Chapter 3 of 16
Chapter 3: Pengakuan yang Tertahan
1.9k words
Udara di luar kedai kopi menyergap kulit wajah Arya bagaikan tamparan es yang membekukan. Ia melangkah keluar dengan tungkai yang terasa berat, seolah setiap jejak telapak kakinya direkat oleh sisa-sisa bayangan yang baru saja menghantam batinnya. Kanopi langit malam telah legam sempurna, ditaburi kerlip bintang-bintang yang terasa seolah menertawakan kehancurannya yang abadi. Napasnya memburu tertahan, dadanya sesak bukan lantaran lelah mendaki tanjakan, melainkan karena ada cengkeraman tak kasat mata yang meremukkan parunya dari dalam.
Retina matanya masih merekam kuat setiap inci sosok wanita itu—helai rambut sebahu yang berayun lembut di atas bahu, cara ia meletakkan tas kanvas, hingga retakan garis tipis di sudut layar ponselnya. Semuanya meneriakkan nama Kirana. Namun, bagian paling meruntuhkan jiwa adalah tatapan mata itu sesaat sebelum ia membuang muka: kilatan pengakuan yang teramat singkat, namun telak menghujam jantungnya lebih dalam daripada sayatan belati.
Arya mempercepat ayunan langkahnya, berlari kecil dari hantu ingatan dan tanya yang menggantung menyesakkan. Apakah itu benar dirinya? Mengapa wanita itu memilih bungkam? Mengapa ia harus kehilangan sosok itu untuk kedua kalinya? Badai kognitif berputar liar di kepalanya, menolak merangkai kepingan teka-teki yang terlampau menyakitkan untuk dipecahkan. Setiap meter langkah menjauhi kedai terasa bagai pengasingan diri dari sisa-sisa kesempatan terakhir yang ia miliki di muka bumi.
Dengan jemari yang bergetar hebat, ia merogoh saku jaket denimnya, meraba permukaan logam kunci mobil Honda Civic miliknya. Dinginnya besi itu gagal meredam gempa di dadanya. Ia hanya ingin kabur—menghilang dari bisingnya kota, dari melodi lagu sialan yang merobek pertahanannya, dari bayang-bayang Kirana yang kini merajai setiap sudut retinanya. Namun, ke mana ia harus melangkah? Rumah telah menjelma rongga hampa, kantor terasa asing, dan kota metropolitan ini mendadak berubah menjadi makam besar bagi kenangan mereka berdua.
Keringat dingin meleleh membasahi pelipis, beradu dengan gigil malam yang merayap. Ia menekan telapak tangan ke dada kirinya, merasakan debar jantung yang mengamuk liar layaknya kuda ketakutan di dalam kandang sempit. Teror itu nyata—jauh lebih nyata ketimbang apa pun yang pernah ia takuti sepanjang hidupnya. Ketakutan terburuk kini berwujud nyata: kehilangan Kirana untuk selama-lamanya, menyadari bahwa ia telah membuang mutiara terindah, dan siksaan batin bahwa wanita itu mungkin telah merajai lembaran hidup baru tanpa menyisakan ruang untuknya.
Ia akhirnya tiba di sisi mobilnya, membuka pintu dengan tangan yang masih gemetar. Aroma khas jok kulit menyambutnya—wangi familier yang semestinya memberi ketenangan, namun malam ini justru mempertegas kekosongan di sekelilingnya. Arya merosot jatuh di balik kemudi, menyandarkan tengkuknya pada bantalan kursi sambil memejamkan mata rapat-rapat. Sialnya, kegelapan di balik kelopak matanya justru memproyeksikan senyum hangat Kirana, binar matanya, dan detik-detik ketika mata wanita di kedai kopi itu beradu pandang dengannya. Kirana-nya. Atau murni halusinasi?
Ia meraup oksigen panjang-panjang, mencoba menjinakkan debar jantung yang belum juga melambat. Nihil. Setiap helai napas justru menghantarkan sisa aroma kopi pahit dan gema lirik lagu yang mencabik-cabik ulu hatinya. Arya melirik pantulan wajahnya sendiri pada kaca jendela samping yang gelap. Pias, matanya merah berair, rambutnya kusut masai. Ia tampak persis seperti pria malang yang baru saja menyaksikan hantu di tengah siang bolong—dan barangkali, memang itulah kenyataannya.
Arya memutar kunci kontak, membiarkan deru halus mesin mobil menyala di tengah keheningan kabin. Ia butuh pelarian, namun akalnya buntu. Pulang ke rumah? Tidak; ia tak sanggup menghadapi dinding-dinding sunyi yang senantiasa menuntut pertanggungjawaban atas kebodohannya. Kantor? Mustahil memusatkan atensi pada grafik dan kontrak di saat kepalanya dipenuhi jeritan pertanyaan tanpa jawab. Tangannya meraba dashboard, mencari sebersit penyelamat di tengah karamnya pikiran, hingga matanya menangkap pendar redup dari layar ponselnya yang tergeletak pasif.
Jemarinya bergerak otomatis, membuka daftar kontak, dan mendaratkan pilihan pada satu nama di deretan teratas: Rendy. Sahabat karib sekaligus satu-satunya manusia yang mungkin masih sanggup menawar kewarasannya di tengah badai emosi ini—atau setidaknya, seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi karena telah mengetahui separuh kebodohannya. Tanpa ragu, ia menekan tombol panggil. Suara sambungan berdering memecah kesunyian interior mobil.
"Halo, Ren?" Suaranya sendiri lolos begitu parau, asing di telinganya sendiri. Ia mencoba meluruskan pita suaranya, namun kering kerontang di tenggorokan mengkhianatinya. Rendy, dengan insting tajam yang terlampau baik mengenalnya, pasti akan segera menangkap kejanggalan itu.
"Arya? Lo baik-baik aja? Suara lo kenapa begitu?" Pertanyaan Rendy meluncur tajam menembus pertahanan rapuh yang baru saja ia dirikan. Arya merengutkan dahi, menarik napas dalam-dalam. Ia belum siap mental untuk memikul empati Rendy, apalagi menjelaskan sesuatu yang bahkan belum mampu ia cerna sendiri.
"Gue... gue baik-baik aja, kok," kilah Arya berbohong, berusaha mempertegas intonasinya meski getaran halus tetap lolos di ujung kata. Ia mulai melajukan mobilnya perlahan tanpa arah pasti, membelah jalanan kota yang kian lengang. Kerlip lampu jalan melebur menjadi garis-garis bias cahaya yang kabur di balik kaca basah. "Cuma... baru keluar dari kedai kopi. Ada... sesuatu." Ia sengaja menggantungkan kalimatnya, berharap Rendy tidak mendesak lebih jauh.
"Sesuatu apa? Dari nada bicara lo, itu jelas bukan sesuatu yang bagus." Rendy menolak melepaskannya begitu saja. "Lo tahu, lo selalu bisa cerita apa pun ke gue, Ya. Jangan ditelan sendiri." Nada suara Rendy melembut namun menyiratkan ketegasan mutlak—ciri khas seorang sahabat sejati yang membaca gelagatnya bagai buku terbuka. Arya menggigit bibir bawahnya hingga pucat, cengkeramannya pada kemudi mengerat. Ia ingin memuntahkan seluruh beban itu: tentang melodi akustik, tentang duplikat Kirana, tentang kilatan mata yang menghantuinya. Namun rangkaian kata itu macet di kerongkongan, terperangkap seperti pasir isap.
"Gue... gue rasa gue lihat Kirana, Ren," bisik Arya akhirnya, begitu lemah hingga nyaris tak tertangkap mikrofon ponsel. Pengakuan itu meluncur bagai bongkahan batu besar yang terangkat dari dadanya, meninggalkan sengatan rasa malu yang membakar pipinya di tengah dinginnya kabin. Ini terdengar konyol, absurd, dan kekanak-kanakan di usianya. Setelah semua dosa pengabaian yang ia perbuat, ia masih saja tersiksa oleh bayang-bayang masa lalu. Namun sensasi tadi terlampau nyata. Terlampau menyakitkan. Sekaligus terlampau membuai harapan.
"Lo lihat Kirana? Di mana?" Suara Rendy di ujung seberang serta-merta melengking tinggi, menyiratkan kejut luar biasa. "Maksud lo, Kirana yang beneran? Bukan cuma... halusinasi stres lo lagi, kan?" Rendy melontarkan skeptisisme wajar, dan Arya sama sekali tidak menyalahkannya. Ia sendiri pun nyaris tidak percaya pada indranya sendiri. Namun instingnya berteriak berbeda; kali ini detail-detailnya terlalu presisi untuk disebut sekadar ilusi kelelahan.
"Di kedai kopi tadi," tutur Arya dengan volume rendah yang sarat kelelahan. "Persis seperti dia, Ren. Potongan rambutnya, gestur gerakannya, bahkan pin kura-kura di tas kanvasnya. Dan ponselnya... layarnya retak di sudut persis seperti milik Kirana." Arya menghirup udara sebanyak mungkin, berusaha menjaga kestabilan napasnya, meski setiap detail yang ia lafalkan justru meremukkan kembali rongga dadanya. Plafon matanya kembali menghangat oleh desakan air mata. Ia benci menangisi kelemahannya sendiri, terlebih di hadapan sahabatnya.
"Pin kura-kura? Yang dulu lo kasih itu?" sergah Rendy, nada suaranya bergeser drastis dari ragu menjadi tegang. "Serta retakan ponselnya? Sial, Ya... itu terlalu banyak hal identik untuk ukuran sebuah kebetulan." Hening seketika merayap di antara sambungan telepon mereka, hanya ditemani deru mesin mobil dan dentum jantung Arya yang kian kalut. Rendy akhirnya menyerah pada asumsi bahwa ini bukan lagi delusi semata, melainkan sebuah teka-teki nyata yang jauh lebih rumit.
"Itu juga yang ada di kepala gue," isak Arya tertahan, suaranya pecah di tengah jalan. "Dan... dan dia sempat menatap ke arah gue, Ren. Ada pendar di matanya. Gue yakin... dia mengenali gue." Kalimat itu meluncur tanpa filter pertahanan diri. Pengakuan jujur bahwa ia mendambakan pengampunan, bahwa ia masih sangat mengharapkan sisa ruang di hati wanita itu, adalah ketelanjangan jiwa yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat bahkan dari cermin kamarnya sendiri. Rendy memilih bergeming, membiarkan keheningan itu meraja, memberi ruang bagi Arya untuk tenggelam dalam kerapuhannya.
"Arya, lo masih sangat mencintai dia, kan?" bisik Rendy pelan, nyaris seperti embusan angin yang tak ingin meretakkan cangkang kerapuhan sahabatnya. Pertanyaan itu menghantam ulu hati Arya bagaikan pukulan palu baja, meratakan sisa-sisa benteng angkuhnya. Bibirnya terbuka lebar, namun tiada suara yang sanggup keluar. Ia hanya mampu merasakan gelombang panas membakar tenggorokannya, menyusul tumpahan air mata yang tak lagi kuasa ia bendung. Ia mengangguk lemah dalam sunyi, sebuah gestur pengakuan penuh penyesalan dan rindu yang menyiksa.
"Gue... gue hancur berkeping-keping tanpanya, Ren," ratap Arya parau, nyaris tak berbentuk kata. "Gue salah besar. Gue tahu itu. Selama ini gue bajingan yang nggak pernah menghargai keberadaannya. Gue tolol..." Pengakuan jujur dari relung jiwa paling gelap itu menjelma luka terbuka yang mengalirkan darah penyesalan. Rendy tetap menyimak tanpa memotong, membiarkan Arya memuntahkan seluruh nanah rasa sakit yang bertahun-tahun mendekam di dadanya. Bulir air mata tumpah ruah membasahi pipi, menembus kerah jaketnya yang dingin. Seluruh diksi cinta yang dulu terabaikan kini berbalik menghrumuskan takdirnya dalam tangis kepedihan.
"Gue sempat bodoh berpikir kalau gue bisa hidup mandiri tanpa dia. Gue kira... gue bakal baik-baik aja setelah move on," lanjut Arya di sela tawa getir yang terdengar pilu menyerupai isakan. "Tapi realitanya nggak begitu, Ren. Semuanya hancur. Apa pun yang gue sentuh, apa pun yang gue reguk sekarang, nggak ada yang mampu menyamai kehangatan dekapannya, kelembutan sentuhannya..." Ia tanpa sadar meminjam bait lagu yang meremukkan harga dirinya di kedai tadi—lagu yang kini bertransformasi menjadi kidung kehancuran hidupnya. Rendy menarik napas panjang di ujung sana, napas yang sarat dengan gelombang empati mendalam.
"Gue paham, Ya," tutur Rendy akhirnya dengan intonasi yang menenangkan. "Gue selalu tahu itu sejak awal. Sayangnya, lo baru sadar sekarang." Kalimat itu bukan vonis penghakiman, melainkan sebuah kebenaran mutlak yang telak menampar kesadarannya. Arya hanya mampu mengangguk pasrah, membiarkan setiap frasa dari sahabatnya mengukir kepedihan di relung nuraninya. Ia memang keras kepala, jumawa, dan dibutakan oleh ambisi semu. Dan kini, ia tengah melunasi seluruh cicilan denda karma tersebut dengan tiap tetes air mata keputusasaan.
"Gue... gue cuma pengin punya satu kesempatan lagi buat mengucapin semua itu langsung ke dia," ucap Arya lirih, tenggorokannya tercekat hebat. "Gue mau minta maaf. Gue mau..." Kalimatnya mengambang di udara, sarat akan asa rapuh yang barangkali telah kedaluwarsa dimakan waktu. Netranya memindai lurus ke jalanan aspal basah di depan, berharap keajaiban membawa sosok Kirana melintas di hadapannya sekali lagi. Namun realitas tidak berkompromi dengan penyesalan; waktu takkan pernah sudi berjalan mundur.
"Tenangkan diri lo dulu, Ya," seru Rendy mencoba membimbing kembali logika sahabatnya. "Kita selidiki pelan-pelan. Kalau perempuan itu benar Kirana, kita pasti bakal temuin jalannya. Tapi lo nggak bakal bisa bertindak waras kalau panik kayak gini." Nasihat itu sangat masuk akal, namun sistem saraf Arya menolak merespons rasionalitas. Panik telah mengambil alih kemudi kesadarannya, membakar otaknya dengan jutaan skenario liar tanpa ujung.
Arya memejamkan mata sesaat, menghirup udara dingin kabin untuk menuruti instruksi Rendy. Udara itu gagal mendinginkan api amarah dan sesal yang membakar dadanya. Ia ingin berteriak meluapkan frustrasi, ingin memukul setir mobil hingga remuk, namun tubuhnya hanya sanggup bergetar hebat di dalam kungkungan penyesalan.
"Iya, Ren. Gue... gue bakal coba tenang," jawab Arya dengan suara serak bergetar, merakit kembali sisa-sisa kewarasannya yang berserakan. Jika perempuan itu benar-benar Kirana, maka secercah fajar masih membentang di ujung malam. Rendy mendesah pelan di seberang, seakan turut memikul beban berat yang menghimpit dada Arya saat ini. "Nanti gue kabari lo lagi." Arya bersiap memutus sambungan telepon, bersiap merancang langkah nekat berikutnya.
Namun, tepat pada milidetik ketika ia hendak menjauhkan ponsel dari telinganya, sebuah getaran keras mendadak mergetarkan genggamannya.
Drrrrt!
Layar gelap gawai itu menyala terang, memantulkan notifikasi pesan masuk yang langsung merenggut sisa oksigen di paru-parunya. Sebuah foto buram menampilkan sosok Kirana tengah tertawa lepas di samping seorang pria asing yang sangat familier—sebuah tikaman telak yang siap menorehkan luka terburuk di sisa malamnya.