Chapter 4 of 16
Pecahan Memori Terlarang
1.7k words
Arya masih memegang ponselnya, jemarinya membeku di atas layar. Foto itu. Kirana. Tawa Kirana, lepas dan murni, seperti yang sudah lama tidak ia saksikan. Di sampingnya, seorang pria. Bukan dia. Pria asing itu merangkul bahu Kirana, senyumnya sama lebar, seolah mereka berbagi rahasia yang manis, rahasia yang Arya tidak pernah menjadi bagiannya. Dadanya terasa dicengkeram, pasokan udara menipis.
Mata Arya menyapu setiap detail. Rambut Kirana yang kini sedikit lebih panjang, tergerai bebas. Blus linen berwarna terakota, persis seperti yang sering ia kenakan saat mereka berkencan ke galeri seni. Dan senyum itu. Senyum yang dulu hanya menjadi miliknya. Otot rahang Arya mengeras, nyeri di dada semakin menusuk, seperti ada jarum es yang menancap perlahan di sana.
Siapa pria ini? Pertanyaan itu berputar, menjadi mantra pahit dalam benaknya. Sebuah suara serak, hampir tidak dikenali sebagai miliknya, berbisik dari dalam. Dia tidak punya hak untuk bertanya. Tidak punya hak untuk merasa sakit. Rasa panas menjalar ke pipinya, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang tiba-tiba membakar. Amarah pada dirinya sendiri.
Ponselnya bergetar lagi, notifikasi lain masuk. Sebuah pesan dari pengirim yang sama. Tapi Arya tidak sanggup lagi melihat. Pandangannya terpaku pada tawa Kirana, yang kini terasa seperti ejekan. Sebuah pengkhianatan dari masa lalu yang ia ciptakan sendiri. Jemarinya gemetar, hampir menjatuhkan ponsel.
Ia memaksa dirinya menarik napas, tapi hanya udara kosong yang masuk. Paru-parunya seolah menolak, mendesak. Bayangan tawa Kirana itu memudar, digantikan oleh gambaran dirinya yang dulu, angkuh dan buta. Bagaimana bisa ia begitu bodoh? Bagaimana bisa ia menyingkirkan berlian demi kerikil?
Setiap saraf di tubuhnya berteriak, meronta. Ada keinginan membabi buta untuk menghancurkan benda di tangannya, menghapus bukti keberadaan pria lain itu. Menghapus tawa Kirana yang bukan lagi untuknya. Tapi apa gunanya? Fakta itu sudah tertanam, mengukir lubang hitam di ulu hatinya.
Arya mengalihkan pandangannya dari layar, menatap kosong ke dinding kamar hotel yang dingin. Foto itu, meskipun buram, cukup jelas untuk menghancurkannya. Hancur dengan cara yang tidak pernah ia duga. Kirana bahagia. Kirana bahagia tanpa dia. Kata-kata itu, sederhana, tapi memporakporandakan seluruh dunianya.
Ada sentuhan rasa mual yang melilit perutnya. Sebuah campuran pahit dari penyesalan dan cemburu yang menggerogoti. Ia ingin membencinya, membenci pria asing itu, membenci Kirana yang tampak begitu damai. Tapi yang bisa ia benci hanya dirinya sendiri. Dirinya yang pernah begitu yakin, begitu jumawa, bahwa Kirana akan selalu ada.
Pria itu. Lengannya melingkari bahu Kirana dengan begitu alami, seolah itu adalah tempatnya. Seolah mereka sudah terbiasa dengan sentuhan itu. Arya mengingat bagaimana dulu, tangannya selalu mencari punggung Kirana, menariknya mendekat, merasakan kehangatan kulitnya. Sekarang, kehangatan itu dinikmati orang lain.
Napas Arya tercekat. Sebuah bisikan muncul dari sudut paling gelap hatinya. Ini balasanmu, Arya. Dan ia tahu, bisikan itu benar. Ini adalah buah dari kesombongannya, dari keegoisannya yang membabi buta. Foto itu bukan hanya gambar, melainkan palu godam yang menghantam fondasi terakhir harapan yang ia miliki.
Ia memejamkan mata, tapi gambar itu tetap terpatri, menyala di balik kelopak matanya. Tawa Kirana. Tawa itu menghantui, menertawakan kebodohannya. Sebuah tawa yang kini, entah bagaimana, terasa asing dan jauh. Seolah Kirana yang dikenalnya telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh wanita yang lebih bahagia, lebih bebas.
Cengkeraman pada ponsel mengendur, perlahan. Foto Kirana itu meluruh dari pandangannya, digantikan oleh kilasan memori yang lebih tajam, lebih menyakitkan. Sebuah malam yang dingin, aroma kopi yang menguap dari cangkir di tangannya, dan suara Kirana yang bergetar. Pertengkaran terakhir mereka.
Ruangan itu. Apartemen mungil Kirana, tempat yang selalu terasa seperti rumah baginya. Lampu meja dengan tudung kain krem, memancarkan cahaya temaram yang biasanya menenangkan. Malam itu, cahaya itu terasa menusuk, menonjolkan setiap garis ketegangan di wajah Kirana. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang pucat.
"Arya, kamu bisa kan, meluangkan waktu sedikit saja?" Suara Kirana, lirih, tapi ada ketegasan yang tidak biasa di sana. Ia berdiri di dekat jendela, memunggungi Arya, seolah dinding kaca itu adalah satu-satunya penopang yang ia miliki. Punggungnya tegang, bahunya sedikit bergetar.
Arya masih duduk di sofa kulit hitam, sibuk dengan laptopnya yang menyala terang, memancarkan aura pekerjaan yang penting. Ia tidak menoleh, hanya menghela napas panjang, seolah permintaan Kirana adalah gangguan yang tidak penting. "Aku sibuk, Kirana. Kamu tahu itu. Proyek ini deadline-nya besok."
"Selalu proyek. Selalu deadline," Kirana berbalik, tatapannya kini menghujam Arya. Matanya memerah, tapi tidak ada air mata. Hanya kekecewaan yang membeku. "Aku di sini. Menunggu kamu. Menunggu kita. Kamu bahkan tidak melihat aku."
Arya mengangkat pandangannya dari laptop, ekspresinya jengkel. "Aku melihatmu. Kamu ada di sini, kan? Apa lagi yang kamu mau? Aku pulang. Itu sudah cukup." Ia menunjuk kursi kosong di sebelahnya. "Duduk, temani aku. Aku butuh fokus."
Sebuah senyum pahit melintas di bibir Kirana. "Menemanimu? Atau menemanimu bekerja? Apa bedanya?" Ia melangkah mendekat, setiap langkahnya seperti memecahkan keheningan yang rapuh. "Aku hanya ingin kamu sebentar saja. Lepaskan pekerjaanmu, lihat aku, bicara padaku."
"Bicara apa lagi? Kita sudah bicara banyak hal, Kirana," Arya menjawab, kembali menatap layar laptopnya. Jari-jarinya menari di atas keyboard, mengetik dengan cepat, seolah hidupnya tergantung pada setiap kata yang ia ketik. Ia tidak menyadari, setiap ketikan itu juga mengukir retakan di hati Kirana.
Kirana diam, tapi keheningannya jauh lebih berat daripada teriakan. Arya bisa merasakan tatapannya, membakar punggung kepalanya. Ia mencoba mengabaikannya, memfokuskan diri pada angka-angka dan grafik di layar. Tapi konsentrasinya buyar. Ada kegelisahan yang merayap naik.
"Kamu selalu begitu, Arya." Suara Kirana kini lebih keras, lebih tajam. "Aku butuh kamu, tapi kamu selalu memilih pekerjaanmu. Aku butuh didengarkan, tapi kamu selalu punya alasan. Sampai kapan aku harus jadi prioritas kedua?"
Arya membanting laptopnya hingga tertutup. Brak! Suara itu bergema di ruangan, memantul di antara dinding-dinding. Ia berdiri, menatap Kirana, amarah mulai membara di dalam dirinya. Kelelahan dari pekerjaan bercampur dengan frustrasi karena merasa tidak dimengerti.
"Prioritas kedua? Kamu selalu jadi yang utama! Apa kamu pikir aku kerja keras ini untuk siapa? Untuk masa depan kita, Kirana! Kamu egois sekali, tidak bisa mengerti sedikit pun!" Suaranya meninggi, mengisi ruangan. Ia tidak sadar, di setiap kata yang ia ucapkan, ada kepingan hatinya yang ikut hancur. Bukan hatinya, melainkan hati Kirana.
Kata-kata itu. Kata-kata kasarnya pada Kirana, kini memantul di dinding memori Arya, membunyikan alarm mengerikan dalam benaknya. Setiap suku kata, setiap intonasi yang meremehkan, kini terasa seperti asam yang membakar, menggerogoti jiwanya. Ia telah menuduh Kirana egois. Dia. Arya, yang egois.
"Kamu terlalu posesif, Kirana!" Arya membentak. Wajah Kirana memucat. Matanya melebar, seolah ia baru saja ditampar. Ada kerutan tipis di dahinya, tanda bahwa kata-kata itu telah menghantam tepat sasaran. Ia tidak mundur, namun tubuhnya menegang, seperti patung yang rapuh.
"Posesif? Aku hanya ingin waktu bersamamu, Arya. Waktu yang utuh, bukan sisa-sisa dari pekerjaanmu," Kirana membalas, suaranya kini penuh getir. Tangannya mengepal erat, buku-buku jarinya memutih. Ia menatap Arya seolah baru pertama kali melihatnya, melihat sosok yang asing.
Arya menertawakan itu, sebuah tawa kering yang hampa. "Itu sama saja! Kamu ingin mengontrol setiap menit hidupku. Aku punya ambisi, Kirana. Aku punya tujuan. Tidak bisa setiap saat hanya memikirkan kamu dan perasaanmu!" Ia menunjuk ke arah Kirana, gestur itu penuh dengan tuduhan.
"Jadi perasaanku tidak penting?" Kirana bertanya, suaranya hampir tidak terdengar. Pertanyaan itu menggantung di udara, berat, membebani. Arya tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala, ekspresinya lelah, seolah Kirana adalah beban yang tak tertahankan.
"Kamu selalu saja mengeluh," Arya melanjutkan, nada bicaranya dingin. "Aku sudah lelah dengan drama ini. Kita sudah membicarakannya berulang kali. Aku tidak bisa berubah. Aku seperti ini. Kalau kamu tidak bisa menerima, ya sudah!" Kalimat terakhir itu keluar begitu saja, tanpa filter, tanpa memikirkan konsekuensinya. Sebuah penolakan telanjang yang mematikan.
Kirana terdiam. Seluruh kekuatannya seolah lenyap. Bahunya meluruh, matanya menunduk menatap lantai. Arya melihatnya, tapi saat itu, ia hanya melihatnya sebagai kekalahan, sebagai bukti bahwa ia telah 'menang' dalam argumen ini. Ia tidak melihat kehancuran di balik mata yang teduh itu.
"Apa maksudmu 'ya sudah'?" bisik Kirana, suaranya pecah. Ia mengangkat wajahnya lagi, menatap Arya dengan tatapan yang akan menghantuinya selamanya. Tatapan terluka, kecewa, dan lelah yang teramat sangat. "Apakah ini akhirnya?"
Arya mendengus, membuang muka. "Terserah kamu saja, Kirana. Aku sudah tidak peduli. Aku butuh istirahat." Ia melangkah pergi, menuju kamarnya, meninggalkan Kirana sendirian di ruang tamu yang temaram. Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang tajam, memisahkan mereka. Bukan hanya fisik, tapi jiwa.
Bunyi klik itu. Kini, dalam ingatannya, bunyi itu bergaung seperti retakan terakhir pada sesuatu yang berharga. Ia telah mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang meracuni. Kata-kata yang mendorong Kirana pergi. Rasa benci pada dirinya sendiri memuncak, melingkari tenggorokannya, mencekiknya. Bagaimana bisa ia sebengis itu?
Setiap napas yang ia hirup terasa sakit. Otot-otot di rahangnya berdenyut. Ia ingin menarik kembali setiap kalimat pedas yang ia lontarkan. Ingin memutar waktu, memeluk Kirana, mengatakan bahwa ia salah. Bahwa Kirana penting. Tapi semua itu terlambat. Terlambat sekali.
Ingatan itu menguap, meninggalkan Arya terengah-engah dalam kesunyian kamar hotel. Nafasnya memburu, paru-parunya terasa sesak, seolah ia baru saja berlari maraton dalam mimpi buruk. Keringat dingin membasahi pelipisnya, sensasi yang kontras dengan dinginnya AC di ruangan itu. Bayangan Kirana yang berdiri di ambang pintu kamarnya, punggung tegak, kepala sedikit mendongak, kini terasa begitu nyata.
Arya menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan itu. Tapi Kirana tidak pergi. Dia ada di sana, di sudut matanya, di setiap detak jantungnya yang nyeri. Kata-kata terakhirnya di malam itu, sebelum ia melangkah keluar dari apartemen, sebelum ia menghilang dari hidup Arya, kini bergaung jelas.
"Arya," suara Kirana, saat itu, terdengar seperti embusan angin yang membawa peringatan. Ia tidak berteriak, tidak membentak. Hanya sebuah nada datar, penuh kepastian yang menakutkan. Wajahnya, meskipun pucat, menunjukkan ketenangan yang mengerikan. Ketenangan orang yang telah mencapai batasnya.
Arya ingat ia hanya mengedikkan bahu, masih terlalu angkuh untuk melihat kedalaman luka di mata Kirana. Ia sibuk membereskan tas kerjanya, seolah keberangkatan Kirana tidak lebih penting dari dokumen-dokumen di mejanya. Sebuah kebodohan yang kini menjadi penyesalan paling pahit.
Kirana melangkah maju, mendekatinya satu langkah. Hanya satu. Tapi langkah itu terasa seperti jurang yang menganga. Ia berhenti, menatap Arya. Tatapan itu adalah perpaduan antara kesedihan yang tak terhingga dan kekuatan yang baru ditemukan. Sebuah perpisahan yang disuarakan tanpa perlu kata-kata perpisahan.
"Suatu hari nanti, kamu akan mencari sesuatu yang tidak pernah kamu hargai, Arya," bisik Kirana, suaranya pelan, namun menusuk hingga ke tulang sumsum. "Dan saat itu terjadi, aku tidak akan ada di sana."