Chapter 27 of 36
Chapter 27 — The Blackout
1.1k words
Kegelapan datang tanpa peringatan.
Satu detik sebelumnya, cahaya dari Arcana Conduit masih memenuhi pusat Eclipse dengan kilauan energi yang menyilaukan.
Detik berikutnya—
Padam.
Bukan hanya Conduit.
Seluruh kota.
Lampu-lampu gedung yang terlihat dari kejauhan mati bersamaan. Jalanan yang biasanya diterangi cahaya berubah menjadi garis-garis hitam. Papan informasi digital berhenti bekerja. Kendaraan yang bergantung pada sistem Arcana kehilangan daya dan terhenti di tempat.
Bahkan suara mesin dari berbagai penjuru kota perlahan menghilang.
Eclipse...
benar-benar kehilangan cahayanya.
Phantom Cipher berdiri diam di tengah kegelapan.
Untuk beberapa saat, ia tidak bergerak.
Bukan karena tidak ingin bergerak.
Melainkan karena otaknya membutuhkan waktu untuk memahami apa yang baru saja terjadi.
Thorne berhasil.
Obsidan shard itu telah menembus inti Arcana Conduit.
Dan akibatnya jauh lebih besar daripada yang Phantom bayangkan.
“Tidak...”
Suara Phantom nyaris tidak terdengar.
Ia mengangkat tangannya.
Biasanya, sedikit energi Shadow Arcana akan merespons hampir secara instan.
Namun kali ini—
tidak ada apa-apa.
Tidak ada bayangan yang bergerak.
Tidak ada energi gelap yang berkumpul di telapak tangannya.
Tidak ada respons.
Hanya kesunyian.
Phantom mencoba sekali lagi.
Tetap tidak ada.
Dadanya terasa berat.
Bukan hanya karena kekuatannya menghilang.
Melainkan karena ia mulai memahami konsekuensi dari serangan tersebut.
Arcana Conduit bukan sekadar sumber energi bagi satu fasilitas.
Ia adalah bagian penting dari sistem yang menjaga kehidupan para pengguna Arcana di Eclipse.
Jika Conduit benar-benar lumpuh...
maka seluruh kota telah kehilangan salah satu fondasi terpentingnya.
“Thorne...”
Nama itu keluar dengan nada penuh kemarahan.
Namun kemarahan itu tidak mampu menghilangkan rasa takut yang perlahan muncul.
Phantom pernah menghadapi monster.
Ia pernah berhadapan dengan Arcana Guard.
Ia bahkan pernah melihat makhluk Blighted yang mampu meniru kekuatannya.
Tetapi semua itu masih terasa seperti sesuatu yang bisa ia lawan.
Satu musuh.
Satu kelompok.
Satu lokasi.
Sekarang berbeda.
Thorne tidak menyerang seseorang.
Ia menyerang sistem yang menopang seluruh kota.
Phantom menatap kegelapan di sekelilingnya.
Tidak ada cahaya dari gedung-gedung.
Tidak ada hologram.
Tidak ada papan iklan.
Tidak ada lampu jalan.
Tidak ada tanda kehidupan dari kejauhan.
Eclipse yang biasanya penuh aktivitas kini tampak seperti kota yang telah ditinggalkan.
Untuk pertama kalinya sejak mengenakan topeng itu...
Phantom Cipher merasa sangat kecil.
Ia telah berlari di antara atap gedung.
Ia telah menyelamatkan orang-orang yang bahkan tidak mengetahui namanya.
Ia telah menghadapi monster yang seharusnya tidak bisa ia kalahkan.
Namun sekarang, satu tindakan Thorne mampu membuat seluruh kota jatuh ke dalam kegelapan.
Dan Phantom tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
Tangannya mengepal.
“Gue... nggak boleh berhenti.”
Namun kalimat itu terdengar lebih seperti usaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian—
Dum.
Sesuatu muncul di hadapannya.
Bukan cahaya.
Bukan hologram biasa.
Sebuah garis tipis berwarna pucat muncul di dalam penglihatannya.
Phantom langsung menegang.
Internal display miliknya seharusnya ikut mati bersama sistem Arcana.
Tetapi sesuatu masih bekerja.
Garis itu bergerak.
Membentuk pola.
Kemudian sebuah gambar muncul.
Phantom menatapnya.
“...Apa?”
Ia awalnya mengira itu adalah rekaman dari Arcana Conduit.
Tetapi bukan.
Gambar tersebut tidak menunjukkan pusat kota.
Tidak menunjukkan Thorne.
Tidak menunjukkan Arcana Conduit.
Yang muncul justru sebuah tempat yang belum pernah ia lihat.
Sebuah kota lain.
Namun kota itu berada jauh di bawah tanah.
Sangat jauh.
Lorong-lorong raksasa membentang di antara reruntuhan bangunan tua.
Pilar-pilar batu yang telah retak berdiri di antara jalanan yang tertutup debu.
Akar-akar besar menembus langit-langit gua.
Kabut hitam menggantung rendah di permukaan tanah.
Tempat itu terlihat seperti bagian dari sejarah Eclipse yang telah dilupakan.
Phantom mempersempit pandangan.
“Undercity...?”
Istilah itu muncul begitu saja di pikirannya.
Ia pernah mendengar rumor tentang wilayah tua di bawah Eclipse.
Tempat yang bahkan sebagian besar peta modern tidak mencatat.
Namun gambar di hadapannya jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Sprawling.
Luas.
Dan penuh dengan sesuatu.
Phantom memperbesar tampilan.
Siluet besar terlihat di antara reruntuhan.
Satu.
Dua.
Lima.
Sepuluh.
Tidak.
Jumlahnya jauh lebih banyak.
Phantom terdiam.
Makhluk-makhluk raksasa memenuhi wilayah tersebut.
Tubuh mereka begitu besar hingga beberapa di antaranya terlihat seperti bagian dari bangunan yang runtuh.
Kulit mereka dipenuhi noda hitam.
Kabut Blight mengalir dari tubuh mereka.
Beberapa memiliki tanduk.
Beberapa memiliki anggota tubuh yang tidak beraturan.
Dan beberapa lainnya...
bahkan tidak menyerupai makhluk yang pernah Phantom lihat sebelumnya.
Mereka semua diam.
Tidak bergerak.
Seolah-olah telah tidur selama bertahun-tahun.
Phantom menelan ludah.
“Berapa lama... mereka ada di sana?”
Gambar berubah.
Salah satu makhluk bergerak.
Sangat perlahan.
Debu berjatuhan dari tubuhnya.
Kemudian—
THUM.
Sebuah mata besar terbuka.
Phantom langsung membeku.
Mata itu berwarna ungu kemerahan.
Persis seperti makhluk Blighted yang selama ini ia lawan.
Kemudian terdengar suara lain.
THUM.
Makhluk kedua bergerak.
Lalu yang ketiga.
THUM.
THUM.
THUM.
Satu demi satu...
makhluk-makhluk raksasa itu mulai terbangun.
Phantom mundur setengah langkah.
“Jadi...”
Pandangannya tidak lepas dari gambar tersebut.
“Blackout ini...”
Satu makhluk perlahan mengangkat tubuhnya.
Reruntuhan di sekitarnya bergetar.
Kemudian gambar itu menunjukkan sesuatu yang membuat Phantom benar-benar terdiam.
Di belakang para makhluk tersebut terdapat sebuah gerbang raksasa.
Permukaannya dipenuhi glyph yang sama seperti yang selama ini ia temukan.
Glyph yang muncul di layar.
Glyph di Eclipse Academy.
Glyph yang berkaitan dengan Thorne.
Dan kini...
glyph tersebut terlihat memenuhi sebuah struktur kuno di bawah kota.
Phantom menatapnya dengan napas tertahan.
Selama ini ia mengira Thorne ingin menghancurkan Eclipse.
Tetapi mungkin...
itu bukan tujuan akhirnya.
Blackout bukanlah akhir dari rencana.
Arcana Conduit bukan sekadar target.
Mungkin penghancuran Conduit adalah sesuatu yang dibutuhkan agar sesuatu yang jauh lebih besar dapat bangkit.
Sesuatu yang telah menunggu...
di bawah Eclipse.
Gambar internal itu mulai bergetar.
Satu makhluk raksasa berdiri sepenuhnya.
Tubuhnya menjulang melewati bangunan-bangunan tua di sekitarnya.
Kemudian makhluk itu mengeluarkan suara rendah yang bahkan tidak terdengar seperti raungan.
Lebih seperti gema dari sesuatu yang telah tidur terlalu lama.
Phantom mengepalkan tangan.
Meski Shadow Arcana-nya belum kembali...
ia tetap berdiri.
Kali ini, rasa takut tidak membuatnya mundur.
Ia justru membuatnya sadar bahwa waktu mereka mungkin jauh lebih sedikit daripada yang ia kira.
“Kalau itu yang sedang dibangunkan Thorne...”
Phantom menatap gambar undercity yang dipenuhi monster.
“...maka Eclipse belum benar-benar melihat serangannya.”
Gambar tiba-tiba berhenti.
Layar internal menjadi hitam.
Lalu sebuah tulisan muncul.
UNKNOWN UNDERCITY REGION
BLIGHT ACTIVITY: RISING
Phantom menatap tulisan itu tanpa berkedip.
Di kejauhan, dari balik kota yang masih tenggelam dalam kegelapan—
terdengar suara gemuruh.
BOOM.
Phantom mengangkat kepalanya.
Kemudian satu lagi.
BOOM.
Kali ini lebih dekat.
Bayangan gedung di kejauhan bergetar.
Dan di dalam internal display-nya, satu titik merah baru muncul.
Lalu titik kedua.
Ketiga.
Keempat.
Puluhan.
Ratusan.
Semuanya bergerak dari bawah tanah menuju permukaan.
Phantom Cipher akhirnya memahami sesuatu.
Blackout itu bukan kehancuran terakhir.
Itu adalah pintu.
Dan sesuatu di baliknya...
baru saja terbangun.