Chapter 32 of 36

Chapter 32 — Violet-Eyed Enigma

700 words

Phantom Cipher tidak langsung bergerak. Mata violet itu masih menatapnya. Cahaya yang keluar darinya begitu mirip dengan mata para Blighted hingga naluri Phantom langsung meneriakkan satu hal. Bahaya. Tangannya perlahan terangkat. Bayangan berkumpul di sekitar tubuhnya, meski kekuatannya masih jauh dari kondisi normal. “Kau punya mata seperti mereka.” Sosok tua itu tidak menyangkal. Ia hanya menatap Phantom dengan tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat Phantom semakin waspada. Jika sosok ini memang bagian dari Blight... mengapa ia tidak menyerang? Mengapa sebelumnya ia melindungi Phantom dari serangan? Dan yang paling mengganggu— mengapa kekuatannya terasa seperti Shadow Arcana miliknya? Phantom mengingat kejadian beberapa menit sebelumnya. Sosok itu bisa saja menyerangnya. Bahkan saat Phantom kehilangan sebagian besar kekuatannya, sosok tersebut jelas memiliki kesempatan. Namun ia tidak melakukannya. Sebaliknya, ia justru memperingatkan Phantom. You are not alone in this fight, child of darkness. Phantom mengerutkan kening. “Kalau kau bagian dari Blight, kenapa kau membantuku?” Sosok itu akhirnya menjawab. “Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku bagian dari mereka.” “Matamu mengatakan sebaliknya.” Satu-satunya mata yang terlihat itu sedikit menyipit. “Tidak semua yang terlihat sama berasal dari sumber yang sama.” Phantom terdiam. Jawaban itu tidak membuatnya lebih tenang. Justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Sosok tersebut melirik ke arah Central Park. Raungan Blighted kembali terdengar dari kejauhan. Namun ia tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut. “Kota ini sedang berada di ambang kehancuran.” Phantom mengikuti arah pandangannya. “Karena Thorne.” “Karena apa yang telah dilakukan Thorne terhadap Arcana.” Phantom langsung kembali menatapnya. “Kau mengenal Thorne?” Sosok itu tidak segera menjawab. Sebaliknya, ia berjalan beberapa langkah menuju Phantom. Phantom bersiap. Namun tidak ada serangan. Sosok tersebut berhenti beberapa meter di depannya. “Thorne mengambil sesuatu yang tidak ia pahami.” “Lalu dia mengubahnya.” Phantom mengingat obsidian shard yang ditancapkan ke Arcana Conduit. “Shard itu?” “Sebagian.” Jawaban tersebut membuat Phantom semakin bingung. “Sebagian?” Sosok itu mengangkat tangannya. Bayangan di telapak tangannya perlahan terbuka. Sebuah benda kecil muncul di sana. Sebuah pecahan. Bentuknya menyerupai obsidian shard yang sebelumnya digunakan Thorne. Phantom langsung mengenalinya. “Obsidian...” Namun ada sesuatu yang berbeda. Pecahan itu tidak memancarkan energi gelap seperti shard milik Thorne. Sebaliknya, ada cahaya tipis yang keluar dari permukaannya. Cahaya pucat. Hampir seperti energi yang sedang membersihkan sesuatu dari dalam. Phantom menatap benda itu dengan penuh perhatian. “Energinya...” Ia bisa merasakannya. Bukan seperti Blight. Bukan seperti energi gelap yang selama ini muncul dari para monster. Dan bukan seperti energi yang memenuhi shard milik Thorne. Justru terasa... bersih. Sangat berbeda. Phantom menurunkan tangannya sedikit. “Apa itu?” Sosok tersebut mengulurkan pecahan itu kepadanya. Tidak memaksa. Hanya menawarkan. “Ambillah.” Phantom tidak langsung menerima. “Kenapa aku?” “Karena tubuhmu sudah mengenal energi itu.” Phantom membeku. “Apa maksudmu?” Sosok itu tidak menjawab. Pecahan kecil tersebut terus berdenyut. Dum. Cahaya pucatnya berdenyut bersamaan dengan sesuatu di dalam tubuh Phantom. Dum. Shadow Arcana miliknya merespons. Untuk sesaat, Phantom merasakan sensasi yang sama seperti ketika obsidian shard pertama kali menarik perhatiannya di Eclipse Academy. Namun kali ini tidak ada rasa sakit. Tidak ada bisikan. Tidak ada sensasi seperti sesuatu yang mencoba mengambil alih. Hanya ketenangan. Phantom perlahan mengulurkan tangannya. Namun sebelum jarinya menyentuh pecahan itu— ia berhenti. “Aku masih belum percaya padamu.” Sosok tersebut mengangguk. “Aku tidak memintamu untuk percaya.” Phantom menatap mata violet itu. “Lalu apa yang kau mau?” “Pahami kebenarannya.” Pecahan itu kembali berdenyut. Cahaya pucat menyebar di permukaannya. Kemudian sosok tersebut berkata— “This is the true Arcana. Thorne has twisted it.” Phantom terdiam. Kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada yang seharusnya. True Arcana. Jika perkataan itu benar... maka semua yang ia ketahui tentang Arcana mungkin tidak lengkap. Mungkin bahkan salah. Phantom menatap pecahan di hadapannya. Kemudian menatap mata violet sosok tersebut. Ada terlalu banyak pertanyaan. Tentang Thorne. Tentang Blight. Tentang Shadow Arcana. Tentang dirinya sendiri. Dan sekarang— tentang apa sebenarnya yang selama ini disebut Arcana. Phantom akhirnya mengulurkan tangannya. Jarinya hampir menyentuh pecahan tersebut. Namun tepat sebelum menyentuhnya— internal display miliknya berkedip. Satu peringatan muncul. UNKNOWN ARCANA SIGNATURE. Lalu tulisan kedua muncul di bawahnya. SIGNATURE MATCH: PHANTOM CIPHER — 87%. Phantom membeku. Tatapannya perlahan naik menuju sosok tua itu. Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajahnya benar-benar menghilang. Jika pecahan itu memiliki tanda energi yang hampir sama dengan dirinya... maka pertanyaan yang lebih mengerikan bukan lagi siapa sosok itu. Melainkan— sebenarnya apa Phantom Cipher?

End of Chapter 32