Udara dingin dari mesin pendingin rumah sakit menusuk hidung Lin Pan, sebuah aroma klinis yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-hari terakhirnya. Setiap hembusan napas terasa seperti perjuangan panjang, paru-parunya berontak menolak udara, menciptakan suara sengal yang serak dari tenggorokannya yang kering. Matanya yang cekung menatap kosong ke langit-langit putih, pola retakan halus di sana seolah memetakan jalur takdirnya yang segera berakhir.
Jantungnya berdenyut lemah di balik tulang rusuk, iramanya tidak teratur—sebuah drum yang kehilangan ritmenya dan hampir berhenti. Tubuhnya berjuang melawan kegagalan yang tak terelakkan; setiap serat ototnya menegang dalam perlawanan yang sia-sia. Bahkan kelopak matanya terasa berat, menolak untuk berkedip. Ia hanya bisa menatap, menyaksikan cahaya memudar dari tepi pandangannya. Kekuatan di sekujur tubuhnya telah menguap, meninggalkan cangkang kosong yang terperangkap dalam kesunyian.
Ini adalah akhir, ia tahu—sebuah kepastian dingin yang merayap di setiap sudut kesadarannya. Bukan akhir yang heroik, atau penuh drama. Hanya kelelahan yang tak terhingga, penyerahan diri pada sesuatu yang tak terhindarkan. Segala sesuatu terasa melambat, waktu memanjang menjadi gema yang jauh. Sebuah selang infus menancap di punggung tangannya, terasa dingin dan asing, mengalirkan cairan yang tidak lagi mampu menopang kehidupannya yang memudar. Kulitnya pucat, nyaris transparan, menampakkan urat-urat biru yang samar di bawahnya, seperti peta sungai kering.
Lin Pan bisa merasakan setiap serat ototnya menegang, setiap persendiannya berdenyut tumpul. Ada sedikit rasa sesal yang menusuk, seperti jarum kecil yang menembus lapisan kepasrahannya. Ia belum banyak melakukan hal berarti, belum merasakan banyak hal yang dijanjikan oleh masa depan yang cerah. Pikirannya melayang, mengingat kilasan kehidupan yang berlalu begitu cepat, seolah diputar ulang dalam kecepatan tinggi: tawa teman-teman yang riuh, aroma masakan ibunya yang khas, sentuhan lembut angin di wajahnya saat ia bersepeda di sore hari. Detail-detail kecil yang kini terasa begitu jauh, seperti mimpi yang nyaris terlupakan. Kenangan itu memudar dengan cepat, seperti lukisan yang dibilas hujan.
Napasnya semakin dangkal, lebih cepat, seperti ikan yang terdampar di daratan, megap-megap mencari air. Monitor di samping ranjang berdenting pelan, ritme bip-nya semakin melambat, setiap jeda terasa lebih panjang dari sebelumnya, menandai detik-detik terakhir. Suara itu, yang selama berminggu-minggu menjadi latar belakang konstan, kini menjadi penanda waktu yang semakin menipis. Lin Pan mencoba menggerakkan jari-jarinya, ingin merasakan sesuatu, apa saja, untuk terakhir kalinya. Namun, yang ada hanya mati rasa, kelemahan yang merenggut setiap kekuatan.
Matanya terpejam. Sebuah kehangatan samar menyebar di dadanya, bukan kehangatan yang menyenangkan, melainkan seperti panas yang menggerogoti, yang perlahan membakar sisa-sisa vitalitasnya. Ia bisa merasakan sisa-sisa kesadarannya menipis, memudar seperti lilin yang nyaris habis, cahayanya berkedip-kedip sebelum padam. Suara bip monitor semakin jauh, bagaikan gema di lorong yang panjang dan gelap. Gelap mulai merayap dari tepian pandangannya, melahap cahaya dan bentuk.
Ini dia. Momen yang ia tahu akan datang. Momen akhir. Sebuah napas terakhir yang terasa begitu rapuh, hampa, sebelum segalanya lenyap. Sebuah titik kesadaran terakhirnya tenggelam ke dalam kehampaan, menyerah pada kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Semuanya menjadi gelap, sunyi, tak berujung. Hanya kehampaan yang tak terbatas.
Tepat ketika kegelapan mengklaim dirinya sepenuhnya, sebuah denyutan tajam menusuk dari dalam otaknya. Bukan rasa sakit fisik seperti yang biasa ia alami, melainkan sebuah kejutan listrik murni yang menyambar setiap sarafnya. Jlebb!
Kepalanya terasa meledak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas otaknya dengan kekuatan brutal, lalu menariknya keluar dari tengkoraknya. Matanya, yang seharusnya sudah terpejam, kini dipaksa terbuka oleh ledakan cahaya putih yang begitu terang, begitu menyilaukan, hingga seluruh pandangannya dilahap olehnya. Tidak ada bentuk, tidak ada warna—hanya samudra putih yang tak berujung, memekakkan indra.
Sensasi jatuh bebas menyusul seketika. Perutnya serasa terangkat, tenggelam ke dalam jurang kosong yang tak berdasar, seperti terjun bebas dari ketinggian ribuan meter. Udara di sekitarnya menghilang, digantikan oleh tekanan aneh yang menekan gendang telinganya hingga terasa nyeri. Tubuhnya berputar tak terkendali, setiap sendi berteriak protes saat ia dilempar dan diputar dalam kekosongan yang tak bertepi. Sebuah whoosh memekakkan telinga terdengar, seperti angin topan yang bergegas melewati, menelan semua suara lain.
Ini bukan mimpi, bukan halusinasi demam. Ini terasa terlalu nyata, terlalu brutal untuk sekadar imajinasi yang kacau. Ia mencoba berteriak, memanggil, tetapi tidak ada suara yang keluar. Pita suaranya seolah lumpuh, atau mungkin tidak ada udara untuk menghasilkan bunyi. Ketakutan murni menyergapnya, cengkeramannya dingin dan tak kenal ampun. Ini melampaui rasa takut mati yang baru saja ia rasakan. Ini adalah ketakutan akan sesuatu yang tidak dikenal, sesuatu yang melampaui batas-batas eksistensinya, melampaui alam pikiran manusia.
Tubuhnya terasa ditarik dari segala arah, diregangkan seperti karet, lalu ditekan kembali menjadi inti yang padat, seolah diremas oleh tangan raksasa. Tulang-tulangnya berderak, ototnya meronta. Cahaya putih itu tetap membakar retinanya, tak ada celah sedikit pun untuk melarikan diri, tak ada tempat untuk bersembunyi. Pikirannya kosong dari pemikiran, hanya ada respons primal dari tubuh yang berjuang.
Denyutan di kepala tidak berhenti, malah semakin kuat, berirama dengan setiap putaran dan hempasan yang ia alami. Ia adalah boneka kain yang dilempar, sehelai daun kering yang diterbangkan badai kosmik yang tak berbelas kasihan. Ada suara-suara aneh yang berdengung di telinganya, bisikan tak jelas, seperti ribuan suara yang berbicara sekaligus dalam bahasa yang tidak ia mengerti—sebuah hiruk-pikuk yang mengerikan.
Lalu, secepat kedatangannya, cahaya itu mulai memudar, perlahan-lahan kembali menjadi gelap, tapi bukan kegelapan yang menenangkan seperti sebelumnya. Ini adalah kegelapan yang pekat, berat, dan sesak, mencekik. Sensasi jatuh itu berubah menjadi sentakan keras, seperti ia baru saja menabrak permukaan tak terlihat. Dug!
Udara kembali menyerbu paru-parunya, bukan dengan kelembutan, melainkan dengan paksa, menyebabkan batuk kering yang menyakitkan dari tenggorokannya yang terkoyak. Tubuhnya terlempar, mendarat dengan bunyi brak yang mengguncang segalanya, menghantam permukaan keras. Semua indranya berputar, mual menguasai perutnya, dan kesadaran pun melayang lagi, ditarik ke dalam jurang hitam yang lebih dalam, lebih sunyi.
Sensasi pertama yang menyapa Lin Pan saat kesadaran merangkak kembali adalah bau kayu lapuk dan tanah yang lembap, sebuah aroma yang menusuk indranya. Bukan bau rumah sakit yang steril dan dingin, melainkan aroma organik yang kuat, menenangkan sekaligus asing, seperti bau hutan setelah hujan.
Matanya mengerjap perlahan, butuh waktu bagi pupilnya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya redup yang samar. Ia tidak lagi melihat langit-langit putih dengan retakan. Di atasnya kini terbentang balok-balok kayu gelap yang kasar, dipenuhi sarang laba-laba samar di sudut-sudutnya, menunjukkan usia dan kelalaian bangunan tersebut.
Ia berbaring di atas alas yang empuk namun terasa berbeda—bukan kasur pegas yang biasa ia tiduri. Permukaan di bawahnya terasa seperti anyaman jerami yang dilapisi kain tebal, terasa sedikit gatal dan bergeser di bawah berat tubuhnya. Punggungnya masih terasa nyeri akibat benturan terakhir, tetapi rasa sakitnya berbeda, lebih tumpul, seperti memar baru yang belum sepenuhnya terbentuk.
Sebuah keanehan mencengkeramnya. Lin Pan mencoba menggerakkan tangannya. Otot-ototnya terasa kaku, tetapi anehnya, ada kekuatan yang tidak ia rasakan selama berminggu-minggu di ranjang kematian. Telapak tangannya, yang kini terangkat di depan wajahnya, terlihat berbeda. Lebih kekar, dengan garis-garis yang jelas dan kulit yang terasa lebih sehat, lebih kencang, bahkan dengan sedikit kotoran yang menempel di sela kuku.
Ini bukan tangannya yang dulu. Lin Pan menatap, terpaku, pada kulit yang asing itu dan jari-jarinya yang lebih kuat. Ia memutar pergelangan tangannya, menggerakkan telapak tangannya. Sebuah kapalan samar merusak pangkal ibu jarinya—sesuatu yang tidak pernah dimiliki tangan lembutnya yang terikat di rumah sakit. Napasnya tercekat. Ia mendekatkan tangan itu, memeriksa garis-garis samar serta kukunya yang sedikit lebih lebar.
Gelombang mual, dingin dan tajam, membasuhnya, seolah esensinya sendiri telah dituangkan ke dalam wadah baru yang sedikit usang. Ia mencoba untuk duduk. Otot-ototnya mengerang protes, tetapi mereka patuh. Bukan dengan getaran lemah yang ia ingat, melainkan dengan kekuatan yang kaku dan belum terlatih. Ia mendorong dirinya ke atas siku; tikar anyaman di bawahnya bergesekan ringan dengan kulitnya.
Ruangan itu kecil, remang-remang, diterangi oleh satu jendela yang ditutupi oleh tirai tipis yang pudar. Titik-titik debu menari-nari dalam sinar matahari yang lemah, menerangi dinding kayu kasar dan langit-langit yang melengkung. Ini jelas bukan rumah sakit. Bukan rumah sakit mana pun yang pernah ia lihat.
Sebuah derit lembut bergema dari ambang pintu di sebelah kirinya. Kepalanya terentak ke arah suara itu, rasa sakit tumpul merekah di belakang matanya. Ambang pintu, tanpa pintu yang sebenarnya, hanyalah sebuah lubang di dinding yang ditutupi oleh tirai kain batik usang.
Sebuah bayangan terlepas dari kegelapan di baliknya. Kemudian, sesosok tubuh muncul. Seorang wanita tua, punggungnya sedikit membungkuk, langkahnya terseret-seret. Ia mengenakan daster—baju rumah tipis yang pudar—yang menggantung longgar di tubuhnya yang rapuh; motif bunga yang dulunya cerah kini nyaris tak terlihat. Rambutnya, lingkaran putih tipis, ditarik ke belakang dalam sanggul longgar, beberapa helai lepas membingkai wajah yang sangat berkerut.
Matanya, cekung dan berbayang, terpaku pada Lin Pan. Mereka menyimpan emosi mentah yang tak terbantahkan. Mereka berkilauan, basah dan berkaca-kaca, di ambang air mata. Wanita tua itu mengambil langkah ragu-ragu ke dalam ruangan, lalu satu langkah lagi. Bibirnya bergetar, sedikit terbuka seolah ingin berbicara, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia hanya berdiri di sana, menatap, pandangannya menyapu wajah Lin Pan, bahunya, hingga tangannya yang asing.
Napas bergetar perlahan keluar dari dada wanita tua itu, terdengar seperti isakan pelan. Lin Pan merasakan kejutan seperti ketakutan, tetapi juga rasa sakit aneh yang tak bisa dijelaskan di dadanya.
Siapa wanita ini? Mengapa ia menatapnya seperti itu? Tenggorokannya terasa tercekat, kering.