Chapter 5 of 36
Bab 5 — Shattered Recollections
1.1k words
Pecahan Kenangan
Malam semakin larut ketika Phantom Cipher akhirnya meninggalkan District Seven.
Ia tidak menggunakan jalan utama.
Tubuhnya bergerak dari satu bayangan ke bayangan lainnya, melewati atap gedung dan gang-gang sempit yang sudah ditinggalkan warga.
Namun malam ini langkahnya berbeda.
Lebih berat.
Lebih lambat.
Bayangan yang biasanya bergerak mengikuti kehendaknya kini hanya menjadi alat untuk membawanya pergi sejauh mungkin dari tempat itu.
Dari mata manusia yang muncul di tubuh makhluk tadi.
Tatapan itu terus terbayang di kepalanya.
Mata manusia.
Bukan mata monster.
Mata seseorang yang sadar.
Dan seolah-olah mengenalnya.
Phantom Cipher mengepalkan tangannya.
“Siapa kalian...?”
Tidak ada jawaban.
Ia terus bergerak hingga akhirnya mencapai sebuah bangunan tua di pinggiran kota.
Dari luar, tempat itu terlihat seperti gudang yang sudah lama tidak digunakan.
Pintu besinya berkarat.
Beberapa jendela pecah.
Tidak ada tanda bahwa seseorang tinggal di sana.
Namun Phantom Cipher berdiri di depan pintu.
Ia mengangkat tangannya.
Bayangan kecil bergerak di permukaan pintu.
Klik.
Kunci terbuka.
Pintu perlahan bergeser.
Phantom Cipher masuk.
Di balik gudang tua tersebut terdapat ruangan yang jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar.
Sebuah meja kerja.
Beberapa monitor.
Peta kota yang dipenuhi tanda.
Rak berisi berbagai perlengkapan.
Dan di tengah ruangan terdapat sebuah kursi sederhana.
Inilah tempat yang tidak diketahui siapa pun.
Tempat Phantom Cipher kembali setelah malam berakhir.
Ia melepaskan jubahnya.
Kemudian meletakkan topeng burung hantu di atas meja.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Leo Sterling terlihat.
Leo menarik napas panjang.
Tubuhnya terasa sangat lelah.
Namun ia tidak langsung beristirahat.
Ia menyalakan salah satu monitor.
Rekaman dari District Seven muncul di layar.
Ia memutar ulang pertarungan tadi.
Makhluk itu.
Bayangan yang ditirunya.
Dan terakhir—
mata manusia.
Leo menghentikan rekaman tepat ketika mata itu muncul.
Ia memperbesar gambar.
Buram.
Tidak cukup jelas untuk mengetahui siapa pemiliknya.
Namun bentuk matanya...
Leo terdiam.
Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa familiar.
Bukan wajahnya.
Bukan bentuknya.
Melainkan tatapannya.
Tatapan itu mengingatkan Leo pada sesuatu yang telah lama ia coba kubur.
Tangannya perlahan mengepal.
“Tidak...”
Ia mematikan monitor.
Namun terlambat.
Kenangan itu sudah kembali.
Hujan.
Itulah hal pertama yang muncul dalam ingatannya.
Hujan deras yang turun pada malam itu.
Leo masih jauh lebih muda.
Ia berdiri di sebuah ruangan bersama keluarganya.
Suara sesuatu yang besar terdengar dari luar.
Orang-orang berteriak.
Ada suara kaca pecah.
Suara langkah berlari.
Dan di tengah semua kekacauan itu, Leo hanya mampu berdiri.
Tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Seseorang menggenggam tangannya.
Hangat.
Sangat erat.
“Jangan takut.”
Suara itu masih bisa Leo ingat sampai sekarang.
Sebuah suara yang dulu membuatnya merasa aman.
Namun malam itu, suara tersebut terdengar berbeda.
Ada ketakutan yang berusaha disembunyikan.
Leo kecil menatap keluarganya.
“Apa yang terjadi?”
Tidak ada jawaban.
Seseorang memeluknya.
“Tidak apa-apa.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun Leo tahu ada sesuatu yang salah.
Dari celah jendela, ia melihat cahaya aneh di luar.
Bayangan bergerak di antara hujan.
Kemudian—
sebuah suara menggelegar.
BOOM!
Rumah mereka bergetar.
Leo kecil menutup telinganya.
Seseorang menariknya menjauh dari jendela.
“Jangan lihat!”
Namun Leo tetap melihat.
Dan apa yang dilihatnya malam itu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Sebuah bayangan besar.
Suara jeritan.
Wajah keluarganya.
Dan perasaan yang paling ia benci hingga hari ini.
Tidak berdaya.
Leo tidak mampu melakukan apa pun.
Tidak mampu melindungi siapa pun.
Tidak mampu menghentikan apa pun.
Ia hanya bisa melihat.
Kemudian semuanya menjadi gelap.
Leo tersentak kembali ke masa sekarang.
Napasnya memburu.
Ia memegang meja untuk menjaga tubuhnya tetap berdiri.
Ruangan kembali sunyi.
Tidak ada hujan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada monster.
Hanya dirinya.
Dan kenangan yang masih terasa terlalu nyata.
Leo menatap kedua tangannya.
Dulu tangan itu terlalu kecil untuk melakukan apa pun.
Sekarang tidak lagi.
Ia telah menghabiskan bertahun-tahun mempelajari kekuatannya.
Mempelajari bayangan.
Mempelajari cara bertarung.
Mempelajari bagaimana bertahan hidup di malam hari.
Bukan karena ia ingin menjadi pahlawan.
Setidaknya, bukan itu alasan awalnya.
Ia hanya tidak ingin kembali merasakan hal yang sama.
Tidak ingin melihat seseorang kehilangan keluarganya sementara dirinya hanya berdiri tanpa mampu melakukan apa pun.
Leo mengambil topeng burung hantu dari meja.
Ia menatapnya.
“Kalau memang ada sesuatu di balik semua ini...”
Jarinya menggenggam topeng tersebut.
“...aku akan menemukannya.”
Ia tidak tahu siapa yang menciptakan makhluk itu.
Tidak tahu siapa yang membuka retakan di langit.
Dan tidak tahu mengapa kekuatannya bisa ditiru.
Namun satu hal telah berubah.
Sebelumnya, ia hanya melindungi kota karena kebetulan berada di tempat yang tepat pada waktu yang salah.
Sekarang ia punya alasan untuk mencari tahu.
Jika sesuatu memang sedang datang—
Leo akan menghadapinya.
Bukan karena ia tidak takut.
Justru karena ia tahu seperti apa rasanya hidup dalam ketakutan.
Ia meletakkan kembali topengnya.
Namun sebelum sempat beristirahat—
TING!
Salah satu monitor menyala sendiri.
Leo menoleh.
Siaran berita malam sedang berlangsung.
Gambar seorang reporter muncul di layar.
“...pihak keamanan masih melakukan penyelidikan terhadap rangkaian gangguan yang terjadi malam ini.”
Leo mendekat.
“Beberapa distrik mengalami kerusakan besar setelah kemunculan sejumlah Arcana Beast yang berperilaku tidak biasa.”
Gambar District Seven muncul.
Kemudian sebuah gambar buram muncul di layar.
Siluet seseorang berdiri di tengah kegelapan.
Jubah hitam.
Topeng burung hantu.
Leo membeku.
Ia tahu gambar itu.
Seseorang telah berhasil memotretnya.
Suara reporter terus terdengar.
“Pihak berwenang saat ini sedang menyelidiki sosok misterius yang dikenal masyarakat sebagai Phantom Cipher.”
Gambar tersebut diperbesar.
Kemudian sebuah tulisan muncul di layar:
“ROGUE ARCANA USER SUSPECTED IN CITY-WIDE DISTURBANCES”
Leo menatap layar tanpa berkedip.
“Pengguna Arcana ilegal?”
Ia menggeleng pelan.
“Mereka serius...?”
Namun berita belum selesai.
Sebuah panel baru muncul.
Di dalamnya terdapat seorang pria berseragam resmi Arcana Guard.
Wajahnya tegas.
Tatapannya dingin.
Leo mengenal wajah itu.
Bukan karena pernah bertemu dengannya secara langsung.
Melainkan karena wajah tersebut pernah muncul dalam berita berkali-kali.
Sang petugas menatap kamera.
“Kami tidak akan membuat kesimpulan sebelum penyelidikan selesai.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun seseorang yang memiliki kemampuan Arcana dan bergerak tanpa izin di tengah kekacauan kota harus dianggap sebagai ancaman sampai identitas serta tujuannya dapat dipastikan.”
Leo berdiri diam.
Pria itu melanjutkan.
“Arcana Guard akan menemukan jawabannya.”
Layar kembali menampilkan gambar Phantom Cipher.
Leo memandang topeng burung hantu di atas meja.
Kemudian kembali melihat wajah petugas tersebut.
Ada sesuatu yang tidak ia sukai.
Bukan karena tuduhan itu.
Melainkan karena tatapan pria itu.
Terlalu serius.
Terlalu familiar.
Seolah-olah pria tersebut bukan hanya sedang mencari Phantom Cipher.
Ia sedang mencari seseorang.
Leo perlahan mengambil topengnya.
Di luar, matahari masih beberapa jam lagi sebelum terbit.
Malam belum sepenuhnya berakhir.
Namun untuk pertama kalinya, Leo menyadari bahwa ancaman terbesar mungkin bukan hanya monster yang keluar dari kegelapan.
Mungkin manusia juga sedang memburunya.