Chapter 5 of 16

Surat Tanpa Alamat

1.1k words

Puntung-puntung rokok berserakan di dalam asbak keramik putih, mengotori permukaan meja kaca di ruang tamu Arya. Aroma tembakau yang pekat dan menyengat bercampur aduk dengan sisa kopi dingin di dasar cangkir porselen, menciptakan bau apek yang menyesakkan rongga dada, mempertegas atmosfer suram yang menyelimuti ruangan itu. Arya tak sedikit pun peduli pada kekacauan di sekitarnya. Tatapannya terpaku mati pada selembar kertas putih bersih di hadapannya—tanpa noda, tanpa satu goresan pun, bagaikan cerminan hampa dari pikirannya sendiri. Pulpen bermerek mahal di dalam genggamannya terasa seberat besi panas, membebani setiap ujung jari yang bergetar hebat akibat kelelahan batin dan kecemasan yang teramat sangat. Ia berupaya keras untuk mulai menulis, namun ruang kepalanya terasa kosong, memantulkan kehampaan jiwa yang kini sepenuhnya merajai rongga dadanya. Setiap embusan napas terasa begitu berat, menghantam dinding dada hingga menimbulkan nyeri yang menyayat di ulu hati. Otot-otot rahangnya mengetat kaku, menahan desakan histeria untuk berteriak melepaskan beban yang menghimpit. Bagaimana mungkin ia sanggup merangkum badai kehancuran ini menjadi deretan frasa yang layak dibaca? Rangkaian kata yang sanggup meruntuhkan tembok permusuhan yang ia dirikan sendiri dengan keangkuhannya di masa lalu. Kalimat yang memohon ampun pada Kirana—wanita yang kini terasa begitu jauh, bagaikan fana yang larut ditelan kabut malam dan waktu yang takkan bisa diputar kembali. Sudah lebih dari satu jam ia terpaku di sana, di atas kursi kulit imitasi yang terasa dingin, berjuang menyusun kata pembuka yang paling tepat. Setiap kali ujung pulpen itu mendekat ke permukaan kertas, sebuah duri kenangan menghujam keras, memaksanya menarik kembali tangan dengan gemetar. Wajah Kirana, sorot mata cokelatnya yang penuh luka, hingga bisikan perpisahannya yang meremukkan harga dirinya—berputar tanpa henti di dalam kepalanya, merusak sisa-sisa konsentrasi yang coba ia kumpulkan. Ia meraup udara dalam-dalam, merasakan sensasi panas membakar paru-parunya yang sesak. Kertas itu tampak terlalu putih, terlalu suci untuk menampung seluruh dosa, kekhilafan, dan penyesalannya. Dorongan batin untuk menumpahkan kejujuran kian mendesak, namun setiap kali hendak ditorehkan, kata-kata itu justru tersangkut di kerongkongan, membentuk gumpalan pahit yang menyiksa. Ia merasa bagaikan seorang perupa yang kehilangan palet warnanya, terperangkap di hadapan kanvas kosong yang seolah menertawakan ketidakberdayaannya sebagai manusia. Kepalanya terkulai lelah, menangkap bayangan buram dirinya sendiri di atas permukaan meja kaca yang memantulkan cahaya lampu redup. Seorang pria yang tampak remuk redam, dengan lingkar lebam kehitaman di bawah mata dan surai yang berantakan tak terurus. Ia bangkit, menyeret langkah gontainya menuju jendela besar apartemen yang membentang luas menghadap panorama malam kota. Kerlip lampu gedung di kejauhan berpendar bagaikan guguran bintang yang terlampau jauh untuk digapai oleh tangan manusia. Persis seperti keberadaan Kirana saat ini. Ia berbalik kembali ke meja kerja, meraih sebatang rokok baru dari kotak di sisi asbak, lalu menyalakannya dengan lidah api dari korek perak kesayangannya. Asap tipis mengepul kelabu, melingkar hampa di udara sebelum akhirnya buyar tak berbekas diempas angin AC. Netranya kembali jatuh pada lembaran kosong itu, kali ini disertai gelombang tekad yang jauh lebih keras. Jika bukan demi Kirana, setidaknya demi kewarasannya sendiri—untuk memuntahkan racun batin yang mengendap di dasar dada. Ia harus menulisnya, sebelum akal sehatnya benar-benar runtuh dan ia kehilangan sisa kewarasannya. Jemarinya gemetar hebat, namun kali ini, ujung pulpen itu mantap menyentuh permukaan kertas. Ujung pulpen itu bergesek canggung, menorehkan huruf demi huruf yang terasa kaku di atas kertas putih. “Kirana…” Satu kata itu tercipta, diikuti tetesan tinta yang sedikit menebal karena tekanan jemarinya yang terlampau kuat. Arya melanjutkan baris demi baris, memuntahkan segala sesal, memohon kesempatan kedua, mengakui betapa ia telah salah menilai arti kehadiran wanita itu dalam hidupnya. Tangannya bergerak semakin cepat, dikendalikan oleh desakan emosi yang membara. Kalimat-kalimat penyesalan itu tumpah ruah memenuhi halaman pertama, menjelma isak tangis tertahan yang menggetarkan kedua bahunya. Ia menuliskan bagaimana apartemen ini terasa seperti rongga kubur semenjak kepergiannya. Bagaimana setiap sudut ruangan seolah menuntut pertanggungjawaban atas kekejian sikapnya di masa lalu. Ia menceritakan malam-malam panjang yang dihabiskannya dalam terjaga, memandangi cangkir kopi yang tak lagi diseduh dengan cinta, melainkan dengan kepedihan yang teramat sangat. Tinta pena itu mengalir, menyerap tiap tetes air mata yang jatuh tanpa izin dari sudut matanya. Ia merasa seolah-olah dengan menuliskan semua ini, ia sedang mencuci luka busuk yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kesombongannya. Ketika lembaran pertama penuh oleh coretan emosi, ia beralih ke lembaran kedua, mencurahkan detail-detail kecil yang dulu ia anggap sepele namun kini menjadi candu yang menyiksanya—cara Kirana merapikan buku sketsa, aroma lavender yang melekat di sela-sela jemarinya, hingga senyum tulus yang selalu menyambutnya pulang, betapapun lelahnya wanita itu menghadapi hari-harinya sendiri. Setelah surat itu selesai tertulis penuh dalam dua lembar kertas penuh noda air mata, ia merobeknya dengan sangat hati-hati, melipatnya rapi menjadi empat bagian, lalu meraih sebuah amplop putih bersih dari dalam laci meja. Ia memasukkan surat tersebut ke dalam amplop, merekatkannya dengan erat, lalu membalikkan permukaannya untuk menuliskan alamat tujuan. Namun, genggaman pulpennya mendadak membeku di udara. Netranya menatap kosong pada bidang putih amplop yang hampa tanpa tulisan. Kepada siapa surat ini dikirimkan? Di mana kediaman Kirana sekarang? Pertanyaan itu menghantam kepalanya bagaikan palu godam, meruntuhkan sisa-sisa kewarasan yang baru saja ia kumpulkan dengan susah payah. Ia tidak punya alamat. Ia tidak tahu di sudut kota mana wanita itu membangun hidup barunya. Selama ini ia hidup dalam kepompong keangkuhannya sendiri, abadi dalam ketidaktahuan, membiarkan jurang pemisah melebar tanpa pernah berniat menjembatinya. Hingga kini, saat ia ingin mengetuk pintu maaf, semesta seolah menertawakannya lewat ketiadaan sebuah alamat. Lembaran surat cinta dan penyesalan itu mendadak terasa tak lebih dari sehelai sampah bisu yang tidak memiliki tujuan, melayang sia-sia di tengah badai batinnya sendiri. Napasnya memburu tak beraturan, dadanya naik turun menahan gelombang keputusasaan yang kian menghimpit. Didorong oleh rasa frustrasi yang memuncak hingga ke ubun-ubun, ia menyambar jaket denimnya dari sandaran kursi, keluar meninggalkan apartemen tanpa tujuan pasti di tengah keheningan malam yang kian larut, membiarkan kedua kakinya melangkah tanpa arah menembus dinginnya udara kota yang menusuk tulang. Langkahnya membawanya jauh, menyusuri trotoar-trotoar sepi distrik komersial yang telah lama ditinggalkan oleh keramaian. Di antara deretan ruko tua yang tutup berkerai besi, sebuah tempat baru tampak memancarkan pendar cahaya hangat yang mengundang perhatian. Sebuah kedai kopi bernuansa minimalis dengan dinding kaca besar yang tembus pandang. Langkah Arya terhenti seketika, seolah gravitasi bumi tiba-tiba melipatganda di bawah telapak kakinya. Tepat di depan pintu masuk kedai itu, sebuah spanduk kain membentang lembut tersapu angin malam, menampilkan ilustrasi bunga matahari yang digambar dengan goresan tangan yang teramat ia kenali—goresan tangan yang sama yang pernah menghiasi margin buku sketsa di apartemen mereka, penuh detail dan ketulusan. Dan di sudut kanan bawah spanduk tersebut, tertera sebuah inisial dan tanda tangan kecil yang menghentikan detik denyut jantungnya: 'K. Paramitha'.

End of Chapter 5