Chapter 1 of 16

Nada yang Merobek Jiwa

1.3k words

Arya menyandarkan punggung ke bangku berlapis kulit imitasi yang dingin. Getaran samar percakapan dan dentingan cangkir keramik melebur menjadi latar belakang yang memudar. Aroma pahit biji robusta menempel di udara—akrab, namun terasa asing malam ini, seolah merangkul kesendiriannya yang telanjang. Ia sengaja memilih meja pojok ini, terselip di balik rimbun pot fern, demi merengkuh ilusi privasi. Jari-jarinya mengusap butiran kondensasi pada gelas Americano dinginnya, sebuah gestur cemas yang tak lagi mampu ia sembunyikan. Suhu es itu meresap ke kulit, mencerminkan simpul beku di lambungnya yang tak kunjung mencair. Ia datang ke sini untuk berpikir, mengurai benang kusut di kepalanya, tetapi setiap helai selalu melompat lepas dari genggamannya. Setiap wajah yang berlalu, setiap tawa renyah dari pasangan di meja seberang, terasa seperti palu hakim—pengingat bisu atas apa yang telah ia kubur dengan tangannya sendiri. Kirana. Nama itu bukan sekadar panggilan, melainkan luka menganga yang menolak sembuh. Ia telah mendorong wanita itu menjauh, lapis demi lapis, terseret ambisinya mengejar kata ‘lebih’ dan kesibukan yang tak bertepi. Kini, ‘lebih’ menjelma gema hampa di ruang hampa, dan ‘sibuk’ hanyalah nama lain dari kesepian yang mengoyak. Ponsel di sakunya bergetar—surel kantor, sudah pasti. Ia membiarkannya mati di tempat. Pekerjaan, dewa yang selama ini ia agungkan, kini tak menawarkan tempat bersandar, menyisakan siklus tugas tanpa makna yang kehilangan arah tanpanya. Ia hanya ingin membungkam bisingnya penyesalan diri, merengkuh jeda hening di tengah badai yang ia ciptakan. Pandangannya menerawang ke jalan raya di luar, tempat rintik hujan baru saja bergesek dengan aspal, membiaskan kelap-kelip lampu neon menjadi sapuan warna yang kabur. Ia bertanya-tanya, apakah di sudut kota yang lain Kirana sedang menatap langit kelabu yang sama, apakah wanita itu masih menyimpan hafal cara ia mendekapnya erat saat tetesan pertama jatuh. Tusukan tajam merobek dadanya, meninggalkan sesak yang menyiksa. Ia meneguk sisa kopinya yang pekat, membiarkan kafein menyengat lidah, namun gagal membangkitkan jiwanya yang telah mati rasa. Interior kedai yang hangat ini mendadak terasa menusuk tulang, kontras dengan gejolak destruktif di dalam dadanya. Benteng pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun, yang ia yakini sekuat baja, kini retak, menanti guncangan terkecil untuk meruntuhkannya berkeping-keping. Ia hanya butuh satu pemicu, satu melodi yang salah, untuk membuat dunianya ambruk total. Sebuah alunan petikan gitar akustik yang rapuh, mulanya tersapu oleh alunan jazz lembut dari pengeras suara kedai, mulai merayap menyusup ke kesadaran Arya. Ia tidak langsung menyadarinya; pikirannya masih terbenam di perairan keruh rasa bersalah. Namun melodi itu—sederhana, jernih, dan jujur—perlahan memisahkan diri dari keriuhan latar. Itu adalah petikan senar nilon tunggal, diiringi timbre suara bariton yang parau. Seorang musisi jalanan, barangkali, di balik dinding kaca besar. Akor-akor itu melankolis, mentah, menarik paksa sesuatu yang paling dalam di relung jiwanya. Ia belum mengenali lagunya, tetapi intensitas sunyi dari harmoni tersebut beresonansi langsung dengan nyeri internalnya. Ia mengangkat dagunya perlahan, tatapannya masih kosong, tersedot oleh tarikan suara itu. Vokal sang penyanyi begitu halus, menyimpan duka yang tak terkatakan, begitu akrab, begitu menghantui. Bait-bait pertama melayang masuk, terbawa embusan angin dari pintu yang tergeser pelan. > “Dalam benakku lama tertanam, sejuta bayangan dirimu...” > Dada Arya seolah dihantam martabat tak kasat mata. Seluruh ototnya menegang kaku. Itu Kirana. Bukan suara fisiknya, melainkan bait itu—baris pembuka yang seolah melompat langsung dari kotak memori paling suci yang ia miliki. Ia merasa sehelai tangan tak terlihat menjulur dari masa lalu, mencengkeram jantungnya dengan cengkeraman maut. Petikan gitar itu bukan lagi sekadar musik latar; ia adalah ruang interogasi. Setiap goresan senarnya adalah tuntutan, dan setiap nada adalah vonis yang menyakitkan. Keringat dingin merembes di pelipis Arya di tengah sejuknya ruangan. Ia berniat membuang muka, mencari pelarian, namun matanya terpaku mati pada kaca jendela, seolah retinanya mampu menangkap siluet Kirana berdiri di trotoar sana, menyanyikan bait itu khusus untuknya. Panik merayap naik, dingin dan mematikan, mengancam mencekik napasnya. Paru-parunya mendadak hampa, menolak memompa oksigen. Kalimat-kalimat itu menghantamnya bukan sebagai gelombang, melainkan ribuan jarum es yang menembus pori-pori kulit. Sejuta bayangan dirimu... Wajah Kirana menyerbu kesadarannya—senyumnya yang sabar, kerutan halus di keningnya saat cemas, binar di matanya ketika Arya sudi meluangkan waktu untuk mendengarkan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, namun bayangan itu justru semakin benderang. Baris berikutnya bergulir, Redup terasa cahaya hati, mengingat apa yang telah kau berikan, memutar bilah belati tepat di ulu hatinya. Ia teringat kesabaran Kirana yang seluas samudra, dukungan yang tak pernah goyah, kesediaan wanita itu memaafkan ketidakpeduliannya yang berulang. Bagaimana ia bisa sebegitu buta? Sebegitu angkuh? Cengkeramannya pada gelas kaca mengerat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Es di dalam gelas meleleh, mengalirkan dingin hingga ke sumsum tulang. Waktu berjalan lambat mengiring, dalam titian takdir hidupku... Setiap detik pasca kepergian Kirana terasa seperti keabadian, menyeret diri melalui padang pasir yang ia bangun sendiri. Ia pernah meremehkan isak tangis Kirana, menganggapnya drama berlebihan, yakin bahwa wanita itu akan selamanya menjadi bintang tetap di galaksinya yang bising. Namun bintang pun bisa padam. Atau lebih tepatnya, mereka memilih meninggalkan orbit orang-orang yang menyia-nyiakannya. Suara penyanyi jalanan itu bergetar halus, mencerminkan gemetar rahang Arya sendiri. Cukup sudah aku tertahan, dalam persimpangan masa silamku... Bait itu menjelma suara Kirana, bukan penyanyi di luar sana. Kalimat perpisahan yang mungkin terpendam. Kesadaran itu menghantamnya bagai hantaman fisik. Tenggorokannya tercekat, menolak menelan ludah yang terasa kering. Ia tak bisa lari. Ia tak bisa sembunyi. Lagu itu adalah cermin retak yang memantulkan kebodohannya secara telanjang. Coba ‘tuk melawan, getir yang terus kukecap, meresap ke dalam relung sukmaku. Terlalu nyata. Getir yang ia reguk tiap pagi di atas ranjang yang kosong, getir kopi dingin yang ia sesap sendirian, getir hidup yang kehilangan warna. Semua itu nyata. Dan itu karena ulahnya sendiri. Karena Kirana telah pergi. Pertahanan terakhirnya runtuh saat bagian reff menusuk pertahanan dadanya: > Semua tak sama tak pernah sama, apa yang kusentuh apa yang kukecup, sehangat pelukmu selembut belaimu, tak ada satu pun yang mampu menjadi sepertimu... > Bulir air hangat akhirnya tumpah, merembes turun membasahi pipinya yang dingin. Ia tak peduli lagi pada tatapan pengunjung lain. Ia tak peduli pada harga dirinya yang tersisa. Hanya rasa sakit ini—penyesalan ini—yang terasa paling nyata. Takkan pernah ada lagi perempuan yang menatapnya dengan ketulusan tanpa pamrih semacam itu. Takkan ada lagi dekap sehangat Kirana. Ia telah menghancurkan satu-satunya hal berharga di dunianya. Dan kebodohan itu tak terampuni. Tangannya bergetar hebat, gelas kopinya nyaris meluncur jatuh. Napasnya memburu, dadanya memompa udara dengan liar seolah ia baru saja merangkak keluar dari reruntuhan. Otot-otot wajahnya menegang mati-matian menahan isak yang mendesak lolos. Air mata mengalir deras, meninggalkan jejak perih di kulitnya. Ia menunduk dalam-dalam, membiarkan helai rambutnya menutupi wajah, berharap bumi membelah dan menelannya detik itu juga. Pandangan Arya kabur di balik tirai air mata. Ia mengusap wajahnya kasar dengan punggung tangan, berupaya merangkkai kembali sisa kewarasannya. Parunya masih terbakar oleh udara yang terasa pekat. Alunan lagu di luar sana berangsur surut, meninggalkan keheningan yang berdengung di telinganya. Ia merasa kosong, terkoyak. Tiba-tiba, derit engsel pintu kedai bergeser, membawa masuk embusan angin basah malam. Seorang wanita melangkah masuk ke dalam kehangatan ruangan. Langkahnya tenang, kepala sedikit tertunduk seolah memikul beban yang tak terlihat. Rambut cokelat gelapnya tergerai lembut di bahu, basah oleh rintik hujan. Ia mengenakan mantel parit krem sederhana, dengan kerah yang dinaikkan untuk menahan dingin. Saat ia mengangkat wajahnya, sepasang mata legamnya menyapu seisi ruangan. Ada kepedihan purba di baliknya—sebuah kepasrahan lelah yang langsung beresonansi dengan luka menganga di dada Arya. Dan tatapan mereka beradu. Dunia Arya runtuh untuk kedua kalinya. Garis rahang wanita itu, lengkung alisnya yang tenang, cara bibirnya menyimpan sisa bayangan kelembutan... Bukan dia. Namun kemiripan itu—bayangan sekilas yang memicu hantu masa lalu—cukup untuk membuat jantungnya melompat, merobek sisa kewarasannya. Wajah itu bukan Kirana, melainkan cermin retak yang dipantulkan oleh kesedihannya sendiri, ilusi kejam yang mempermainkan akal sehatnya. Napas Arya terhenti di tenggorokan. Ia merasa lehernya dijerat tali tak kasat mata. Sekujur tubuhnya membeku, menghentikan waktu berputar. Wajah asing itu memancarkan siluet Kirana begitu sempurna, hingga oksigen di sekitarnya mendadak lenyap tanpa sisa.

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter