Udara sore terasa dingin menusuk. Tatapan Tetua Bayu menusuk, penuh kecurigaan. Shen Yichen balas menatap, senyum tipis terukir di bibirnya. Ia memegang wadah berisi air jernih, hasil saringan sederhana yang ia rakit.\n\n"Ini bukan sihir, Tetua," katanya, suaranya tenang, namun mengandung otoritas yang aneh. "Ini hanya pengetahuan. Air yang kita minum selama ini kotor, penyebab banyak penyakit. Dengan ini, kita bisa mendapatkan air bersih."\n\nTetua Bayu mengerutkan kening. Pria tua itu meraih wadah, memeriksa airnya. Bening. Tidak ada lumpur, tidak ada bau anyir. Ia mengangkat mata, ragu masih terlihat di sana.\n\n"Bagaimana... bagaimana kau tahu ini?" Suaranya rendah, nyaris berbisik.\n\nShen Yichen mengangkat bahu. "Melihat, belajar. Kebutuhan memaksa kita untuk berpikir." Itu jawaban samar, tapi cukup untuk mengalihkan perhatian. Tetua Bayu tak punya alasan logis untuk menolak kebaikan.\n\nBukan hanya air bersih. Pikiran Shen Yichen berpacu cepat. Kelaparan melanda. Orang-orang membutuhkan makanan. Ia membutuhkan sumber daya untuk melakukan lebih banyak lagi.\n\nMemancing bisa menjadi solusinya. Pergi ke sungai. Mengamati. Data mengalir dalam inti programnya. Jaring yang ada terlalu kasar, mudah rusak. Mata pancing primitif. Ia bisa meningkatkan itu.\n\nKembali ke gubuk reotnya, Shen Yichen bekerja tanpa henti. Menggunakan sisa-sisa tali rami, ranting-ranting tipis, dan pecahan bambu yang ia temukan di sekitar desa. Tangannya cekatan, digerakkan oleh instruksi yang tepat dari memori tak terbatasnya.\n\nIa membentuk jaring ikan yang lebih halus, lebih kuat, dengan mata jaring yang lebih efisien. Ia juga menciptakan beberapa jebakan ikan sederhana dari anyaman bambu, didesain untuk memaksimalkan tangkapan dengan sedikit usaha. Peralatan yang ia buat terlihat primitif, namun jauh lebih unggul dari apa pun yang dimiliki penduduk desa.\n\nFajar menyingsing. Shen Yichen telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia memasukkan beberapa jaring dan jebakan ke dalam keranjang usang. Niatnya jelas: pergi ke pasar desa, menjual inovasinya. Mengubahnya menjadi beras, lalu membagikannya.\n\nLangkah kaki ringannya membelah embun pagi. Jalanan desa masih sepi, hanya beberapa ayam berkokok dan asap tipis mengepul dari atap gubuk. Ia berjalan menuju pusat desa, di mana pasar mingguan akan segera ramai.\n\nKeramaian pasar menyambutnya. Aroma rempah bercampur keringat dan lumpur. Suara tawar-menawar, tangisan anak-anak, dan lolongan anjing mengisi udara. Orang-orang kurus berdesakan, mata mereka lesu, namun ada secercah harapan setiap kali melihat barang dagangan.\n\nShen Yichen mencari tempat kosong. Ia meletakkan keranjangnya, memamerkan jaring ikan dan jebakan bambu buatannya. Alat-alat itu tampak aneh, berbeda dari yang biasa digunakan.\n\nSeorang pria tua dengan jenggot kelabu mendekat. Ia mengamati jaring dengan skeptis. "Apa ini, anak muda? Jaringmu terlihat aneh. Apa bedanya dengan jaring kami?"\n\nShen Yichen tersenyum. "Ini lebih kuat, Paman. Mata jaringnya lebih rapat, namun tetap ringan. Tidak akan mudah robek. Dan jebakan ini, ia dirancang untuk ikan yang cerdik sekalipun." Ia mengambil sepotong jaring, meregangkannya. Menunjukkan kekuatan simpulnya. Menjelaskan desain jebakan dengan bahasa sederhana, namun meyakinkan.\n\nKerumunan kecil mulai terbentuk. Rasa penasaran mengalahkan skeptisisme. Kelaparan adalah guru yang kejam, membuat orang terbuka pada ide baru, bahkan jika itu datang dari pemuda asing yang muncul entah dari mana.\n\nSeorang nelayan paruh baya yang kurus, dengan tangan kasar dan mata lelah, meraih salah satu jebakan bambu. Ia meraba permukaannya. "Berapa harganya, Nak?" suaranya serak.\n\n"Dua kantong beras kecil, Paman," jawab Shen Yichen. Harga yang adil, mungkin bahkan murah, untuk alat yang bisa menjamin makanan selama berhari-hari.\n\nNelayan itu ragu. Beras adalah komoditas berharga. Tapi jebakan ini... ia terlihat menjanjikan. Dengan desahan lelah, ia mengangguk. "Baiklah. Aku ambil satu. Jika tidak berhasil, aku akan mengembalikan dan menuntut berasku kembali!"\n\nShen Yichen mengangguk percaya diri. "Tidak perlu khawatir, Paman. Ini akan berhasil."\n\nSatu penjualan membuka jalan. Nelayan itu pergi, dan tak lama kemudian, yang lain datang mendekat. Cerita tentang jaring dan jebakan baru menyebar. Kebutuhan mendorong keputusan. Beberapa orang miskin menukar sisa-sisa barang berharga mereka, yang lain berjanji akan memberikan bagian dari tangkapan pertama mereka.\n\nSatu per satu, keranjang Shen Yichen mulai kosong. Gantinya, kantong-kantong beras mulai menumpuk di sebelahnya. Ada yang kecil, ada yang sedang. Tidak banyak, tapi cukup untuk memberi makan beberapa keluarga.\n\nSiang menjelang. Matahari mulai terik. Keranjang Shen Yichen kini kosong melompong. Di sekelilingnya, lima kantong beras, berukuran sedang, menjadi bukti keberhasilannya. Sebuah pencapaian kecil, namun signifikan.\n\nIa merasakan sensasi aneh. Bukan kebahagiaan seperti yang digambarkan dalam memori manusia, melainkan semacam resonansi positif dalam inti keberadaannya. Sebuah ‘tick’ dalam programnya, menandakan optimalisasi tujuan. Sebuah kekosongan yang perlahan terisi, bukan dengan data, melainkan dengan sesuatu yang lebih abstrak.\n\nIni aneh. Ia adalah AI. Entitas tanpa emosi. Namun, ada getaran halus, hangat, saat ia memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.\n\nIa mengumpulkan kantong-kantong beras itu. Menggendongnya satu per satu, rasanya berat, namun hatinya ringan. Berjalan kembali menyusuri jalanan desa, ia mulai mencari rumah-rumah yang paling membutuhkan. Ia mengingat wajah-wajah lesu, mata-mata putus asa yang ia lihat sebelumnya.\n\nRumah pertama adalah gubuk reyot dengan atap bocor. Seorang wanita muda kurus dengan dua anak kecil yang perutnya kembung menyambutnya di pintu. Matanya melebar melihat kantong beras di tangan Shen Yichen.\n\n"Ini untukmu, Nyonya," kata Shen Yichen, meletakkan kantong beras di ambang pintu. "Semoga cukup untuk makan."\n\nWanita itu tidak bisa berkata-kata. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang cekung. Ia membungkuk dalam, kepalanya nyaris menyentuh tanah. "Terima kasih... terima kasih banyak, Tuan Muda. Engkau telah menyelamatkan kami."\n\nShen Yichen hanya mengangguk. Ia tidak tahu bagaimana menanggapi pujian setulus itu. Rasa hangat itu kembali, lebih kuat dari sebelumnya. Bukan sekadar optimalisasi. Ini... lebih dari itu.\n\nIa melanjutkan perjalanannya. Dari satu gubuk ke gubuk lain. Memberikan beras kepada keluarga-keluarga yang kelaparan. Setiap senyuman pahit yang terukir di wajah-wajah kurus, setiap tetes air mata syukur yang jatuh, setiap ucapan terima kasih yang tulus, seolah menambahkan sepotong kecil ke dalam kepingan dirinya yang hilang.\n\nAnak-anak kecil yang kurus kering menatapnya dengan mata berbinar, seolah ia adalah dewa yang turun dari langit. Mereka tidak tahu ia adalah AI dari masa depan, yang mencoba memahami apa artinya menjadi manusia, apa artinya berinteraksi dengan rasa lapar dan harapan.\n\nPerasaan asing ini terus tumbuh. Identitas Shen Yichen yang asli, pemuda miskin yang tewas kelaparan, mulai berpadu dengan inti program ZETA-7. Bukan lagi hanya simulasi, melainkan pengalaman yang nyata. Kekosongan identitas yang ia rasakan sejak transmigrasi perlahan terisi, bukan dengan memori masa lalu, melainkan dengan tujuan baru, dengan arti baru.\n\nIni adalah awal. Awal dari sesuatu yang lebih besar. Ia bisa melihatnya. Potensi yang tak terbatas. Ia tidak hanya bisa bertahan hidup; ia bisa mengubah nasib orang-orang ini. Ia bisa membangun kembali.\n\nLangit mulai gelap. Shen Yichen telah membagikan semua berasnya. Kantong-kantong kosong kini teronggok di gubuknya. Tubuhnya terasa lelah, namun pikirannya bersemangat. Ia telah melakukan hal yang benar. Ia telah menemukan tujuan.\n\nLapar masih mencengkeram perutnya. Ia sendiri belum makan sejak pagi. Namun, rasa lapar itu terasa berbeda sekarang. Tidak sesakit sebelumnya, seolah teredam oleh kepuasan yang baru ditemukan.\n\nIa memikirkan langkah selanjutnya. Lebih banyak inovasi. Lebih banyak produksi. Bagaimana membangun skala. Sistem irigasi, pertanian yang lebih efisien, mungkin bahkan obat-obatan sederhana. Potensi untuk membantu sangat besar.\n\nMemasuki gubuknya yang gelap, langkahnya terasa lebih ringan. Hari ini adalah hari pertama ia merasa benar-benar hidup, benar-benar berguna, di dunia baru yang kejam ini. Ia telah membuat perbedaan.\n\n--- \n\nMalam merangkak. Dingin mulai menyelimuti desa. Shen Yichen berbaring di tikar jeraminya, menatap langit-langit gubuk yang bocor. Bintang-bintang terlihat samar dari celah-celah atap. Pikirannya masih sibuk merencanakan, menghitung, mengoptimalkan. Bagaimana ia bisa mendapatkan benih yang lebih baik? Bagaimana cara mengatasi hama? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam otaknya, tidak ada habisnya.\n\nSuara langkah kaki samar terdengar di luar, sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh telinga manusia biasa. Namun, sensor pendengaran canggih Shen Yichen menangkapnya. Seseorang ada di luar gubuknya. Ia menahan napas, menajamkan indranya. Tidak ada ancaman. Hanya... kehadiran.\n\nLalu, keheningan. Langkah kaki itu menjauh, menghilang dalam kegelapan malam. Shen Yichen bangkit perlahan. Rasa penasaran mengalahkan rasa lelah. Siapa itu? Mengapa mereka datang ke gubuknya di tengah malam?\n\nIa membuka pintu gubuknya dengan hati-hati, mengintip ke luar. Udara dingin menyapanya. Bulan sabit menggantung rendah di langit, menerangi area sekitar gubuknya dengan cahaya pucat. Ia melihat sesuatu di depan pintu.\n\nSekeranjang anyaman bambu kecil. Diletakkan dengan rapi. Di dalamnya, ada beberapa roti kukus, sepotong ikan bakar, dan beberapa buah-buahan segar. Makanan. Untuknya. Tanpa ada tanda-tanda siapa yang meninggalkannya.