Chapter 4 of 36

Bab 4 — Mimicry of Shadows

1.1k words

Tiruan dari Kegelapan Ledakan tadi mengguncang seluruh District Seven. Debu beterbangan di antara bangunan yang telah rusak. Pecahan kaca jatuh dari jendela-jendela yang retak, sementara kabut hitam bergerak perlahan di sepanjang jalan. Phantom Cipher berdiri di tengah reruntuhan. Napasnya mulai berat. Di hadapannya, makhluk bermata ungu itu masih berdiri. Namun bentuknya telah berubah. Bayangan yang menyelimuti tubuhnya kini menyerupai milik Phantom Cipher. Jubah hitam. Bilah kegelapan. Bahkan cara tubuhnya bergerak. Semuanya seperti tiruan yang belum sempurna. Phantom Cipher menatapnya tanpa berkata-kata. Makhluk itu mengangkat kepalanya. Kemudian— menghilang. BOOM! Serangan datang dari sisi kanan. Phantom Cipher menunduk. Bilah bayangan melewati kepalanya dan menghantam dinding di belakang. Ia segera membalas. Namun makhluk itu sudah menghilang. Serangan kedua datang dari belakang. Phantom Cipher berbalik dan menangkis. CLANG! Benturan keduanya membuat tangan Phantom Cipher terasa bergetar. Makhluk itu mundur. Kemudian melakukan sesuatu yang membuat Phantom Cipher terdiam. Ia mengambil posisi bertarung yang sama persis dengannya. Phantom Cipher menyipitkan mata. “Jadi begitu...” Makhluk itu tidak sekadar memiliki kekuatan bayangan. Ia sedang mempelajarinya. Phantom Cipher melesat maju. Makhluk itu melakukan hal yang sama. Keduanya bertabrakan. Bilah hitam saling beradu. Phantom Cipher mengubah arah serangannya. Makhluk itu mengikuti. Ia mencoba melakukan serangan dari bawah. Makhluk itu menirunya. Phantom Cipher menghilang ke dalam bayangan. Makhluk itu ikut menghilang. Namun Phantom Cipher sudah menduga hal tersebut. Ia muncul di belakang sebuah bangunan, sementara makhluk itu muncul beberapa meter di depannya. Untuk pertama kalinya, Phantom Cipher menemukan celah. Makhluk itu bisa meniru. Tetapi belum sepenuhnya memahami apa yang ditirunya. Phantom Cipher mengangkat tangan. Bayangan dari seluruh gang berkumpul di telapak tangannya. Kemudian ia melemparkannya ke tanah. BOOM! Kegelapan menyebar seperti gelombang. Makhluk itu mencoba melakukan hal yang sama. Namun terlambat. Bayangan dari bawah kakinya justru bergerak tidak terkendali. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Phantom Cipher langsung memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia muncul tepat di depannya. Bilah bayangan terbentuk. Satu tebasan. Makhluk itu berhasil menghindar. Tebasan kedua. Berhasil dihindari lagi. Tebasan ketiga— SRAK! Mengenai bahunya. Makhluk itu terlempar. Namun sebelum tubuhnya menyentuh tanah, bayangan di bawahnya memanjang dan menahannya. Phantom Cipher terdiam. Makhluk itu mulai bangkit kembali. Lukanya perlahan menutup. “Regenerasi lagi...” Ia menghela napas. Pertarungan ini semakin lama semakin merepotkan. Namun yang lebih mengkhawatirkan bukan kemampuan regenerasinya. Melainkan seberapa cepat makhluk tersebut berkembang. Setiap kali Phantom Cipher menggunakan sebuah teknik, makhluk itu menjadi semakin baik dalam menirunya. Jika pertarungan berlangsung terlalu lama— makhluk itu mungkin akan benar-benar menguasai kekuatannya. Phantom Cipher mengambil keputusan. Ia harus mengakhiri pertarungan sekarang. Bayangan di sekitar tubuhnya menjadi semakin pekat. Makhluk itu juga bersiap. Keduanya saling menatap. Lalu bergerak bersamaan. BOOM! Phantom Cipher menghindari bilah yang mengarah ke dadanya. Namun serangan berikutnya datang dari bawah. Ia melompat. Makhluk itu mengikutinya. Phantom Cipher menghilang. Makhluk itu ikut menghilang. Kemudian— Phantom Cipher muncul tepat di belakangnya. Makhluk itu berbalik. Terlambat. Sebuah bilah besar telah terbentuk di tangan Phantom Cipher. SRAAAAAK! Serangan itu menghantam tubuh makhluk tersebut. Tubuhnya terpental dan menghantam sebuah bangunan. Dinding runtuh. Makhluk itu tertimbun reruntuhan. Untuk beberapa detik, tidak ada gerakan. Phantom Cipher berdiri diam. Ia tidak menurunkan kewaspadaannya. Benar saja. Reruntuhan mulai bergerak. Makhluk itu bangkit kembali. Namun kali ini tubuhnya terlihat jauh lebih rusak. Satu lengannya hampir tidak dapat bergerak. Bayangan di sekitarnya bergetar. Mata ungunya masih menyala. Phantom Cipher bersiap untuk serangan terakhir. Namun makhluk itu justru menatap tangannya sendiri. Kemudian menatap Phantom Cipher. Seolah-olah sedang mencoba memahami sesuatu. “...Apa yang kau lakukan?” Makhluk itu tidak menjawab. Bayangannya tiba-tiba menyebar. Bukan ke arah Phantom Cipher. Melainkan ke seluruh District Seven. Bayangan hitam menjalar di jalanan, naik ke dinding bangunan, bahkan menutupi lampu-lampu yang masih menyala. Phantom Cipher langsung menyadari sesuatu. “Tidak mungkin...” Makhluk itu tidak hanya meniru dirinya. Ia menggunakan seluruh kota sebagai media untuk memperkuat kekuatannya. Bayangan di bawah Phantom Cipher ikut bergerak. Kemudian sebuah serangan muncul tepat dari bawah kakinya. BOOM! Phantom Cipher terlambat menyadarinya. Tubuhnya terpental. Ia menghantam dinding sebuah bangunan. BRAK! Untuk beberapa detik, pandangannya berkunang-kunang. Ia mencoba berdiri. Namun serangan lain datang. Sebuah tombak bayangan melesat ke arahnya. Phantom Cipher memiringkan tubuh. Tombak itu hanya melewati sisi tubuhnya. Serangan berikutnya. Ia melompat. Serangan ketiga. Ia berguling. Serangan keempat. Ia menangkis. Kelima. Keenam. Ketujuh. Serangan datang dari segala arah. Makhluk itu kini tidak lagi bertarung seperti sebelumnya. Ia mulai memahami pola pergerakan Phantom Cipher. Dan untuk pertama kalinya malam itu— Phantom Cipher berada dalam posisi bertahan. “Kalau terus begini...” Ia menggertakkan gigi. “Aku yang akan kehabisan pilihan.” Satu serangan kembali melesat. Phantom Cipher berhasil menghindar. Namun serangan kedua langsung menyusul. Ia menangkis. Serangan ketiga datang dari belakang. Ia berputar. CLANG! Bilah mereka bertabrakan. Makhluk itu mendorongnya. Phantom Cipher mundur. Kemudian ia melihat sesuatu. Bayangan makhluk itu tidak bergerak sempurna. Ada jeda. Sangat kecil. Hanya sepersekian detik. Namun cukup. Phantom Cipher tersenyum tipis di balik topengnya. “Jadi itu kelemahanmu.” Ia berhenti menggunakan teknik yang biasa. Tidak ada teleportasi melalui bayangan. Tidak ada bilah besar. Tidak ada pola yang bisa ditiru. Ia justru bergerak secara langsung. Makhluk itu tampak kebingungan. Phantom Cipher berlari. Makhluk itu mengikuti. Namun Phantom Cipher tiba-tiba mengubah arah. Kemudian berputar. Menendang tubuh makhluk tersebut. BUK! Makhluk itu kehilangan keseimbangan. Phantom Cipher tidak memberinya kesempatan. Ia menghantamnya dari sisi lain. Kemudian kembali menyerang. Tidak ada pola. Tidak ada teknik yang sama. Hanya gerakan improvisasi. Makhluk itu mulai kehilangan kendali. Untuk pertama kalinya, ia tidak mampu mengikuti. Phantom Cipher mengumpulkan seluruh bayangan yang tersisa. Kegelapan berkumpul di belakangnya seperti gelombang besar. Makhluk itu mencoba melakukan hal yang sama. Namun tubuhnya mulai bergetar. Terlalu banyak energi. Terlalu cepat meniru. Terlalu banyak yang dipaksakan ke dalam tubuhnya. Phantom Cipher mengangkat tangan. “Cukup.” Seluruh bayangan melesat. BOOOOOOM! Ledakan kegelapan memenuhi jalan. Makhluk itu menjerit. Tubuhnya terlempar dan menghantam tanah. Bayangan yang menyelimuti District Seven perlahan menghilang. Phantom Cipher berdiri dengan napas berat. Makhluk itu tidak bergerak. Tubuhnya mulai hancur menjadi serpihan hitam. Pertarungan akhirnya berakhir. Namun tepat ketika Phantom Cipher hendak berbalik— makhluk itu bergerak sekali lagi. Sebuah suara aneh keluar dari tubuhnya. Bukan raungan. Bukan jeritan monster. Melainkan suara seperti seseorang yang sedang mencoba berbicara. “Pha... ntom...” Phantom Cipher berhenti. Tubuh makhluk itu semakin hancur. Kemudian sesuatu muncul di salah satu sisi tubuhnya. Sebuah tonjolan kecil. Bergerak. Membuka. Phantom Cipher menatapnya. Seketika sebuah mata manusia terbuka di tubuh makhluk tersebut. Mata itu menatap lurus ke arahnya. Bukan tatapan monster. Bukan tatapan binatang. Tatapan seseorang yang sadar sepenuhnya. Phantom Cipher membeku. Mata itu berkedip sekali. Kemudian tersenyum melalui tatapannya. Tubuh makhluk tersebut akhirnya hancur menjadi debu. Mata itu ikut menghilang. Phantom Cipher tetap berdiri. Tidak bergerak. Di balik topeng burung hantunya, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan. Siapa yang sebenarnya sedang mengendalikan monster-monster ini? Dan yang lebih mengerikan— bagaimana mereka bisa mengetahui tentang Phantom Cipher? Jauh di atas District Seven, retakan hitam di langit kembali berdenyut. Seolah-olah sesuatu di baliknya baru saja mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebuah bayangan. Sebuah kekuatan. Dan sekarang— sebuah identitas.

End of Chapter 4