Chapter 7 of 36
Chapter 7 — Glyph of the Blight
720 words
Malam semakin larut.
Phantom Cipher masih berdiri di atas gedung yang sama.
Layar digital di kejauhan telah kembali normal. Berita tentang Arcana Guard kembali berjalan seperti tidak pernah terjadi gangguan apa pun.
Namun Phantom tidak bergerak.
Pandangannya tetap tertuju pada layar itu.
Simbol tadi hanya muncul selama sepersekian detik.
Terlalu singkat bagi kebanyakan orang untuk menyadarinya.
Tapi Phantom melihatnya.
Dan ia tidak berniat membiarkannya begitu saja.
Ia mengeluarkan perangkat kecil dari sakunya.
Sebuah alat sederhana yang telah ia modifikasi sendiri untuk merekam dan menyimpan informasi dari berbagai kejadian yang berhubungan dengan aktivitas Arcana.
Ia membuka rekaman terakhir.
Jari-jarinya menggeser layar.
Mundur beberapa detik.
Lalu—
Pause.
Glyph itu muncul.
Buram.
Terdistorsi oleh gangguan sinyal.
Namun tetap terlihat.
Phantom memperbesar gambar.
“...Dapat.”
Ia mengambil tangkapan layar.
Kemudian menyimpannya dalam beberapa salinan.
Satu di perangkat.
Satu di penyimpanan terenkripsi.
Dan satu lagi di terminal yang berada di markasnya.
Ia tidak tahu apakah simbol itu berbahaya.
Justru karena itu, ia tidak ingin kehilangan satu-satunya petunjuk yang dimilikinya.
Beberapa menit kemudian, Phantom kembali ke markas rahasianya.
Ia meletakkan perangkat di atas meja.
Layar utama menyala.
Glyph tersebut muncul dalam ukuran yang jauh lebih besar.
Phantom melepas topengnya.
Wajah Leo muncul di bawah cahaya layar.
Ia duduk.
Menatap simbol itu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak ada perubahan.
Leo mulai membuat beberapa catatan.
Bentuk tidak dikenal.
Tidak menyerupai lambang Arcana Guard.
Tidak ditemukan dalam database publik.
Ia membuka berbagai catatan lama mengenai Arcana.
Tidak ada.
Ia mencari simbol yang berkaitan dengan kelompok kriminal.
Tidak ada.
Ia bahkan memeriksa arsip lama mengenai Arcana Beast.
Tetap tidak ada.
Leo bersandar di kursinya.
“Kalau ini bukan simbol organisasi...”
Tatapannya kembali ke glyph.
“...mungkin ini bukan simbol.”
Ia memperbesar beberapa bagian.
Garis-garisnya terlihat seperti saling terhubung.
Bukan secara acak.
Ada pola tertentu.
Leo mengambil pena dan menggambarkan ulang bentuknya di atas kertas.
Satu garis.
Kemudian garis kedua.
Ia berhenti.
Menghapusnya.
Mencoba lagi.
“Bukan begitu...”
Ia menggambar ulang.
Kali ini ia memisahkan setiap bagian.
Perlahan, sesuatu mulai terlihat.
Glyph tersebut seperti terdiri dari beberapa lapisan.
Bagian luar.
Bagian tengah.
Dan sebuah garis kecil yang hampir tidak terlihat di pusatnya.
Leo menyipitkan mata.
“Kenapa harus seperti ini?”
Ia membuka kembali rekaman.
Memutar beberapa frame sebelum glyph muncul.
Tidak ada apa-apa.
Frame berikutnya.
Gangguan.
Lalu glyph.
Frame setelahnya.
Normal.
Tidak ada transisi yang jelas.
Seolah simbol itu tidak muncul di layar.
Seolah...
ia memaksa dirinya untuk terlihat.
Leo terdiam.
Pikiran analitisnya mulai bekerja lebih cepat.
Kalau gangguan itu berasal dari kerusakan listrik, seharusnya bentuk yang muncul bersifat acak.
Tetapi glyph tadi memiliki struktur.
Artinya seseorang—
atau sesuatu—
mungkin menggunakan gangguan tersebut sebagai media.
Leo menulis satu kalimat di buku catatannya.
“Glyph bukan gangguan. Glyph menggunakan gangguan.”
Ia menatap kalimat itu.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Kalau benar...
Maka kejadian di District Seven mungkin bukan serangkaian insiden yang berdiri sendiri.
Makhluk bermata ungu.
Kabut hitam.
Retakan di langit.
Mata yang muncul dari tubuh monster.
Dan glyph ini.
Semuanya mungkin terhubung.
Leo kembali membuka gambar simbol tersebut.
“Kalau aku bisa mengetahui arti simbol ini...”
Ia berhenti sejenak.
“...aku mungkin bisa menemukan mereka lebih dulu.”
Bukan sekadar mencari jawaban.
Leo mulai menyadari bahwa glyph ini bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih penting.
Sebuah petunjuk.
Satu-satunya petunjuk yang benar-benar bisa ia pegang.
Jika ancaman itu memang semakin dekat, maka menemukan maknanya mungkin menjadi langkah pertama untuk mencegah kejadian yang lebih besar.
Ia memperbesar gambar sekali lagi.
Zoom.
Garis luar.
Zoom.
Bagian tengah.
Zoom.
Garis kecil di dalamnya.
Leo berhenti.
“...Tunggu.”
Ada sesuatu yang berbeda.
Sebuah garis kecil di dalam glyph.
Sangat tipis.
Hampir tidak terlihat karena tertutup distorsi.
Leo memperbesar bagian tersebut.
Zoom.
Garis itu terlihat lebih jelas.
Leo menahan napas.
Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa.
Lalu—
denyut.
Garis kecil itu memancarkan cahaya merah tua.
Sangat lemah.
Hampir seperti kedipan.
Leo membeku.
“...Apa?”
Denyut.
Sekali lagi.
Cahaya crimson itu muncul dari dalam garis tersebut.
Pada saat yang sama—
Leo merasakan sesuatu bergerak di dalam tubuhnya.
Ia refleks memegang lengannya.
Bayangan gelap yang selama ini menyatu dengan Arcana-nya bergerak tipis di bawah kulit.
Bukan rasa sakit.
Bukan luka.
Hanya sebuah denyutan aneh.
Thump.
Leo menatap tangannya.
Lalu kembali menatap layar.
Glyph itu kembali berdenyut.
Dan denyutan di tubuhnya...
mengikuti ritme yang sama.
Leo perlahan berdiri.
Untuk pertama kalinya sejak menemukan simbol tersebut, pikirannya tidak lagi dipenuhi pertanyaan.
Hanya satu kesadaran yang muncul.
Glyph itu mengenal sesuatu di dalam dirinya.