Chapter 34 of 36

Chapter 34 — Thorne's Torment

737 words

Fragmen itu masih berada di tangan Phantom Cipher. Cahaya yang sebelumnya terasa menenangkan kini telah meredup, menyisakan denyut kecil yang hampir menyerupai detak jantung. Namun pikiran Phantom Cipher masih terjebak dalam penglihatan tadi. Thorne. Bukan Thorne yang berdiri di depan Arcana Conduit. Bukan Thorne yang menghancurkan kota. Melainkan Thorne yang jauh lebih muda. Seorang pria yang berlutut di bawah hujan, menggenggam pecahan Arcana yang telah hancur sambil memeluk sebuah foto. Seorang wanita. Seorang anak. Dan air mata. Phantom Cipher menatap kosong ke depan. Selama ini ia melihat Thorne hanya sebagai sumber dari semua kekacauan yang terjadi. Seorang mantan peneliti yang memilih jalan kegelapan. Seorang pria yang menggunakan Shadow Blight untuk mencapai tujuannya. Namun penglihatan tadi membuat gambaran itu menjadi jauh lebih rumit. Thorne pernah kehilangan sesuatu. Seseorang. Dan kehilangan itu tampaknya terjadi jauh sebelum Shadow Blight menjadi ancaman bagi Eclipse. “Dia...” Phantom Cipher akhirnya bersuara pelan. “...pernah seperti kita.” Sosok bermata violet berdiri beberapa langkah darinya. “Semua orang pernah menjadi seseorang sebelum mereka berubah.” Phantom Cipher menoleh. “Maksudmu?” “Tidak ada yang bangun suatu pagi lalu memutuskan menjadi monster.” Phantom Cipher terdiam. Ia tidak sepenuhnya setuju. Namun ia juga tidak bisa mengabaikan apa yang baru saja dilihatnya. --- Potongan-potongan ingatan mulai tersusun di kepalanya. Thorne sebagai mentor. Thorne yang mengajarinya tentang Arcana. Thorne yang selalu berbicara tentang keseimbangan dan kemungkinan. Kemudian tragedi. Hilangnya keluarga. Lenyapnya Thorne. Dan bertahun-tahun kemudian— Shadow Blight. Phantom Cipher mengepalkan tangan. “Kalau dia kehilangan mereka karena Blight...” Ia menatap fragmen. “...maka semua ini mungkin dimulai dari sana.” Sosok bermata violet tidak menjawab. Phantom Cipher melanjutkan. “Dia tidak hanya ingin menguasai Blight.” Matanya menyipit. “Dia ingin menggunakannya untuk mengembalikan apa yang hilang.” Hening. Sebuah kesimpulan yang terasa mengerikan. Bukan karena mustahil. Justru karena terlalu masuk akal. Semua eksperimen. Semua penelitian. Semua glyph. Relik. Conduit. Dan Shadow Blight. Mungkin semuanya adalah bagian dari satu tujuan. Bukan sekadar menghancurkan Eclipse. Melainkan membalikkan sesuatu yang telah terjadi. Phantom Cipher teringat wajah Thorne saat melihat foto itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat seorang penjahat. Ia melihat seseorang yang sedang berduka. Namun rasa iba itu segera berbenturan dengan kenyataan. Thorne telah membuat pilihan. Ia telah menyeret seluruh kota ke dalam rencananya. Ia telah membangunkan makhluk-makhluk Blighted. Ia telah menghancurkan Arcana Conduit. Dan jika dibiarkan... ribuan orang bisa menjadi korban berikutnya. “Kalau begitu...” Phantom Cipher berkata pelan. “...dia bukan hanya korban.” Sosok bermata violet menatapnya. “Tidak.” “Dia juga pelaku.” “Benar.” Phantom Cipher menatap kota. “Kehilangan seseorang tidak memberinya hak untuk mengambil semuanya dari orang lain.” Tidak ada jawaban. Hanya suara angin malam yang melewati reruntuhan. Namun dalam hati Phantom Cipher, sesuatu telah berubah. Sebelumnya, tujuannya sederhana. Hentikan Thorne. Sekarang— ia ingin memahami Thorne. Bukan untuk membenarkan perbuatannya. Tetapi untuk menemukan akar dari semuanya. Karena jika Thorne benar-benar mencoba menghidupkan kembali sesuatu yang telah hilang... maka menghancurkan rencananya tanpa memahami sumbernya mungkin tidak akan menyelesaikan masalah. Phantom Cipher melihat kembali fragmen di tangannya. “Wanita dan anak itu...” Ia berhenti. “Siapa mereka?” Sosok bermata violet akhirnya bergerak. Ia mendekati Phantom Cipher. Langkahnya perlahan. Bayangannya menyatu dengan kegelapan di sekeliling mereka. “Kau benar-benar ingin tahu?” Phantom Cipher menatapnya. “Ya.” Sosok itu berhenti tepat di sampingnya. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap kota yang gelap. Kemudian ia berbicara. “Kalau begitu, pahami satu hal terlebih dahulu.” Suaranya rendah. “Thorne tidak menjadi seperti sekarang hanya karena ambisi.” Phantom Cipher tidak bergerak. Sosok itu melanjutkan. “Dia kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa ia terima sebagai kehilangan.” Phantom Cipher menggenggam fragmen. “Dan Blight?” “Adalah jawabannya.” “Jawaban?” Sosok itu mengangguk perlahan. “Setidaknya menurut Thorne.” Phantom Cipher merasakan dingin menjalar di sepanjang tubuhnya. “Dia percaya Blight bisa mengembalikan mereka.” “Bukan hanya percaya.” Sosok itu menatap Phantom Cipher dengan mata violetnya. “Dia telah menghabiskan bertahun-tahun untuk membuktikannya.” Phantom Cipher terdiam. Tiba-tiba semua yang dilakukan Thorne terasa memiliki bentuk baru. Eclipse Academy. Eksperimen. Relik. Arcana Conduit. Shadow Blight. Semuanya mungkin bukan tujuan akhir. Hanya alat. Alat untuk mencapai seseorang yang telah lama hilang. Namun sebelum Phantom Cipher dapat bertanya lebih jauh, sosok itu mendekat. Suaranya berubah menjadi bisikan. “He lost everything to the Blight once. Now, he seeks to control it, to resurrect what was lost, even if it means destroying everything else.” Phantom Cipher membeku. Matanya melebar. Untuk beberapa saat, ia tidak mampu menjawab. Karena sekarang ia mengerti sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Thorne mungkin tidak sedang mencoba menghancurkan Eclipse. Ia sedang mencoba mengembalikan masa lalunya. Dan jika dunia harus hancur demi itu— Thorne tampaknya telah menerima harga tersebut sejak lama.

End of Chapter 34