Perburuan Pertama Sang Phantom
District Seven telah berubah menjadi kota mati.
Tidak ada suara kendaraan.
Tidak ada lampu toko.
Tidak ada percakapan warga.
Hanya suara angin yang melewati gedung-gedung kosong dan suara langkah dari sesuatu yang bersembunyi di balik kabut hitam.
Phantom Cipher berdiri di atas sebuah gedung, memandang jalanan di bawahnya.
Kabut itu semakin tebal.
Ia bisa merasakan sesuatu yang aneh dari dalamnya.
Bukan sekadar aura monster.
Ada sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang membuat bayangan di bawah kakinya bergerak tanpa ia perintahkan.
Phantom Cipher menurunkan tubuhnya.
Kemudian melompat.
Tubuhnya jatuh dari atas gedung.
Sesaat sebelum mencapai tanah, bayangan di bawahnya terbuka seperti permukaan air.
Tubuhnya masuk ke dalam kegelapan dan muncul kembali di sebuah gang beberapa meter dari tempat sebelumnya.
Ia berjalan perlahan.
Tidak ada suara.
Namun instingnya terus memperingatkan bahwa ia sedang diawasi.
Phantom Cipher berhenti.
“Keluar.”
Tidak ada jawaban.
Ia menoleh ke kiri.
Kosong.
Ke kanan.
Kosong.
Kemudian sebuah benda jatuh dari atas.
BRAK!
Phantom Cipher mundur.
Sebuah makhluk mendarat di hadapannya.
Tubuhnya menyerupai manusia, tetapi bentuknya telah berubah terlalu jauh dari manusia normal.
Lengannya panjang dan kurus.
Jarinya berakhir pada cakar tajam.
Kulitnya dipenuhi garis-garis hitam seperti retakan.
Namun yang paling menarik perhatian adalah matanya.
Ungu.
Kedua matanya bersinar terang di tengah kegelapan.
Makhluk itu memiringkan kepala.
Seolah sedang mempelajari Phantom Cipher.
Phantom Cipher mengangkat tangannya.
Bayangan mulai berkumpul.
“Jadi kau yang membuat kekacauan di sini.”
Makhluk itu tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum.
Kemudian menghilang.
Phantom Cipher langsung berbalik.
BOOM!
Sebuah serangan menghantam dinding di belakangnya.
Phantom Cipher berhasil menghindar tepat waktu.
Makhluk itu menyerang lagi.
Cepat.
Terlalu cepat untuk ukuran monster biasa.
Phantom Cipher menangkis dengan bilah bayangan.
CLANG!
Benturan keduanya membuat percikan energi hitam beterbangan.
Phantom Cipher mundur beberapa langkah.
Makhluk itu kembali menyerang.
Satu.
Dua.
Tiga serangan.
Phantom Cipher terus menghindar.
Gerakan makhluk tersebut tidak memiliki pola yang jelas.
Ia tidak seperti Arcana Beast yang menyerang berdasarkan naluri.
Ia seperti sedang berpikir.
Seolah-olah setiap gerakannya telah dipertimbangkan.
Phantom Cipher kemudian menghilang ke dalam bayangan.
Makhluk itu berhenti.
Ia melihat ke sekeliling.
Tidak menemukan apa pun.
Tiba-tiba Phantom Cipher muncul di belakangnya.
SRAK!
Bilah bayangan menebas tubuh makhluk tersebut.
Makhluk itu terlempar dan menghantam dinding.
Debu beterbangan.
Phantom Cipher berdiri dengan posisi siap.
Namun makhluk tersebut perlahan bangkit.
Luka di tubuhnya mulai menutup.
Phantom Cipher menyipitkan mata.
“Regenerasi?”
Makhluk itu mengangkat wajah.
Mata ungunya kembali bersinar.
Kemudian ia tertawa kecil.
Suara tawanya terdengar aneh.
Bukan karena menyeramkan.
Melainkan karena terdengar seperti seseorang yang baru menemukan sesuatu yang menarik.
Phantom Cipher merasakan sesuatu.
Bayangannya bergerak.
Bukan karena perintahnya.
Ia melihat ke bawah.
Bayangan miliknya sendiri bergetar.
Makhluk itu berdiri.
Kemudian perlahan, sesuatu mulai muncul dari bawah tubuhnya.
Sebuah bayangan.
Awalnya kecil.
Lalu semakin panjang.
Phantom Cipher tidak bergerak.
Bayangan itu bergerak ke arah yang salah.
Ia tidak mengikuti tubuh makhluk tersebut.
Ia justru bergerak menuju Phantom Cipher.
Seperti ular hitam yang sedang mencari mangsa.
Phantom Cipher segera melompat mundur.
Bayangan itu menghantam tempat ia berdiri.
BOOM!
Aspal pecah.
Phantom Cipher mendarat beberapa meter jauhnya.
Tatapannya berubah serius.
“Itu...”
Ia menatap bayangan tersebut.
Gerakannya terlalu familiar.
Cara bayangan itu menyebar.
Cara ia memanjang.
Cara ia muncul dari permukaan tanah.
Semuanya menyerupai kemampuannya sendiri.
Makhluk itu tersenyum.
Kemudian bayangan di belakangnya berubah bentuk.
Menjadi bilah.
Persis seperti milik Phantom Cipher.
Untuk beberapa detik, Phantom Cipher hanya diam.
Makhluk itu mengangkat bilah bayangannya.
Dan menyerang.
CLANG!
Phantom Cipher menangkis.
Keduanya menggunakan senjata yang sama.
Satu manusia.
Satu makhluk.
Namun yang membuat Phantom Cipher semakin waspada bukanlah kemiripan senjatanya.
Melainkan gerakannya.
Makhluk itu mulai mengikuti cara bertarungnya.
Setiap kali Phantom Cipher menghilang ke dalam bayangan, makhluk itu mencoba melakukan hal yang sama.
Setiap kali Phantom Cipher menyerang dari sudut tertentu, makhluk itu menirunya.
Seolah-olah ia sedang belajar.
Phantom Cipher mundur.
Makhluk itu kembali mengejar.
Serangan demi serangan memenuhi gang.
Dinding hancur.
Jendela pecah.
Aspal retak.
Namun Phantom Cipher mulai menyadari sesuatu.
Makhluk itu memang mampu meniru kekuatannya.
Tetapi ia belum memahami kekuatan tersebut sepenuhnya.
Saat Phantom Cipher menghilang, makhluk itu mengikuti.
Namun ia muncul beberapa meter terlalu jauh.
Phantom Cipher memanfaatkan kesalahan itu.
Ia muncul tepat di samping makhluk tersebut.
SRAK!
Serangannya mengenai bahu makhluk itu.
Makhluk tersebut terlempar.
Phantom Cipher tidak membuang kesempatan.
Ia mengangkat kedua tangannya.
Bayangan di seluruh gang mulai berkumpul.
Dinding.
Tanah.
Atap bangunan.
Semuanya menjadi sumber kekuatannya.
Puluhan bilah hitam muncul di udara.
Makhluk itu menatap semuanya.
Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang.
Phantom Cipher menurunkan tangannya.
Puluhan bilah tersebut melesat.
BOOM! BOOM! BOOM!
Makhluk itu mencoba menghindar.
Satu bilah.
Dua bilah.
Tiga bilah.
Serangan terakhir menghantam tubuhnya dan membuatnya terlempar jauh.
Tubuhnya jatuh di tengah jalan.
Kabut hitam perlahan menutupi tubuhnya.
Phantom Cipher berdiri diam.
Ia tidak langsung mendekat.
Sesuatu terasa tidak benar.
Terlalu mudah.
Makhluk yang mampu meniru kekuatannya seharusnya tidak kalah secepat itu.
Kemudian—
KRRR...
Sebuah suara terdengar dari balik kabut.
Phantom Cipher langsung bersiap.
Kabut perlahan bergerak.
Sosok itu bangkit.
Luka-lukanya kembali menutup.
Namun kali ini tubuhnya telah berubah.
Garis-garis hitam di kulitnya semakin banyak.
Matanya semakin terang.
Dan bayangan di belakangnya menjadi jauh lebih besar.
Phantom Cipher menatapnya.
“Jadi kau masih bisa bangkit.”
Makhluk itu tidak menjawab.
Ia hanya menatap Phantom Cipher.
Kemudian perlahan mengangkat tangannya.
Bayangan di bawah kakinya bergerak.
Namun kali ini bukan hanya meniru bentuk bilah.
Bayangan tersebut mulai berubah menjadi sesuatu yang menyerupai Phantom Cipher sendiri.
Jubah.
Topeng.
Bilah.
Semuanya terbentuk dari kegelapan.
Phantom Cipher terdiam.
Makhluk itu kini berdiri dengan bentuk yang hampir menyerupai dirinya.
Seolah-olah ia sedang melihat bayangan dirinya sendiri.
Namun ada satu perbedaan.
Mata sosok itu bersinar ungu terang.
Dan dari balik topeng bayangan tersebut terdengar suara.
“...Phantom...”
Phantom Cipher membeku.
Makhluk itu mengetahui namanya.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasakan sesuatu yang jarang muncul dalam dirinya.
Bukan takut.
Melainkan pertanyaan.
Bagaimana makhluk itu bisa mengetahui identitasnya?
Sosok tersebut menundukkan tubuh.
Kemudian menerjang.
Phantom Cipher bersiap menyambutnya.
Dua bayangan bertabrakan di tengah jalan.
BOOM!
Gelombang energi menyebar ke seluruh District Seven.
Dan jauh di atas mereka—
retakan hitam kembali muncul di langit.
Kali ini jauh lebih besar.
Phantom Cipher sempat melihatnya dari sudut matanya.
Ada sesuatu di balik retakan tersebut.
Sesuatu yang sedang memperhatikan pertarungan mereka.
Sesuatu yang mungkin sejak awal...
memang sedang mencari dirinya.