Chapter 2 of 5

Sistem Bangkit, Dunia Berubah

1.7k words

Aroma kayu lapuk dan tanah basah masih melekat kuat di indra penciumannya, menusuk hingga ke dasar paru-paru. Lin Pan memejamkan mata, membiarkan kegelapan merayap di balik kelopak, berharap saat ia membukanya lagi, pemandangan dinding kusam itu akan sirna. Namun, saat kelopak mata itu kembali terbuka, tak ada yang berubah. Langit-langit dari balok kayu gelap, anyaman bambu yang usang, dan cahaya temaram yang masuk dari celah-celah genting tetap menyambutnya. Sebuah desakan untuk mengerti, untuk menyatukan kembali kepingan realitasnya, bergejolak di dalam dada. Ingatan samar tentang tempat tidur rumah sakit, selang-selang yang menancap di kulit, dan bisikan putus asa dari keluarganya masih terasa begitu nyata. Ia mengingat dengan jelas desiran mesin monitor yang menjadi irama terakhir hidupnya di Bumi modern—suara bip panjang yang kemudian digantikan oleh kekosongan total. Bagaimana mungkin ia bisa berakhir di sini? Di sebuah kamar yang terasa kuno, dengan tubuh yang terasa asing namun begitu bertenaga? Ia mengangkat telapak tangan, melihat urat-urat yang menonjol di sana, jari-jari yang panjang dan kokoh. Ini bukan tangannya yang dulu—yang lemah dan pucat karena sakit berkepanjangan. Ini adalah tangan seseorang yang terbiasa bekerja keras, penuh vitalitas. Lin Pan mengamati lengan bawahnya: kulitnya sawo matang, ototnya terbentuk. Sebuah sensasi aneh menjalar saat ia mengepalkan jemari, merasakan kekuatan baru yang membuncah—kekuatan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Ia mencoba memanggil namanya sendiri. "Lin Pan." Suara itu keluar serak, namun jelas miliknya. Lalu, ia mencoba mengingat wajah orang tuanya, nomor telepon rumah, alamat apartemennya di kota. Semuanya ada, tersimpan rapi, namun terasa jauh, seperti memori dari mimpi yang baru saja berlalu. Kemeja tipis yang membalut tubuhnya terasa kasar di kulit. Ia menggeser tubuhnya sedikit, merasakan gesekan kain yang membebat. Keringat dingin mulai merembes di punggung, bukan karena demam, melainkan karena kengerian yang perlahan menyergap. Ia tidak hanya berpindah tempat, ia telah berpindah kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab menggerogoti, membuat keningnya berkerut dalam. Ia mencoba menyentuh pipinya, merasakan kehangatan kulit. Sebuah kepastian yang menakutkan: ia hidup, tapi bukan sebagai dirinya yang lama. Ia memutar pandangan ke sekeliling, mencari celah, tanda, apa pun yang bisa memberinya petunjuk. Sebuah lentera minyak tergantung di sudut, memancarkan cahaya redup yang membuat bayangan menari-nari di dinding. Bau rempah dan kayu semakin pekat, mengukuhkan kenyataan bahwa ia berada di tempat yang jauh dari peradaban modern yang ia kenal. Jantungnya berdebar, bukan karena rasa sakit, tapi karena ketidakpastian yang mencekik. Ketakutan itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa penasaran yang membara, dicampur dengan keinginan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kegelapan di dalam kamar seolah menelan semua bunyi, menyisakan deru napasnya sendiri yang terasa begitu keras di telinga. Lin Pan memaksakan diri untuk tenang, mencoba berpikir logis di tengah pusaran kebingungan ini. Ia mengusap wajahnya, merasakan tekstur kulit yang sedikit kasar, jauh berbeda dari kulit halus yang ia kenakan di kehidupan sebelumnya. Pikirannya berputar, mencari penjelasan yang masuk akal, tetapi setiap teori yang muncul terasa semakin absurd. Saat itulah, sebuah bisikan meluncur, dingin dan jernih, seperti angin yang menyelinap dari celah dinding. Suara itu begitu dekat, seolah-olah berhembus langsung di gendang telinganya, namun tanpa sumber fisik yang terlihat. Sebuah getaran aneh menjalari tulang punggungnya. Ia menoleh cepat ke segala arah, matanya menyipit mencari jejak. Tak ada siapa-siapa. Kamar itu masih kosong, remang, dan sunyi. Jantung Lin Pan berdegup kencang. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah efek dari kelelahan, halusinasi akibat stres. Namun, bisikan itu datang lagi, kali ini lebih jelas, lebih tegas. "Selamat datang, pengguna. Sistem telah diaktifkan." Suara itu terdengar datar, tanpa emosi, namun entah mengapa memancarkan otoritas yang tak terbantahkan. Lin Pan menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Siapa... siapa itu?" bisiknya, suaranya sedikit gemetar. Ia merasa konyol berbicara pada kehampaan, tetapi rasa takut itu terlalu nyata untuk diabaikan. Ia mencubit lengannya sendiri, merasakan sakit yang tajam. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Bisikan itu bukan hanya imajinasinya. "Aku adalah Sistem," jawab suara itu, kini terdengar lebih mirip resonansi di dalam kepalanya daripada bisikan eksternal. "Aku ada untuk membantumu beradaptasi dengan realitas barumu." Realitas baru? Lin Pan merasakan gelombang kejutan. "Apa maksudmu?" tanyanya, suaranya lebih kuat sekarang, meskipun masih ada nada waspada. "Aku... aku sudah mati. Aku sakit." Sistem itu tetap tenang. "Tubuh lamamu memang telah tiada. Namun, entitas spiritualmu telah dipindahkan ke wadah baru, di dimensi yang berbeda. Ini adalah kesempatan keduamu." Lin Pan terdiam, mencerna kata-kata itu. Kesempatan kedua? Di dimensi lain? Semua yang ia alami, semua keanehan pada tubuhnya, semua itu mulai menemukan benang merah yang mengerikan. "Kau bilang akan membantuku? Bagaimana caranya?" desaknya, merasa putus asa, namun juga diselimuti secercah harapan. Sistem itu merespons dengan cepat. "Aku adalah antarmuka antara dirimu dan sumber daya yang tak terbatas. Aku dapat memberimu alat, informasi, dan kemampuan untuk bertahan hidup serta berkembang di dunia ini. Tapi pertama, kau harus menerima bantuanku." Ia ragu. Mempercayai suara tanpa tubuh yang mengklaim sebagai 'Sistem' terdengar seperti awal dari cerita horor. Namun, apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia sendirian, di tempat yang tidak ia kenal, dengan identitas yang bukan miliknya. Pilihan apa yang ia miliki? Sebuah harapan kecil mulai tumbuh, mendorong rasa putus asa itu ke samping. "Aku... aku menerimanya," ucap Lin Pan, suaranya penuh keraguan, namun keputusannya sudah bulat. Begitu Lin Pan mengucapkan kata-kata itu, udara di depannya berdesir. Bukan desiran angin, melainkan seperti riak air yang tak terlihat, membentuk sebuah bidang transparan. Bidang itu mengembang, menampilkan garis-garis neon berwarna biru kehijauan yang membentuk antarmuka. Benda itu mengambang di udara, tepat di depan wajahnya, setinggi pandangannya, memancarkan cahaya lembut yang cukup untuk menerangi seisi kamar. Lin Pan tersentak, mundur selangkah. Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuhnya, tetapi tangannya menembus antarmuka itu tanpa hambatan. Namun, matanya bisa melihat dengan jelas. Di bagian atas, tertulis ‘Sistem Antarmuka’, dan di bawahnya terdapat beberapa tab: ‘Profil’, ‘Inventaris’, ‘Misi’, ‘Toko Online’. Ia membaca setiap label, otaknya berpacu. Ini seperti sesuatu dari gim video, pikirnya, sebuah konsep yang ia kenal dari kehidupan lamanya, tetapi kini terwujud di dunia nyata. Rasa takjub bercampur dengan kecurigaan. Apakah ini semua lelucon? Namun, ketajaman detail visual dan sensasi ‘kehadiran’ antarmuka itu terlalu nyata untuk diabaikan. Suara Sistem kembali terdengar di benaknya. "Selamat datang di antarmuka utama. Untuk memulainya, mari kita jelajahi 'Toko Online'." Antarmuka itu berkedip, dan tab 'Toko Online' langsung membesar, mengisi sebagian besar layar. Di sana, sebuah kisi (grid) berisi ikon-ikon kecil muncul. Masing-masing ikon menampilkan gambar barang yang aneh—beberapa tampak seperti ramuan kuno, yang lain seperti senjata fantastis, dan beberapa lagi benar-benar tidak bisa ia identifikasi. Di bawah setiap ikon, terdapat nama dan harga dalam mata uang yang tidak ia kenal. Lin Pan membaca beberapa nama: "Ramuan Pemulihan Minor," "Kristal Peningkatan Atribut," "Pedang Penjaga Malam," "Benih Pohon Kehidupan." Harganya sangat bervariasi, dari beberapa koin perak hingga puluhan permata berkilauan. Ia menelusuri daftar itu, merasakan pening melihat begitu banyak pilihan yang membingungkan. "Bagaimana... bagaimana cara kerja ini?" tanyanya, menunjuk ke layar dengan dagunya. Sistem itu menjelaskan dengan sabar. "Toko ini berisi berbagai item yang dapat membantumu dalam perjalananmu. Kau dapat memperoleh mata uang dengan menyelesaikan misi yang diberikan oleh Sistem, atau dengan menjual item yang kau temukan di dunia ini. Setiap item memiliki deskripsi detail yang dapat kau akses." Ia mengangguk pelan, mencoba memahami konsep 'misi' dan 'mata uang' di dunia yang sama sekali asing ini. Ini adalah beban informasi yang sangat besar, tetapi Lin Pan merasakan semacam kegembiraan yang aneh. Setidaknya, sekarang ada tujuan, ada cara untuk bergerak maju. Ia tidak lagi sepenuhnya tanpa arah. Matanya tertuju pada sebuah ikon kecil di sudut kanan atas layar yang belum ia perhatikan sebelumnya. Ikon itu tampak seperti gambar sebuah apel yang bersinar lembut, dikelilingi oleh aura keemasan. Sebuah tulisan singkat di bawahnya berbunyi: "Anugerah Adam." Harganya... kosong. Tidak ada angka, hanya tanda tanya. Itu menarik perhatiannya lebih dari item lainnya. Kenapa item ini tidak memiliki harga? Dan apa sebenarnya 'Anugerah Adam' itu? Sebuah rasa penasaran yang kuat mencengkeramnya. Ia ingin tahu. Ia harus tahu. "Anugerah Adam?" Lin Pan bergumam, jarinya secara otomatis mengarah pada ikon apel bersinar di antarmuka transparan itu. Ia merasakan desakan untuk memahami mengapa item ini berbeda, mengapa ia tidak memiliki harga. Begitu jarinya—atau setidaknya, niatnya—menyentuh ikon itu, antarmuka Toko Online bergeser, dan sebuah jendela baru muncul, melayang di tengah layar. Jendela itu menampilkan gambar apel emas yang sama, tetapi kali ini jauh lebih besar dan detail, seolah ia bisa merasakan teksturnya yang halus. Di bawah gambar itu, teks deskripsi muncul, mengalir dengan cepat. Lin Pan mulai membaca, matanya melebar seiring setiap kata yang dicernanya. "Anugerah Adam: Sebuah hadiah unik yang diberikan kepada para Transmigran terpilih. Ini bukan item yang bisa dibeli. Anugerah ini adalah manifestasi dari potensi tersembunyi yang terkunci dalam wadah baru. Membuka Anugerah Adam akan mengintegrasikan esensi spiritualmu sepenuhnya dengan tubuh baru, membangunkan kemampuan bawaan yang sesuai dengan takdirmu di dunia ini." Ia membaca ulang kalimat terakhir: "kemampuan bawaan yang sesuai dengan takdirmu." Jantungnya berdebar kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena antisipasi yang membakar. Ini bukan sekadar peningkatan biasa. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih personal. Ini adalah kunci untuk memahami siapa dirinya sekarang. Tiba-tiba, ia menyadari bahwa kekuatan fisik yang ia rasakan sebelumnya, otot-otot yang terbentuk sempurna, mungkin hanyalah bagian kecil dari apa yang akan datang—sebuah fondasi. Sistem itu berbicara lagi, suaranya sekarang terdengar sedikit lebih bersemangat, atau mungkin itu hanya imajinasinya. "Anugerah Adam adalah fitur inti dari adaptasimu. Dengan mengaktifkannya, kau akan sepenuhnya mengakses kemampuan yang telah diwariskan oleh tubuh ini, dan juga potensi yang belum terjamah dari jiwamu yang berpindah." "Diwariskan?" Lin Pan bertanya, bingung. "Maksudmu, tubuh ini sudah punya kemampuan tertentu?" "Tepat sekali," jawab Sistem. "Tubuh yang kau tempati ini adalah wadah yang luar biasa. Ia memiliki garis keturunan kuno, garis keturunan yang diberkahi. Anugerah Adam akan membuka segelnya." Lin Pan terdiam, menatap deskripsi itu, kemudian beralih ke telapak tangannya sendiri. Urat-urat menonjol itu, jari-jari yang kokoh. Ini bukan hanya tubuh acak. Ini adalah tubuh yang istimewa. Dan ia, Lin Pan, seorang pria sakit-sakitan dari Bumi modern, entah bagaimana telah diberikan warisan ini. Ia merasa seperti menemukan harta karun yang tidak pernah ia cari. Sebuah tombol berkedip di bagian bawah jendela deskripsi: [ AKTIFKAN ANUGERAH ADAM ]. Tidak ada biaya. Hanya sebuah pilihan. Ini adalah lompatan terakhir, jembatan yang akan membawanya sepenuhnya dari masa lalu ke masa sekarang. Ia merasakan gelombang adrenalin membanjiri dirinya. Apa pun yang akan terjadi, ia tahu bahwa setelah ini, ia tidak akan pernah sama lagi. Ia sudah mengambil keputusan. Tangannya terangkat, gemetar ringan, dan bergerak untuk menyentuh tombol itu, siap untuk merasakan apa pun yang akan terungkap.

End of Chapter 2