Chapter 7 of 16
Bisikan Angin Masa Lalu
1.4k words
Pintu apartemen Arya tertutup dengan dentuman berat, gema yang terasa memekakkan telinga di kesunyian malam. Udara di dalam terasa pengap dan dingin, seolah ikut menahan napas bersamanya. Kunci mobil yang dipegangnya beradu, menghasilkan bunyi berderik yang mengusik. Tanpa ragu, ia melemparkannya ke atas meja konsol dekat pintu, mendengar gesekannya yang kasar sebelum benda logam itu terdiam. Bayangan Kirana yang tertawa, tangan pria lain melingkar di bahunya, masih menari-nari di pelupuk matanya. Setiap detiknya membakar ulu hati, menyisakan jejak bara api yang perih.
Rahangnya mengatup keras, otot-otot di pipinya menegang. Kemarahan itu bukan hanya tertuju pada pria asing itu, atau pada Kirana yang terlihat begitu bahagia. Lebih dari segalanya, amarah itu menghantam dirinya sendiri, menggema dalam rongga dada. Mengapa ia begitu buta? Mengapa ia begitu bodoh sampai menyia-nyiakan permata yang selalu bersinar di sisinya?
Langkah kakinya berat, menyeret tubuh letihnya melintasi lantai marmer ruang tamu. Aroma samar kopi dan wangi Kirana yang tertinggal di kedai tadi masih menusuk indra penciumannya, memprovokasi ingatan yang seharusnya terkunci rapat. Ia benci bagaimana wangi itu, yang dulu sering ia abaikan, kini menjelma menjadi cambuk yang menyayat. Kemejanya terasa lengket di punggung, peluh dingin membasahi kulitnya, bukan karena panas, melainkan karena gejolak emosi yang menguras tenaga.
Ia berhenti di tengah ruangan, pandangan matanya menerawang ke sudut-sudut yang terasa kosong. Dulu, tempat ini selalu dipenuhi gelak tawa Kirana, bisikan rencananya untuk dekorasi baru, atau aroma masakan yang mengepul dari dapur. Kini, hanya ada keheningan yang mencekik. Keheningan yang adalah ciptaannya sendiri. "Sialan," desisnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Jemarinya mengepal, kukunya menusuk telapak tangan. Rasa sakit fisik itu seolah tak seberapa dibandingkan nyeri di dadanya.
Kepalanya tertunduk, helaan napasnya berat dan tak beraturan. Ia bisa merasakan denyut nadi di pelipisnya berdetak kencang, memompa darah dengan ritme marah. Bayangan pria itu yang begitu akrab menyentuh Kirana, yang dulu adalah miliknya, membuat matanya memanas. Rasa cemburu ini asing, memuakkan, tetapi juga begitu nyata. Seharusnya ia tidak merasakan ini. Ia sendiri yang mendorong Kirana pergi. Ia sendiri yang meruntuhkan jembatan itu. Kini, jembatan itu telah dibangun ulang, tapi untuk orang lain.
Pandangannya menyapu sofa kulit berwarna abu-abu, sebuah perabot yang dulu mereka pilih bersama, meski Kirana lebih menginginkan yang berwarna krem. Di sana, teronggok sebuah syal rajutan berwarna merah marun, warnanya yang hangat tampak kontras dengan suasana dingin apartemen. Itu milik Kirana. Syal itu sering melingkari lehernya di musim hujan, atau kadang ia biarkan melilit longgar di bahunya saat mereka bersantai menonton film. Arya mendekat, langkahnya kini terasa lebih ringan, seperti ditarik oleh suatu kekuatan tak kasat mata.
Jemari tangannya terulur, ragu-ragu menyentuh serat wol yang lembut itu. Sentuhannya membangkitkan gelombang kenangan yang menamparnya, tajam dan menyakitkan. Ia ingat Kirana merajutnya, dengan benang-benang yang berserakan di karpet, tawa kecilnya setiap kali ia salah hitung, atau kerutan serius di dahinya saat berusaha mengikuti pola rumit. Aroma lavender yang samar masih melekat pada syal itu, aroma yang selalu identik dengan Kirana, dengan keberadaannya yang menenangkan.
Ia ingat suatu sore, hujan turun deras di luar, dan Kirana dengan manja melilitkan syal itu ke lehernya, menariknya mendekat untuk sebuah ciuman singkat. Dinginnya udara luar sirna seketika, tergantikan oleh kehangatan kulit Kirana dan lembutnya serat wol. Saat itu, ia hanya mengangguk, sibuk dengan laptopnya, menganggapnya sebagai hal biasa. Kini, setiap detail kecil itu terasa seperti duri yang menusuk, menyoroti betapa sering ia mengabaikan momen-momen intim, betapa ia menganggap remeh kasih sayang yang begitu melimpah.
Syal itu terasa begitu ringan di tangannya, namun memendam beban memori yang begitu berat. Kenangan akan Kirana yang selalu memikirkan dirinya, membuatkan syal agar ia tidak kedinginan, menyiapkan kopi tanpa diminta. Semua itu ia terima begitu saja, seperti matahari yang terbit setiap pagi. Ia tidak pernah berhenti untuk mempertanyakan, untuk menghargai. Sekarang, matahari itu telah terbit untuk orang lain, dan ia terperangkap dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri. Rasa sesal itu membanjiri, lebih pahit dari kopi terpekat, lebih tajam dari bilah pisau. Ia menggenggam syal itu erat, seolah mencoba menahan kepingan waktu yang telah lama berlalu, kepingan yang kini tak bisa lagi ia raih.
Sebuah buku sketsa dengan sampul kulit berwarna cokelat tua tergeletak di meja kopi, di samping tumpukan majalah yang tak pernah ia sentuh. Ini juga milik Kirana. Buku itu tampak sedikit usang, sudut-sudutnya melengkung, dan ada beberapa noda cat air samar di permukaannya, bukti dari jam-jam yang Kirana habiskan untuk menuangkan imajinasinya. Arya mengenali noda-noda itu. Ia ingat Kirana sering menggambar sambil minum teh, kadang tanpa sengaja menumpahkannya. Dulu, ia hanya akan menghela napas, sesak sesekali menyarankan Kirana untuk lebih hati-hati. Kini, ia melihatnya sebagai tanda dedikasi, sebagai jejak kehidupan yang Kirana bangun dengan tangannya sendiri.
Ia mengangkat buku itu, merasakan beratnya yang familiar di telapak tangannya. Jemarinya menelusuri tepi-tepi yang aus, merasakan tekstur kulit yang dingin dan sedikit kasar. Setiap goresan, setiap noda, seolah bercerita tentang malam-malam tanpa tidur, tentang semangat yang membara. Ia ingat Kirana pernah bercerita tentang mimpinya untuk menjadi ilustrator, tentang pameran kecil yang ingin ia adakan, tentang bagaimana setiap garis pada kertas adalah luapan perasaannya. Arya, dengan segala kesibukannya, hanya akan mengangguk, mengucapkan kata-kata penyemangat yang hampa, lalu kembali tenggelam dalam pekerjaannya.
Ia tidak pernah benar-benar duduk dan melihat setiap halaman, tidak pernah benar-benar bertanya apa makna di balik setiap coretan. Ia hanya melihatnya sebagai hobi, bukan sebagai bagian esensial dari siapa Kirana sebenarnya. Rasa bersalah itu menusuk, lebih dalam dari sebelumnya. Ia telah melewatkan begitu banyak. Bukan hanya kehadiran fisik Kirana, tapi juga dunia batinnya yang kaya, yang ia biarkan tak terjamah, tak terhargai.
Mungkin di dalam buku ini, ada sketsa wajahnya, atau pemandangan yang mereka nikmati bersama, atau bahkan potret perasaannya yang rumit. Ia tidak akan pernah tahu, karena ia tidak pernah peduli untuk melihatnya. Mata Arya terasa panas, perih. Ini bukan hanya tentang kehilangan seorang kekasih, tapi kehilangan seorang teman, seorang belahan jiwa yang ia abaikan, yang ia biarkan terbang menjauh. Buku itu terasa dingin di tangannya, tapi memancarkan kehangatan kreativitas Kirana yang kini terasa sangat jauh. Ia membalik halaman sampul depan, napasnya tertahan.
Tiba-tiba, sebuah benda kecil berwarna putih meluncur keluar dari antara halaman-halaman buku sketsa. Benda itu melayang sebentar di udara, kemudian jatuh mengenai lantai marmer dengan bunyi tap yang pelan. Sebuah foto polaroid. Jantung Arya mencelos, seolah gravitasi telah menariknya ke dasar perut. Dengan tangan gemetar, ia membungkuk, mengambil benda persegi itu.
Gambaran di atasnya membuat udara keluar dari paru-parunya. Itu adalah foto mereka berdua. Kirana, dengan rambut dikuncir kuda yang sedikit berantakan, tertawa lepas, matanya menyipit bahagia. Ia mengenakan kaus kesukaannya yang berwarna kuning. Di sebelahnya, Arya sendiri, tersenyum kecil, lengan melingkar posesif di bahu Kirana. Latar belakangnya adalah taman kota yang penuh bunga sakura di musim semi, momen yang mereka tangkap saat piknik mendadak setahun yang lalu. Ia bahkan tidak ingat pernah mengambil foto ini.
Kirana pasti menyimpannya. Senyumnya di foto itu, begitu tulus, begitu murni, menghantamnya telak. Ada gurat kebahagiaan yang begitu nyata di wajah mereka berdua, kebahagiaan yang kini terasa seperti dongeng lama. Ia membalik foto itu, dan di bagian belakang, dengan tulisan tangan Kirana yang rapi, ada beberapa baris kalimat. Jemarinya sedikit bergetar saat menyentuh tinta itu, seolah bisa merasakan kehangatan Kirana di sana.
Ia menarik napas dalam, menahan embusan, dan mulai membaca. "Setiap sketsa ini adalah bagian dari hatiku, Arya. Aku menggambarmu di setiap sudut pikiranku, melukiskan masa depan kita dengan setiap warna yang kutorehkan. Aku harap suatu hari nanti, kamu akan melihatnya dan mengerti betapa besar aku mencintaimu."
Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, setiap huruf mengukir luka baru di hatinya. Betapa naifnya dia, betapa butanya dia. Kirana telah menumpahkan seluruh perasaannya, hatinya, jiwanya, ke dalam setiap aspek kehidupannya, dan Arya tidak pernah benar-benar melihatnya. Cinta yang begitu besar, yang ia buang dengan mudahnya.
Ia menatap foto itu lagi, pada senyum Kirana, pada matanya yang memancarkan kasih sayang tak terbatas. Ia tidak hanya kehilangan Kirana, ia telah menghancurkan seseorang yang mencintainya tanpa syarat. Dan sekarang, dia melihat Kirana tertawa di samping pria lain, pria yang kemungkinan besar melihat dan menghargai apa yang dulu Arya sia-siakan. Rasa sakit itu tak tertahankan, menjalar dari dadanya, menusuk hingga ke ubun-ubun. Kepalanya terasa pening, matanya berair, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Hanya sebuah kekosongan yang mematikan. Foto polaroid itu terasa panas di tangannya, seolah membakar semua penyesalannya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, apa yang seharusnya ia lakukan sejak dulu. Ia harus menemukan Kirana, sebelum segalanya benar-benar terlambat dan jembatan itu terbakar habis, tak menyisakan apa pun.