Chapter 5 of 12

Chapter 5: Tawar Menawar Darah

982 words

Aroma debu dan ketakutan mengisi udara. Pria kekar itu berdiri menjulang, siluetnya mengancam di ambang pintu gubuk, memblokir cahaya pagi. Matanya yang gelap menatap tajam, menelanjangi setiap sudut gubuk, seolah mencari sesuatu yang berharga untuk dijarah. Di belakangnya, beberapa wajah kasar lainnya mengintip, membawa kapak dan golok yang berkarat. Mereka adalah bandit. Kata itu berputar di benak Shen Yichen, dingin dan nyata. Ia telah menghitung risiko ini, namun melihatnya secara langsung terasa jauh lebih menakutkan. "Siapa kepala desa di sini?" Suara pria itu serak, seperti gerusan batu. Matanya terpaku pada Shen Yichen, seolah secara naluriah tahu siapa yang memegang kendali. Kerongkongan Shen Yichen terasa kering. Semua penduduk desa menunduk, gemetar ketakutan. Mereka bersembunyi di balik punggungnya, menjadikan dirinya tameng tak terlihat. "Saya." Ia melangkah maju, dadanya berdebar kencang. Naluri AI-nya berteriak untuk menganalisis, untuk mencari solusi optimal, meskipun tubuh manusianya ingin lari. Pria itu menyeringai, menunjukkan gigi yang kuning dan tidak terawat. "Jadi, kau rupanya si anak muda yang mencoba membangun kembali desa ini? Kabar angin menyebar cepat, bahkan ke hutan." Suaranya mengejek, namun ada nada penasaran di sana. Menjaga ekspresi wajah tetap netral, Shen Yichen membalas tatapan itu. Sistemnya memproses data: bahasa tubuh, intonasi, ekspresi mikro. Pria ini mencari keuntungan, bukan hanya kekerasan murni. Ada ruang untuk negosiasi. "Kami hanya berusaha bertahan hidup," jawab Shen Yichen, suaranya tenang, meskipun jantungnya berpacu seperti genderang perang. "Seperti kebanyakan orang di tanah ini." Ia mencoba menyentuh sedikit kemanusiaan, meskipun tahu itu berisiko. Seringai bandit itu menghilang. "Bertahan hidup? Kami juga. Dan untuk bertahan hidup, kami butuh makanan. Kami dengar panenmu melimpah. Kami datang untuk mengambil bagian kami." Matanya menyapu deretan karung gandum yang mulai menumpuk di sudut. Itu adalah hasil kerja kerasnya, tetesan keringat penduduk desa, investasi masa depannya. Memberikannya secara cuma-cuma terasa seperti tusukan belati. Namun, melawan akan berakhir dengan darah. Tidak hanya darahnya, tetapi juga darah orang-orang tak bersalah yang telah ia janjikan untuk lindungi. AI di otaknya menghitung probabilitas. Perlawanan = 98% kehancuran total. Negosiasi = 40% peluang hasil yang lebih baik. "Aku mengerti kebutuhanmu," kata Shen Yichen, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Tetapi mengambil semua hasil panen kami hanya akan membunuh angsa yang bertelur emas. Desa ini akan mati kelaparan, dan kau tidak akan mendapatkan apa-apa di kemudian hari." Pria itu memiringkan kepalanya. "Jadi, apa yang kau usulkan, tuan bijaksana?" Ini dia. Kesempatan itu. Shen Yichen menarik napas dalam, membiarkan pikirannya berpacu. "Kami bisa memberikan sebagian kecil dari panen kami. Sebagai imbalan..." Ia berhenti, membiarkan ketegangan membangun. Mata bandit itu menyipit, waspada. Penduduk desa di belakangnya menahan napas. Ini adalah pertaruhan besar. "Sebagai imbalan," lanjut Shen Yichen, menatap lurus ke mata bandit itu, "kau dan orang-orangmu akan menjamin keamanan kami. Melindungi desa ini dari bandit lain yang mungkin memiliki niat yang sama, atau bahkan lebih buruk." Sebuah ide gila, namun secara logis masuk akal. Bandit ini, dengan kekuatannya, bisa menjadi perisai. Mereka tahu wilayah ini. Mereka akan lebih efektif daripada penjaga mana pun yang bisa ia seewa. Pria itu tertawa keras, suara seraknya memantul di dinding gubuk. "Melindungi? Kami adalah bandit!" "Memang," balas Shen Yichen tenang. "Tapi bukankah lebih menguntungkan memiliki sumber daya yang stabil? Setiap musim panen, kami akan menyediakan sebagian kecil untukmu. Dengan begitu, kau tidak perlu repot mencari, tidak perlu bertarung, dan kami bisa fokus bercocok tanam tanpa rasa takut." Ia melanjutkan, menguraikan visi yang jelas. "Pikirkan ini sebagai investasi jangka panjang. Jika desa ini makmur, bagianmu akan selalu ada. Jika desa ini hancur, kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Kau menjadi penjaga, kami menjadi produsen. Simbiosis." Pria itu menghentikan tawanya. Ia menatap Shen Yichen dengan tatapan baru, sebuah campuran antara rasa tidak percaya dan intrik. Matanya menyapu wajah-wajah ketakutan di belakang Shen Yichen, lalu kembali ke karung gandum. "Berapa banyak 'bagian kecil' yang kau maksud?" tanyanya, suaranya kini lebih datar, tanpa ejekan. "Sepuluh persen," jawab Shen Yichen segera. Ini adalah angka yang telah ia simulasikan, cukup besar untuk menarik minat, tetapi tidak akan melumpuhkan desa. "Sepuluh persen dari setiap panen. Tiga kali setahun, sesuai jadwal tanam kami. Dan sebagai jaminan, kami akan memberikan sepuluh karung gandum sekarang, sebagai tanda niat baik dan untuk bekalmu pulang." Pria itu berpikir keras. Alisnya berkerut. Ia melirik anak buahnya, yang tampak tertarik dengan ide makanan gratis dan teratur. Negosiasi berlanjut selama beberapa saat, diwarnai keraguan dari pihak bandit dan argumen logis dari Shen Yichen. Ia menjelaskan bagaimana perlindungan mereka akan menghemat waktu dan energi bandit dari pertempuran sia-sia dengan kelompok lain. Ia bahkan berani menambahkan, "Kau bisa menggunakan reputasimu untuk memberitahu bandit lain bahwa desa ini di bawah 'perlindungan'mu. Mereka akan takut untuk mendekat." Ini adalah sebuah provokasi cerdik, merayu harga diri bandit itu. Perlahan, ekspresi keras pria itu melunak. Bukan karena kebaikan hati, melainkan karena perhitungan dingin. Shen Yichen melihat roda gigi berputar di benak bandit itu. Keuntungan yang stabil, risiko yang lebih rendah, dan bahkan peningkatan status di antara dunia bawah tanah. "Baiklah," kata pria itu akhirnya, suaranya berat tapi tegas. "Sepuluh persen dari setiap panen. Dan kami akan memastikan tidak ada tikus lain yang mengganggu sarangmu. Tapi jika kau mencoba menipu kami..." Matanya menyala dengan ancaman yang jelas. "...aku akan kembali dan mengambil semuanya. Termasuk nyawamu." Kata-katanya menggema, menekan atmosfer gubuk. Shen Yichen mengangguk, menjaga ketenangannya. "Itu adil. Kami akan menepati janji kami." Sebuah perasaan aneh mulai tumbuh di dalam dirinya. Ini bukan kemenangan moral, bukan kebaikan. Ini adalah kompromi kotor, sebuah paksaan. Namun, ia telah mengubah ancaman menjadi sebuah kesempatan, sebuah perisai yang tak terduga. Rasa pragmatisme yang dingin, sebuah 'kemenangan' kalkulatif, mengendap dalam hatinya yang masih naif. Ia tidak menyukai ini, tetapi ia harus melakukannya. Demi kelangsungan hidup desa. Demi orang-orang ini. Saat perjanjian itu tercapai, pria bandit itu berbalik, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengambil karung gandum yang dijanjikan. Jubahnya yang lusuh sedikit tersingkap oleh gerakan itu, dan sekilas, Shen Yichen melihat sebuah lambang aneh di balik kainnya: sebuah naga yang melilit pedang, persis seperti lambang yang ia 'lihat' dalam kilasan data acak di kepalanya.

End of Chapter 5