Chapter 13 of 16

Masa Lalu yang Mengintip

1.6k words

Arya berdiri di seberang jalan, tubuhnya kaku seperti patung yang diukir dari es. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, namun ia tidak merasakan apa-apa selain kebekuan yang merayap dari dalam dadanya. Matanya terkunci pada etalase kaca besar kedai 'Surya Kencana', menembus kabut tipis di luar dan keramaian samar di dalamnya. Jantungnya berdenyut tidak teratur, iramanya berantakan seperti ketukan drum yang kehilangan tempo. Dua tiga kali ia berusaha menenangkan napasnya yang memburu, tetapi setiap tarikan hanya terasa semakin berat. Sebuah kelembaban tipis terbentuk di sudut matanya, perih menahan diri. Di balik jendela kaca itu, Kirana bergerak lincah di balik meja bar, senyumnya merekah setiap kali ia menyerahkan secangkir kopi pada pelanggan. Sebuah senyum yang dulu hanya Arya rasakan sebagai miliknya, kini menjadi santapan mata orang banyak. Sinar lampu gantung temaram memantul di rambut cokelat gelap Kirana, memberinya aura hangat yang terasa asing bagi Arya. Ia melihat bagaimana Kirana tertawa renyah, kepalanya sedikit mendongak, menunjukkan leher jenjangnya yang seolah bebas. Tawa itu, sungguh. Tawa itu menghantam Arya lebih keras daripada tinju. Sebuah tawa yang penuh kebebasan, tanpa beban. Tawa yang dulu ia anggap biasa, bahkan kadang mengganggu di tengah kesibukannya. Kini, tawa itu menjadi sebuah melodi yang hilang, sebuah pengingat akan kebodohan yang tak termaafkan. Rasa sesak merayap naik ke tenggorokannya, mencekik setiap udara yang berusaha ia hirup. Otot-otot di lehernya menegang, berjuang untuk tetap tegak. Kemudian, pria itu muncul. Pria yang sama dari foto buram yang dikirim Rendy, dengan senyum yang terlalu akrab, terlalu posesif di mata Arya. Pria itu menyandarkan diri di meja bar, mendekatkan wajahnya pada Kirana, mengucapkan sesuatu yang membuat Kirana menepuk lengannya pelan, pipinya merona tipis. Sebuah reaksi yang Arya kenal betul. Reaksi Kirana saat malu, saat digoda, saat merasa nyaman sepenuhnya. Arya menyaksikan jemari pria itu tanpa ragu menyentuh punggung tangan Kirana di atas meja, mengusapnya perlahan. Kirana tidak menariknya. Tidak sama sekali. Malah, ia membiarkan sentuhan itu bertahan, seolah itu adalah hal paling alami di dunia. Pandangan Arya menggelap. Sebuah geraman tertahan di balik giginya yang terkatup rapat, rahangnya mengeras sempurna. Napas Arya memburu, napasnya terasa dangkal dan berat. Udara yang ia hirup seakan tidak cukup mengisi paru-parunya. Jemarinya mengepal keras di saku jaketnya, kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Ia ingin berteriak, menghentikan adegan di depannya, menuntut kembali apa yang pernah menjadi miliknya. Namun, ia hanya bisa berdiri terpaku, terpasung oleh kenyataan yang menghantamnya telak. Kirana telah berpindah. Kirana telah bahagia. Tanpa dirinya. --- Pemandangan di depannya memudar, digantikan oleh kilasan memori yang berkelebat cepat, tak terduga. Arya melihat dirinya sendiri, berdiri di posisi yang sama di seberang jalan, namun waktu itu ia tidak sendiri. Kirana berada di sampingnya, mengenakan syal rajutan merah marun yang sama persis dengan yang ia temukan di apartemennya semalam. Rambut Kirana tergerai, sedikit berantakan tertiup angin, menempel di pipinya. "Mas, lihat itu!" suara Kirana bergema di telinganya, seolah ia bisa menyentuh masa lalu. Kirana menunjuk ke arah etalase sebuah kedai kopi lain, mata Kirana berbinar seperti anak kecil di toko permen. "Konsepnya lucu, ya? Aku pengen deh, suatu hari punya kedai kopi sendiri, terus di dalamnya ada galeri kecil buat pajang ilustrasiku." Jemarinya menari di udara, penuh semangat. Arya ingat ia hanya tersenyum tipis, mengangguk asal. "Hmm, menarik. Tapi kamu kan tahu, bisnis itu rumit, Ran. Mending fokus sama pekerjaanmu yang sekarang aja." Tangannya waktu itu merangkul bahu Kirana, menariknya mendekat, tapi pikirannya sudah melayang ke laporan proyek yang menumpuk di meja kantor. Ia bahkan tidak melihat raut wajah Kirana yang sedikit meredup, matanya kehilangan binar. "Tapi ini kan impianku, Mas," Kirana berbisik, suaranya terdengar kecil, seolah takut mengganggu konsentrasi Arya. "Impian kita juga, kan? Dulu kamu bilang kita akan wujudkan bersama." Arya samar-samar mengingat Kirana saat itu memegang tangannya, jemarinya terasa hangat dan penuh harap. Namun, Arya terlalu sibuk untuk merasakan suhu harapan itu, mengabaikan getaran kecil di pergelangan tangan Kirana. "Iya, nanti, Ran. Kalau proyek ini selesai. Kalau aku sudah lebih stabil," jawab Arya, tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar ponselnya yang berkedip menampilkan notifikasi email. Ia menyentakkan tangannya pelan, memberi isyarat bahwa Kirana mengganggu. Kirana hanya tersenyum masam, senyum yang kini terlihat begitu menyakitkan di benak Arya, penuh pengertian yang tak terbalas. Bibir Kirana melengkung membentuk kurva patah hati yang tak terucapkan. Kini, di tempat yang sama, dengan kedai kopi Kirana sendiri berdiri megah di depannya, impian itu terwujud. Tanpa Arya. Dan di samping Kirana, ada pria lain yang tersenyum, tertawa, mendengarkan setiap ucapan Kirana dengan penuh perhatian. Pria itu tidak terganggu oleh impian Kirana. Pria itu ada di sana, berbagi tawa, berbagi sentuhan, berbagi sebuah kehidupan yang Arya tolak mentah-mentah dengan angkuhnya. Arya bisa merasakan aroma kopi yang samar-samar menyeruak dari pintu kedai yang terbuka sebentar ketika seorang pelanggan keluar. Aroma itu, bercampur dengan wangi parfum Kirana yang samar dari ingatan, seperti bilah pisau tumpul yang mengoyak-ngoyak ususnya. Ia mengingat betapa Kirana selalu memilih parfum lavender yang lembut, aroma yang menenangkan. Kini, bau lavender itu bercampur dengan kepahitan penyesalan, menyesakkan dadanya. Ia melihat kembali Kirana, yang kini sedang membersihkan meja, bibirnya membentuk senyuman tipis. Pria itu memiringkan kepala, mengucapkan sesuatu yang membuat Kirana terkekeh pelan. Gerakan kecil, interaksi sehari-hari, namun bagi Arya, itu adalah bukti nyata dari sebuah hubungan yang hidup, yang ia bunuh dengan tangannya sendiri. Sebuah hubungan yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi, tak peduli berapa banyak waktu yang telah ia buang. --- Perasaan mual menyeruak di perut Arya. Ia ingin memuntahkan semua penyesalan yang kini membebaninya. Rasa iri itu, seperti racun yang meresap ke setiap sel tubuhnya, membuatnya gemetar, kakinya terasa seperti jeli. Dada Arya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya kuat-kuat, mencekik setiap denyut. "Bodoh. Kau bodoh, Arya," desisnya pelan, bibirnya bergetar, hampir tidak menghasilkan suara. Udara dingin di luar tidak sebanding dengan dinginnya realitas yang menghantamnya. Ia mengutuk dirinya sendiri, setiap keputusan yang ia ambil, setiap kata yang ia ucapkan—atau tidak ia ucapkan. Bagaimana ia bisa begitu buta? Begitu tuli terhadap suara hati Kirana, terhadap ketulusan yang tak bersyarat yang Kirana tawarkan? Di balik jendela, pria itu membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Kirana. Kirana tersenyum, wajahnya merona. Sebuah senyuman yang begitu tulus, begitu murni, seolah tidak pernah ada luka yang menggoresnya. Senyum yang membuat Arya merasa seperti orang asing di kehidupannya sendiri, terasing dari kebahagiaan yang berhak ia miliki. Ia melihat bagaimana tangan pria itu melingkar di pinggang Kirana, sentuhan yang natural, penuh keakraban. Ini bukan lagi sekadar interaksi pelanggan dan pelayan. Ini adalah kemesraan sepasang kekasih yang saling memiliki. Cengkeraman Arya di saku jaketnya menguat, buku-buku jarinya memutih. Sebuah gelombang kemarahan, yang ditujukan sepenuhnya pada dirinya sendiri, membakar dadanya. Ia ingin berteriak, menuntut Kirana untuk melihatnya, untuk mengingatnya. Namun, suaranya tercekat. Ia hanyalah bayangan, hantu dari masa lalu yang tak relevan lagi, tak memiliki kekuatan apa pun. Pemandangan itu adalah tamparan keras, lebih menyakitkan dari pukulan fisik mana pun. Arya mencoba menarik napas dalam-dalam, berharap oksigen bisa membersihkan racun iri dan penyesalan ini. Tapi yang ia dapatkan hanyalah udara dingin yang membeku di paru-parunya, tidak mampu meredakan gejolak di dadanya. Matanya tak bisa lepas dari Kirana, memindai setiap detailnya. Ia melihat cincin tipis melingkar di jari manis Kirana, berkilau samar di bawah cahaya lampu. Bukan cincin darinya. Tentu saja bukan. Sebuah simbol ikatan baru, kehidupan baru yang telah dimulai. Kepalanya berdengung, dipenuhi suara-suara masa lalu yang terus menghantui. "Suatu hari nanti, kamu akan mencari sesuatu yang tidak pernah kamu hargai, Arya. Dan saat itu terjadi, aku tidak akan ada di sana." Kata-kata Kirana, yang dulu ia anggap sebagai ancaman kosong, kini menjelma menjadi kutukan yang nyata. Kirana benar. Kirana selalu benar. Dan Arya, si pengejar 'lebih' yang serakah, akhirnya kehilangan segalanya, tertinggal sendirian. Air matanya terasa panas di sudut mata, namun ia menahan mati-matian agar tidak menetes. Arya tidak berhak menangis. Ia tidak berhak atas simpati dari siapa pun. Rasa sakit ini adalah karmanya, cermin dari kebodohannya sendiri. Ia hanya bisa berdiri di sana, terpaku, menyaksikan hidup Kirana yang bergerak maju, bahagia, tanpa dirinya. Ia adalah penonton dari sebuah pementasan di mana ia pernah menjadi pemeran utama, namun kini perannya telah digantikan. --- Pria itu akhirnya berpamitan, mengecup kening Kirana dengan lembut sebelum melangkah keluar dari kedai. Arya tanpa sadar menahan napas, dadanya menegang. Ia melihat Kirana melambaikan tangan, senyumnya masih merekah. Hati Arya mencelos, jatuh ke dasar perutnya. Setiap gerakan Kirana adalah pengingat akan kehilangannya yang tak tersembuhkan. Ia melihat Kirana meraih serbet, mulai mengelap meja di dekat jendela, gerakannya anggun dan teratur. Arya seharusnya pergi. Ia tahu itu. Ia tidak punya hak untuk tetap berdiri di sana, mengintip seperti pencuri. Kakinya ingin bergerak, namun tubuhnya seperti terpaku ke trotoar. Setiap serat ototnya menolak untuk beranjak, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menahannya. Mata Arya terus mengunci Kirana, melihat setiap detail wajahnya, lekuk bibirnya, binar matanya yang dulu ia akrabi. Kirana menyelesaikan pekerjaannya, mengelap sisa noda kopi di permukaan meja kayu. Jemarinya yang ramping bergerak cepat, efisien. Ia merapikan beberapa kursi yang sedikit bergeser, lalu menghela napas panjang. Sebuah kelelahan yang bahagia, pikir Arya, kelelahan seorang wanita yang menemukan kedamaian dalam pekerjaannya, dalam kehidupannya. Arya bisa merasakan tatapannya yang begitu intens, begitu penuh duka, seolah ia mencoba membakar lubang di etalase kaca itu. Sebuah harapan tipis, gila, muncul di benaknya: bagaimana jika Kirana menyadari kehadirannya? Bagaimana jika, hanya sesaat, ia merasakan sesuatu yang familiar di udara? Kerutan di kening Arya semakin dalam, matanya menyipit, fokusnya tak bergeming. Kirana perlahan mengangkat kepalanya, seolah merasakan tatapan Arya, dan matanya langsung bertemu dengan mata Arya, tanpa senyum, tanpa ekspresi, seolah ia melihat hantu di ambang pintu.

End of Chapter 13