Chapter 9 of 12

Chapter 9: Ujian Pertama Sang Petani

1.0k words

Terbentang di hadapan Shen Yichen, gerbang istana berdiri kokoh, menjulang tinggi bagai dinding gunung. Besi tempa hitam pekat, dihiasi ukiran naga emas yang meliuk, memancarkan aura keagungan sekaligus intimidasi. Dua penjaga berseragam baja, tombak di tangan, menatap lurus ke depan, wajah mereka tanpa ekspresi, seperti patung di bawah terik matahari pagi. Kudanya berhenti beberapa langkah dari pos mereka. Udara terasa berat, penuh formalitas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini bukan lagi jalur pasar desa. Ini adalah jantung kekuasaan. Menghembuskan napas perlahan, Shen Yichen merapikan pakaiannya yang sederhana, sebuah jubah katun lusuh yang kontras mencolok dengan kemewahan di sekelilingnya. Ia mengambil gulungan perkamen yang diberikan tabib istana. Surat undangan itu terasa dingin di telapak tangannya. Membayangkan jutaan orang yang mungkin tidak pernah melewati gerbang ini, ia merasakan gelombang tekad. Ia harus berhasil. Pelan-pelan ia turun dari kudanya, langkahnya mantap. Mendekati salah satu penjaga, ia mengangkat gulungan itu. "Saya Shen Yichen, diundang oleh Tabib Agung untuk kunjungan hari ini." Suaranya terdengar lebih percaya diri dari yang ia duga. Penjaga itu, dengan gerakan lambat dan kaku, mengambil perkamen itu. Matanya yang tajam menelusuri tulisan tangan di dalamnya, lalu beralih ke wajah Shen Yichen, menyelidiki setiap detail, seolah mencari tanda kebohongan. Beberapa detik berlalu, terasa seperti keabadian. Heningnya gerbang hanya dipecahkan oleh suara angin yang berdesir. Kemudian,anggukan singkat. "Lewat." Perintah itu singkat, tanpa emosi. Penjaga lainnya menggerakkan gerbang, menciptakan derit logam berat yang memekakkan telinga. Pintu raksasa itu bergeser, memperlihatkan jalan setapak berbatu yang membentang ke dalam kompleks istana. Dengan satu tarikan napas dalam, Shen Yichen melangkah maju, kudanya mengikuti di belakang. Begitu masuk, ia langsung disergap oleh kemewahan yang tak terbayangkan. Pekarangan luas terhampar, dihiasi taman-taman tertata apik, dengan kolam-kolam teratai yang airnya jernih memantulkan langit biru. Pohon-pohon bonsai berusia ratusan tahun berdiri anggun, setiap daunnya tampak dipangkas dengan presisi. Udara dipenuhi aroma melati dan bunga krisan, bercampur dengan wangi dupa tipis yang terbakar di kuil-kuil kecil di sudut. Semua begitu indah, begitu sempurna, hampir terasa tidak nyata. Kontrasnya dengan desanya yang miskin sangat mencolok. Di sana, lumpur dan jerami adalah pemandangan sehari-hari. Di sini, setiap jengkal tanah seperti kanvas yang dilukis oleh seniman terbaik. Matanya menyapu deretan paviliun dengan atap melengkung berwarna giok dan emas, dinding-dindingnya diukir dengan relief rumit yang menceritakan kisah-kisah kuno. Pelayan-pelayan berseragam sutra berwarna cerah bergerak lincah, membawa nampan berisi hidangan atau gulungan dokumen. Beberapa orang pejabat, mengenakan jubah sutra yang mengalir dan topi tinggi, berjalan dengan langkah tergesa-gesa, berbicara pelan namun penuh otoritas. Bisikan-bisikan halus mengikuti mereka. Suara-suara mereka terdengar seperti melodi yang asing, penuh intrik dan rahasia yang tak terucapkan. Shen Yichen merasa seperti sebutir pasir di tengah gurun emas. Sebuah perasaan kagum tak terbantahkan merayapi dirinya, namun di baliknya, kecurigaan mulai tumbuh. Bisakah semua kemewahan ini benar-benar ada tanpa harga? Ia pernah melihat bagaimana kekuasaan di desa seringkali berarti penindasan. Di sini, skalanya jauh lebih besar. Apakah penderitaan jutaan rakyat di luar sana menjadi fondasi bagi kemegahan ini? Pikiran-pikiran itu berkelebat cepat. AI dalam dirinya mulai menganalisis, membandingkan data, mencari pola. Sistemnya memperingatkan bahaya di balik fasad yang indah ini. "Putra Mahkota, dia tidak akan menyukai kehadiranmu di sini," sebuah suara kecil berbisik di benaknya, mengulangi peringatan dari tabib. Ia adalah orang luar, seorang petani, di tengah kolam hiu. Langkahnya membawa ia lebih jauh ke dalam, melewati jembatan batu yang melengkung indah di atas sungai buatan. Ikan koi berwarna-warni berenang malas di bawahnya. Semakin dalam ia masuk, semakin sedikit orang yang terlihat. Heningnya mulai terasa menekan, seolah dinding-dinding istana menyerap semua suara, menyisakan hanya gema langkahnya sendiri. Bangunan-bangunan menjadi lebih besar, lebih megah. Pilar-pilar marmer menjulang, patung-patung dewa dan pahlawan kuno berjejer rapi, memandang dengan mata kosong namun menghakimi. Jendela-jendela berukir indah membiaskan cahaya matahari, menciptakan pola-pola rumit di lantai pualam yang berkilau. Ia berhenti sejenak di sebuah halaman yang dikelilingi oleh barisan pohon pinus tinggi, tingginya mencapai langit. Udara terasa dingin, meskipun matahari masih bersinar terik. Perasaan tidak pada tempatnya semakin kuat, menusuk relung jiwanya. Ia adalah orang asing di negeri yang aneh ini, di tubuh yang bukan miliknya. Keinginan untuk membuktikan dirinya di dunia baru ini begitu kuat, namun ia juga merasa rentan. Bagaimana ia bisa mengisi kekosongan identitasnya jika ia terus merasa seperti penipu? Sebuah suara memecah keheningan. "Tuan Shen Yichen?" Seorang pelayan muda, mengenakan jubah biru gelap dan topi kecil, membungkuk hormat. Wajahnya ramah, tapi matanya waspada. "Ikut saya." Pelayan itu memimpinnya melalui serangkaian koridor panjang, berliku-liku seperti labirin. Dinding-dinding di sini dilapisi sutra tebal berwarna merah marun, dihiasi kaligrafi emas dan lukisan pemandangan pegunungan yang megah. Aroma wangi cendana semakin kuat. Lampu minyak di dinding memancarkan cahaya redup, menambah kesan misterius pada perjalanan mereka. Setiap belokan, setiap pintu, terasa seperti gerbang menuju rahasia yang lebih dalam. Shen Yichen terus mengamati sekeliling, mencari celah, mencari petunjuk. Naluri survival-nya, dipadukan dengan kecerdasan AI, bekerja keras. Ia melihat detail-detail kecil: goresan di sudut pintu, noda samar di sutra, cara cahaya jatuh di lantai yang tidak rata. Semua itu menceritakan kisah yang tak terucap. Setelah berjalan entah berapa lama, pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir, dihiasi dengan permata kecil yang berkilauan. Pelayan itu mengetuk tiga kali, suara ketukannya menggema di koridor yang sepi. "Masuklah, Tuan Shen," kata pelayan itu, membukakan pintu. Sebuah ruangan luas terhampar di hadapannya, diterangi oleh lentera-lentera gantung yang memancarkan cahaya hangat. Di tengah aula, duduk di atas kursi berlengan tinggi yang diukir rumit, seorang pria menunggu. Pria itu berwajah dingin, mengenakan jubah sutra ungu yang mewah, sulaman naga perak melilit di bahunya. Senyum tipis terukir di bibirnya, terlihat lebih seperti seringai predator. Ia harus menghadapi apa pun yang menantinya. Ia harus menjaga posisinya di dunia baru ini. Namun, jantungnya berdebar kencang. Apakah ini ujian yang dimaksud? Apakah ini awal dari intrik yang jauh lebih gelap dari yang ia bayangkan? Tanpa ragu, Shen Yichen melangkah masuk, pintu tertutup di belakangnya, menguncinya di dalam aula dengan pria misterius itu. Ia akhirnya diantar ke sebuah aula besar, di mana seorang pria berwajah dingin dan mengenakan jubah sutra yang mewah menunggunya, senyum tipis di bibirnya yang terlihat lebih seperti seringai predator.

End of Chapter 9