Chapter 30 of 36

Chapter 30 — An Unlikely Hand

797 words

Phantom Cipher berhenti. Bukan karena suara dari komunikator. Bukan karena gemuruh dari Central Park. Melainkan karena sesuatu baru saja menyentuh bahunya. Sebuah tangan. Dingin. Terlalu dingin. Tubuh Phantom langsung menegang. Tangannya bergerak refleks menuju sisi tubuhnya, siap menarik senjata bayangan yang bahkan belum sepenuhnya bisa ia panggil. Namun sebelum ia berbalik— sebuah suara terdengar tepat di belakangnya. Rendah. Tenang. Dan begitu dekat hingga hampir terdengar seperti bisikan di dalam pikirannya. “You are not alone in this fight, child of darkness.” Mata Phantom melebar. Ia langsung berbalik. Tidak ada siapa-siapa. Hanya jalan kosong yang diselimuti kegelapan. Phantom mundur beberapa langkah. Tangannya terangkat. “Siapa kau?” Tidak ada jawaban. Ia memindai sekeliling. Tidak ada panas tubuh. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada sumber energi Arcana yang jelas. Namun sensasi tangan itu masih terasa di bahunya. Phantom menyentuh bagian tersebut. Dingin. Seolah seseorang benar-benar baru saja berdiri di belakangnya. “Child of darkness...” Ia mengulang kalimat itu pelan. Istilah tersebut bukan sesuatu yang biasa digunakan Arcana Guard. Bukan pula istilah yang pernah ia dengar dari Thorne. Dan yang paling mengganggunya— suara itu terdengar seolah mengenal dirinya. Bukan hanya Phantom Cipher. Dirinya. Sebuah getaran kecil muncul dari bayangannya. Phantom langsung menatap ke bawah. Bayangan di bawah kakinya bergerak. Hanya sedikit. Namun gerakannya tidak mengikuti tubuhnya. Phantom mundur. “Jangan mulai lagi...” Bayangan itu berhenti. Beberapa detik kemudian, ia kembali normal. Phantom menarik napas. Tidak ada waktu. Central Park masih dalam bahaya. Dan identifier rekrut muda itu masih berkedip di internal display. ACTIVE. Phantom menatapnya. Wajah pemuda itu terlintas dalam ingatannya. Ia masih ingat bagaimana rekrut tersebut memberikan data chip kepadanya. Tidak ada alasan baginya untuk melakukan itu. Ia bisa saja menyerahkan chip tersebut kepada Valerius. Ia bisa saja melaporkan keberadaan Phantom. Tetapi ia memilih memberikan informasi itu diam-diam. Karena ia percaya Phantom mungkin tidak seburuk yang dikatakan orang lain. Sekarang orang itu berada di tengah invasi Blighted. Dan Phantom tidak bisa begitu saja meninggalkannya. “Gue datang.” Phantom mulai berlari. --- Central Park Sector sudah berubah menjadi medan kekacauan. Api terlihat di antara gedung-gedung yang kehilangan listrik. Warga berlarian menuju jalur evakuasi darurat. Beberapa anggota Arcana Guard berusaha membuat barikade menggunakan senjata fisik karena perangkat Arcana mereka tidak lagi berfungsi. Di depan mereka, beberapa Blighted bergerak melewati jalan. Salah satunya menghantam sebuah kendaraan hingga terpental. “Jangan biarkan mereka masuk ke zona evakuasi!” “Unit tiga, ke sisi timur!” “Unit empat, lindungi warga!” Perintah bertabrakan satu sama lain. Formasi mereka mulai runtuh. Seorang anggota Guard jatuh setelah menghindari serangan. “Kapten! Kita kehilangan sektor barat!” “Terus bertahan!” Namun jumlah Blighted terus bertambah. Kemudian— BOOM! Salah satu makhluk menghantam tanah. Barikade langsung retak. Beberapa Guard terlempar. Di tengah kekacauan itu, seorang pemuda berdiri sambil memegang komunikator darurat. Wajahnya terlihat pucat. Namun ia masih mencoba memberikan koordinat kepada unit lain. “Central Park Sector! Kami di sisi utara! Kami membutuhkan—” Suara statis memotong komunikasinya. Ia menatap layar. Tidak ada sinyal. “Tidak...” Sebuah bayangan besar muncul di belakangnya. Pemuda itu perlahan menoleh. Mata ungu menyala di antara asap. Blighted mengangkat tangannya. Pemuda tersebut membeku. Kemudian— SHING! Sebuah bilah hitam melintas. Blighted itu terhuyung mundur. Pemuda tersebut menatap makhluk di depannya dengan bingung. Sebuah sosok berdiri di antara mereka. Jubah gelap. Topeng burung. Bayangan berputar di sekitar tubuhnya. Phantom Cipher. “Kalau mau hidup,” katanya dingin, “jangan berdiri di depan monster.” Pemuda itu membelalakkan mata. “Cipher...” Phantom tidak menoleh. “Bawa warga ke sisi utara.” “Tapi—” “Sekarang.” Pemuda itu mengangguk cepat. “Baik!” Ia mulai bergerak. Phantom menatap Blighted di depannya. Makhluk itu meraung. Kemudian menyerang. Phantom menghindar. Bayangan tipis muncul dari tanah dan menahan kaki makhluk tersebut. Tidak sempurna. Namun cukup. Phantom memanfaatkan celah itu untuk menyerang titik lemahnya. Makhluk tersebut jatuh. Phantom menarik napas. Kekuatannya masih jauh dari kondisi normal. Namun ia bisa bertarung. Dan untuk sekarang, itu cukup. “Cipher!” Suara pemuda itu terdengar dari kejauhan. Phantom menoleh. “Di sini!” Phantom melihatnya sedang membantu dua warga melewati jalan yang penuh reruntuhan. Untuk sesaat, ia hanya diam. Ia tidak pernah membayangkan akan bekerja bersama seseorang dari Arcana Guard. Terlebih seseorang yang seharusnya memburunya. Namun malam ini... mereka memiliki tujuan yang sama. Phantom berbalik. “Jangan mati.” Pemuda itu menatapnya. Kemudian tersenyum tipis. “Begitu juga denganmu.” Phantom tidak menjawab. Namun sebelum ia sempat bergerak— bayangannya kembali bergetar. Kali ini lebih kuat. Phantom langsung menoleh. Bayangan di belakangnya memanjang. Membentuk sesuatu seperti tangan. Kemudian tangan itu perlahan terangkat. Phantom membeku. Bukan miliknya. Ia tahu itu. Tangan tersebut bergerak mendekati bahunya. Namun kali ini Phantom tidak langsung menyerang. Ia teringat suara tadi. You are not alone in this fight, child of darkness. Tangan itu menyentuh bahunya. Dingin seperti es. Dan suara yang sama kembali terdengar. Namun kali ini— lebih dekat. Lebih jelas. “You are not alone.” Phantom menatap kegelapan di belakangnya. “Kalau begitu...” Ia mengepalkan tangan. “...tunjukkan dirimu.” Bayangan itu bergerak. Dan dari dalam kegelapan— sepasang mata perlahan terbuka.

End of Chapter 30