Chapter 10 of 12
Chapter 10: Pangeran Penipu
990 words
Senyum tipis itu tidak mencapai mata pria di hadapannya. Dingin. Tajam. Shen Yichen merasakan gelombang kecurigaan menusuk. Pria itu menunjuk kursi di seberangnya, isyarat mengundang yang terasa lebih seperti perintah. Duduk, Shen Yichen memindai ruangan. Megah namun tanpa kehangatan, cerminan sempurna dari tuan rumahnya. Aroma teh melati tipis menguar dari cangkir porselen di atas meja.
"Namaku Li Wei," pria itu memulai, suaranya halus seperti sutra, namun memiliki nada perintah yang tak terbantahkan. "Kau Shen Yichen, bukan?"
Shen Yichen mengangguk. "Betul, Yang Mulia." Ia tidak tahu mengapa, tetapi instingnya mengatakan pria ini bukan sembarang bangsawan. Auranya berbeda. Lebih kuat, lebih mengintimidasi.
Li Wei menyesap tehnya perlahan. Matanya mengamati Shen Yichen dari ujung rambut hingga ujung kaki, seperti seorang pemburu menilai mangsanya. "Aku sudah mendengar banyak tentangmu. 'Penemu' biji-bijian ajaib, penyelamat desa-desa dari kelaparan."
Nada bicaranya datar, tanpa emosi. Bukan pujian, melainkan observasi. Shen Yichen merasakan bulu kuduknya meremang. Naluri bertahan hidupnya menjerit. Ini bukan pertemuan biasa.
"Hamba hanya beruntung bisa membantu, Yang Mulia," jawab Shen Yichen, berusaha terdengar rendah hati.
Li Wei terkekeh pelan. "Keberuntungan, kau bilang?" Bibirnya melengkung sedikit, membentuk seringai singkat. "Sepertinya keberuntunganmu sangat luar biasa. Aku ingin tahu lebih banyak tentang 'keberuntungan' ini."
Sebuah pelayan muncul, mengisi ulang cangkir teh Li Wei. Gerakannya hening, nyaris tak terlihat. Li Wei menunggu hingga pelayan itu pergi, lalu menatap Shen Yichen lagi.
"Dunia ini sedang kesulitan, Shen Yichen. Rakyat menderita. Kaisar membutuhkan solusi. Dan aku tertarik dengan solusi-solusi yang kau tawarkan."
Jeda menggantung di udara. Shen Yichen merasakan tekanan di dadanya. Pria ini bukan sekadar penasaran. Ia sedang menguji.
"Katakan padaku," Li Wei melanjutkan, mengarahkan tatapan tajamnya, "bagaimana kau meningkatkan hasil panen di desa-desa tersebut? Jelaskan secara detail."
Shen Yichen menelan ludah. Ini dia. Ujian dimulai. Ia menarik napas dalam, mengaktifkan modul pertanian di benaknya.
"Pertama, Yang Mulia, pemahaman akan tanah. Tanah yang subur membutuhkan nutrisi. Kami mengajarkan rotasi tanam, tidak menanam jenis tanaman yang sama berulang kali di lahan yang sama."
Li Wei mendengarkan, ekspresinya tidak berubah.
"Kedua, penggunaan pupuk organik. Kotoran hewan, sisa tanaman, semuanya dapat diolah menjadi nutrisi alami. Ini jauh lebih murah dan efektif daripada membiarkan tanah menjadi tandus."
"Ketiga, sistem irigasi. Mengelola air adalah kunci. Kami membangun kanal kecil, tanggul, dan mengajarkan cara menampung air hujan agar tidak terbuang percuma saat musim kemarau."
Ia menjelaskan tentang terasering di lahan miring, pemilihan benih unggul dari varietas yang tahan hama, dan pentingnya menjaga kebersihan lahan dari gulma. Setiap detail keluar dari mulutnya dengan presisi yang didapat dari jutaan data di dalam AI-nya.
Li Wei mengangguk perlahan. Bukan karena kagum, tetapi seolah mencerna informasi. Matanya tetap dingin, menilai.
"Menarik," gumam Li Wei. "Pengetahuanmu tentang pertanian cukup mendalam untuk seorang pedagang."
Shen Yichen merasakan sindiran halus di balik kata-kata itu. Seorang pedagang tidak seharusnya tahu begitu banyak.
"Namun, pertanian hanyalah satu bagian dari masalah," lanjut Li Wei, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Kelaparan juga disebabkan oleh pengelolaan yang buruk. Bagaimana kau akan mengatasi masalah ini jika kau diberikan kekuasaan untuk mengelolanya?"
Pertanyaan itu lebih dalam. Lebih politis. Shen Yichen harus berhati-hati.
"Yang Mulia, manajemen pangan dimulai dari data," Shen Yichen memulai. "Kita harus tahu berapa banyak rakyat yang ada, berapa banyak yang mereka butuhkan, dan berapa banyak yang dihasilkan. Sensus penduduk yang akurat sangat penting."
Li Wei mengangkat satu alisnya.
"Setelah data terkumpul, kita bisa membangun lumbung-lumbung penyimpanan yang terpusat dan aman. Ini akan mencegah penimbunan dan memastikan distribusi merata, terutama saat gagal panen."
"Lalu, Yang Mulia, kebijakan harga yang stabil. Para petani harus mendapat harga yang adil agar mereka termotivasi menanam. Pada saat yang sama, rakyat miskin harus bisa membeli makanan dengan harga terjangkau. Pemerintah bisa membeli surplus dari petani dan menjualnya dengan subsidi saat harga melambung."
Shen Yichen juga berbicara tentang membangun jalan dan jalur air yang efisien untuk transportasi hasil panen, mencegah kerusakan, dan mempercepat distribusi ke daerah-daerah terpencil. Ia bahkan menyarankan sistem 'bank biji-bijian' di mana rakyat bisa meminjam dan mengembalikan biji-bijian saat panen, untuk mengantisipasi kesulitan.
Li Wei mendengarkan semua itu tanpa ekspresi. Tidak ada senyum, tidak ada tanda kekaguman. Hanya tatapan yang menembus, seolah mencari celah, mencari kebohongan.
"Kau punya rencana yang ambisius, Shen Yichen," kata Li Wei akhirnya. Suaranya terdengar seperti sebuah vonis. "Rencana yang memerlukan sumber daya besar dan perubahan struktur yang radikal."
"Hamba percaya, Yang Mulia, bahwa untuk mengatasi masalah sebesar kelaparan dan kemiskinan, diperlukan pendekatan yang berani."
Dinginnya tatapan Li Wei tidak berkurang. Shen Yichen mulai mengerti. Pria ini tidak mencari penasihat yang tulus. Dia mencari alat. Seseorang yang bisa ia gunakan, yang bisa ia manfaatkan untuk tujuannya sendiri. Tidak ada simpati, hanya perhitungan dingin.
Kecerdasan buatan dalam benaknya menganalisis ekspresi Li Wei, nada suaranya, dan gestur tubuhnya. Pola-pola tertentu mulai terbentuk, mengindikasikan dominasi, strategi, dan sedikit manipulasi. Shen Yichen yang naif dalam urusan hati, mulai merasakan alarm berdering di otaknya yang lain. Ini bukan sosok yang bisa ia percayai dengan mudah.
"Terima kasih atas wawasanmu, Shen Yichen," ujar Li Wei, berdiri dari kursinya. Itu adalah isyarat pembubaran. "Aku akan mempertimbangkan kata-katamu."
Shen Yichen bangkit. Ia membungkuk hormat, merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Percakapan ini jauh lebih berat dari yang ia bayangkan.
Li Wei melambai kecil ke arah pintu. "Kau bisa pergi sekarang."
Memutar badan, Shen Yichen melangkah menuju pintu. Ia merasakan tatapan Li Wei masih menusuk punggungnya. Saat ia hampir mencapai ambang pintu, ia tak bisa menahan diri untuk tidak menoleh.
Li Wei masih berdiri di tempatnya, menatapnya dengan pandangan yang tidak terbaca. Tangannya memegang cangkir teh. Ibu jarinya mengusap lambang naga melilit pedang yang terukir di sisi cangkir.
Lambang naga melilit pedang.
Jantung Shen Yichen mencelos. Itu adalah lambang yang sama persis seperti yang ada di balik jubah bandit yang menyerangnya di hutan beberapa waktu lalu. Lambang yang terukir di gagang pedang sang pemimpin bandit.
Li Wei, Pangeran Mahkota, memegang cangkir dengan lambang yang sama.
Ketika Pangeran Mahkota melambai agar ia pergi, ia berbalik dan melihat sang pangeran memegang cangkir tehnya, ibu jarinya mengusap lambang naga melilit pedang yang sama persis seperti yang ada di balik jubah bandit.