Chapter 3 of 5
Chapter 3: Adik Manis, Ancaman Tersembunyi
1.6k words
Aroma kayu tua dan tanah basah memeluk Lin Pan saat ia melangkah dari kamar. Cahaya matahari pagi merayap masuk melalui celah dinding bambu, membentuk garis-garis keemasan di lantai. Kakinya yang baru terasa mantap, setiap langkah memancarkan kekuatan yang belum terbiasa ia kenakan. Jantungnya berdebar, bukan karena ketakutan, melainkan antisipasi—sensasi asing yang bercampur dengan rasa ingin tahu.
Sebuah suara melengking, ceria, memecah kesunyian. "Koko! Koko sudah bangun!"
Lin Pan berbalik. Dari balik tirai anyaman, muncul sesosok gadis kecil. Rambutnya hitam legam, dikepang dua, berayun-ayun seiring langkahnya yang cepat. Matanya bulat, jernih, memancarkan kegembiraan murni yang meluluhkan setiap keraguan di dada Lin Pan.
"Xiao Hua!" Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, sebuah memori yang entah bagaimana tertanam kuat dalam benak barunya. Tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya. Kedua lengannya terbuka.
Gadis itu berlari kencang, menabraknya dengan momentum kecil yang penuh kasih sayang. Tubuh Lin Pan yang baru memang kuat, tetapi benturan itu tetap menghantamnya. Ia merasakan pelukan erat di pinggang, kepala kecil yang bersandar di dadanya. Bau rerumputan kering dan sedikit aroma manis seperti buah hutan menguar dari rambutnya.
Lin Pan melingkarkan lengannya, menarik Xiao Hua lebih dekat. Kehangatan tubuh mungil itu meresap ke kulitnya. Sensasi ini... nyata. Lebih nyata dari apapun yang ia rasakan sejak terbangun. Sebuah ikatan tak terlihat, namun begitu kuat, mengikatnya pada makhluk kecil ini.
"Koko tidur lama sekali," bisik Xiao Hua, suaranya teredam di kain bajunya. Ia mendongak, matanya berbinar. "Xiao Hua ingin bermain bersama Koko."
Senyum Lin Pan merekah, tanpa paksaan. "Tentu saja, Adik Manis. Koko sudah jauh lebih baik sekarang." Tangan besarnya mengusap lembut puncak kepala Xiao Hua, merasakan helainya yang halus dan tebal. Sebuah janji tanpa kata terukir dalam sentuhan itu.
Ibu muncul di ambang pintu dapur, seutas senyum tipis menghiasi wajahnya. Pandangannya melembut melihat interaksi mereka, namun Lin Pan menangkap bayangan kecemasan yang berkelebat singkat di balik mata wanita itu. Sebuah kerutan samar di antara alisnya, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk mengusik Lin Pan.
"Koko Lin Pan sudah bangun? Ayo sarapan," ajak Ibu, suaranya berusaha terdengar ringan. "Ibu sudah siapkan bubur millet kesukaanmu."
Lin Pan mengangguk, melepaskan pelukan Xiao Hua perlahan. Gadis kecil itu masih menempel padanya, seolah tak ingin berpisah. Keinginan untuk melindunginya, untuk menjaga senyum ceria itu, tiba-tiba membanjiri dada Lin Pan. Perasaan asing itu terasa begitu alami, begitu kuat.
---
Meja makan kayu yang sederhana dipenuhi dengan mangkuk-mangkuk bubur millet hangat. Aroma gurih dari irisan daun bawang dan sedikit minyak wijen menguar, memenuhi ruang keluarga. Lin Pan duduk, merasakan kehangatan mangkuk di tangannya. Rasa bubur itu, lembut dan sedikit hambar, namun entah mengapa terasa begitu menenangkan. Setiap suap memberinya energi, mengikis sisa-sisa kebingungan dari alam mimpi.
"Koko makan yang banyak," kata Xiao Hua, menyendokkan sedikit bubur ke mangkuk Lin Pan. Matanya yang polos menatapnya penuh perhatian.
"Terima kasih, Adik Manis," balas Lin Pan, hatinya menghangat. Ia merasakan dorongan untuk membalas kebaikan kecil itu, untuk memastikan senyum ini tak pernah pudar. Tapi bagaimana caranya?
Ibu menghela napas panjang, tatapannya menyapu isi mangkuk di hadapannya. Jeda itu terasa panjang, terlalu panjang. Ada sesuatu yang tak terucapkan, melayang di udara. Lin Pan melihat tangannya yang keriput mencengkeram tepi mangkuk, jemarinya memutih. Sebuah tanda yang kecil, namun berbicara banyak.
"Musim dingin akan segera tiba," Ibu memulai, suaranya rendah, nyaris berbisik. "Persediaan millet kita... tidak sebanyak tahun lalu. Panen kali ini kurang baik."
Lin Pan merasakan tenggorokannya mengering. Ia menelan sisa bubur di mulutnya, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. Pandangannya beralih pada Xiao Hua, yang dengan riang meniup-niup buburnya. Gadis kecil itu terlalu muda untuk memahami beban di pundak ibunya, dan kini di pundak Lin Pan.
"Kita bisa bekerja lebih keras, Ibu," kata Lin Pan, suaranya lebih tebal dari yang ia duga. "Tubuhku sudah pulih sepenuhnya. Aku bisa membantu di ladang."
Ibu tersenyum tipis, namun matanya tak mencapai senyum itu. "Tentu, Anakku. Tapi ladang kita... hanya sebesar ini. Dan untuk daging... harga di pasar sudah semakin tinggi. Xiao Hua butuh makan yang bergizi."
Kata-kata itu menusuk. Lin Pan merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya. Ia bisa merasakan kekuatan baru mengalir dalam dirinya, otot-ototnya tegang di bawah kulit. Namun kekuatan fisik semata tidak cukup untuk mengatasi kelaparan, untuk mengisi mangkuk yang kosong. Rasanya seperti sebuah janji yang tak bisa ia tepati, sebuah kekosongan yang tak mampu ia isi.
"Ibu akan mengusahakan yang terbaik," lanjut Ibu, suaranya sedikit bergetar. Ia menoleh ke arah jendela, menghindari tatapan Lin Pan. "Kita harus berhemat, lebih dari sebelumnya."
Lin Pan mengepalkan tangannya di bawah meja. Kekuatan baru ini terasa sia-sia jika ia tak bisa melindungi mereka. Rasa takut, murni dan menusuk, mulai bersemi di dadanya. Takut akan ketidakmampuannya, takut akan masa depan yang tidak pasti, takut melihat senyum Xiao Hua memudar.
---
Setelah sarapan, Lin Pan mencari sudut terpencil di belakang rumah. Suara ayam berkokok dan angin yang berdesir melalui pepohonan menjadi latar belakang usahanya. Ia harus mencari cara. Harus ada. Sensasi tertekan itu mengikatnya, tidak membiarkannya tenang. Kekuatan yang ia rasakan di sekujur tubuhnya terasa seperti ejekan jika tidak bisa diubah menjadi sesuatu yang konkret untuk keluarganya.
Dengan fokus penuh, Lin Pan memanggil Sistem. Antarmuka transparan berwarna biru-hijau itu muncul kembali di hadapannya, memancarkan cahaya lembut yang kontras dengan cahaya matahari pagi. Ia menghela napas, jemarinya mengepal di sisi tubuh. Tekadnya membaja.
"Sistem," bisik Lin Pan, suaranya parau. "Tampilkan Toko Online."
Layar Toko Online terpampang, menampilkan deretan item. 'Minor Healing Potion', 'Attribute Enhancement Crystal', dan banyak lagi. Tapi yang ia cari adalah sesuatu yang bisa menghasilkan uang, atau setidaknya, makanan.
"Harga item ditampilkan dalam mata uang yang tidak dikenal," gumamnya, matanya menelusuri daftar. "Bagaimana cara mendapatkan mata uang ini? Atau menukar barang?"
Sistem merespons dengan prompt teks sederhana: *Mata uang dapat diperoleh dengan menyelesaikan Misi atau menjual item yang ditemukan di dunia ini kepada Sistem.*
Lin Pan mengklik tab 'Misi'. Tidak ada apa-apa. Hampa. Sebuah kekecewaan menusuknya. Ia menekan bibirnya, mengamati setiap detail di layar. Mungkin ada sesuatu yang tersembunyi, sebuah petunjuk yang ia lewatkan. Harapannya memudar sedikit demi sedikit, digantikan oleh frustrasi yang membara.
Ia mencoba kembali ke 'Online Store'. Fokus pada 'Adam's Grace'. Deskripsinya masih sama: *Anugerah unik untuk Transmigran terpilih, manifestasi potensi tersembunyi, integrasi esensi spiritual, membuka kemampuan bawaan, mengaktifkan garis keturunan kuno.* Masih tanpa harga. Masih sebuah misteri.
"Adam's Grace," Lin Pan berbisik lagi, lebih kepada dirinya sendiri. "Apa kau bisa memberiku kekuatan untuk mencari uang? Untuk memberi makan keluargaku?"
Tidak ada respons dari Sistem. Hanya antarmuka yang statis, seolah mengejek kebutuhannya yang mendesak. Lin Pan merasakan gelombang keputusasaan. Ia memejamkan mata, kepalanya sedikit pening. Kekuatan yang baru ia rasakan, potensi yang disebut 'Anugerah Adam', terasa begitu abstrak, begitu jauh dari realitas perut lapar dan ancaman musim dingin.
Ia membuka mata, melihat daftar item lagi. Tidak ada yang bisa ia beli tanpa mata uang. Tidak ada yang bisa ia jual karena ia belum menemukan apa-apa di dunia ini. Lingkaran setan ini mengikatnya. Sebuah perasaan impoten yang mengerikan menjalar di dadanya. Ia tidak bisa diam saja. Ia harus mencari solusi, apapun itu. Demi Xiao Hua, demi ibunya. Demi ikatan yang baru saja ia rasakan.
---
Malam datang dengan cepat, membawa serta dingin yang menusuk. Lin Pan berbaring di pembaringan kayunya, selimut tipis menutupi tubuhnya yang kekar. Bulan sabit menerangi celah-celah dinding, melukis bayangan panjang di lantai. Suara jangkrik bersahutan dari luar, diselingi derit bambu yang ditiup angin. Ia tidak bisa tidur.
Pikirannya terus berputar pada kata-kata ibunya, pada kerutan di antara alis wanita itu, pada mata Xiao Hua yang ceria namun rentan. Ia butuh jawaban. Ia butuh cara. Perasaan cemas menggerogoti setiap sel tubuhnya.
Suara bisikan pelan terdengar dari ruang tengah, tempat orang tuanya tidur. Ayah dan Ibu. Mereka selalu bicara dengan suara rendah di malam hari, seolah ada rahasia yang tak boleh terdengar. Lin Pan menahan napas, menajamkan pendengarannya yang kini terasa lebih tajam dari sebelumnya. Setiap desahan, setiap gesekan kain, terdengar jelas.
"...bagaimana dengan hutang kita?" Itu suara Ibu, penuh kecemasan. "Musim dingin sudah di depan mata. Panen tidak cukup."
Lin Pan merasakan detak jantungnya berpacu. Hutang? Ia menegangkan tubuh, mencoba mendengar lebih jelas. Udara terasa membeku di sekelilingnya. Sensasi dingin merayapi kulit, bukan karena suhu, melainkan karena kata-kata itu.
"Rentenir itu... ia sudah datang lagi tadi siang," suara Ayah, berat dan lelah, menanggapi. "Ia menuntut bunga. Bilangnya, jika tidak dibayar sebelum bulan depan, ia akan mengambil sebagian tanah kita."
Sebuah sentakan melewati tubuh Lin Pan. Matanya terbelalak di kegelapan. Rentenir. Kata itu menghantamnya seperti palu godam. Perutnya terasa seperti diremas. Bukan hanya kelaparan, bukan hanya musim dingin, tetapi juga ancaman kehilangan. Kehilangan rumah. Kehilangan mata pencarian. Kehilangan segalanya.
"Tapi bagaimana?" Ibu terisak pelan. "Kita tidak punya apa-apa lagi. Uang tabungan sudah habis untuk membeli obat Lin Pan bulan lalu."
Lin Pan merasakan seluruh darahnya mengalir dingin. Obatnya. Penyakit yang merenggut tubuh aslinya, kini menjadi beban bagi keluarga barunya. Rasa bersalah yang menusuk, dicampur dengan ketakutan yang mencekik, melumpuhkannya. Bulu-bulu di lengannya meremang, dingin yang menusuk tulang. Sebuah ancaman nyata, bukan lagi bayangan, melayang di atas keluarganya.
Ia mengepalkan tinjunya di bawah selimut, urat-urat menonjol di lengannya. Sebuah ketakutan yang jauh lebih dalam dari apapun yang pernah ia rasakan di kehidupannya yang lampau kini mencengkeramnya. Bagaimana ia akan melindungi mereka?
"Ia bilang... jika tidak ada uang... ia akan mengambil Xiao Hua sebagai jaminan," suara Ayah, nyaris tak terdengar, namun menggema di telinga Lin Pan dengan kekuatan yang brutal. Sebuah bisikan yang menghancurkan hatinya, membuat dunia seolah runtuh. Lin Pan merasakan napasnya tertahan di tenggorokan, bulu romanya meremang ketakutan.