Chapter 11 of 16

Kabar Buruk Tak Terduga

1.3k words

Ponsel terasa dingin di telapak tangan Arya, seolah membeku di sana. Genggamannya mengerat, buku-buku jarinya memutih, menahan beban yang tak terlihat. Suara Rendy di ujung sana seperti gema dari dunia lain, mengikis tipis dinding pertahanan yang baru saja runtuh oleh surat Kirana. Setiap kata Rendy terdengar jauh, teredam, namun urgensinya menembus langsung ke tulang. Arya hanya sanggup menelan ludah, tenggorokannya kering dan tercekat. Napasnya tertahan di dada, enggan keluar, seolah setiap hembusan akan membawa kehancuran yang lebih besar. Matanya menatap kosong ke dinding apartemen, pada retakan kecil di plester yang selama ini tidak pernah ia sadari. Aroma lavender dari kotak memori Kirana masih menguar samar, bercampur dengan bau kopi dingin yang mengering di cangkir di sampingnya. Aroma itu terasa seperti cambuk, mengingatkannya pada semua yang telah ia sia-siakan. "Arya? Kau masih di sana?" Suara Rendy memecah keheningan, terdengar lebih jelas sekarang, mengandung kekhawatiran yang nyata. Arya tidak bisa menjawab. Lidahnya terasa berat, menempel erat di langit-langit mulut. Otot-otot rahangnya menegang kaku, menolak untuk bergerak, menolak untuk membentuk kata. Ia hanya mengeluarkan suara rendah, semacam erangan tercekik. "Dengar, ini penting," Rendy melanjutkan, nadanya berubah menjadi sangat serius. "Aku tahu ini berat, setelah semua yang kau baca. Tapi kau harus dengar ini." Jantung Arya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seperti palu. Darah berdesir panas di telinganya, menyumbat semua suara lain di apartemennya yang sepi. Rasa dingin menjalari tulang belakangnya, bercampur dengan keringat yang mulai membanjiri telapak tangannya. Apa lagi? Bisakah ada kabar yang lebih buruk dari ini? Setelah semua penyesalan yang membakar hatinya, setelah membaca setiap kata Kirana yang menelanjangi kebodohannya, apa lagi yang bisa membuatnya terpuruk lebih dalam? Ia memejamkan mata, kepalanya berdenyut nyeri. Gambar wajah Kirana, yang tersenyum bahagia di kedai kopi barunya, melintas di benaknya. Gambar itu kini bercampur dengan bayangan Kirana yang menulis surat itu, air mata mungkin membasahi kertas, rasa sakit yang tak terlukiskan menemaninya. Arya merasa mual. "Ada apa, Rendy?" Suaranya akhirnya keluar, serak dan nyaris tak terdengar. Suara itu bukan miliknya, asing dan penuh kerapuhan. Ia membuka mata lagi, membiarkan pandangannya mengabur. --- Hening sejenak di ujung telepon, hening yang terasa berat dan panjang, seolah Rendy mengumpulkan keberanian. Arya menunggu, setiap serat tubuhnya menegang, mempersiapkan diri untuk hantaman berikutnya. Ia bisa mendengar napas Rendy yang berat, lalu sebuah desahan panjang. "Aku baru saja mendapat kabar, Arya," Rendy memulai, suaranya pelan dan berhati-hati, seperti orang yang menyampaikan berita duka. "Dari temanku yang kebetulan mengenal Kirana dari komunitas ilustratornya." Arya merasakan aliran darahnya melambat, setiap detaknya terasa seperti pukulan di gendang telinga. Komunitas ilustrator. Kirana dan mimpinya yang dulu ia abaikan, yang kini justru menjadi jembatan untuk kabar yang akan menghancurkannya. Ironi itu terasa pahit, menyengat di lidahnya. "Kabar apa?" Arya mendesak, suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan. Ia tidak bisa menahan kegelisahan yang mendidih di dalam dadanya. Ia ingin ini segera berakhir, apa pun itu, biarkan ia menghadapinya. "Kirana... dia akan pindah," kata Rendy, suaranya nyaris berbisik. "Pindah ke luar negeri." Kata-kata itu menghantam Arya seperti ombak besar yang memecah di karang. Dunia di sekelilingnya seketika kehilangan warna, suaranya lenyap. Hanya ada dengung kosong di kepalanya, dan detak jantungnya yang kini terasa seperti gemuruh. Pindah ke luar negeri. Bukan hanya meninggalkan dirinya, bukan hanya meninggalkan kota ini, tapi pergi ke tempat yang jauh, tak terjangkau. Tangan Arya yang memegang ponsel gemetar hebat, hampir menjatuhkan perangkat itu. Ia harus mengalihkan ponselnya ke tangan yang lain, menjepitnya kuat-kuat di antara bahu dan telinganya, lalu menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram kepalanya sendiri. Rambutnya tertarik kuat, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan kehancuran yang membakar di dadanya. "Apa?" Hanya satu kata itu yang berhasil ia ucapkan, pecah dari bibirnya yang kering dan gemetar. Itu bukan pertanyaan, melainkan penolakan mentah-mentah atas realitas yang baru saja menghantamnya. "Ya, Arya. Pindah ke London," Rendy mengonfirmasi, nadanya penuh simpati yang menusuk. "Mungkin... untuk selamanya." London. Sebuah kota yang Kirana impikan sejak dulu, tempatnya ingin belajar lebih banyak tentang seni dan ilustrasi. Mimpi yang pernah ia ceritakan padanya, mimpi yang Arya tanggapi dengan senyum meremehkan dan kalimat, "Nanti saja, setelah kita stabil." Sekarang, Kirana pergi mewujudkan mimpinya sendiri, tanpa dirinya, mungkin untuk tidak pernah kembali. Rasa mual itu semakin kuat, mengaduk-aduk isi perutnya. --- Ponselnya jatuh dari bahunya, terhempas ke karpet dengan bunyi *bluk* pelan. Arya tidak peduli. Seluruh tubuhnya terasa lumpuh, semua sendi mendadak kaku. Ia ambruk, berlutut di samping meja kopi, kepalanya tertunduk di antara kedua lututnya. Udara terasa tipis, menyesakkan paru-parunya. Harapan. Sekeping harapan terakhir yang entah bagaimana masih bersembunyi di sudut hatinya, harapan untuk bertemu Kirana, untuk menjelaskan, untuk memohon pengampunan, kini hancur berkeping-keping. Seperti porselen yang jatuh ke lantai. Kirana pergi. Bukan hanya meninggalkan hatinya, tapi meninggalkan benua. Sebuah jurang terbentang di antara mereka, jurang yang tak akan pernah bisa ia seberangi. "Arya? Arya, kau masih di sana?" Suara Rendy terdengar samar dari ponsel yang kini tergeletak di karpet. Arya tidak bisa merespons. Tangannya gemetar begitu hebat hingga ia tidak bisa menyentuh ponsel itu. Rasa dingin yang menusuk perlahan berubah menjadi panas membara, membakar dari dalam. Ini adalah hasil dari kebodohannya, dari keangkuhannya, dari setiap detik yang ia sia-siakan. Kirana telah memperingatkannya. "Suatu hari nanti, kamu akan mencari sesuatu yang tidak pernah kamu hargai, Arya. Dan saat itu terjadi, aku tidak akan ada di sana." Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, kini terdengar seperti ramalan yang tergenapi dengan kejam. Ia telah mencari, ia telah menemukan kembali perasaannya, ia telah menyadari betapa berharganya Kirana. Tapi Kirana benar. Ia sudah tidak ada. Tidak akan ada lagi. London. Sebuah jarak yang tidak akan terlampaui oleh penyesalan apa pun, seberapa pun dalamnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mendesak keluar, membanjiri pipinya, panas dan asin. Ia tidak lagi peduli untuk menahannya. Setiap tetes terasa seperti luka yang terbuka, mengalirkan semua rasa sakit dan putus asa. Ia terisak, suara yang tertahan di tenggorokan, gemetar di seluruh tubuhnya. Bahunya terguncang, napasnya memburu tak beraturan. Kirana akan menemukan kebahagiaannya di sana, di London, di kota mimpinya. Dengan seseorang yang akan menghargai setiap goresan sketsa, setiap mimpi kecilnya. Arya mengingat sketsa kedai kopi 'Surya Kencana' di buku Kirana, lalu gambar wajahnya di polaroid. Ia telah menjadi bagian dari sketsanya, bagian dari mimpinya, tapi ia menolaknya. Sekarang, ia hanya bayangan. --- Suara Rendy terus memanggil-manggil dari ponsel, namun Arya hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang kacau dan isakan tertahannya. Udara terasa semakin berat, setiap tarikan napas menjadi perjuangan yang menyakitkan. Ia tidak sanggup mengangkat kepala, tidak sanggup menghadapi kenyataan yang terbentang di depannya. Kirana pergi. Itu adalah kepastian yang paling brutal. Bagaimana ia bisa membiarkan ini terjadi? Bagaimana ia bisa begitu buta, begitu egois, hingga mendorong satu-satunya orang yang tulus mencintainya hingga ke ujung dunia? Penyesalan itu menggerogotinya dari dalam, seperti serangga lapar yang tak pernah kenyang. Sebuah desakan panik mulai merayap naik dari perutnya ke dadanya, mendesak napasnya keluar. Ia harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Apa yang bisa ia lakukan untuk menghentikan Kirana, untuk mengembalikan waktu, untuk memperbaiki semua kerusakan yang telah ia ciptakan? Pikiran-pikiran itu berputar kacau, tidak menemukan jalan keluar, hanya menemui tembok-tembok putus asa yang menjulang tinggi. Ini adalah akhir. Akhir dari segalanya. Akhir dari setiap kesempatan. Kemudian, suara Rendy kembali terdengar, lebih dekat, lebih jernih, seolah temannya itu telah mendekat ke ponsel. Ada keheningan lagi, lebih singkat kali ini, namun terasa lebih tegang. Rendy seolah mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk menyampaikan hantaman terakhir. Arya mengangkat kepalanya sedikit, mata merahnya menatap kosong ke ponsel di karpet. Sebuah firasat buruk merayapi punggungnya, lebih dingin dari sebelumnya. Firasat bahwa masih ada lagi, bahwa kehancuran ini belum mencapai puncaknya. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih menyakitkan, yang Rendy tahan. "Rendy?" bisiknya, suaranya parau. Ia tidak tahu mengapa ia bertanya, mengapa ia ingin tahu. Mungkin bagian dari dirinya ingin dihancurkan sepenuhnya, agar tidak ada lagi sisa harapan yang bisa ia pegang. Ia merasakan kulit kepalanya merinding, semua bulu halus di lengannya berdiri. Rendy terdiam sejenak, lalu berbisik, "Arya, ada satu hal lagi. Pria yang bersamanya… dia akan ikut pindah."

End of Chapter 11