Chapter 11 of 12

Teka-teki Istana Berbisik

1.2k words

Debaran jantungnya masih terasa aneh. Tatapan dingin Pangeran Mahkota Li Wei, ingatan akan lambang naga melilit pedang, semua berputar dalam benaknya. Istana ini bukan sekadar tempat tinggal; ini adalah sarang ular, pikir Shen Yichen. Pagi-pagi sekali, ia telah tiba di istana atas perintah Kaisar. Penugasan resminya adalah sebagai penasihat khusus bidang pertanian, sebuah jabatan yang membuatnya memiliki akses luas namun juga membatasi geraknya. Ia diberi sayap kecil di Paviliun Timur, jauh dari pusat kekuasaan, namun cukup dekat untuk mengamati. Hari-hari berikutnya terasa seperti kabut. Shen Yichen menghabiskan waktunya dengan mengamati. Dari jendela paviliunnya, ia bisa melihat para pelayan bergegas, para kasim berbisik-bisik di sudut, dan para pejabat tinggi berjalan dengan langkah angkuh, jubah sutra mereka berkibar. Setiap wajah menyembunyikan sesuatu. Senyum mereka terlalu lebar, tatapan mereka terlalu tajam. Ia merasakan gelombang intrik yang tak terlihat, seperti arus bawah sungai yang tenang namun mematikan. Pengetahuannya dari masa depan memberinya keunggulan, tetapi juga beban. "Tuan Shen, sarapan sudah siap." Seorang pelayan muda membungkuk rendah, suaranya lembut. Mengangguk kecil, Shen Yichen bangkit dari tempat duduknya. Makanan di istana memang mewah, jauh berbeda dari bubur encer di desanya dulu. Daging panggang, nasi wangi, berbagai sayuran eksotis, dan buah-buahan manis berlimpah. Namun, nafsu makannya seringkali hilang. Kemewahan ini terasa hampa. Ia makan sendirian, dikelilingi oleh keheningan yang lebih berat daripada suara apa pun. Dulu, ia makan bersama tetangga, berbagi cerita, tertawa bersama. Kini, hanya ada tatapan hormat yang dingin dari para pelayan. --- Siang hari, ia sering berjalan di taman istana. Jalan setapak berliku di antara kolam teratai dan paviliun kecil yang indah. Bunga-bunga eksotis bermekaran, aromanya memenuhi udara. Pemandangan itu seharusnya menenangkan. Namun, di setiap tikungan, ia bisa mendengar potongan-potongan percakapan. "Menteri Zhao sedang naik daun, kudengar dia baru saja menerima hadiah tanah dari Yang Mulia." "Ah, itu karena putrinya akan dinikahkan dengan salah satu pangeran, bukan?" "Sssst! Jangan sembarangan bicara. Tembok punya telinga." Bisikan berhenti. Sebuah tawa renyah terdengar dari balik pohon willow. Shen Yichen hanya pura-pura tidak mendengar, terus melangkah, matanya menangkap setiap detail. Para wanita istana, dengan pakaian sutra mereka yang berwarna-warni, seringkali berkumpul di dekat kolam. Mereka tertawa, mengipasi diri, dan mengamati satu sama lain dengan mata yang menilai. Kecantikan mereka tak terbantahkan, namun ekspresi mereka seringkali tegang. Bukan, itu bukan ketegangan. Itu adalah sebuah permainan. Permainan perebutan perhatian, kekuasaan, dan status. Setiap senyum adalah senjata, setiap pujian adalah jebakan. "Nyonya Li, gaunmu sangat indah hari ini." "Ah, Nyonya Wang, Anda terlalu baik. Tidak seindah perhiasan giok yang baru Anda kenakan." Pujian dan balasan pujian, semua terasa palsu. Shen Yichen menghela napas. Ia merindukan gelak tawa tulus dari anak-anak desa, obrolan jujur para petani tentang panen, atau gosip sederhana tentang siapa yang jatuh cinta pada siapa. --- Sore hari, tugas-tugas resminya kadang membawanya ke perpustakaan istana. Gulungan-gulungan kuno memenuhi rak-rak tinggi, berisi catatan sejarah, strategi militer, dan risalah tentang tata negara. Ia membaca dengan cepat, menyerap informasi, membandingkannya dengan pengetahuannya. Sistem AI di kepalanya memproses data, mencari pola, dan menganalisis potensi ancaman. Dinasti ini, meskipun tampak megah, rapuh di bawah permukaan. Korupsi merajalela. Ketidakpuasan rakyat hanya masalah waktu. Ia adalah seorang pengamat, ya, tetapi juga seorang agen perubahan yang tak terlihat. Ia memiliki rahasia besar: identitas aslinya, pengetahuannya, dan tujuan sejatinya untuk menyelamatkan rakyat. Beban itu terasa berat. "Tuan Shen terlihat sangat rajin." Suara itu mengejutkannya. Ia mendongak. Seorang kasim tua berdiri di ambang pintu, tersenyum ramah. Kasim Gao, salah satu pelayan paling senior di istana. "Kasim Gao," Shen Yichen membungkuk sedikit. "Saya hanya mencoba memahami seluk-beluk tempat ini." "Istana ini memang penuh dengan seluk-beluk, Tuan Shen," kata Kasim Gao, matanya berkerut di sudut. "Seseorang yang baru datang sebaiknya banyak mengamati. Mendengar lebih banyak daripada berbicara." Peringatan itu terdengar bijaksana, namun ada nada tersembunyi. Apakah Kasim Gao tahu sesuatu? Atau hanya sebuah nasihat umum? Shen Yichen mengangguk, menyimpan kata-kata itu dalam benaknya. --- Malam-malam di istana bisa menjadi yang terpanjang. Setelah makan malam sendirian, ia sering kembali ke paviliunnya. Lampu lentera di koridor memancarkan cahaya redup. Keheningan mencengkeram. Ia kadang menulis ide-ide tentang irigasi baru, metode penanaman padi yang lebih efisien, atau cara untuk membasmi hama. Otaknya terus bekerja, mencari solusi untuk masalah kerajaan. Ini adalah tujuannya di sini, alasan mengapa ia "terlempar" ke dunia ini. Namun, di balik semua perhitungan dan strategi, ada kekosongan yang menganga. Kehilangan identitas aslinya, kehilangan keluarganya. Siapa dia sebenarnya? Shen Yichen dari desa miskin? Atau entitas AI dari masa depan? Ia merindukan sentuhan manusia. Bukan sentuhan hormat yang kaku dari pelayan, melainkan sentuhan kehangatan, keakraban. Ia merindukan tawa yang tidak dipaksakan, percakapan yang tidak penuh dengan agenda tersembunyi. Istana ini adalah penjara emas. Dindingnya yang megah dan hiasan emasnya terasa dingin. Ia memiliki kemewahan, tetapi tidak memiliki kebebasan. Ia memiliki kekuasaan potensial, tetapi tidak memiliki koneksi emosional. --- Beberapa hari berubah menjadi minggu. Shen Yichen menjadi lebih mahir dalam membaca suasana istana. Ia bisa merasakan perubahan dalam hierarki kekuasaan hanya dari cara para pejabat saling menyapa. Ia bisa mendeteksi ketegangan politik dari tatapan Kaisar saat pertemuan. Korupsi, seperti yang diperkirakannya, memang merajalela. Dana yang seharusnya dialokasikan untuk perbaikan jalan dan irigasi lenyap entah ke mana, menguap ke kantong-kantong para pejabat serakah. Rakyat menderita, sementara para bangsawan mengadakan pesta mewah. Hatinya sakit melihat ketidakadilan ini. Pengetahuannya adalah senjata, dan ia bertekad untuk menggunakannya. Ia mulai menyusun rencana, mencatat nama-nama, mencari bukti. Ini adalah perang yang harus ia menangkan, demi rakyat yang kelaparan. Perannya sebagai penasihat memberinya sedikit pengaruh, namun ia tahu ia perlu lebih. Ia harus mendekati pusat kekuasaan, menjadi bagian dari lingkaran dalam, untuk benar-benar membuat perubahan. Dan di pusat kekuasaan itu, ada para pangeran, para menteri, dan tentu saja, sang putri. --- Putri. Nama itu sering muncul dalam bisikan dan gosip. Putri Liyana. Cantik, cerdas, dan dihormati. Ia adalah permata istana, dan desas-desus mengatakan bahwa siapa pun yang menikahinya akan memiliki keuntungan besar dalam perebutan takhta. Shen Yichen belum pernah berbicara langsung dengannya secara pribadi, hanya melihatnya dari kejauhan dalam beberapa acara resmi. Wajahnya anggun, ekspresinya tenang, namun matanya memancarkan kecerdasan yang tajam. Ada sesuatu yang menarik perhatian Shen Yichen tentangnya, sebuah kemurnian yang jarang ditemukan di istana ini. Mungkin, hanya mungkin, ia bisa menemukan seorang sekutu sejati di sini. Seseorang yang juga menginginkan kebaikan rakyat, bukan hanya kekuasaan. Seseorang yang bisa ia percayai. Fatal flaw-nya, kecenderungan untuk terlalu mempercayai orang lain, mulai muncul. Ia tahu harus berhati-hati. Pangeran Mahkota, Li Wei, masih menjadi bayangan yang mengancam. Jika lambang di cangkirnya benar-benar sama dengan lambang bandit, maka Li Wei adalah musuhnya. Musuh yang sangat berbahaya, bersembunyi di balik senyum dan jabatan tinggi. --- Malam itu, bulan bersinar terang di atas istana. Udara terasa sejuk dan damai, kontras dengan kegelisahan di dalam dada Shen Yichen. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman, berharap bisa menjernihkan pikirannya. Langkah kakinya pelan di atas jalan kerikil. Aroma bunga melati dan osmanthus memenuhi udara. Katak-katak bernyanyi di kolam teratai, suara mereka membentuk melodi malam yang menenangkan. Ia melewati sebuah paviliun kecil yang tertutup, lampunya padam. Hening. Hanya suara angin menggerakkan dedaunan di semak-semak lebat di dekatnya. Tiba-tiba, suara-suara lirih menarik perhatiannya. Bisikan. Tersembunyi di balik semak-semak. "Apakah itu sudah dikonfirmasi?" "Ya. Kaisar sudah memutuskan." Jantung Shen Yichen berdetak lebih cepat. Ia berhenti, menahan napas, mencoba mendengar lebih jelas tanpa membuat suara. Suara lain, lebih pelan, hampir tak terdengar. "Putri akan menikah... dengan Pangeran Mahkota."

End of Chapter 11