sebuah memori yang teramat hidup, begitu nyata, hingga menghantam ulu hatinya bagai hantaman fisik.
Dulu, di taman sakura Kyoto, Kirana pernah berbisik lembut, “Mas, lihat deh, indahnya, kan? Semoga nanti galeri kita juga seindah ini ya.” Gelak tawa renyah Kirana masih berputar di rongga kepalanya, berubah menjadi melodi pilu yang mengiris nurani. Arya masih merekam jelas bagaimana ia kala itu hanya mengangguk acuh, pikirannya disesaki oleh draf presentasi proyek kantor, mengabaikan binar penuh harap yang berpendar di mata Kirana.
Ia membalik foto tersebut, menyapu tulisan tangan Kirana yang rapi namun sedikit miring di bagian bawah. “Setiap sketsa ini adalah bagian dari hatiku, Arya. Aku menggambarmu di setiap sudut pikiranku, melukiskan masa depan kita dengan setiap torehan warnaku.” Frasa itu, yang dahulu sekadar goresan tinta di atas bubur kertas, kini bertransformasi menjadi belati berkarat yang menusuk lurus ke dasar jiwanya.
Tiap kata berteriak melengking, mengoyak benteng pertahanan yang selama ini Arya bangun dengan angkuh. Kirana mendedikasikan potret dirinya, merajut masa depan mereka, menitipkan separuh jiwanya ke dalam tiap sapuan warna. Dan Arya—si dungu yang buta—hanya memandangnya sebelah mata, menganggapnya sebatas hobi pengisi waktu luang, bukan sebagai napas, bukan pula sebagai ruh kehidupan wanita itu. Otot rahangnya mengetat kaku, pipinya berdenyut keras menahan gejolak.
Napasnya menderu berat, menghimpit rongga dada hingga sesak. Aroma lavender yang masih samar-samar melekat pada syal rajut Kirana di sisinya berpadu dengan bau debu dari buku sketsa yang terbuka. Seluruh panca inderanya diserang serentak, memaksanya menelan kebenaran paling pahit: ia sendiri yang telah membantai sebuah mahakarya cinta yang tak ternilai harganya.
Bagaimana ia bisa sebegitu buta? Sebegitu angkuh? Arya merengkuh udara, menyentuh bayangan bibir Kirana di foto menggunakan ujung telunjuknya. Sentuhan hampa tanpa sisa kehangatan. Kehangatan yang dulu selalu ia miliki, namun dengan bodohnya ia remehkan, ia telantarkan, seolah wujud itu akan selamanya menanti tanpa batas waktu.
Plafon matanya memanas hebat, kelopak matanya berkedut menahan desakan air mata yang meronta. Segala ikrar dan asa itu kini meredup, terenggut musnah oleh kedunguannya sendiri. Ia telah menabur benih kesombongan, dan kini ia wajib memanen pohon penyesalan raksasa yang merajai seluruh hari-harinya dalam gulita.
Pandangan Arya bergeser dari foto menuju lembar-lembar sketsa di atas meja. Goresan-goresan itu, dipenuhi palet warna lembut dan garis dinamis, membuktikan betapa Kirana terus bertumbuh melesat bahkan saat diabaikan. Ada sketsa burung hantu bijak di dahan kering, lanskap senja berbalut cahaya oranye di sela gedung tinggi.
Lalu, retinanya terpaku pada satu sketsa yang teramat familier: sebuah fasad kedai kopi mungil dengan jendela kaca lebar dan rimbun tanaman hias. Di atas pintu utamanya, tertera plang nama Surya Kencana berlogo bunga matahari. Jantung Arya mencelos jatuh. Itulah sketsa angan-angan mereka dulu, mimpi yang kini telah berwujud nyata di dunia fana tanpa kehadirannya. Realitas yang telak dan menyiksa.
Kirana dahulu pernah bertutur dengan mata berbinar tentang hasratnya merajai tempat di mana orang-orang bisa menyeruput kafe sambil meresapi seni—sebuah hibrida galeri dan kedai kopi. Kala itu, Arya hanya membalas lewat senyum tipis, “Ide bagus, Sayang. Nanti kalau senggang kita omongkan lagi ya.” Waktu senggang itu tak pernah tiba. Janji itu tinggal bangkai. Dan kini, istana impian itu berdiri megah berkat keringatnya sendiri, ditemani topangan pria lain.
Egosentrisme yang ia banggakan hancur berkeping-keping menjadi debu. Pria yang dulu ia pandang rendah, wanita yang ia yakini takkan pernah berani berpaling, kini menjelma sosok mandiri yang jauh lebih tangguh dan bersinar tanpa naungan bayang-bayangnya. Cemburu, ngilu, dan rasa bersalah melebur menjadi racun pekat di tenggorokannya. Kehilangan ini bukan sekadar kehilangan kekasih; ini tentang kehilangan versi terbaik dirinya yang dulu dicintai Kirana—pria yang semestinya layak mendampingi mimpi besar itu.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, memanggil kembali visual tawa bahagia Kirana bersama pria asing di kedai tadi. Gelak tawa yang dulunya merupakan hak istimewa miliknya, kini telah beralih rupa menjadi milik orang lain. Lelaki yang mampu menangkap apa yang sengaja dibuta-butakan oleh Arya selama bertahun-tahun. Lelaki yang setia memeluk proses Kirana merajut asa.
Tangan Arya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Atmosfer kamar seakan menghimpitnya mati-matian, mendesak udara keluar dari paru-parunya. Kirana telah menemukan dermaga baru, tempat berlabuh yang damai, dan dialah arsitek tunggal di balik runtuhnya mahligai mereka dulu. Ia telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa bahagianya Kirana tanpa bayangannya. Kenyataan itu menghujam jauh lebih kejam ketimbang perpisahan itu sendiri.
Ia bangkit, menyeret langkah gontai menuju jendela kaca, menatap kosong kerlip lampu kota yang mendadak berubah asing. Dulu, ia jumawa mengira metropolis ini adalah taklukannya. Kini, ia merasa begitu kerdil, remuk redam di tengah riuhnya kota yang abai pada hancurnya sebuah hati. Frustrasi membakar rongga dadanya, memaksanya menancapkan kuku-kuku jarinya ke telapak tangan hingga berdarah. Arya memejamkan mata makin erat, meredam badai di kepala, memohon agar bayang-bayang tawa itu sudi melepaskan cengkeramannya dari sisa kewarasannya.
Di tengah keheningan apartemen yang mencekam, tiba-tiba suara nyaring memecah sepi.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu yang tegas, mendesak, dan penuh ketidaksabaran.
Arya tersentak kaget, kepalanya menoleh patah-patah ke arah pintu masuk utama. Jantungnya bergemuruh liar. Siapa yang bertamu selarut dan sepagi ini tanpa kabar angin? Tanpa pikir panjang, dengan bahu yang masih memikul beban tonase penyesalan, ia menyeret tungkainya melintasi lantai marmer.
Ia mengintip lewat lubang intai, mendapati seorang kurir berseragam berdiri kaku sembari mendekap kotak kardus kecil. Begitu daun pintu ditarik terbuka, transaksi kilat terjadi tanpa sisa sapaan. Kotak cokelat itu berpindah tangan—bobotnya ringan, namun memancarkan aura ganjil yang serta-merta meremangkan bulu kuduknya. Tiada atribut pengirim. Hanya secarik label cetak rapi dengan namanya tertera di sana.
Arya membawa benda itu ke meja dapur, menyayat lakban penutupnya menggunakan pisau utilitas secara berhati-hati. Begitu lipatan kardus ditarik menganga, aroma samar yang menguar sukses menghantam indranya telak di titik nadir.
Jantung Arya mendadak berhenti berdetak.
Di balik tumpukan kertas pembungkus, menyeruak aroma khas lavender yang teramat pekat—wangi yang bertahun-tahun melekat di mantel, syal, dan privasi hidup Kirana. Harum yang persis sama dengan yang baru saja ia hirup dari syal di kamarnya. Seluruh jaringan saraf di tubuhnya menegang siaga penuh.
Berbekal jemari yang bergetar hebat, ia mengangkat isi kotak tersebut: sebuah kotak kayu antik berona gelap tanpa engsel luar, dipoles licin hingga sehalus sutra. Ibu jarinya meraba jalur penutupnya, dan lewat dorongan mini, kotak itu bergesek melahirkan bunyi klik yang halus.
Di atas bantalan beludru legam, sebatang kunci perak kuno berukir rumit terbaring bisu. Logam itu memancarkan hawa dingin yang menusuk, namun sukses membangkitkan memori hangat yang teramat menyakitkan tentang hari pertama mereka berikrar di bawah naungan pohon rindang kampus lama.
Napas Arya tercekat di tenggorokan. Tepat di balik bilah kunci perak itu, terlipat selembar perkamen rapuh bersurat tulisan tangan miring yang amat ia hafal di luar kepala—milik Kirana.
Dengan jemari yang kian tak terkendali, ia membentangkan kertas tersebut dan membaca rangkaian kalimat yang terukir di sana:
> "Cari aku di tempat kita bertemu pertama kali, di bawah bayangan pohon yang mekar abadi."
>
Pesan itu menggantung di udara dapur yang sunyi, berbisik dari lorong masa lalu sekaligus menjelma ultimatum mutlak. Gelombang keputusasaan dan sesal yang sedari tadi meremukkannya mendadak tersapu oleh ledakan adrenalin yang membakar. Arya menatap nanar kunci perak di telapak tangannya. Kirana belum sepenuhnya lenyap. Wanita itu memegang kendali penuh, meninggalkan jejak petunjuk, dan memanggilnya pulang untuk sebuah vonis penghabisan.