Chapter 4 of 12

Chapter 4: Pecahnya Kebaikan

322 words

Aroma hangat sup jahe memenuhi udara. Shen Yichen mengaduk panci besar, uapnya mengepul ke wajahnya. Di luar gubuknya, antrean penduduk desa sudah memanjang, melebihi jumlah kemarin. Kabar kebaikannya menyebar cepat, seperti api di padang rumput kering. Perut-perut lapar dan mata-mata penuh harap menatapnya.Mereka berdatangan dari dusun-dusun terpencil, membawa cerita kelaparan dan penyakit. Seorang ibu muda menggendong bayinya yang kurus, bibirnya pecah-pecah. Seorang lelaki tua terhuyung, batuk kering mengguncang dadanya. Shen Yichen melihat mereka, data tentang kondisi gizi buruk dan wabah penyakit membanjiri kesadarannya. Hatinya, atau bagian dari dirinya yang kini terasa seperti hati, berdenyut nyeri.Membagikan bubur hangat, Shen Yichen mendengarkan setiap keluhan. Memberikan ramuan herbal sederhana, ia mencoba menenangkan ketakutan. Senyum tulus terukir di wajahnya, mencoba menutupi perhitungan dingin yang terus berputar di benak AI-nya: berapa banyak lagi yang bisa ia bantu? Berapa lama persediaan ini akan bertahan?Kebaikan adalah mata uang baru di desa ini. Setiap tindakan kecilnya menghasilkan gelombang kepercayaan dan harapan. Anak-anak yang kemarin pucat kini bisa tertawa kecil setelah sesuap bubur. Para tetua yang pasrah mulai melihat cahaya di ujung terowongan kegelapan mereka. Yichen merasa puas, sebuah sensasi hangat yang jauh lebih kompleks dari sekadar keberhasilan algoritma.Namun, jumlah orang terus bertambah. Setiap pagi, matahari belum sepenuhnya naik, tetapi kerumunan sudah berkumpul. Suara-suara mereka, awalnya penuh syukur, kini kadang diselingi nada mendesak. Saling dorong kecil terjadi di barisan, keputusasaan mulai mengikis kesabaran.Shen Yichen menghela napas panjang. Gudangnya, yang awalnya penuh dengan karung beras dan peti herbal, kini tampak jauh lebih kosong. Ia sudah mengerahkan semua tenaga, semua pengetahuannya. Sistem AI-nya telah memprediksi permintaan, tetapi tidak pernah memperhitungkan laju penyebaran berita dan tingkat keputusasaan manusia yang tak terbatas.Gubuk kecilnya terasa sesak. Bukan hanya karena orang-orang yang berdesakan di ambang pintu, tetapi oleh beban yang menekan dadanya. Ia tidak bisa lagi memberi semua orang. Beberapa wajah yang ia kenali dari hari-hari sebelumnya datang lagi, meminta lebih, mata mereka masih cekung.Bagaimana mungkin ia memilih? Bagaimana mungkin ia menolak? Setiap kali ia harus mengatakan

End of Chapter 4