Chapter 12 of 12

Chapter 12: Pertemuan Tak Terduga

966 words

Udara istana terasa dingin, meskipun mentari bersinar cerah di luar. Shen Yichen mengamati para bangsawan yang lalu lalang, jubah sutra mereka berkibar, senyum palsu terpampang di wajah mereka. Setiap bisikan mengandung intrik, setiap tatapan menyimpan perhitungan. Ia merasa terasing, jiwanya merindukan kesederhanaan desa, aroma tanah basah, dan tawa tulus tanpa topeng. Beberapa hari terakhir, bisikan tentang pernikahan Putri dengan Pangeran Mahkota semakin santer. Kata-kata itu berputar-putar di benaknya, mengukir rasa hampa yang aneh di hatinya. Bukan cemburu, bukan iri, hanya semacam kekosongan, pengingat akan takdir yang tak dapat ia ubah di dunia asing ini. Ia merasa seperti pion dalam permainan catur raksasa, meskipun ia memiliki kemampuan untuk mengubah seluruh papan. Keinginannya untuk memahami dunia ini semakin besar. Perpustakaan kekaisaran menjadi satu-satunya tempat ia merasa nyaman, dikelilingi oleh gulungan dan buku kuno. Di sana, ia bisa melarikan diri dari hiruk pikuk politik, menyelami kebijaksanaan masa lalu, dan mencari tahu lebih banyak tentang Dinasti Tiongkok yang kini menjadi rumahnya. Sore itu, ia melangkah menyusuri lorong panjang perpustakaan, langkahnya ringan, pikirannya sibuk memproses algoritma dan data sejarah. Rak-rak kayu tinggi menjulang, dipenuhi gulungan perkamen yang menguning dan buku-buku tebal berjilid kain. Aroma kuno kertas dan tinta memenuhi udara, menenangkan jiwanya yang gelisah. Matanya menyapu deretan gulungan yang berbicara tentang strategi militer, topik yang kini sangat ia minati mengingat ancaman perang yang selalu mengintai. Sebuah gulungan tertentu menarik perhatiannya, tersembunyi di balik tumpukan naskah lain. Ia mengulurkan tangan, sedikit tergesa, ingin segera membaca isinya. Gerakannya cepat, terlalu cepat. Sebuah bayangan melintas di hadapannya dari balik rak. Sebuah benturan keras terjadi, diiringi suara denting keramik. Cairan hangat membasahi jubahnya. Ia tersentak, keseimbangan tubuhnya goyah. "Maafkan saya!" Suara lembut nan merdu itu mengalir, diiringi kepanikan. Bola matanya bergerak cepat, mencari sumber suara. Di depannya, seorang wanita muda berdiri kaku, cangkir teh porselen yang tadi ia genggam kini pecah di lantai, teh herbalnya membasahi karpet dan sebagian jubah sutra Yichen. Wanita itu cantik, rambut hitamnya tergerai anggun, dihiasi jepit giok sederhana. Pakaiannya sederhana namun terbuat dari bahan berkualitas, menandakan status bangsawan. Namun, bukan itu yang menarik perhatian Yichen. Matanya. Matanya memancarkan kecerdasan yang tajam, seperti bintang di malam hari, namun di baliknya tersimpan sedikit kesedihan yang sulit diartikan. Sebuah perasaan aneh menyeruak di dada Shen Yichen. Bukan getaran data, bukan analisis logis. Itu lebih dalam, lebih samar, seperti gema dari sesuatu yang ia pernah rasakan di masa lalu yang tak ia ingat, di identitas aslinya yang telah lama hilang. Jantungnya berdebar, irama yang asing baginya, sebuah anomali dalam sistemnya. "Apakah Anda baik-baik saja?" Shen Yichen bertanya, suaranya sedikit serak, mengabaikan basahnya jubahnya. Pandangannya terpaku pada mata wanita itu, mencoba mencari tahu, mencoba memahami emosi kompleks yang terpancar dari sana. Wanita itu tidak menjawab, hanya menatapnya balik, keterkejutan dan sedikit rona merah menghiasi pipinya. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata tertahan di tenggorokannya. Ia terlihat canggung, tangannya sedikit gemetar. Yichen merasakan sesuatu yang lembut, sesuatu yang murni dalam dirinya, berbeda dari topeng-topeng yang sering ia lihat di istana. "Saya... saya tidak melihat Anda," wanita itu akhirnya berucap, suaranya sedikit lebih yakin. Ia membungkuk hormat, sorot matanya tidak pernah meninggalkan Shen Yichen. Ada daya tarik tak kasat mata di antara mereka, seperti dua medan magnet yang saling menarik, sebuah pertemuan yang melampaui kebetulan. Shen Yichen tersenyum tipis, senyumnya yang biasanya ceria kini terasa sedikit tumpul, terpengaruh oleh perasaan aneh yang bergolak. "Saya yang harusnya minta maaf. Saya terlalu fokus mencari gulungan." Ia menunjuk gulungan di lantai yang baru saja terjatuh dari tangannya. Wanita itu mengikuti arah pandangannya, lalu kembali menatap Yichen. Keheningan singkat menyelimuti mereka, dipenuhi oleh dengungan aneh yang hanya Yichen yang bisa rasakan. Ruangan perpustakaan, yang biasanya terasa luas dan terbuka, kini terasa menyempit, hanya ada mereka berdua di dalamnya. Waktu seolah melambat, setiap detail wajah wanita itu terukir jelas di benak Yichen. Dia bukan sekadar kumpulan piksel atau algoritma. Dia nyata. Kecerdasannya terpancar, namun ada beban yang tertahan, sebuah cerita yang tersembunyi di balik senyum tipisnya. Shen Yichen, dengan kecerdasan futuristiknya, tidak bisa menganalisisnya. Ini adalah sensasi baru, sebuah data yang tidak terstruktur, emosi yang mentah. "Gulungan itu... apakah Anda juga tertarik pada strategi militer?" wanita itu bertanya, mencoba memecah keheningan yang semakin intens. Suaranya kembali terdengar lembut, sedikit malu-malu. Pipinya kembali merona, membuat Yichen merasa sedikit hangat di dadanya. Perasaan ini, ia belum pernah mengalaminya. "Ya. Saya mencoba memahami lebih dalam dinamika kekuatan di dinasti ini," jawab Shen Yichen, suaranya kembali normal. Ia mengambil gulungan yang terjatuh, membersihkan sedikit debu darinya. "Dunia ini jauh lebih kompleks dari yang saya bayangkan. Ada begitu banyak hal untuk dipelajari." Ia melihat sekilas ke arah wanita itu, yang kini tampak sedikit lebih rileks. Wanita itu mengangguk pelan, matanya berbinar. "Memang benar. Pengetahuan adalah kekuatan terbesar." Sebuah kebijaksanaan yang mendalam terpancar dari kata-katanya. Shen Yichen merasa tertarik. Ini adalah percakapan yang ia rindukan, jauh dari pujian hampa atau tuntutan politik. "Saya Shen Yichen," ia memperkenalkan diri, mengulurkan tangan secara spontan, kebiasaan dari masa depan yang sering ia lupakan. Wanita itu menatap tangannya sejenak, sedikit terkejut, namun kemudian mengulurkan tangannya juga, sentuhan mereka sangat singkat, hanya ujung jari yang bersentuhan. Sentuhannya lembut, namun meninggalkan jejak yang tak terduga pada kulit Shen Yichen. Sebuah percikan energi kecil, seperti arus listrik yang lemah, mengalir melalui sarafnya. Ia menarik tangannya, jantungnya masih berdebar tak karuan. Ini adalah pengalaman yang sama sekali baru, berbeda dari sentuhan apapun yang ia rasakan sebelumnya. Ini bukan lagi sekadar data. Ia memproses informasi itu, mencoba mengkategorikannya, namun otaknya menolak. Ini bukan data. Ini... perasaan. Emosi yang tak dapat didefinisikan oleh bahasa algoritma. Sebuah kebingungan yang menyenangkan mencengkeramnya. Ia ingin tahu lebih banyak, ingin memahami apa yang baru saja ia alami. Wanita itu tersenyum tipis, memperkenalkan dirinya sebagai Putri Li Hua, dan sebelum ia sempat bereaksi, seorang pelayan buru-buru memanggilnya, meninggalkan Shen Yichen dengan perasaan tak menentu dan cangkir teh yang ia jatuhkan.

End of Chapter 12