Chapter 10 of 16

Surat Perpisahan

1.4k words

Jari-jari Arya bergetar hebat saat ia membuka lipatan kertas yang terasa begitu rapuh di antara jemarinya. Aroma lavender, sama persis dengan syal rajutan Kirana, menguar lembut, seolah Kirana berdiri di sana, tepat di hadapannya. Tulisan tangan yang familiar, rapi namun penuh goresan emosi, langsung menyapa matanya. Sebuah tanggal tertera jelas di sudut atas, 15 Oktober, hari terakhir mereka bertemu, hari Kirana mengucapkan peringatan yang kini menghantuinya. Napas Arya tertahan di tenggorokan saat membaca baris pertama. Matanya membelalak, otot rahangnya mengeras. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering kerontang. Kepalanya sedikit menggeleng, seolah tak percaya pada apa yang dibaca, namun matanya tak bisa berpaling dari deretan aksara itu. "*Jika kamu membaca ini, itu berarti kamu akhirnya merasakan apa yang aku rasakan…*" Kalimat itu, dingin dan menusuk, bagai belati yang menghunjam tepat di ulu hatinya. Arya merasakan jantungnya berdetak kencang, memukul-mukul rusuknya dengan irama tak beraturan. Ia menunduk, mencoba mengendalikan embusan napasnya yang mulai memburu, tapi kata-kata Kirana terus menariknya masuk ke dalam pusaran penyesalan. "*Sudah terlalu lama aku menunggu, Arya. Menunggu kamu melihatku, bukan hanya sebagai bagian dari inventaris hidupmu yang selalu ada, tapi sebagai seseorang yang punya hati, punya mimpi, punya batas. Setiap hari, aku berdiri di sampingmu, berusaha menjadi rumah yang hangat, tempatmu kembali setelah lelah dengan segala kesibukanmu.*" Ujung jari Arya memutih, mencengkeram erat kertas lusuh itu. Pandangannya mulai buram, lapisan air mata yang tak kasat mata mulai membentuk genangan. Kirana bukan hanya menulis, dia sedang bicara, suaranya terdengar jelas di benak Arya, penuh kepedihan yang selama ini ia abaikan. Dia mengingat setiap pagi Kirana menyiapkan kopi, setiap malam Kirana menunggunya pulang dengan senyum palsu di bibirnya. "*Tapi kamu… kamu terlalu sibuk mengejar 'lebih'. Lebih banyak proyek, lebih banyak keuntungan, lebih banyak pengakuan. Dalam setiap target kariermu, aku lenyap. Menjadi bayangan, menjadi latar belakang, menjadi sesuatu yang bisa ditunda. Kamu tahu, Arya? Bahkan saat kita bertengkar hebat, aku tetap percaya ada cinta yang lebih besar dari semua egomu itu.*" Arya memejamkan mata, kepalanya tertunduk dalam. Rasa panas menjalar di pipinya, bukan karena malu, melainkan karena rasa bersalah yang mengoyak. Dia ingat bagaimana ia selalu mengelak, selalu berdalih “sibuk kerja” setiap kali Kirana mencoba berbicara tentang perasaan. Setiap argumen adalah monolog Kirana, dan ia adalah pendengar yang tuli. "*Aku mencoba memahami, mencoba memaklumi. Aku bahkan mulai meyakinkan diriku sendiri bahwa suatu hari nanti, kamu akan berhenti berlari dan menyadari apa yang sudah kamu miliki. Bodohnya aku, ya? Seperti lilin yang terus menyala, berharap sinarnya akan menerangi kegelapanmu, sampai aku lupa kalau aku juga akan meleleh habis.*" *** Arya menarik napas tajam, seolah udara pun terasa membebaninya. Kata-kata Kirana adalah palu godam yang menghantam benteng pertahanan terakhirnya. Setiap kalimat bagai pukulan telak yang memperlihatkan kebodohan dirinya. Ia tak lagi bisa menahan getaran di tangannya, kertas itu bergoyang seiring napasnya yang terengah. "*Kamu ingat saat aku bermimpi punya kedai kopi sekaligus galeri seni kecil? Aku pernah mengatakannya padamu, dengan mata berbinar, berharap kamu melihat semangat di dalamnya. Tapi kamu hanya tersenyum tipis, lalu bilang itu 'ide yang bagus, tapi tidak praktis' dan mengalihkan pembicaraan ke proyek-proyek besar yang sedang kamu kerjakan. Bagimu, mimpiku hanyalah selingan kecil yang tidak penting.*" Sebuah ingatan menusuk benaknya: percakapan itu terjadi di taman sakura, saat Kirana menunjukkan sketsa kasar kedai kopinya di buku sketsa cokelatnya yang usang. Arya hanya melihat kertas, bukan jiwa di baliknya. Ia tak pernah benar-benar mendengarkan, selalu meremehkan apa yang Kirana anggap berharga. Kini, dia melihat kedai kopi itu, 'Surya Kencana', berdiri nyata, tanpa dirinya di samping Kirana. "*Aku melihat tatapanmu, Arya. Tatapan yang menganggapku terlalu emosional, terlalu perasa, terlalu kekanakan. Kamu tidak pernah melihat bahwa setiap sketsa, setiap cerita yang kubagikan, adalah usahaku untuk membuka diriku sepenuhnya padamu. Kamu tidak pernah tahu betapa sakitnya merasa tidak dihargai, merasa seperti beban, seperti suara yang tak pernah sampai.*" Lutut Arya terasa lemas. Ia merosot perlahan ke lantai, punggungnya bersandar pada dinding dingin. Matanya menyapu sekeliling ruangan, melihat semua benda di apartemennya, benda-benda yang dulu ia anggap miliknya dan Kirana, kini terasa begitu kosong, hampa tanpa keberadaan wanita itu. Dia melihat bayangannya sendiri terpantul di layar ponsel yang mati, wajahnya kusut, penuh penyesalan. "*Aku tahu, kamu mungkin berpikir aku melebih-lebihkan. Tapi kelelahan batin ini… ini bukan ledakan emosi sesaat, Arya. Ini adalah akumulasi dari ribuan momen kecil saat aku merasa sendirian, bahkan ketika aku berada tepat di sampingmu. Aku sudah mencapai batas, di mana bertahan pada seseorang yang tidak melihat nilaiku justru menghancurkanku.*" Setiap kata terasa seperti pisau, mengiris lapisan demi lapisan penolakan dan keangkuhan yang selama ini menyelimuti dirinya. Dia selalu berpikir Kirana akan selalu ada, seperti matahari yang terbit setiap pagi. Dia tak pernah membayangkan awan bisa menelan sinarnya, bahwa matahari bisa memutuskan untuk tak lagi bersinar hanya untuk dirinya. "*Jadi, aku pergi. Bukan karena aku tidak lagi mencintaimu, tapi karena aku harus belajar mencintai diriku sendiri lagi. Aku harus menemukan kembali suara yang kamu bisukan, mimpi yang kamu abaikan. Aku harus pergi, Arya, sebelum aku lenyap sepenuhnya. Dan seperti yang pernah kubilang padamu, suatu hari nanti, kamu akan mencari sesuatu yang tidak pernah kamu hargai. Dan saat itu terjadi, aku tidak akan ada di sana.*" *** Surat itu berakhir. Tidak ada lagi kalimat. Hanya ruang kosong, dan di bawahnya, tanda tangan Kirana yang familiar, seolah baru saja ditulis. Arya membiarkan kertas itu meluncur dari jemarinya yang gemetar, jatuh ke lantai kayu. Suara desirnya kecil, namun baginya terdengar seperti gemuruh petir yang membelah langit. Tubuhnya melorot sepenuhnya, kepalanya jatuh menekuk di antara lututnya. Napasnya pecah menjadi isakan-isakan berat yang tertahan. Bahunya bergetar hebat, air mata panas membanjiri pipinya, membasahi ujung celana jeansnya. Penyesalan itu, yang selama ini menggerogoti, kini meledak menjadi badai emosi yang tak tertahankan. Dia mencengkeram rambutnya, menariknya kuat-kuat seolah ingin mencabut rasa sakit itu dari akarnya. "Bodoh! Aku bodoh!" bisiknya parau, suaranya tercekat oleh tangis. "Aku terlalu bodoh…" Dia memukul lantai dengan kepalan tangannya, sekali, dua kali, rasa sakit fisik itu tak seberapa dibandingkan pedih di hatinya. Wajah Kirana, yang dulu ia pandang sebagai kepastian, kini muncul di benaknya, tersenyum, lalu berangsur-angsur pudar, digantikan oleh ekspresi lelah, sedih, dan akhirnya, kosong. Dia mengingat setiap momen ia menolak Kirana, setiap kali ia memilih pekerjaan dibandingkan Kirana, setiap kali ia mengabaikan air mata di mata wanita itu. Setiap ucapan Kirana dalam surat itu seolah bergema di kepalanya, menuduhnya, menghukumnya. Dia pantas mendapatkannya, dia tahu itu. Dia telah menghancurkan satu-satunya hal yang paling tulus dalam hidupnya. Keputusasaan itu begitu pekat, begitu menekan, hingga rasanya oksigen di ruangan itu menipis, menyesakkannya hingga batas akhir. Dia merasa hancur, remuk, tak berdaya. Arya menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara, tapi yang masuk hanyalah rasa perih. Dia mengangkat kepalanya, matanya merah sembap, menatap kosong ke arah surat yang tergeletak di lantai. Sebuah mahakarya penderitaan yang ia ciptakan sendiri. Dia ingin berteriak, ingin memohon, ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki segalanya, tapi semua itu sudah terlambat. Terlambat. Kata itu berputar-putar di kepalanya, seperti mantra yang mengutuk. Dia telah kehilangan Kirana, dan kini, Kirana telah menemukan kebahagiaannya sendiri, tanpa dirinya. Sosok pria asing itu, tawa Kirana di kedai kopi ‘Surya Kencana’, semua itu adalah bukti nyata bahwa Kirana telah melanjutkan hidupnya. Dan Arya, hanya bisa terpuruk dalam kehancuran yang ia ciptakan sendiri. *** Getaran di saku celananya terasa seperti sengatan listrik. Arya tersentak, sedikit terlonjak dari posisi meringkuknya di lantai. Ia mengabaikannya, tangannya masih gemetar, pikirannya masih berkelana di antara puing-puing penyesalan. Tapi getaran itu tak berhenti, semakin intens, diikuti oleh dering nada yang memekakkan telinga di kesunyian apartemennya. Ini panggilan yang mendesak. Sambil menghela napas berat, Arya merogoh saku, mengeluarkan ponselnya. Layarnya menunjukkan nama Rendy. Ia menatap nama itu sejenak, bimbang. Apa lagi yang bisa lebih buruk dari apa yang baru saja ia baca? Dengan jempol yang masih sedikit gemetar, ia menggeser ikon hijau. "Halo?" Suaranya terdengar serak, pecah. "Arya? Akhirnya kau angkat," suara Rendy terdengar tegang, tidak seperti biasanya. Ada nada khawatir yang kentara, membuat bulu kuduk Arya meremang. "Kau baik-baik saja?" Arya tidak menjawab pertanyaan itu. Bagaimana dia bisa baik-baik saja? Dia baru saja membaca surat perpisahan dari wanita yang ia hancurkan hatinya. Dia baru saja merasakan betapa kosongnya hidupnya tanpa Kirana. Dia baru saja menyadari betapa dalam lukanya. "Ada apa, Ren?" tanyanya, berusaha menstabilkan suaranya, meskipun itu terasa mustahil. Perasaan cemas tiba-tiba menyergap, seolah ada sesuatu yang lebih besar dari kehancuran pribadinya yang sedang mengintai. Rendy bukan tipe orang yang panik tanpa alasan. Suara Rendy di ujung telepon terdengar menelan ludah, sebuah jeda singkat yang terasa seperti keabadian bagi Arya. "Arya, aku punya kabar buruk. Tentang Kirana."

End of Chapter 10