Arya tidak bisa mengalihkan pandangannya. Matanya yang sebelumnya bengkak dan merah karena sisa air mata kini terpaku mutlak pada siluet di meja pojok. Wanita itu baru saja melabuhkan duduk, jaket denim usang tersampir longgar di sandaran kursi, membiarkan ikal rambut hitamnya jatuh bebas menutupi punggung. Setiap helai gelombang rambut itu, gelap dan memantulkan pendar temaram kedai, terasa bagai replika presisi dari ingatan yang terus menguliti batinnya.
Punggung wanita itu tegak, nyaris anggun, saat ia meletakkan tas selempang kanvas di sisi kursi. Gerakan tangannya begitu tenang; jemari-jemari panjangnya menyingkap helai rambut yang merayap ke bahu—sebuah gestur yang teramat akrab, persis tabiat Kirana setiap kali ia hendak menumpahkan konsentrasi penuh pada suatu hal. Getaran dingin mendadak merayapi sepanjang tulang punggung Arya, menekan setiap ujung saraf hingga menegang. Ini tidak mungkin.
Ia meraup oksigen dalam-dalam, namun rongga dadanya terasa sesak dan sempit. Aroma robusta yang tadinya menenangkan kini berubah pekat, bergesekan dengan bau lembap sisa rintihan hujan yang melekat di sepatu wanita itu. Arya memejamkan mata rapat-rapat, berharap kegelapan sesaat itu mampu melenyapkan delusi. Namun, begitu kelopak matanya terbuka kembali, sosok itu tetap di sana—nyata, kokoh, dan menolak untuk musnah.
Wanita itu mengeluarkan buku bersampul kain kasar dari dalam tasnya. Jemarinya meraba tekstur permukaan itu sejenak sebelum membukanya perlahan. Sebuah pensil kayu terselip rapi di lipatan halaman, ditarik keluar dengan gerakan yang terlampau familier. Jantung Arya menghantam dinding rusuknya dengan ritme beringas yang tak beraturan. Kirana selalu membawa buku sketsa ke mana pun ia pergi, selalu bersiap menangkap letupan inspirasi sekecil apa pun.
Bahkan cara wanita itu menjepit pensilnya—menggunakan tumpuan ibu jari dan telunjuk dengan sokongan jari tengah—begitu identik tanpa cela. Arya mendadak terlempar ke masa lalu, teringat penjelasan Kirana bahwa posisi jari seperti itulah yang memberinya kontrol terbaik atas detail-detail terkecil. Ingatan itu menghantam keras, tanpa ampun, menyeretnya kembali ke studio sempit mereka yang dahulu selalu berantakan oleh serpihan arang dan bau cat air.
Seolah diikat oleh benang tak kasat mata yang membentang di antara mereka, wanita itu mendongak perlahan. Pandangannya menerawang kosong ke arah dinding kedai yang dihiasi poster-poster indie. Tatapan itu melintas sekilas, namun sukses membuat lambung Arya melilit mual. Garis profil wajah itu, lekuk hidung mancung yang khas, bibir tipis yang terkatup rapat, hingga bayangan bulu mata lentik yang jatuh di atas pipi—semuanya seakan meneriakkan nama Kirana tanpa suara. Ini bukan sekadar kemiripan wajah yang kebetulan. Ini adalah duplikasi sempurna, sebuah ilusi kejam yang mempermainkan kewarasan.
Arya menggelengkan kepala pelan, mencoba menepis badai kognitif yang mengamuk di kepalanya. Ini hanya kebetulan, bisiknya meyakinkan diri sendiri, sebuah trik murahan yang dimainkan oleh otaknya yang letih dan hatinya yang compang-camping. Dunia ini luas; jutaan wajah tercipta dengan garis serupa. Lagi pula, Kirana tidak mungkin sudi kembali ke tempat penuh kenangan busuk ini. Wanita itu telah pergi jauh. Sangat jauh.
Namun, setiap pergerakan kecil dari wanita di pojok sana terus-menerus menantang logika rapuh yang coba ia bangun. Wanita itu meraih cangkir kopinya yang baru diantar pelayan, menghirup uap tipis yang mengepul sebelum menyesapnya perlahan. Ibu jarinya mengusap bibir cangkir, seolah meresapi kehangatan yang menjalar ke kulit. Arya mengenali tabiat itu di luar kepala. Kirana selalu melakukannya—sebuah ritus kecil penanda betapa ia menghargai hal-hal sederhana dalam hidup.
Tak lama berselang, wanita itu merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel lalu meletakkannya di sebelah buku sketsa. Layar gawai itu tampak retak di sudut kiri atas. Retakan kecil, tipis, dan samar—tanda lahir digital yang amat dikenali Arya. Kirana pernah tak sengaja menjatuhkan ponselnya saat mereka terburu-buru mengejar kereta komuter bertahun-tahun lalu, dan retakan itu dibiarkan abadi tanpa diperbaiki dengan alasan "benda itu punya cerita," ucapnya kala itu diiringi senyum simpul.
Napas Arya tercekat di tenggorokan. Udara di sekitarnya menipis seketika, seolah seluruh oksigen telah dihisap keluar dari ruangan. Ini sudah melewati batas kebetulan logis. Ini adalah pengulangan mikro-detik dan benda privat yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya. Tangan Arya gemetar hebat saat ia mencoba meraih gelas Americano-nya yang berembun, namun urat-urat di pergelangannya menolak mematuhi perintah. Tenggorokannya kering kerontang, terasa seperti tertelan pasir gurun.
Pandangannya meluncur turun menyusuri garis bahu wanita itu, melewati potongan tegas jaket denimnya. Sebuah pin enamel berukuran kecil, berbentuk kura-kura hijau zamrud, tampak tersemat rapi di kerah jaket. Dunia Arya berputar kencang. Pin itu. Benda kecil pemberiannya dalam rangka ulang tahun Kirana yang ke-25, sebuah simbol filosofis tentang "kesabaran tanpa batas" dan "rumah yang selalu berjalan." Kirana sempat tertawa renyah sore itu, menghujaninya dengan dekap erat, dan bersumpah tidak akan pernah melepas pin tersebut dari jaket kesayangannya.
Gelombang hawa panas dan dingin berkejaran menghantam sekujur tubuh Arya. Keringat dingin merembes deras membasahi pelipis, sementara ujung-ujung jarinya mati rasa. Otot rahangnya mengetat keras, menahan gejolak histeria yang mendesak ingin meledak keluar. Ia ingin bangkit, berteriak, menghambur ke meja itu dan mencengkeram lengan wanita tersebut untuk menuntut jawaban telak. Siapa kamu? Mengapa kamu menjelma hantu yang menyiksa batinku?
Namun, sepasang kakinya terpaku mati di lantai keramik, seolah semen basah telah mengikatnya di tempat. Ketakutan yang asing dan purba mencekik lehernya—bukan sekadar takut pada jawaban yang akan ia terima, melainkan ketakutan bahwa kenyataan ini ternyata tidak memiliki jawaban logis sama sekali. Ia hanya mampu terbelalak kaku, menyaksikan setiap detail kecil yang secara sistematis merobek sisa-sisa kewarasannya, menarik sosok Kirana kembali ke hadapannya dari jurang masa lalu.
Detak jantung Arya bergemuruh liar, menyerupai genderang perang yang menabuh rongga dadanya tanpa jeda. Setiap denyut memompa darah dingin ke seluruh penjuru tubuh, membawa serta gelombang rasa bersalah yang menusuk-nusuk lambung. Pin kura-kura itu. Ponsel retak itu. Teknik memegang pensil itu. Semuanya adalah manifestasi fisik atas kebodohannya sendiri—bukti nyata betapa ia pernah menggenggam mutiara berharga di telapak tangannya, lalu dengan arogan menjatuhkannya hingga berkeping-keping.
Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada palu godam tak kasat mata yang menghantam bagian dalam tengkoraknya. Rasa mual mendesak naik, membuat perutnya bergejolak hebat. Suasana kedai yang temaram tiba-tiba terasa pengap, berat, seolah udara malam itu diresapi oleh aroma parfum Kirana yang teramat ia hafal—campuran lembut vanilla dan sandalwood yang palsu, ciptaan halusinasi olfaktori dari pikirannya yang sudah melampaui batas lelah.
Arya mencengkeram bilah sandaran kursi di depannya erat-erat, hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Ia butuh jangkar, butuh sesuatu yang absolut untuk meyakinkan diri bahwa ia belum sepenuhnya kehilangan akal sehat. Ironisnya, realitas di hadapannya justru terasa jauh lebih mengerikan daripada igauan tidur. Wanita itu—duplikat Kirana yang begitu sempurna—duduk tenang di sana, seolah tak peduli bahwa kehadirannya sedang menghancurkan seorang pria dewasa berkeping-keping.
Dorongan instingtif untuk melarikan diri menjerit keras di benaknya. Lari. Keluar dari tempat terkutuk ini. Menjauh dari sosok yang sebentar lagi akan mendongak dan menatap matanya. Ia membayangkan dirinya berdiri mendadak, membanting kursi ke lantai, lalu menerobos pintu kaca untuk lari tanpa menoleh ke belakang.
Akan tetapi, tubuhnya menolak bekerja sama. Otot-ototnya terkunci kaku dalam kepasrahan yang menyedihkan. Ada sisi gelap dalam dirinya yang bersifat masokis—bagian yang haus siksaan—yang memaksa untuk tetap tinggal. Seolah-olah dengan terus memandangi wanita itu, ia sedang membayar cicilan denda atas dosa-dosa masa lalunya pada Kirana.
Rasa panas menjalar merona di kedua pipinya, bukan karena deman, melainkan perpaduan antara rasa malu yang teramat sangat dan keputusasaan mutlak. Sudut matanya kembali menghangat, mendesak bulir air mata untuk tumpah, namun kali ini ia menggertakkan gigi menahannya sekuat tenaga. Cukup. Ia menolak terlihat semakin menyedihkan di ruang publik. Ia harus bertahan.
Wanita di sana perlahan mengangkat pensilnya, meletakkannya dengan rapi di samping buku sketsa. Gerakannya begitu luwes, tanpa ada kesan terburu-buru. Sebuah jeda yang terasa merayap lambat selama ribuan tahun bagi Arya. Ia melihat wanita itu menghembuskan napas panjang, merilekskan bahunya yang tegap. Lantas, dengan gerakan yang teramat pelan, kepala wanita itu mulai berputar ke samping. Setiap milimeter pergerakan itu bagaikan detak jarum jam yang menghitung mundur kewarasannya.
Kepala wanita itu menoleh sepenuhnya, seolah baru saja menuntaskan sebuah pemikiran rumit yang menyita fokus. Arya merasakan sekujur tubuhnya menegang kaku, bertransformasi menjadi patung pualam di tengah bisingnya kedai. Ia menghentikan napasnya; paru-parunya dikosongkan secara sukarela demi mencegah suara sekecil apa pun. Seluruh bising di sekelilingnya—mulai dari obrolan pengunjung lain, denting sendok porselen, hingga alunan musik jazz latar—lenyap seketika, tertelan oleh keheningan mutlak yang hanya tercipta di antara mereka berdua.
Pandangan wanita itu menyapu lambat meja-meja di sekitarnya, gerak reflek biasa bagi seseorang yang baru saja melepaskan diri dari lamunan panjang. Arya tahu persis apa babak selanjutnya dari sandiwara kejam ini. Jantungnya bergemuruh begitu dahsyat hingga dentumannya terasa memekakkan gendang telinganya sendiri. Ia ingin membuang muka, ingin menunduk merendah, namun saraf matanya membangkang. Mereka terkunci dalam antisipasi yang menyiksa.
Sosok itu kini menghadap lurus ke arahnya. Helaian rambut ikalnya bergeser, menyingkap garis rahang yang lembut, tulang pipi tinggi yang proporsional, serta kulit bersih tanpa cela. Seluruh detail anatomi itu lagi-lagi merupakan cetakan asli Kirana yang tak terbantahkan. Bisikan putusasa merayap memecah keheningan batinnya: Itu dia. Itu benar-benar Kirana.
Lantas, arah pandang wanita itu berhenti. Sesaat, matanya tidak langsung menatap Arya, melainkan terpatri pada hiasan dinding di belakang tempat duduk pria itu. Tenggorokan Arya terasa tersumbat bongkahan es; lidahnya kelu, menebarkan rasa pahit. Keringat dingin bercucuran kian deras, membasahi kemeja yang melekat di punggungnya.
Satu detik berlalu, terasa selambat abad. Kemudian, kelopak mata itu bergerak lagi, menggeser fokus sudut pandangnya. Perlahan, tanpa keraguan, sepasang mata legam yang dalam itu bergeser lurus menghujam ke arah meja Arya. Sunyi merayap kian pekat, mematikan seluruh isi dunia di sekeliling mereka.
Tatap mereka akhirnya berpapasan.
Di tengah tabrakan pandangan yang asing itu, Arya bersumpah ia menangkap secercah kilat pengenalan yang mengerikan—nyala api kecil yang mendadak berkobar di dalam sumur gelap masa lalu mereka.