Chapter 6 of 16
Pintu yang Tertutup
2.0k words
Udara malam yang menggigit masih merayap menyelimuti tubuh Arya, namun sensasi itu tak sebanding dengan sengatan dingin yang membeku hingga ke sumsum tulangnya. Baliho kuning cerah dengan ilustrasi bunga matahari yang teramat familier itu bergetar tipis diterpa angin di bawah pendar lampu jalan. K. Paramitha. Kirana Paramitha. Nama itu terpatri begitu dalam di rongga kepalanya, begitu mutlak, hingga tiap hurufnya seolah membakar retina matanya tanpa ampun. Jemarinya yang sedari tadi kaku mencengkeram ponsel kini bergerak sendiri di atas layar kaca. Akalnya memberi titah, kendati nuraninya menjerit menolak, ketakutan setengah mati akan apa yang bakal ia temukan.
Ia mengetikkan ‘Kedai Kopi Bunga Matahari’ pada bilah pencarian. Jantungnya bergemuruh beringas, menghantam dinding rusuk seolah meronta ingin lepas dari sangkar penjaranya. Tiap milidetik menanti hasil muat terasa merayap lambat layaknya berabad-abad. Layar gawai memantulkan pendar suram ke wajahnya yang pucat pasi. Gelombang mual mendesak naik, perpaduan sempurna antara kecemasan akut dan secercah asa tipis yang teramat rapuh. Sebuah tautan tersaji. Nama tempat itu terpampang telak: Surya Kencana. Tepat di bawahnya, alamat yang persis sama dengan baliho yang baru saja ia tatap nanar.
Arya menekan tautan itu menggunakan ujung ibu jari yang gemetar hebat. Profil kedai kopi tersebut terbuka, menyuguhkan etalase digital berisi galeri foto. Potret interior yang memancarkan kehangatan, cangkir-cangkir porselen artistik, serta deretan potret barista yang melempar senyum ramah. Bola mata Arya meluncur liar, memindai tiap jengkal detail. Lalu, satu bingkai foto meredam napasnya. Seseorang tengah menorehkan ilustrasi bunga matahari di atas papan menu hitam dari kayu. Tangan itu… ia amat mengenali lekuk jemari tersebut. Begitu ramping, begitu luwes bergerak. Tangan Kirana. Tenggorokannya tercekat seketika, pasokan udara di sekitarnya menipis.
Ia menggeser layar dengan panik, memburu konfirmasi yang lebih telak. Kolom kepemilikan? Bagian ‘Tentang Kami’ lazimnya memuat informasi tersebut. Netranya menyapu cepat barisan kalimat, mencari nama yang mengunci hidupnya. Meski tiap frasa tampak kabur di balik selaput air mata, satu kalimat akhirnya menohok tepat di ulu hati: “Dikelola dengan sepenuh hati oleh Kirana Paramitha, seorang ilustrator dengan passion pada kopi dan seni.”
Napas Arya terputus. Jagat raya di sekitarnya mendadak lumpuh dalam sunyi, seolah seluruh frekuensi suara telah disedot paksa dari indranya. Yang tertinggal hanya dentum jantungnya yang memekakkan rongga kepala, membanjiri sekujur sarafnya. Kirana. Sosok itu nyata. Wanita yang tega ia singkirkan, yang ia remehkan dan sia-siakan, kini berdiri kokoh sebagai nakhoda di kedai impiannya sendiri. Impian yang dahulu sering ia dengar di larut malam, saat Kirana bercerita dengan binar mata penuh harap di sisinya—sebuah angan-angan remeh yang dulu selalu ia anggap angin lalu.
Ponsel di genggamannya mendadak terasa berkilo-kilometer beratnya, nyaris meluncur jatuh. Ia mempererat cengkeraman hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Beban sesak itu menghimpit dada tanpa ampun, bak batu karang raksasa yang menindih rusuknya. Ia ingin meraung, ingin menghancurkan apa pun di dekatnya, ingin berlari sekencang-kencangnya. Namun, kedua kakinya terpaku mati di atas trotoar yang dingin. Aroma biji kopi panggang yang menguar tipis dari kedai itu kini menusuk tajam indra penciumannya dengan getir. Itu bukan sekadar aroma kafein; itu adalah bau pekat penyesalan yang membakar jiwa.
Netranya kembali terlempar menatap baliho di seberang jalan. Ilustrasi bunga matahari itu—yang dulunya sekadar goresan sketsa iseng di buku catatan usang Kirana—kini menjelma menjadi identitas visual yang megah. Sebuah tempat yang ia bangun atas jerih payahnya sendiri, dengan cucuran keringatnya sendiri, tepat di atas reruntuhan yang Arya ciptakan di antara mereka. Keberhasilan itu bekerja bagai cambuk berduri yang menghantam egonya berkeping-keping. Ada rasa bangga yang tersembunyi jauh di lubuk hatinya melihat sang mantan kekasih memeluk takdir indahnya. Namun, kebanggaan itu beracun, bergesekan liar dengan rasa iri, cemburu buta, serta satu pertanyaan yang terus mengoyak: mengapa baru detik ini ia tersadar betapa mahalnya harga seorang Kirana?
Penemuan itu membuat Arya limbung, sebuah hantaman telak di ulu hati yang merampas seluruh oksigennya. Kirana. Surya Kencana. Nama itu berputar-putar tanpa rem di benaknya, bertransformasi menjadi mantra penyiksa yang mematikan. Ia menunduk dalam-dalam, merapatkan kelopak mata, berupaya mengusir bayangan tersebut—nihil. Tiap jengkal kedai itu, dari guratan bunga matahari hingga tipografi pada papan menu, semuanya berteriak memanggil nama Kirana. Ini bukan lagi kebetulan semata; ini adalah takdir yang menampar wajahnya dengan kebenaran terpahit di muka bumi.
Pikiran bawah sadarnya menyeretnya mundur ke lorong waktu, ke malam-malam panjang di apartemen sewaan mereka dulu. Kirana kerap bertutur tentang angan-angan sederhananya dengan mata berbinar. “Aku ingin punya kedai kopi sendiri, Mas. Kecil saja, tapi hangat. Dipenuhi tanaman hijau, buku-buku bagus, dan tentu saja, bunga matahari di setiap sudutnya.” Kala itu, Arya hanya menanggapinya lewat senyum remeh, menganggap celotehan itu tak lebih dari bunga tidur seorang seniman idealis. Ia terlalu mabuk oleh target perusahaan, terlalu memuja angka-angka di atas kertas. Kalimatnya saat itu begitu kejam: “Untuk apa buang-buang waktu dengan omong kosong begitu, Kirana? Kamu tahu bisnis F&B itu kejam. Fokus saja pada ilustrasimu yang jelas-jelas menghasilkan uang tunai.”
Sembilu penyesalan merobek-robek dadanya tanpa ampun. Betapa butanya ia di masa lalu. Betapa congkaknya ia meremehkan tiap jengkal mimpi dan ketulusan hati Kirana. Dan kini, angan-angan itu telah berwujud nyata. Bukan di sisinya, bukan dalam dekapannya, melainkan tanpa kehadirannya. Kedai ini, Arya sangat yakin, adalah manifestasi utuh dari jiwa Kirana—hangat, jujur, penuh warna, dan hidup.
Arya mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan yang basah oleh peluh dingin. Haruskah ia melangkah masuk? Mendorong pintu kaca itu dan berpura-pura menjadi pelanggan asing? Kalimat apa yang sanggup ia rangkai? “Hai, Kirana, aku kebetulan lewat. Selamat ya atas kedai kopinya?” Frasa itu terdengar begitu memuakkan, hambar, dan sarat kemunafikan. Mana mungkin lidahnya sanggup mengucapkan selamat setelah ia sendiri yang menenggelamkan wanita itu dalam derita?
Tanpa sadar, sepasang kakinya mulai bergerak maju. Satu langkah, dua langkah. Tubuhnya terseret mendekat ke arah kedai, bagaikan ditarik medan magnet tak kasat mata. Aroma pekat kopi yang berpadu dengan manisnya panggangan roti kini kian mendominasi penciumannya. Aroma itu—anehnya—begitu akrab. Kirana selalu menyukai racikan kopi dengan ekstrak karamel tipis, dan kerap menyiapkan roti panggang bersiram madu di pagi hari untuknya. Tiap tarikan napas terasa bagai pukulan fisik, membangkitkan kuburan memori yang telah lama ia ratapi.
Denyut jantungnya bergejolak kalut, menabuh genderang di rongga dada dalam tempo gila. Pusing mendera kepalanya, sementara tenggorokannya kering kerontang. Panik merayap membakar saraf, berpadu dengan dorongan destruktif untuk melihatnya langsung—memastikan bahwa ini benar-benar Kirana, bukan sekadar delusi akibat kelelahan psikis. Ada secercah harapan konyol yang menyala: barangkali Kirana akan menyambutnya dengan senyuman, barangkali masih ada ruang untuk memperbaiki puing-puing yang tersisa. Asa kekanak-kanakan itu langsung hancur berkeping-keping saat bayangan foto Kirana yang dirangkul pria lain melintas tajam di memorinya.
Arya menghentikan langkah beberapa meter dari pintu masuk. Jendela kaca raksasa memamerkan interior yang terang benderang, dipadati gelak tawa pengunjung. Deretan pot tanaman gantung merambat elok dari plafon, dan pada dinding sebelah utara, sebuah lukisan mural bunga matahari tengah merekah sempurna. Persis seperti deskripsi yang dulu diucapkannya. Di sana, di tengah keramaian sapaan dan denting porselen, ia melihat sosok itu.
Seorang wanita bergerak lincah di balik meja bar, ikal rambutnya dicepol longgar, membiarkan beberapa anak rambut membingkai manis sisi wajahnya. Ia tertawa, menunduk kecil menanggapi gurauan seorang pelanggan. Tawa itu… itu mutlak tawa Kirana. Melodi renyah yang selalu sanggup menjinakkan amarahnya, suara yang sudah bertahun-tahun lenyap dari pendengarannya. Perut Arya bergejolak hebat, lututnya mendadak kehilangan tenaga. Itu dia. Kirana-nya. Semesta hidup dan impian wanita itu kini terhampar di depannya, begitu nyata, begitu dekat, namun terasa terisolasi dinding tak kasat mata yang teramat tebal.
Arya terpaku kaku, menyembunyikan diri di balik tiang lampu jalan yang memproyeksikan bayangannya memanjang di atas aspal basah. Kirana. Wanita di balik mesin espresso itu benar-benar Kirana, tanpa keraguan sedikit pun. Ia tampak bertransformasi, menjadi jauh lebih… merdeka. Ada binar mematikan di kedua matanya yang dahulu sering meredup karena tersiksa menanti kepulangannya. Ia tersenyum—senyum tulus yang mencorakkan garis kebahagiaan hingga ke sudut matanya—kepada siapa saja yang ia layani. Hantaman nyeri kembali menusuk ulu hati Arya. Senyum lepas itu, di masa lalu, adalah hak istimewa yang hanya diperuntukkan baginya.
Tiba-tiba, seorang pria berbadan tegap keluar dari ruang belakang kedai, menjinjing kotak karton berisi pasokan biji kopi. Pria berambut gelap itu mengenakan kemeja linen kasual. Begitu netra Kirana menangkap sosoknya, bibir wanita itu merekah dalam senyuman lebar. Pandangan mereka bertaut, mengalirkan kehangatan intim yang tak terbantahkan. Pria itu membalas senyuman Kirana sambil menaruh kotak di dekat meja kasur, lalu—tanpa sedikit pun keraguan—tangannya terulur menyentuh punggung tangan Kirana yang sedang membersihkan noda tumpahan. Gestur itu teramat natural, teramat sarat kepemilikan.
Darah Arya mendidih seketika. Cemburu buta meracuni tiap aliran darahnya. Itu adalah pria yang sama dalam bingkai foto Rendy; ia mempertaruhkan nyawanya untuk itu. Pria itu membungkuk sekian sentimeter, membisikkan sesuatu di dekat telinga Kirana. Dan Kirana kembali tertawa—sebuah tawa yang terdengar jauh lebih lembut, jauh lebih privat daripada tawa untuk para pelanggannya. Jemari wanita itu refleks menepuk lengan sang pria, sebuah bahasa tubuh keintiman yang meremukkan sisa-sisa kewarasan Arya. Mereka tampak… begitu padu. Begitu berbahagia merajut hari bersama.
Kedua tungkainya lumpuh total. Ia kehilangan kemampuan bergerak, bahkan melupakan cara bernapas. Pemandangan di hadapannya adalah algojo terakhir yang mengeksekusi sisa-sisa harapan bodohnya menjadi abu. Kirana telah melangkah jauh melampaui batas masa lalunya. Wanita itu telah menemukan pelabuhan damai. Bersama lelaki lain. Lelaki yang tahu cara menghargainya, yang merawat mimpinya, yang menyumbangkan tawa tulus—sesuatu yang tak pernah becus Arya berikan selama mereka terikat.
Terdengar bisikan lirih dari sudut terdalam nuraninya: Ini ganjaran setimpal buat lo, Arya. Ini upah atas segala kebiadaban pengabaian lo. Petuah lama Kirana—“Suatu hari nanti, kamu bakal mencari sosok yang tak pernah kamu hargai, Arya. Dan di detik itu tiba, aku nggak bakal pernah ada di sana”—menggema ulang, bertransformasi menjadi kutukan paling nyata. Wanita itu memang ada di sini, tapi ia telah mati bagi Arya. Pintu rekonsiliasi itu telah terkunci rapat, tanpa menyisakan celah sekecil jarum pun.
Jemarinya mengepal hingga kuku-kukunya merobek telapak tangan sendiri. Rasa sakit fisik itu mendadak terasa jauh lebih bermartabat ketimbang siksaan batin yang mencabik-cabik jiwanya. Ia berniat membalikkan badan, melarikan diri, menghilang dari muka bumi. Namun matanya menolak patuh, terus terkunci pada sosok Kirana yang kini tampak bagai fatamorgana asing namun dirindukan setengah mati. Ia menyaksikan sepasang kekasih itu kembali bertukar pandang, menyunggingkan senyum rahasia yang takkan pernah sudi Arya pahami selamanya.
Tungkai Arya terasa seberat timah panas. Tiap jengkal langkah yang membawanya menjauh dari kedai kopi itu adalah siksaan fisik yang nyata. Hatinya telah remuk redam, luruh menjadi debu tak berwujud. Ia telah melihatnya dengan kepala sendiri. Kirana hidup, bernapas, berbahagia, dan mutlak tanpa campur tangannya. Ia telah mengubur rapat-rapat eksistensinya dari lembaran hidup wanita itu, dan kini Kirana tengah mekar mewangi di pekarangan pria lain. Hawa malam kian menusuk tulang, namun kobaran api cemburu dan sesal di dadanya menolak padam.
Ia berjalan gontai tanpa haluan, kepala tertunduk lesu menatap pantulan bayangannya sendiri pada genangan air di trotoar. Pendar lampu metropolitan meredup di tubir matanya yang basah. Pikirannya buntu, dipenuhi gema tawa Kirana dan gestur kepemilikan pria asing itu—sebuah kebahagiaan yang semestinya menjadi takdir penjagaannya, namun ia hancurkan dengan kedua tangannya sendiri. Ia telah menukar kehangatan mutiara demi ambisi hampa.
Sesak parah mengunci kerongkongannya, napasnya memburu putus asa. Jemarinya merogoh saku jaket denim, berniat mencari kunci mobil untuk kabur sejauh mungkin. Alih-alih logam dingin, ujung jarinya bersentuhan dengan secarik kertas tipis yang kaku. Tanpa sadar ia menarik benda itu keluar, sementara matanya masih kosong menatap aspal basah. Selembar kartu nama usang dengan tepian mulai terkoyak. Relik masa lalu yang entah mengapa tersimpan rapi di lipatan jaket kesayangannya selama bertahun-tahun.
Pada permukaan depan tercetak logo perusahaan lamanya yang kini terasa asing. Namun di sisi sebaliknya, tertera goresan tinta biru yang memudar—tulisan tangan Kirana yang amat ia kenal. Rapi, melengkung anggun. Di sana tertulis namanya: ‘Arya Daniswara’. Tepat di bawahnya, tersemat barisan digit nomor ponsel lama yang telah lama mati, yang ditulis Kirana pada hari pertama mereka bersua. Sebuah catatan kecil terselip di sudut kartu dengan gaya khas wanita itu: “Always here for you, Mas.”
Napas Arya terhenti seketika. Jantungnya berdenyut ngilu luar biasa. Kartu usang itu mendadak terasa membara di atas telapak tangannya. Kirana pernah menuliskan janji itu. Kirana pernah meletakkan seluruh asa hidupnya di sana. Wanita itu selalu ada—selalu siap sedia mendampinginya. Dan kini, takkan pernah ada lagi akses untuk menghubunginya lewat digit angka tersebut. Kartu nama itu—saksi bisu dari masa lalu yang terbuang—terlepas dari genggaman Arya, melayang gemulai diembus angin malam, lalu jatuh membentur aspal trotoar yang dingin. Tergeletak di sana dalam senyap, tak terlihat, tak dihiraukan, bersama sisa-sisa harapan Kirana yang telah lama musnah ditelan waktu.