Chapter 2 of 36
Bab 2 — Whispers of the Blight
1.1k words
Bisikan dari Kegelapan
Malam itu seharusnya telah berakhir.
Feral Behemoth yang menyerang distrik timur telah dikalahkan. Tubuhnya telah berubah menjadi debu hitam, sementara warga yang terjebak di gang mulai dievakuasi oleh petugas keamanan.
Namun Phantom Cipher belum pergi.
Ia masih berdiri di atas sebuah gedung, memandangi langit yang beberapa menit sebelumnya mengalami retakan aneh.
Kini semuanya telah kembali normal.
Bulan bersinar di antara awan.
Lampu-lampu kota kembali menyala.
Suara kendaraan perlahan memenuhi jalanan.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun Phantom Cipher tahu apa yang telah dilihatnya.
Retakan itu nyata.
Dan sesuatu berada di baliknya.
Ia menatap langit beberapa detik sebelum akhirnya berbalik.
Ada sesuatu yang lebih penting untuk dicari tahu.
Phantom Cipher melompat dari gedung.
Tubuhnya jatuh ke bawah.
Namun sebelum mencapai tanah, bayangan di antara dua bangunan bergerak seperti permukaan air.
Tubuhnya menghilang ke dalam kegelapan.
Beberapa detik kemudian, Phantom Cipher muncul kembali di gang tempat Feral Behemoth tadi dikalahkan.
Petugas keamanan telah tiba.
Beberapa dari mereka sedang memeriksa sisa-sisa monster, sementara yang lain membantu warga keluar dari area tersebut.
Phantom Cipher berdiri di ujung gang.
Beberapa orang langsung menyadari keberadaannya.
“Dia di sana!”
“Phantom Cipher!”
Beberapa petugas secara refleks memegang senjata mereka.
Namun tidak ada yang mengejar.
Mereka semua tahu siapa sosok itu.
Meski statusnya tidak resmi, Phantom Cipher telah beberapa kali membantu menghadapi monster yang muncul di wilayah kota.
Ia tidak pernah meminta imbalan.
Ia juga tidak pernah menjelaskan siapa dirinya.
Bagi sebagian petugas, keberadaannya justru menyulitkan.
Namun bagi warga yang pernah diselamatkannya, sosok bertopeng burung hantu itu telah menjadi simbol harapan ketika malam berubah menjadi mimpi buruk.
Phantom Cipher berjalan mendekati warga yang sebelumnya ia selamatkan.
Pria itu masih terlihat pucat.
“Kau...” Pria tersebut menatapnya. “Kau kembali?”
Phantom Cipher mengangguk kecil.
“Aku ingin menanyakan sesuatu.”
Pria itu terlihat bingung.
“Apa?”
“Apa yang terjadi sebelum monster itu menyerang?”
Pria tersebut terdiam.
“Aku... tidak tahu.”
“Pikirkan baik-baik.”
Nada suara Phantom Cipher tetap tenang.
Pria itu memejamkan mata, mencoba mengingat kejadian beberapa menit sebelumnya.
“Awalnya semuanya normal.”
Ia menarik napas.
“Aku sedang berjalan pulang. Lalu tiba-tiba jalan di depan dipenuhi kabut.”
Phantom Cipher langsung memperhatikannya.
“Kabut?”
Pria itu mengangguk.
“Gelap. Sangat gelap.”
Ia menunjuk ke ujung gang.
“Bukan seperti kabut biasa. Kabut itu bergerak... seolah punya arah.”
Phantom Cipher melirik tempat yang ditunjuk.
Tidak ada apa-apa sekarang.
Hanya jalan kosong yang diterangi lampu.
“Lalu?”
“Setelah kabut itu muncul, Behemoth datang.”
Pria itu menelan ludah.
“Tapi ada sesuatu yang aneh.”
“Apa?”
“Dia tidak langsung menyerang.”
Phantom Cipher diam.
“Dia hanya berdiri.”
Pria itu memandang topeng burung hantu di hadapannya.
“Lalu dia menatapku.”
“Monster itu menatapmu?”
“Iya.”
“Berapa lama?”
“Beberapa detik.”
Pria itu menggeleng.
“Tatapannya bukan seperti monster yang sedang mencari mangsa.”
“Lalu seperti apa?”
Pria tersebut terdiam cukup lama.
“Seperti... dia tahu aku.”
Phantom Cipher tidak menjawab.
Arcana Beast.
Itulah sebutan untuk monster yang memiliki kemampuan supernatural atau menunjukkan karakteristik Arcana.
Sebagian besar Arcana Beast memiliki naluri berburu yang kuat. Beberapa memang cukup cerdas untuk mengenali manusia, tetapi perilaku mereka tetap dipengaruhi naluri.
Feral Behemoth termasuk salah satu yang paling agresif.
Namun kecerdasan seperti yang digambarkan pria ini bukanlah sesuatu yang normal.
“Setelah itu?” tanya Phantom Cipher.
Pria tersebut kembali mengingat.
“Kabutnya semakin dekat.”
Tangannya mulai gemetar.
“Dan sebelum monster itu menyerang... aku mendengar suara.”
“Suara siapa?”
“Aku tidak tahu.”
“Laki-laki?”
“Tidak bisa memastikan.”
“Perempuan?”
“Aku juga tidak tahu.”
Pria itu memejamkan mata.
“Suara itu seperti bisikan dari jauh.”
Phantom Cipher terdiam.
Retakan di langit.
Kabut hitam.
Monster yang bertindak di luar nalurinya.
Semuanya terjadi pada malam yang sama.
Ada sesuatu yang menghubungkan semua kejadian ini.
Namun sebelum ia dapat bertanya lebih jauh—
KRRRZZT!
Sebuah suara statis terdengar dari radio milik salah satu petugas.
Semua orang menoleh.
Radio itu tergeletak di dekat mobil keamanan.
Suaranya putus-putus.
“...Dengar...”
Seorang petugas segera mengambilnya.
“Central, ulangi pesan.”
Tidak ada jawaban.
Kemudian suara lain terdengar.
Lemah.
Panik.
“District Seven...”
Phantom Cipher langsung menoleh.
“District Seven sedang diserang—”
KRRRZZT!
Suara itu terputus.
Kemudian terdengar suara napas berat.
“Bukan...”
Statis kembali memenuhi radio.
“Bukan Arcana...”
Phantom Cipher menyipitkan mata.
“...mereka bukan Arcana...”
Suara itu semakin lemah.
Kemudian sebuah kalimat terakhir terdengar.
“Kegelapannya... hidup.”
Radio mati.
Tidak ada yang berbicara.
Petugas yang memegang radio langsung mencoba menghubungi pusat komando.
“Central! Jawab!”
Tidak ada respons.
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Phantom Cipher menatap jalan di hadapannya.
District Seven berada cukup jauh dari lokasi mereka.
Jika laporan itu benar, sesuatu sedang menyerang wilayah tersebut.
Dan kali ini mungkin bukan satu monster.
“Berapa jarak ke District Seven?” tanya Phantom Cipher.
Salah satu petugas menatapnya.
“Sekitar enam kilometer.”
“Berapa unit yang tersedia?”
“Dua patroli terdekat.”
“Tidak cukup.”
Petugas itu mengerutkan kening.
“Kau mau pergi ke sana?”
Phantom Cipher tidak menjawab.
Ia hanya menatap langit.
Bayangan mulai bergerak di bawah kakinya.
Kemudian tubuhnya menghilang.
District Seven.
Biasanya kawasan itu masih ramai bahkan setelah tengah malam.
Ada pasar malam, restoran kecil, apartemen, dan jalur perdagangan yang menghubungkan wilayah timur dengan pusat kota.
Namun malam itu semuanya berbeda.
Lampu jalan berkedip.
Beberapa toko telah menutup pintunya lebih awal.
Jalanan kosong.
Sebuah kendaraan keamanan tergeletak melintang di tengah jalan.
Tidak ada petugas di dalamnya.
Hanya radio yang masih menyala.
KRRRZZT...
Suara statis terdengar dari dalam kendaraan.
Di ujung jalan, sesuatu bergerak.
Bukan satu.
Bukan dua.
Puluhan bayangan merayap di antara bangunan.
Seorang warga mengintip dari balik jendela apartemennya.
Ia melihat sesuatu melintas di bawah lampu jalan.
Tubuhnya seperti manusia.
Namun terlalu kurus.
Terlalu panjang.
Dan bergerak dengan cara yang tidak wajar.
Warga itu langsung menutup tirai.
Di jalan lain, beberapa orang berlari menuju tempat perlindungan.
Salah satu dari mereka menoleh.
“Cepat!”
“Jangan lihat belakang!”
Suara jeritan terdengar dari kejauhan.
Kemudian semuanya kembali sunyi.
Di atas sebuah gedung, Phantom Cipher muncul dari bayangan.
Ia mengamati District Seven dari ketinggian.
Tidak ada lampu.
Tidak ada kendaraan.
Tidak ada suara manusia.
Hanya kegelapan.
Phantom Cipher menurunkan tubuhnya.
Bayangan mulai berkumpul di sekelilingnya.
Ia bersiap turun.
Namun sebelum bergerak—
Hummm...
Suara itu kembali terdengar.
Phantom Cipher berhenti.
Suara yang sama.
Suara yang muncul sebelum retakan langit.
Namun kali ini lebih dekat.
Lebih jelas.
Dan berasal dari bawahnya.
Phantom Cipher melihat ke jalan.
Sebuah kabut hitam perlahan keluar dari sebuah gang.
Kabut itu menyebar ke jalan.
Perlahan.
Tenang.
Seolah mengetahui bahwa tidak ada siapa pun yang mampu menghentikannya.
Phantom Cipher berdiri.
Bayangan di sekeliling tubuhnya bergerak semakin liar.
Dari balik kabut terdengar suara langkah.
Tap.
Tap.
Tap.
Seseorang berjalan keluar.
Phantom Cipher bersiap menyerang.
Namun sosok itu berhenti di tengah jalan.
Ia tidak menyerang.
Ia hanya mengangkat kepalanya.
Kemudian menatap langsung ke arah Phantom Cipher.
Mata sosok itu bersinar dalam kegelapan.
Phantom Cipher tidak bergerak.
Karena untuk pertama kalinya sejak ia mulai menghadapi monster—
makhluk itu tersenyum.
Dan dari balik kabut hitam, terdengar sebuah bisikan.
“...akhirnya.”
Bayangan di sekitar Phantom Cipher mendadak bergetar.
Malam yang selama ini ia kenal telah berubah.
Dan jauh di atas kota, langit kembali memperlihatkan sebuah garis hitam.
Retakan itu muncul lagi.