Chapter 8 of 12

Chapter 8: Perjalanan ke Sarang Singa

1.3k words

Fajar menyingsing, mewarnai langit timur dengan gradasi merah dan jingga. Aroma tanah basah dan embun pagi menusuk hidung Shen Yichen. Ia berdiri di depan gubuknya, memandangi desa yang masih terlelap. Ini adalah rumah yang baru ditemukannya, tempat ia menanamkan harapan dan pengetahuannya. Sebuah beban berat terasa di dadanya. Panggilan istana bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Namun, meninggalkan proyek biji emas di tengah jalan terasa seperti mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan penduduk desa kepadanya. Kepala Desa, Pak Tua Li, sudah menunggunya di depan balai desa, kerutan dalam di wajah tuanya menunjukkan kekhawatiran. "Yichen, apakah kau yakin dengan keputusan ini? Ibu kota adalah tempat yang penuh bahaya bagi orang sepertimu." Suaranya serak, penuh peringatan. Shen Yichen mengangguk perlahan. "Tidak ada pilihan, Pak Tua Li. Jika aku menolak panggilan Kaisar, itu bisa menimbulkan masalah yang lebih besar bagi desa ini." Ia menatap mata keriput sang kepala desa, mencari pengertian. "Lagipula, mungkin ini adalah kesempatan untuk membawa perubahan yang lebih besar." Menjelang keberangkatannya, ia telah menghabiskan semalam suntuk menyusun instruksi. Gulungan perkamen yang tebal kini dipegangnya, berisi detail tentang perawatan biji emas, jadwal irigasi, dan metode panen yang efisien. "Ini, Pak Tua Li," katanya, menyerahkan gulungan itu. "Ikuti setiap instruksi dengan cermat. Pastikan lahan baru yang sudah disiapkan itu segera ditanami. Dan ingat, rotasi tanaman sangat penting. Jangan menanam biji emas di lahan yang sama secara terus-menerus." Pak Tua Li menerima gulungan itu dengan kedua tangan, tatapannya menyiratkan campuran hormat dan kekhawatiran. "Kami akan menjaganya sebaik mungkin, Yichen. Kau telah membawa harapan bagi desa ini." "Jaga persediaan benih sisa dengan baik," lanjut Shen Yichen, mengabaikan pujian itu. "Simpan di tempat kering dan sejuk. Untuk pupuk alami, terus kumpulkan kotoran hewan dan sisa-sisa tanaman. Fermentasikan itu dengan baik sebelum digunakan." Detail demi detail ia utarakan. Bahkan masalah distribusi hasil panen pun tidak luput dari perhatiannya. "Pastikan setiap keluarga mendapatkan bagian yang adil. Jangan biarkan ada yang menimbun atau menjualnya terlalu murah di awal musim. Kita harus menjaga stabilitas harga di pasar desa." Ia menjelaskan cara mendirikan gudang penyimpanan yang lebih baik, tahan hama dan kelembaban. Ia bahkan menyarankan agar beberapa pemuda diajari membaca agar bisa membantu mencatat persediaan dan distribusi, sebuah ide revolusioner di desa yang kebanyakan buta huruf. Setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah hasil pemikiran matang, perpaduan antara pengetahuan masa depan dan pemahaman akan kondisi pedesaan yang sederhana. Ia tahu, tanpa pengawasannya langsung, akan ada tantangan besar, tetapi ia harus percaya pada mereka. "Dan yang terpenting," Shen Yichen menekan, suaranya merendah. "Jika ada masalah yang tidak bisa kalian atasi, jangan ragu meminta bantuan dari desa tetangga yang sudah kita bantu. Kita harus membangun jaringan saling dukung." Kepala Desa mengangguk berkali-kali, mencerna setiap kata. Para tetua lain yang ikut mendengarkan juga terlihat serius. Mereka tahu betapa berharganya pemuda ini bagi mereka. Sebuah kereta kuda sederhana, yang disewa dari desa tetangga dengan biaya besar, sudah menunggu di jalan setapak. Menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, Shen Yichen melihat wajah-wajah yang kini bergantung padanya. Anak-anak yang dulu kelaparan kini memiliki pipi lebih berisi. Para wanita tidak lagi terlihat putus asa. Senyum kecil terukir di bibirnya. Ia telah membuat perbedaan, setidaknya di sini. Kemudian ia berbalik, melangkahkan kaki menuju kereta. Udara dingin menyentuh kulitnya, sebuah pengingat akan perjalanan panjang yang menanti. Ibu kota. Sebuah nama yang membangkitkan bayangan kemewahan dan intrik, jauh berbeda dari kesederhanaan desa ini. --- Perjalanan itu dimulai. Jalan setapak yang mulanya sempit dan berdebu perlahan melebar menjadi jalan desa yang lebih ramai. Hari-hari pertama dihabiskan dalam keheningan, hanya suara roda kereta dan derap kaki kuda yang memecah kesunyian. Setiap mil yang ditempuh terasa seperti membuka lembaran baru dari buku penderitaan. Di sepanjang jalan, Shen Yichen melihat pemandangan yang mengiris hatinya. Desa-desa yang dilewati jauh lebih miskin dari desa tempatnya tinggal. Rumah-rumah reyot berdiri miring, atap jerami mereka lapuk dimakan waktu. Anak-anak dengan perut buncit dan mata cekung mengintip dari balik pintu yang usang, pakaian mereka compang-camping. Wanita-wanita kurus menggendong bayi yang menangis lemah, pandangan mereka kosong. Lahan pertanian terbengkalai, kering kerontang di bawah terik matahari, atau dipenuhi gulma yang tumbuh liar. Sungai-sungai dangkal, airnya keruh. Udara dipenuhi bau kotoran dan keputusasaan. Itu adalah gambaran nyata dari kelaparan yang melanda dinasti. Hati Shen Yichen mencelos setiap kali melihatnya. Ia telah berusaha di desanya sendiri, tetapi skala masalah ini jauh lebih besar. Ia merasa seperti setetes air di lautan yang luas, mencoba memadamkan api yang membakar seluruh hutan. Bagaimana mungkin begitu banyak orang hidup dalam kondisi seperti ini? Di mana pemerintah? Di mana para pejabat yang seharusnya melindungi rakyatnya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benaknya, tanpa jawaban yang memuaskan. Satu sore, mereka berhenti di sebuah pasar kecil yang sepi. Hanya beberapa pedagang yang tersisa, barang dagangan mereka sedikit dan kualitasnya buruk. Seorang wanita tua menawarkan sebungkus nasi kering dengan mata memohon. Shen Yichen membeli semua dagangannya, memberinya beberapa koin tembaga lebih dari harga yang diminta. Air mata mengalir di pipi wanita itu. Gestur kecil itu terasa tidak cukup, tetapi itu adalah semua yang bisa ia lakukan saat ini. Keesokan harinya, mereka melewati sebuah kota kecil. Dinding-dindingnya retak, jalanannya berlumpur, dan orang-orang berkerumun di sudut-sudut, meminta sedekah. Prajurit dengan seragam kotor berjaga dengan malas, tatapan mereka acuh tak acuh. Kontrasnya sangat mencolok dengan kemajuan yang telah ia ciptakan di desanya. Ia telah mengubah lahan tidur menjadi ladang subur, mengisi perut yang lapar. Di sini, kegelapan tampak begitu pekat, begitu mengakar. Sebuah perasaan hampa mulai merayapi hatinya. Tekadnya kuat, namun ia hanyalah satu orang. Bisakah satu orang mengubah nasib jutaan orang? Keraguan mulai berbisik, mencoba meruntuhkan optimismenya yang biasa. Ia memejamkan mata, mencoba membayangkan wajah Putri Mei Ling. Ingatan akan senyumnya, kecerdasannya, dan semangatnya yang tak kenal menyerah memberinya kekuatan baru. Ia tidak bisa menyerah. Ia tidak boleh menyerah. Pengetahuan dari masa depan adalah anugerah, sebuah tanggung jawab. Ia harus menggunakannya, tidak hanya untuk satu desa, tetapi untuk seluruh kerajaan. Tekad itu kembali mengeras, memadamkan bisikan keraguan. Namun, ia juga merasakan ketidakberdayaan. Ada terlalu banyak yang harus diperbaiki. Korupsi, ketidakadilan, kemiskinan yang mengakar. Semuanya terasa seperti gunung raksasa yang tidak mungkin ia daki sendirian. Setiap hari, ia mengamati lebih banyak. Ia melihat penguasa lokal yang menindas, pedagang serakah yang menaikkan harga, dan petani yang dipaksa menyerahkan sebagian besar panen mereka sebagai pajak yang tidak masuk akal. Amarah perlahan membara dalam dirinya. Ia berpikir tentang sistem yang telah ia tinggalkan. Sistem yang dibangun di atas efisiensi, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Ia tahu, Dinasti ini membutuhkan lebih dari sekadar biji emas. Ia membutuhkan reformasi menyeluruh. Perjalanan berlanjut selama berminggu-minggu, dengan Shen Yichen menyerap setiap detail dari dunia yang hancur ini. Pemandangan itu mengukir janji di dalam hatinya. Ia tidak hanya akan bertahan di ibu kota, ia akan berjuang. Ia akan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Setiap pertemuan, setiap percakapan, setiap intrik. Ia akan mengubahnya menjadi langkah maju untuk rakyat yang menderita. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup, ini tentang menyelamatkan. Semakin dekat mereka ke ibu kota, semakin besar dan lebar jalanan. Keramaian mulai terasa. Kereta-kereta mewah mulai terlihat, dengan rombongan pengawal berkuda. Mereka kontras tajam dengan gerobak reot dan pejalan kaki yang lesu. Gerbang ibu kota menjulang tinggi di kejauhan, sebuah struktur kolosal dari batu kelabu yang mengesankan. Dindingnya begitu tinggi sehingga puncaknya seolah menyentuh awan. Ini adalah pusat kekuasaan, tempat intrik dan kekayaan bertemu. Jantung Shen Yichen berdegup kencang. Ia akan memasuki sarang singa. Ia akan menghadapi dunia yang sama sekali berbeda dari desa kecilnya. Dunia di mana kecerdasan dan niat baik mungkin tidak cukup. Gerbang megah itu semakin dekat. Barisan panjang orang mengantri untuk masuk, diawasi ketat oleh penjaga bersenjata lengkap. Aura otoritas dan ancaman terasa pekat di udara. Ini bukan lagi perjalanan, ini adalah awal dari pertarungan. Kereta kuda yang ditumpanginya berhenti, berbaur dengan antrian lainnya. Shen Yichen menarik napas dalam, mempersiapkan diri. Ia bisa merasakan tatapan tajam para penjaga mengamati setiap orang yang mencoba masuk. Giliran mereka tiba. Seorang penjaga dengan baju besi berkilauan menghalanginya, matanya mengamati Shen Yichen dengan tatapan meremehkan, "Siapa kau, orang desa yang berani datang ke hadapan Yang Mulia?"

End of Chapter 8

Chapter 8: Chapter 8: Perjalanan ke Sarang Singa - Kebangkitan Sang Putra Takdir | Novel AI Studio