Chapter 6 of 36

Bab 6 — Guard's Grudge

1.1k words

Dendam Sang Penjaga Ruangan bawah tanah itu kembali sunyi. Leo masih berdiri di depan monitor. Siaran berita yang menampilkan wajah Commander Valerius belum berganti. Pria itu masih berbicara kepada publik mengenai kekacauan yang terjadi di beberapa distrik. Leo tidak lagi mendengarkan isi pernyataannya. Matanya hanya tertuju pada wajah tersebut. Commander Valerius. Nama itu membawa kembali sesuatu yang sebenarnya sudah lama ingin ia lupakan. Bukan kenangan tentang keluarganya. Bukan tentang monster. Melainkan tentang dirinya sendiri. Tentang masa ketika Phantom Cipher pertama kali muncul di kota. Saat itu, Leo masih belum memahami sepenuhnya kemampuan bayangannya. Ia hanya tahu bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang bisa bergerak mengikuti pikirannya. Dan Arcana Guard sudah mengejarnya sejak awal. Valerius adalah orang pertama yang hampir menangkapnya. Leo masih mengingat malam itu. Sirene. Lampu sorot. Pasukan Arcana Guard memenuhi jalan. Dan suara seorang pria yang memerintahkannya untuk menyerah. Leo menolak. Bukan karena ingin melawan mereka. Ia hanya tidak percaya pada mereka. Sejak saat itu, hubungan keduanya tidak pernah benar-benar membaik. Setiap kali Phantom Cipher muncul di sebuah distrik, Arcana Guard datang setelahnya. Setiap kali Arcana Guard mendekat, Phantom Cipher menghilang. Tidak pernah ada percakapan yang selesai. Tidak pernah ada kesempatan untuk menjelaskan. Bagi Valerius, Phantom Cipher adalah pengguna Arcana yang beroperasi tanpa izin. Bagi Leo, Arcana Guard hanyalah organisasi yang terlalu sibuk mengejar seseorang yang mencoba menyelamatkan orang lain. Dan sekarang mereka kembali bertemu. Leo mematikan monitor. “Sepertinya tidak ada yang berubah.” Ia mengambil topeng burung hantunya. Namun tangannya berhenti sebelum menyentuhnya. Pikirannya kembali pada ucapan Valerius. Kami akan menemukan jawabannya. Leo tahu maksud kalimat itu. Valerius tidak akan berhenti. Jika Arcana Guard mulai menyelidiki Phantom Cipher secara serius, maka setiap gerakannya akan semakin sulit. Selama ini Leo bisa bergerak sendiri. Tanpa laporan. Tanpa perintah. Tanpa harus menjelaskan kepada siapa pun. Itulah alasan ia memilih jalan seorang diri. Bukan karena ia membenci semua orang. Ia hanya tahu bahwa semakin banyak orang yang mengetahui identitasnya, semakin besar kemungkinan seseorang akan terluka. Leo mengambil topeng itu. Kemudian mengenakannya. Wajahnya kembali tertutup. Leo Sterling menghilang. Yang tersisa hanyalah Phantom Cipher. Beberapa jam kemudian, matahari mulai muncul di balik gedung-gedung kota. Malam berakhir. Phantom Cipher kembali ke tempat persembunyiannya sebelum cahaya pagi memenuhi jalan. Ia melepas topeng. Jubah hitamnya kembali tersimpan. Kemudian Leo mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Perubahan itu terasa hampir konyol. Beberapa jam lalu ia berhadapan dengan monster yang mampu meniru kekuatannya. Sekarang ia harus memikirkan tugas sekolah yang belum selesai. Leo menatap buku di mejanya. Diam. Kemudian menghela napas. “...Gue bahkan belum mengerjakan ini.” Ia duduk. Untuk beberapa saat, dunia terasa normal kembali. Tidak ada monster. Tidak ada Arcana Guard. Tidak ada Phantom Cipher. Hanya seorang siswa yang berusaha menyelesaikan tugas sebelum berangkat sekolah. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat Leo keluar dari tempat persembunyiannya, layar besar di sebuah gedung menampilkan berita pagi. Wajah Commander Valerius kembali muncul. Leo berjalan melewatinya tanpa berhenti. Namun sebuah kalimat membuat langkahnya terhenti. “Arcana Guard telah meningkatkan pengawasan di beberapa wilayah kota yang sebelumnya menjadi lokasi kemunculan Phantom Cipher.” Leo menoleh. Di layar terlihat peta kota. Beberapa distrik ditandai. Termasuk tempat-tempat yang biasa ia gunakan untuk bergerak. Leo menyipitkan mata. “Mereka sudah mulai memetakan jalurku.” Ia tidak tinggal lebih lama. Leo berjalan menuju sekolah. Tidak ada yang memperhatikannya. Bagi orang-orang di sekitarnya, ia hanyalah seorang siswa biasa. Tidak ada yang tahu bahwa orang yang berjalan di antara mereka adalah sosok yang semalam bertarung melawan monster. Tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam sekolah itu terdapat seseorang yang menghabiskan malam-malamnya melindungi kota. Dan Leo menyukai keadaan itu. Itulah satu-satunya hal yang membuatnya masih bisa hidup seperti remaja biasa. Sementara itu, di markas Arcana Guard— Commander Valerius berdiri di depan sebuah layar besar. Di hadapannya terdapat beberapa laporan. Foto kerusakan District Seven. Rekaman Arcana Beast. Dan satu gambar buram Phantom Cipher. Seorang anggota Guard berdiri di sampingnya. “Commander, kami menemukan pola pada kemunculan sosok itu.” Valerius tidak menjawab. “Dia selalu muncul sebelum korban bertambah banyak.” Valerius menatap layar. “Bukan berarti dia tidak berbahaya.” Anggota tersebut terdiam. Valerius menunjuk gambar Phantom Cipher. “Orang ini tidak mengikuti prosedur.” “Namun dia menyelamatkan warga.” “Aku tahu.” Valerius menghela napas. “Itulah yang membuatnya sulit.” Ia menatap gambar topeng burung hantu tersebut. “Dia bukan monster.” Jeda. “Tapi bukan pahlawan resmi juga.” Valerius mengambil sebuah laporan lama dari meja. Sampulnya sudah terlihat tua. Di bagian atas tertulis: PHANTOM CIPHER — UNREGISTERED ARCANA USER Valerius membuka halaman pertama. Sebuah foto lama muncul. Siluet yang jauh lebih kecil. Jauh sebelum Phantom Cipher menjadi sosok yang dikenal masyarakat. Valerius menatapnya cukup lama. “Kali ini aku tidak akan membiarkanmu menghilang lagi.” Sore hari. Leo duduk sendirian di salah satu bangku sekolah. Suasana di sekelilingnya ramai. Teman-temannya berbicara mengenai berbagai hal yang tidak berhubungan dengan monster ataupun Arcana. Leo hanya mendengarkan. Sesekali tertawa kecil. Untuk beberapa menit, semuanya terasa normal. Namun pikirannya tetap kembali pada satu hal. Valerius. Jika pria itu benar-benar mengenalnya sejak awal— berapa banyak yang sebenarnya diketahui Arcana Guard? Dan seberapa dekat mereka dengan identitas aslinya? Leo tidak punya jawaban. Ia hanya tahu satu hal. Ia tidak boleh tertangkap. Bukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Jika identitasnya terbongkar, orang-orang di sekitarnya juga bisa menjadi sasaran. Itulah sebabnya ia harus tetap sendiri. Tidak ada partner. Tidak ada kelompok. Tidak ada orang lain yang perlu ikut menanggung risikonya. Lone wolf. Selama ini cara itu berhasil. Dan Leo tidak punya alasan untuk mengubahnya. Setidaknya, belum. Malam kembali turun. Leo berdiri di atas sebuah gedung tinggi. Seragam sekolah telah berganti menjadi pakaian hitam. Topeng burung hantu menutupi wajahnya. Phantom Cipher memandang kota dari ketinggian. Lampu-lampu menyala di bawahnya. Suara kendaraan terdengar jauh. Ia hendak melangkah ketika— Bzzzt... Sebuah lampu di kejauhan berkedip. Kemudian lampu lainnya. Satu demi satu. Phantom Cipher berhenti. “Apa...?” Seluruh distrik tiba-tiba mengalami gangguan listrik singkat. Hanya berlangsung kurang dari satu detik. Namun cukup untuk membuat semua layar elektronik di kota mengalami gangguan. Di sebuah papan iklan digital— gambar Phantom Cipher muncul. Kemudian berubah menjadi layar hitam. Bzzzt— Sebuah simbol muncul. Bukan huruf. Bukan angka. Sebuah pola aneh menyerupai glyph. Lingkaran dengan beberapa garis tajam di tengahnya. Phantom Cipher menatap layar itu. Simbol tersebut hanya muncul selama sepersekian detik. Kemudian semuanya kembali normal. Lampu menyala. Layar kembali menampilkan iklan. Kota kembali seperti biasa. Namun Phantom Cipher tidak bergerak. Ia mengenal pola itu. Bukan karena pernah melihatnya secara langsung. Melainkan karena— simbol yang sama pernah muncul di dalam salah satu pecahan kenangan masa kecilnya. Di malam ketika keluarganya— hilang. Phantom Cipher perlahan mengepalkan tangan. “Jadi... kalian akhirnya muncul juga.” Di kejauhan, sebuah suara listrik kembali berderak. Dan jauh di balik cahaya kota— sesuatu menjawab dengan kedipan bayangan. Malam itu baru saja berubah menjadi jauh lebih berbahaya.

End of Chapter 6