Chapter 31 of 36
Chapter 31 — The Shadow's Embrace
775 words
Sepasang mata itu terbuka dari dalam kegelapan.
Phantom Cipher tidak bergerak.
Bayangan di belakangnya masih membentuk siluet tangan yang tadi menyentuh bahunya. Namun kini bentuk itu perlahan berubah, melebar, dan menyatu dengan sesuatu yang jauh lebih besar.
Seseorang berdiri di sana.
Seluruh tubuhnya tertutup bayangan.
Bukan sekadar gelap.
Bayangan itu tampak lebih pekat daripada malam di sekitarnya, seolah cahaya yang mencoba menyentuhnya langsung ditelan.
Phantom mempersempit mata.
“Jadi kau yang sejak tadi mengikutiku.”
Sosok itu tidak menjawab.
Hanya berdiri diam.
Tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja muncul di tengah invasi Blighted.
Phantom mengambil posisi bertahan.
“Aku tanya sekali lagi.”
Bayangan di sekitar lengannya mulai bergerak.
“Siapa kau?”
Sosok itu akhirnya mengangkat kepalanya.
Tidak ada jawaban.
Hanya sebuah gerakan kecil dari tangannya.
Phantom langsung bereaksi.
Bayangannya melesat.
SHRAAK!
Beberapa bilah hitam muncul dari tanah dan menghantam sosok tersebut dari berbagai arah.
Namun—
WHUM!
Bayangan yang menyelimuti sosok itu bergerak.
Sebuah dinding hitam terbentuk di depannya.
Semua serangan Phantom berhenti.
Bukan dihancurkan.
Bukan dipantulkan.
Melainkan...
diserap.
Phantom membelalakkan mata.
“Apa...?”
Sosok tersebut menggerakkan satu tangan.
Bayangan yang menyelimuti tubuhnya berubah bentuk.
Dalam sekejap, dinding tadi berubah menjadi cambuk panjang yang menyapu ke arah Phantom.
Phantom melompat.
Cambuk itu menghantam tanah.
BOOM!
Aspal pecah.
Phantom mendarat beberapa meter jauhnya.
Ia menatap retakan di tanah.
Kekuatan itu...
Sama.
Bukan hanya mirip.
Sama.
Phantom kembali menyerang.
Kali ini ia menggunakan bayangan dari berbagai sudut.
Satu bilah dari kiri.
Dua dari kanan.
Kemudian tombak bayangan dari bawah.
Sosok itu menangkis semuanya.
Dengan mudah.
Gerakannya tidak terlihat seperti seseorang yang baru belajar menggunakan kekuatan tersebut.
Ia menggunakannya seolah bayangan adalah bagian alami dari tubuhnya.
Phantom mundur.
Pikirannya bergerak cepat.
Bagaimana?
Selama ini ia menganggap Shadow Arcana miliknya sebagai sesuatu yang unik.
Sesuatu yang hanya ia miliki.
Sesuatu yang tidak pernah ia lihat digunakan dengan cara yang benar-benar sama oleh orang lain.
Namun sosok di depannya—
menggunakan kekuatan yang hampir identik.
Bahkan lebih tua.
Lebih terlatih.
Lebih terkendali.
Phantom kembali menatap sosok itu.
“Kau pengguna Arcana.”
Sosok tersebut diam.
“Shadow Arcana?”
Tidak ada respons.
Phantom mengepalkan tangan.
“Kalau begitu...”
Bayangan di bawah kakinya mulai berputar.
“...kenapa kekuatanmu sama denganku?”
Untuk pertama kalinya, sosok itu bergerak lebih dekat.
Langkahnya perlahan.
Tidak terburu-buru.
Setiap kali kakinya menyentuh tanah, bayangan di sekitarnya ikut bergerak.
Phantom bersiap menyerang lagi.
Namun sosok itu mengangkat satu tangan.
Bayangan di sekitar Phantom tiba-tiba bergerak.
WHUM!
Phantom terkejut.
Sesuatu seperti tangan bayangan muncul dari tanah dan menahan lengannya.
Ia mencoba menarik diri.
Tidak bisa.
“Ghh...!”
Sosok itu mendekat.
Phantom memaksa Shadow Arcana-nya keluar.
Bayangan di lengannya pecah.
Ia langsung melompat mundur.
Namun sosok tersebut tidak mengejar.
Ia hanya berdiri di sana.
Mengamati.
Seolah-olah Phantom bukan musuh.
Melainkan sesuatu yang sedang ia pelajari.
Phantom merasa tidak nyaman.
“Kenapa kau tidak menyerang?”
Sosok itu akhirnya berbicara.
Suaranya rendah.
Tua.
Namun anehnya terdengar sangat jelas di tengah suara kehancuran kota.
“Karena aku tidak datang untuk membunuhmu.”
Phantom menatapnya.
“Lalu untuk apa?”
Sosok tersebut tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat tangan ke arah Phantom.
Bayangan di sekitar tubuhnya bergetar.
Dan Phantom merasakan sesuatu yang aneh.
Shadow Arcana miliknya...
merespons.
Bukan seperti ketika melawan musuh.
Melainkan seperti dua kekuatan yang saling mengenali.
Phantom mundur setengah langkah.
“Tidak mungkin...”
Sosok itu menatapnya.
“Sekarang kau mulai memahami.”
Phantom menatap tangannya sendiri.
Kemudian kembali melihat sosok tersebut.
Selama bertahun-tahun ia mengira kekuatan ini adalah miliknya.
Bagian dari dirinya.
Sesuatu yang hanya bisa ia pahami melalui pengalaman dan kesalahan.
Namun jika orang lain mampu menggunakan kekuatan yang sama...
maka apa sebenarnya Shadow Arcana?
Dan dari mana asalnya?
Sosok tersebut perlahan mengangkat tangannya menuju kepalanya.
Jari-jarinya menyentuh ujung tudung.
Phantom langsung bersiap.
Bayangan di sekelilingnya mengeras.
“Jangan bergerak.”
Sosok itu berhenti.
Kemudian...
perlahan menarik tudungnya ke belakang.
Phantom terdiam.
Wajah yang muncul bukan wajah muda.
Bukan pula wajah seseorang yang tampak seperti pengguna Arcana biasa.
Wajah itu terlihat sangat tua.
Kulitnya dipenuhi bekas luka.
Garis-garis panjang membentang di pipi dan dahinya.
Sebagian wajahnya terlihat seperti pernah mengalami luka yang sangat lama.
Namun bukan itu yang membuat Phantom membeku.
Satu matanya tertutup.
Sedangkan mata lainnya...
terbuka perlahan.
Violet.
Cahaya ungu yang sama.
Persis seperti mata para Blighted.
Phantom tidak bergerak.
Sosok tua itu menatapnya dengan satu mata bercahaya.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Kemudian sosok tersebut tersenyum tipis.
Bukan senyum ramah.
Bukan pula senyum penuh kebencian.
Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang telah lama ia cari.
Phantom merasakan hawa dingin menjalar di tubuhnya.
“Siapa kau...?”
Sosok itu tidak menjawab.
Mata violetnya justru semakin terang.
Dan di tengah kegelapan Eclipse—
Phantom Cipher akhirnya menyadari bahwa sosok di depannya mungkin memiliki hubungan yang jauh lebih dalam dengan Shadow Arcana daripada yang pernah ia bayangkan.