Chapter 7 of 12
Chapter 7: Panggilan Ibu Kota
1.2k words
Udara pagi mengusap pipi Shen Yichen. Aroma tanah basah dan daun muda memenuhi indranya. Ia berdiri di tengah hamparan sawah, tunas-tunas hijau biji emas mencuat dari lumpur. Senyum lebar merekah di wajahnya. Kerja kerasnya terbayar. Desa ini, yang dulunya tercekik kelaparan, kini menatap masa depan dengan harapan. Ribuan perut akan kenyang.
Petani-petani berjongkok, dengan hati-hati memangkas rumput liar. Mereka berbisik penuh kekaguman tentang keajaiban yang dibawa Yichen. Bukan hanya benih unggul, tetapi juga teknik irigasi baru yang ia ajarkan. Air mengalir lancar, memenuhi parit-parit kecil yang menggurat lahan.
“Lihat, Pak Tua Wang,” serunya, menunjuk sebatang tunas yang lebih tinggi dari yang lain. “Ini akan menjadi panen terbaik kita.”
Pak Tua Wang mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Putra Langit memang mengutusmu, Yichen. Kau penyelamat kami.”
Kepala Yichen terasa hangat mendengar pujian tulus itu. Ia merasa puas. Ini adalah tujuan hidupnya, membantu orang-orang kecil, memanfaatkan pengetahuannya dari masa depan untuk kebaikan. Proyeknya berjalan lancar, dan ia sudah merencanakan langkah berikutnya: membangun lumbung desa yang lebih besar dan memperkenalkan metode penyimpanan biji-bijian yang lebih baik.
---
Bayangan besar jatuh di atas mereka. Suara derap kuda memecah ketenangan pagi. Beberapa petani tersentak, menjatuhkan alat mereka. Mereka menoleh, melihat sekelompok penunggang kuda mendekat. Bendera kekaisaran berkibar gagah, dengan ukiran naga emas yang megah.
Jantung Yichen berdegup kencang. Ia mengenali lambang itu. Pasukan kekaisaran. Apa yang mereka inginkan di desa terpencil ini? Wajahnya tetap tenang, namun kecerdasan buatan di benaknya mulai menganalisis situasi. Risiko tinggi.
Seorang komandan kekar dengan seragam mewah turun dari kudanya. Prajurit-prajurit lain tetap di atas kuda mereka, mata mereka menelusuri setiap sudut desa. Penduduk desa segera menunduk hormat, beberapa bahkan berlutut ketakutan.
“Siapa yang bernama Shen Yichen?” suara komandan itu menggelegar.
Yichen melangkah maju. “Saya, Tuan Komandan.”
Komandan itu mengamati Yichen dari atas ke bawah, ekspresi skeptis di wajahnya. “Kau pemuda yang digosipkan telah menghidupkan kembali lahan-lahan mati?”
Yichen mengangguk singkat. “Saya hanya berusaha membantu desa ini.”
Gerakan komandan itu cepat. Ia mengeluarkan sebuah gulungan perkamen yang diikat pita sutra merah. Aroma musk dan tinta mahal tercium kuat. Segel kekaisaran, berbentuk naga melingkar, tampak jelas di atasnya. Sebuah surat titah.
“Berdasarkan perintah dari Paduka Kaisar, Shen Yichen diperintahkan untuk segera menghadap ke Ibu Kota. Jangan tunda. Perjalananmu akan diatur.”
Kata-kata itu menghantam Yichen seperti palu. Ibu Kota? Istana? Dilema segera mencengkeramnya. Di satu sisi, ini adalah kesempatan yang tak terduga. Sebuah pintu gerbang menuju pengaruh yang jauh lebih besar. Ia bisa membantu lebih banyak orang, mungkin bahkan seluruh kerajaan. Ini adalah kesempatan untuk memenuhi dorongan batinnya, dorongan untuk membuktikan nilainya setelah kehilangan segalanya.
Di sisi lain, bahaya mengintai. Intrik istana adalah sarang ular berbisa. Kecerdasan buatannya telah memberinya wawasan tentang sejarah dinasti ini, tentang bagaimana orang-orang berbakat sering kali menjadi korban perebutan kekuasaan. Raja-raja yang curiga, pangeran-pangeran yang ambisius, menteri-menteri yang korup. Ia naif dalam urusan hati, terlalu mempercayai niat baik orang. Ini bisa menjadi jebakan yang mematikan.
Komandan itu menunggu, matanya tajam. “Apakah kau tidak mendengar?”
“Saya mendengarnya, Tuan Komandan,” jawab Yichen, suaranya mantap meskipun jantungnya bergemuruh. “Berapa lama waktu yang saya miliki untuk bersiap?”
“Satu hari. Kita berangkat besok pagi.” Komandan itu menyerahkan gulungan itu, tatapan memperingatkan di matanya. “Pastikan kau tidak melarikan diri. Kekaisaran memiliki mata di mana-mana.”
---
Malam itu, Yichen tidak bisa tidur. Ia mondar-mandir di gubuk sederhananya. Pikirannya berpacu, memproses setiap kemungkinan. Membayangkan dirinya di istana, berhadapan dengan bangsawan angkuh. Memikirkan proyeknya di desa, yang baru saja mulai mekar. Siapa yang akan mengurusnya? Siapa yang akan melanjutkan visi lumbung desa dan sistem irigasi yang lebih maju?
Meja kayunya penuh dengan catatan dan peta desa. Gambar-gambar sederhana tentang bagaimana ia ingin memodernisasi pertanian lokal. Ini adalah karyanya, mimpinya. Meninggalkan semua ini terasa seperti mengkhianati kepercayaan penduduk desa.
Tapi bagaimana jika undangan ini adalah kunci untuk dampak yang lebih besar? Jika ia bisa mendapatkan posisi di istana, ia bisa melobi untuk reformasi yang lebih luas, memperkenalkan teknologi dari masanya untuk meningkatkan kehidupan jutaan orang. Bukan hanya satu desa, tetapi seluruh negeri. Itu adalah godaan yang kuat, sejalan dengan dorongan batinnya untuk menjadi penyelamat.
Rasa takut mencengkeramnya sesekali. Ketakutan akan kegagalan, ketakutan akan intrik yang tidak ia pahami sepenuhnya. Ia adalah orang luar, seorang transmigran dari dunia yang berbeda. Aturan main di istana adalah sesuatu yang asing, jauh lebih kompleks daripada algoritma yang ia kenal.
Optimismenya, sifat dasarnya, mulai mengambil alih. Ia percaya pada kemampuan dirinya. Ia memiliki pengetahuan yang tak tertandingi. Dengan hati-hati, ia bisa menavigasi jebakan-jebakan itu. Ia bisa menggunakan pengaruhnya untuk kebaikan, bukan untuk kekuasaan pribadi. Ini adalah takdirnya.
Ia harus pergi. Terlepas dari risiko yang jelas, rasa ingin tahu dan dorongan untuk berbuat lebih banyak terlalu kuat untuk diabaikan. Ini adalah tantangan yang harus ia hadapi. Mungkin, ini adalah langkah pertama menuju pengisian kekosongan yang ia rasakan sejak tiba di dunia ini.
---
Pagi berikutnya, ia mengumpulkan beberapa barang penting. Pakaian bersih, beberapa buku catatan, dan gulungan peta yang ia buat. Ia menjelaskan kepada Pak Tua Wang dan beberapa pemimpin desa lainnya tentang kepergiannya. Mereka mendengarkan dengan cemas, tatapan mereka penuh kekhawatiran.
“Kami akan mengurus lahan, Yichen,” kata Pak Tua Wang, suaranya bergetar. “Kau harus kembali. Kami membutuhkanmu.”
Yichen menepuk bahu Pak Tua Wang. “Saya akan kembali. Ini hanya sementara. Saya akan mencoba berbicara dengan Kaisar tentang kebutuhan desa kita.” Ia berusaha terdengar percaya diri, meskipun ada keraguan yang menggerogoti hatinya.
Ia juga berjanji akan mencari tahu lebih banyak tentang kebijakan kekaisaran yang mungkin menguntungkan desa mereka. Mungkin ia bisa mendapatkan dukungan resmi untuk proyek-proyeknya. Ia bahkan berjanji untuk mengirimkan kabar secepat mungkin.
Berjalan melewati rumah-rumah penduduk, ia melihat anak-anak kecil bermain. Mereka melambaikan tangan kepadanya, wajah-wajah ceria yang beberapa bulan lalu masih pucat karena kelaparan. Yichen merasa sebuah beban berat menimpa pundaknya. Ia tidak hanya pergi untuk dirinya sendiri, tetapi untuk mereka semua.
Ia mendekati tepi desa, tempat rombongan kekaisaran sudah menunggu. Kuda-kuda hitam gagah, prajurit-prajurit berwajah datar, dan kereta tertutup yang mewah. Itu adalah penanda yang jelas akan status dan bahaya. Yichen berhenti sejenak, menoleh ke belakang, menatap desa yang telah menjadi rumahnya.
Semua mata penduduk desa tertuju padanya. Ada kesedihan, ketakutan, dan harapan terpancar dari mereka. Yichen merasakan gelombang emosi. Ia tidak bisa mengecewakan mereka.
Komandan itu memberi isyarat tidak sabar. “Cepat, Shen Yichen. Kita tidak punya waktu untuk berpamitan.”
Yichen menoleh kepada komandan, lalu menatap penduduk desa sekali lagi. Ia melihat ketakutan yang mendalam di mata mereka, bukan hanya karena kehadiran prajurit, tetapi seolah-olah mereka tahu sesuatu yang tidak ia ketahui. Sesuatu tentang undangan ini, tentang Ibu Kota, tentang istana.
Perasaan aneh merayap di punggungnya. Seperti bayangan dingin yang tiba-tiba melintas. Ia baru saja akan melangkah menuju kereta, tetapi dorongan kuat untuk memahami ketakutan mereka menghentikannya. Instingnya, atau mungkin analisis datanya, menyuruhnya untuk mencari tahu.
Ia berbalik, berjalan menuju kerumunan penduduk desa yang masih berdiri di belakang. Menghampiri beberapa tetua yang tampak paling cemas. “Mengapa kalian begitu ketakutan?” tanyanya, suaranya rendah. “Apakah ada yang salah dengan undangan ini?”
Ketika ia bertanya kepada penduduk desa tentang surat itu, mereka semua menunduk ketakutan, dan seorang tetua berbisik, “Jangan pernah menolak undangan dari Naga Langit, Yichen. Bahayanya lebih besar daripada pergi.”