Chapter 33 of 36

Chapter 33 — Fragment of Hope

1.4k words

Tangan Phantom Cipher berhenti hanya beberapa sentimeter dari pecahan obsidian itu. Fragmen kecil tersebut melayang di atas telapak tangan sosok bermata violet, memancarkan cahaya yang begitu lembut hingga hampir terasa asing di tengah kegelapan Central Park. Tidak ada tekanan seperti yang ia rasakan dari pecahan yang pernah diambil Thorne. Tidak ada bisikan Mine... Tidak ada sensasi seolah sesuatu sedang mencoba menarik kesadarannya masuk ke dalam kegelapan. Sebaliknya... Ada ketenangan. Phantom Cipher menatap fragmen itu dengan hati-hati. “Kalau ini benar-benar Arcana yang asli...” gumamnya, “kenapa terasa berbeda?” Sosok bermata violet itu tidak menjawab langsung. “Karena kau sudah terlalu lama mengenal versi yang telah dirusak.” Phantom Cipher mengangkat pandangan. “Dan kau tahu dari mana?” Sosok itu hanya menatapnya. “Aku tahu cukup banyak.” Jawaban yang sama sekali tidak memuaskan. Namun Phantom Cipher sudah terbiasa dengan misteri malam ini. Thorne. Shadow Blight. Obsidian shard. Eclipse Academy. Dan sekarang seseorang dengan Shadow Arcana yang serupa dengannya, memiliki mata yang sama seperti makhluk-makhluk Blighted, tetapi justru memberinya sesuatu yang terasa... murni. Phantom Cipher kembali menatap fragmen tersebut. Sistem internalnya masih menampilkan peringatan. UNKNOWN ARCANA SIGNATURE. SIGNATURE MATCH: PHANTOM CIPHER — 87%. Angka itu tidak berubah. Delapan puluh tujuh persen. Terlalu tinggi untuk dianggap kebetulan. Terlalu rendah untuk menjadi kecocokan sempurna. Apa sebenarnya hubungan antara fragmen ini dan kekuatannya? Phantom Cipher menarik napas perlahan. Lalu akhirnya... Ia mengambilnya. --- Begitu jarinya menyentuh permukaan fragmen— DUM. Jantungnya berdetak sekali. Cahaya putih kebiruan langsung menyebar dari pecahan itu ke seluruh tangannya. Phantom Cipher tersentak. Namun bukan rasa sakit yang datang. Melainkan kejernihan. Untuk beberapa detik, suara sirene di kejauhan menghilang. Suara makhluk Blighted. Suara langkah Arcana Guard. Bahkan suara napasnya sendiri. Semuanya seperti menjauh. Yang tersisa hanyalah ketenangan. Hangat. Tenang. Dan anehnya... Memberi harapan. Phantom Cipher menatap tangannya. Kegelapan yang biasanya menyelimuti Arcana miliknya tidak menghilang. Namun untuk pertama kalinya, kegelapan itu tidak terasa seperti sesuatu yang harus ia takuti. Cahaya dari fragmen mengalir di antara bayangan seperti garis tipis yang menunjukkan sebuah jalan. Sebuah jalan keluar. Sebuah kemungkinan. Selama ini Phantom Cipher selalu bertarung dengan cara yang sama. Menghadapi monster. Mencari jawaban. Mengejar Thorne. Berusaha memahami kekuatannya sendiri. Dan semakin banyak jawaban yang ia temukan, semakin dalam kegelapan yang menunggunya. Namun fragmen ini berbeda. Ia tidak menjanjikan kemenangan. Tidak menjanjikan bahwa Thorne dapat dikalahkan dengan mudah. Tidak mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Ia hanya menunjukkan satu hal sederhana. Masih ada pilihan lain. Phantom Cipher mengepalkan tangan. “Jadi...” suaranya rendah. “Masih ada cara untuk melawan ini.” Sosok bermata violet memperhatikannya dari balik tudung. “Harapan tidak selalu datang dalam bentuk jawaban.” Phantom Cipher menoleh. “Lalu dalam bentuk apa?” “Kadang...” sosok itu berkata pelan, “hanya sebuah bukti bahwa kegelapan bukan satu-satunya jalan.” Phantom Cipher terdiam. Kalimat itu terasa sederhana. Namun entah mengapa, kalimat tersebut mengenai sesuatu yang selama ini terkubur jauh di dalam dirinya. Ia kembali melihat fragmen di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak pertemuannya dengan Thorne... Ia tidak merasa sedang mengejar sesuatu. Ia merasa sedang menemukan sesuatu. Sebuah kemungkinan. Sebuah jalan untuk membalikkan apa yang telah dilakukan Thorne. Sebuah jalan untuk menyelamatkan Eclipse. Namun kemudian— DUM. Jantung Phantom Cipher berdetak lebih keras. Fragmen itu tiba-tiba bersinar. “—Apa?” Cahaya memenuhi pandangannya. Sosok bermata violet segera melangkah maju. “Jangan lepaskan!” Namun sudah terlambat. Dunia di sekitar Phantom Cipher lenyap. --- Hujan. Itulah hal pertama yang ia lihat. Bukan Eclipse yang sedang dilanda kegelapan. Bukan Central Park. Bukan Blighted. Melainkan sebuah tempat yang tidak ia kenali. Langit kelabu. Hujan deras menghantam tanah. Dan di tengah semua itu... Seorang pria berdiri sendirian. Pria itu jauh lebih muda. Wajahnya belum menunjukkan usia yang sekarang. Tidak ada tatapan dingin. Tidak ada ketenangan mengerikan yang Phantom Cipher kenal dari Thorne. Yang ada hanyalah keputusasaan. Phantom Cipher membeku. “Thorne...?” Pria muda itu berlutut di depan sesuatu. Sebuah pecahan. Bentuknya hampir sama dengan fragmen yang sedang berada di tangannya. Namun pecahan itu telah retak. Patah. Hancur menjadi beberapa bagian. Thorne muda menggenggam salah satunya erat-erat. Tangannya gemetar. Air hujan membasahi wajahnya. Tetapi ada sesuatu yang lain di sana. Air mata. Phantom Cipher menatap tanpa berkata-kata. Thorne menangis. Bukan sebagai sosok yang baru saja mengancam sebuah kota. Bukan sebagai orang yang menanam Shadow Blight. Bukan sebagai seseorang yang dengan dingin menghancurkan Arcana Conduit. Melainkan sebagai seorang pria yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Thorne menundukkan kepala. Di tangan satunya terdapat sebuah foto. Foto tua. Sedikit buram karena terkena hujan. Namun dua sosok di dalamnya masih terlihat jelas. Seorang wanita. Dan seorang anak. Phantom Cipher mencoba mendekat. Namun tubuhnya tidak bergerak. Ia hanya bisa menyaksikan. Thorne menatap foto itu lama. Bibirnya bergerak. Tetapi suaranya hampir tidak terdengar di tengah hujan. “Maaf...” Ia menutup matanya. “Aku gagal melindungi kalian.” Phantom Cipher merasa dadanya sesak. Siapa mereka? Mengapa Thorne memiliki foto itu? Apa hubungan mereka dengan pecahan Arcana? Dan yang paling penting— Apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu? Thorne menggenggam pecahan tersebut semakin erat. “Kalau aku tidak bisa menyelamatkan kalian...” Air matanya jatuh ke atas foto. “...aku akan menemukan cara untuk mengembalikan semuanya.” Fragmen di tangan Phantom Cipher bergetar. Pemandangan berubah. Sesaat. Sangat cepat. Phantom Cipher melihat simbol yang sama. Glyph crimson. Kemudian— sebuah laboratorium. Rak-rak penuh catatan. Eclipse Academy. Sejumlah peneliti berdiri mengelilingi sebuah objek yang bentuknya menyerupai pecahan Arcana. Lalu semuanya lenyap. Kembali ke hujan. Thorne muda masih berlutut. Masih memegang foto itu. Masih menggenggam pecahan yang telah patah. Namun kali ini Phantom Cipher menyadari sesuatu. Tatapan Thorne bukan hanya dipenuhi kesedihan. Ada ketakutan di dalamnya. Ketakutan terhadap sesuatu yang bahkan saat itu belum ia pahami. Sebelum penglihatan tersebut menghilang, Thorne mengangkat kepala. Seolah-olah... Ia sedang melihat langsung ke arah Phantom Cipher. Mata mereka bertemu. Thorne muda berbisik— “Jangan biarkan mereka mengambilnya.” CRACK. Penglihatan itu pecah. --- Phantom Cipher tersentak kembali ke dunia nyata. Ia hampir kehilangan keseimbangan. Sosok bermata violet segera menahan bahunya. “Phantom!” Phantom Cipher menarik napas dalam-dalam. Tangannya masih menggenggam fragmen. Cahayanya telah kembali redup. Namun pikirannya tidak. Ia masih melihat wajah Thorne. Masih melihat foto itu. Wanita. Anak. Pecahan Arcana. Dan kalimat terakhirnya. Jangan biarkan mereka mengambilnya. Phantom Cipher perlahan mengangkat kepala. “Siapa mereka?” Sosok bermata violet diam. “Kau melihat sesuatu.” “Itu Thorne.” “Aku tahu.” “Dia lebih muda.” “Ya.” “Dan dia kehilangan seseorang.” Tidak ada jawaban. Phantom Cipher menggenggam fragmen lebih kuat. “Wanita dan anak di foto itu... siapa mereka?” Sosok bermata violet menatapnya beberapa detik. Kemudian matanya beralih kepada fragmen. “Aku tidak tahu.” Phantom Cipher menyipitkan mata. “Kau bohong.” “Tidak.” Jawabannya terdengar tenang. “Aku tahu tentang fragmen itu. Aku tahu apa yang dilakukan Thorne terhadapnya. Tapi masa lalunya...” Sosok itu berhenti sejenak. “...tidak semuanya kuketahui.” Phantom Cipher kembali menatap fragmen. Tadi ia mengira fragmen itu adalah bukti bahwa masih ada jalan untuk menghentikan Thorne. Sekarang... Fragmen itu menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Mungkin ini bukan sekadar senjata. Mungkin ini adalah bagian dari masa lalu Thorne. Bagian yang telah hilang. Bagian yang mungkin menjelaskan mengapa seorang peneliti berubah menjadi seseorang yang rela menghancurkan Arcana Conduit dan membangunkan Shadow Blight. Namun satu pertanyaan terus menghantui pikirannya. Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita dan anak dalam foto itu? Dan mengapa Thorne muda begitu putus asa untuk mendapatkan kembali apa yang telah hilang? Phantom Cipher menunduk. Cahaya kecil dari fragmen masih bersinar di antara jemarinya. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat musuh di balik Shadow Blight. Ia melihat seseorang yang pernah kehilangan sesuatu. Seseorang yang mungkin pernah memiliki alasan. Namun alasan bukan berarti pembenaran. Apa pun yang terjadi pada masa lalu Thorne, Eclipse sekarang berada di ambang kehancuran. Phantom Cipher menutup tangannya. “Kalau fragmen ini memang bagian dari Arcana yang asli...” Bayangan mulai bergerak di sekeliling kakinya. “...aku akan mencari tahu apa yang terjadi.” Sosok bermata violet menatapnya. “Dan jika jawaban itu membuatmu mempertanyakan semua yang kau percaya?” Phantom Cipher terdiam sesaat. Kemudian menatap ke arah kota Eclipse yang masih diselimuti kegelapan. “Kalau begitu...” Ia menggenggam fragmen tersebut. “...aku akan menghadapinya juga.” Namun tepat saat ia hendak melangkah— fragmen itu kembali menyala. Kali ini bukan putih. Bukan violet. Melainkan merah. Sebuah gambar muncul sesaat di permukaannya. Foto yang sama. Wanita. Anak. Dan di sudut foto itu... terlihat sebuah simbol kecil yang sangat familiar. Glyph crimson. Phantom Cipher membeku. Karena di bawah simbol tersebut terdapat sebuah tulisan yang hanya muncul selama sepersekian detik. PROJECT: CIPHER. Lalu fragmen kembali gelap.

End of Chapter 33