Chapter 12 of 16

Lomba Melawan Waktu

1.5k words

Udara siang terasa berat, menekan dada Arya seperti lempengan besi. Ponselnya masih terasa panas di telapak tangan, genggaman tangannya mengerat kuat pada permukaannya yang licin. Suara Rendy, parau dan penuh penyesalan, seakan bergaung di setiap sudut apartemen, membakar setiap sel di tubuhnya. London. Kirana akan pergi ke London. Bersama pria itu. Sebuah geraman rendah lolos dari tenggorokan Arya, menembus kekosongan ruangan. Kata-kata Rendy menari-nari di benaknya, sebuah tarian kematian bagi semua harapannya yang baru saja tumbuh. Kirana akan pergi, selamanya, meninggalkan jejak yang tak terjangkau. Tidak ada lagi kesempatan, tidak ada lagi “nanti”. Pikiran Arya kalut, melompat-lompat seperti kepingan puzzle yang tercerai-berai. Surat Kirana, peringatan-peringatan yang dulu ia abaikan, tatapan kosong Kirana saat mereka terakhir bertemu, semua membanjiri benaknya secara bersamaan. Ia melihat Kirana di kedai kopi, tertawa lepas bersama pria itu, kebahagiaan yang begitu murni tanpa dirinya. Napas Arya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Ini bukan lagi soal penyesalan yang bisa ia simpan sendiri. Ini adalah sebuah alarm yang meraung, memperingatkan bahwa waktu telah habis. Sebuah kepanikan dingin menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun, membekukan setiap gerakan tubuhnya. Namun, di tengah badai keputusasaan itu, sebuah percikan api menyala. Sebuah tekad gila, nekat, namun begitu kuat, muncul dari relung jiwanya. Ia tidak bisa membiarkannya berakhir seperti ini. Ia tidak akan. Tangannya mengepal, buku-buku jarinya memutih, menahan gemetar yang mengancam. Ia harus berbicara dengannya. Sekarang. Sebelum semuanya benar-benar terlambat. Arya memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdentum di balik tulang rusuk. "Tidak. Aku tidak akan menyerah begitu saja," gumamnya, suaranya serak, lebih seperti sumpah pada dirinya sendiri daripada sebuah pernyataan. Keringat dingin membasahi pelipisnya, tetapi tekad itu mengeras, membakar setiap keraguan. Ia harus menemuinya. Memohon. Menjelaskan. Apapun itu, ia harus melakukannya. Sebelum Kirana benar-benar menghilang dari kehidupannya, membawa serta semua kenangan dan mimpi yang dulu pernah mereka rajut. Pria itu, London, semua itu tidak penting lagi. Yang penting adalah Kirana, dan kesempatan terakhir untuk menyelamatkan apa pun yang tersisa. Tubuhnya bergerak refleks, meraih kunci mobil yang tergeletak di meja. Matanya menatap tajam ke arah pintu, seolah pintu itu adalah gerbang menuju satu-satunya kesempatan yang ia miliki. Rasa takut akan penolakan masih ada, memilin perutnya, tetapi ketakutan akan kehilangan Kirana selamanya jauh lebih besar. Ia harus berlari. Melawan waktu yang terus mengejarnya. --- Arya menekan pedal gas dalam-dalam, mesin Honda Civic-nya meraung, menembus kepadatan lalu lintas sore. Jendela mobil terbuka penuh, membiarkan angin panas menerpa wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Ia tidak peduli pada klakson yang memekakkan telinga dari pengendara lain, atau tatapan marah yang dilemparkan kepadanya. Fokusnya hanya satu: kedai kopi Surya Kencana. Pikirannya berkecamuk, memutar ulang setiap skenario terburuk yang bisa ia bayangkan. Kirana akan menatapnya dengan pandangan dingin, seolah ia adalah orang asing. Ia akan menertawakan upayanya yang terlambat. Atau yang paling mengerikan, ia akan mengatakan bahwa ia sudah benar-benar bahagia, lebih bahagia tanpa Arya di sisinya. Sebuah pukulan telak yang akan meremukkan sisa-sisa hatinya. Tangannya mencengkeram erat roda kemudi, buku-buku jarinya memutih. Setiap detik terasa seperti jam. Jalanan kota yang biasanya ia lalui tanpa perasaan, kini terasa seperti labirin tanpa ujung, membentang panjang, mencoba menahannya. Aroma asap knalpot dan bau tanah basah setelah hujan singkat tadi siang terasa begitu menusuk, memperparah rasa mual di perutnya. Ia membayangkan Kirana sedang sibuk di kedainya, mungkin sedang merapikan rak buku atau menyiram tanaman hias. Senyum tipis terukir di bibirnya saat membayangkan adegan itu, namun segera memudar digantikan oleh bayangan pria lain yang berdiri di samping Kirana, membantunya, berbagi tawa, berbagi hidup. Cemburu yang membakar itu terasa seperti asam yang menggerogoti kerongkongannya. Arya mencoba fokus pada napasnya, menariknya dalam-dalam, tetapi paru-parunya terasa sesak. Ia melihat Kirana di antara kerumunan, sosoknya yang mungil, rambutnya yang selalu tergerai, tawa renyahnya yang dulu selalu mengisi apartemen mereka. Kenangan itu menghantamnya, pahit dan manis secara bersamaan. Ia telah menghancurkan itu semua dengan tangannya sendiri. Kepalanya terasa pening, seperti diisi dengan ribuan jarum tajam. Ia mengabaikan lampu merah di persimpangan, membelok tajam, membuat ban mobilnya berdecit keras di aspal. Sebuah mobil dari arah berlawanan membunyikan klakson panjang, suaranya membelah udara. Arya tidak menoleh, matanya terpaku pada jalan di depannya, mencari tanda-tanda kedai kopi itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa kali ini akan berbeda. Ia akan mengatakan segalanya, tanpa menyisakan apa pun. Penyesalannya, cintanya yang terlambat, kebodohannya. Ia akan menanggung semua konsekuensinya, apa pun itu. Yang penting, ia akan mencobanya. Untuk Kirana, untuk dirinya sendiri, untuk kesempatan yang tidak pernah ia hargai. --- Jantung Arya berdegup kencang, memukul-mukul rusuknya dengan irama tak beraturan seperti genderang perang. Setiap detak terasa seperti bom waktu yang siap meledak. Kedai kopi Surya Kencana kini sudah terlihat di kejauhan, siluetnya yang hangat di antara bangunan-bangunan lain, tampak kontras dengan kekacauan di dalam dirinya. Telapak tangannya berkeringat dingin, licin di roda kemudi. Sebuah rasa mual melilit perutnya. Antara harapan yang mengemis dan ketakutan akan penolakan yang membekukan. Bagaimana jika Kirana mengusirnya? Bagaimana jika ia menatapnya dengan tatapan kosong, tanpa sedikitpun emosi yang dulu pernah ada? Gambar-gambar itu melintas cepat, menusuk ulu hatinya, membuat napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menelan ludah, terasa kering dan hambar. Arya mengurangi kecepatan, matanya menyapu setiap sudut bangunan, mencari tanda-tanda Kirana. Ia teringat mimpi Kirana tentang kedai kopi ini, impian yang pernah ia remehkan, ia anggap sepele di tengah ambisi kariernya sendiri. Sebuah rasa bersalah yang menusuk, mengoyak-ngoyak pertahanannya, membuat matanya terasa panas. Ia melihat beberapa orang hilir mudik di depan kedai, tetapi tidak ada sosok Kirana. Apakah ia sudah pergi? Sebuah kepanikan baru menyergapnya, mencengkeram lehernya. Tidak, tidak mungkin. Ia belum terlambat. Ia tidak boleh terlambat. Kakinya menekan gas lagi, mempercepat laju mobil, seolah ia bisa memangkas jarak dengan tekad semata. Ia memarkir mobilnya asal di pinggir jalan, tidak peduli dengan potensi denda atau tatapan kesal. Pintu mobil dibiarkan terbuka sedikit, mencerminkan ketergesaannya. Otot-otot di rahangnya mengeras, menahan semua emosi yang bergejolak di dalam dada. Ia harus menghadapi ini, apa pun hasilnya. Ini adalah pilihannya, penyesalannya, dan satu-satunya jalan untuk maju. Arya melangkah keluar dari mobil, kakinya terasa lemas namun dipaksa untuk terus bergerak. Udara sore hari terasa menusuk kulitnya, membawa aroma kopi yang samar, aroma yang dulu selalu ia kaitkan dengan Kirana. Kini, aroma itu bercampur dengan kepahitan, dengan rasa kehilangan yang begitu nyata. Ia melihat bayangan dirinya terpantul di kaca depan kedai, sosok yang terlihat begitu putus asa. Ia menghela napas panjang, paru-parunya terasa penuh dengan udara dingin. Ini adalah momen kebenaran, sebuah persimpangan jalan yang akan menentukan sisa hidupnya. Harapan tipis, seperti sehelai benang sutra yang rapuh, tergantung pada Kirana. Sebuah harapan yang akan hancur jika ia ditolak, atau mungkin, seberkas cahaya yang akan membimbingnya kembali. --- Arya melangkah cepat menuju pintu kaca kedai, langkahnya terasa berat, setiap jejaknya di aspal memantulkan detak jantungnya yang menggila. Semakin dekat, ia bisa melihat pantulan dirinya yang semakin jelas, wajahnya yang pucat dan mata yang dipenuhi keputusasaan. Tangannya terangkat, hendak mendorong pintu, namun matanya menangkap sesuatu di bagian dalam. Sebuah tulisan 'TUTUP' terpampang jelas di pintu kaca, huruf-huruf tebal yang seolah mengejek semua usahanya. Tiba-tiba, tubuh Arya membeku. Darah serasa berhenti mengalir di nadinya. Otot-ototnya menegang kaku, menolak untuk bergerak, menolak untuk menerima apa yang dilihatnya. Pintu itu tertutup. Kedai itu tutup. Sebuah palu godam menghantam dadanya, meremukkan sisa-sisa harapannya. Di balik kaca, di dalam kedai yang kini temaram, Kirana terlihat. Gerakannya lincah, sibuk mengemasi barang-barang terakhir dari meja kasir, memasukkannya ke dalam sebuah kotak kardus. Rambutnya diikat kuda, memperlihatkan leher jenjangnya yang selalu ia sukai. Ia mengenakan sweater rajut berwarna abu-abu, menutupi tubuh mungilnya. Sebuah pemandangan yang seharusnya menenangkan, kini justru terasa seperti pisau yang mengiris hatinya. Kemudian, pria itu muncul dari balik meja bar. Tubuhnya tinggi, tegap, mengenakan kemeja kotak-kotak yang lengannya digulung. Ia mengambil kotak dari tangan Kirana, seringai tipis terukir di bibirnya. Kirana mendongak, menatap pria itu, dan sebuah senyum hangat, begitu tulus, terukir di wajahnya. Senyum yang sama yang dulu pernah ia berikan pada Arya. Senyum yang kini bukan miliknya lagi. Arya merasakan napasnya tercekat. Rasa sakit itu begitu familiar, namun kini jauh lebih dalam, jauh lebih menghancurkan. Ia melihat Kirana mengusap pipi pria itu dengan jemarinya, sebuah gestur keintiman yang terang-terangan. Pria itu mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu di telinga Kirana, dan tawa renyah Kirana pecah, memenuhi ruang kedai yang kosong itu. Mereka berdua tidak menyadari keberadaan Arya yang berdiri kaku di luar, terpaku pada pemandangan yang meremukkan jiwanya. Ia melihat mereka berdua berbicara, gerakan bibir mereka membentuk kata-kata yang tidak bisa ia dengar. Namun, dari bahasa tubuh mereka, dari cara mereka saling bersandar, dari tatapan mata mereka yang penuh pengertian, Arya tahu. Ia tahu semua sudah berakhir. Ia benar-benar terlambat. Kirana mengangkat kepalanya, tatapannya menyapu pintu kaca, dan mata mereka bertemu. Jantung Arya mencelos. Wajah Kirana tidak menunjukkan keterkejutan, hanya sebuah ketenangan yang dingin, sebuah pengakuan yang menyakitkan. Ada kilatan kesedihan di matanya, namun juga sebuah kepastian yang tak tergoyahkan. Di sampingnya, pria itu juga menoleh, tatapan matanya tajam, seolah menuntut penjelasan. Kirana dan pria itu mengemasi barang-barang terakhir, tatapan mereka berdua seolah berbicara selamat tinggal selamanya.

End of Chapter 12