Chapter 25 of 36
Chapter 25 — Targeting the Core
628 words
Sirene masih meraung dari berbagai penjuru kota.
Phantom Cipher berdiri di depan layar utama markasnya, memperhatikan titik-titik merah yang terus bermunculan.
Satu demi satu.
Semakin banyak.
Namun ada sesuatu yang membuatnya berhenti memperhatikan peta.
Sebuah pola.
Phantom memperbesar tampilan.
Titik-titik itu tidak tersebar secara acak.
Semuanya bergerak menuju area tertentu.
Pusat jaringan Arcana kota.
Arcana Conduit.
Mata Phantom menyipit.
“Tidak...”
Ia membuka data lama yang tersimpan di sistem.
Arcana Conduit bukan sekadar pembangkit energi.
Struktur raksasa itu merupakan pusat distribusi energi Arcana yang mengalir melalui seluruh kota.
Sebagian besar sistem pertahanan.
Perangkat keamanan.
Infrastruktur tertentu.
Bahkan pengguna Arcana yang mengandalkan jaringan resonansi kota—
semuanya memiliki hubungan dengan Conduit.
Phantom menatap data tersebut lebih lama.
Kemudian pikirannya menyambungkan sesuatu.
Glyph.
Blighted.
Getaran dari bawah tanah.
Relic.
Dan ratusan simbol di langit Eclipse Academy.
Semuanya mungkin bukan ditujukan untuk menghancurkan kota.
Melainkan untuk mencapai satu titik.
Conduit.
“Jadi bukan kotanya yang kau incar...”
Phantom berdiri.
“...tapi sumber kehidupannya.”
Tangannya bergerak cepat di atas panel.
Simulasi sistem terbuka.
Jika Arcana Conduit rusak parah—
jaringan distribusi Arcana akan terputus.
Pengguna Arcana mungkin kehilangan akses terhadap sebagian besar kekuatan mereka.
Sistem pertahanan kota akan ikut lumpuh.
Dan jika energi yang tersimpan di dalam inti dilepaskan secara tidak terkendali...
Phantom menghentikan simulasi.
Ia tidak perlu melihat hasil akhirnya.
Thorne tidak perlu mengalahkan setiap pengguna Arcana.
Tidak perlu menyerang setiap distrik.
Tidak perlu menghadapi Arcana Guard satu per satu.
Ia hanya perlu menghancurkan satu titik.
Phantom merasakan napasnya menjadi berat.
“Ini bukan serangan.”
Ia menatap peta.
“Ini pemutusan.”
Jika Conduit jatuh, seluruh kota akan berubah.
Para pengguna Arcana akan kehilangan keunggulan mereka.
Arcana Guard akan kehilangan sebagian besar kemampuan operasionalnya.
Dan siapa pun yang telah mempersiapkan Shadow Blight...
akan memiliki kesempatan untuk bergerak tanpa perlawanan yang sama.
Phantom langsung mengambil perangkat komunikasinya.
Ia membuka saluran darurat.
“Arcana Guard, dengarkan aku.”
Tidak ada respons.
Ia mencoba lagi.
“Arcana Conduit sedang menjadi target.”
Statik.
Kemudian suara terputus-putus muncul.
“...Cipher?”
Phantom mengenali suara itu.
Valerius.
“Conduit dalam bahaya,” kata Phantom cepat. “Semua titik anomali mengarah ke sana.”
“Kau yakin?”
“Ya.”
“Dari mana kau mendapatkan informasi itu?”
Phantom terdiam sesaat.
Ia tidak punya waktu untuk menjelaskan tentang Thorne.
Tentang rekaman.
Tentang bulu.
Tentang Shadow Blight.
“Percaya saja padaku.”
Hening.
Kemudian Valerius menjawab.
“Kalau ini jebakan—”
“Kalau aku salah, kau boleh menangkapku setelah semuanya selesai.”
Phantom memutuskan komunikasi.
Ia langsung membuka jalur menuju Conduit.
Namun sebelum ia sempat bergerak—
BEEP.
Sebuah notifikasi muncul di layar.
LIVE FEED — ARCANA CONDUIT
Phantom membeku.
“...Apa?”
Ia membuka rekaman tersebut.
Gambar awalnya dipenuhi gangguan.
Kemudian perlahan menjadi jelas.
Ruang inti Arcana Conduit muncul di layar.
Sebuah ruangan raksasa.
Pilar-pilar energi menjulang ke langit-langit.
Di tengahnya terdapat inti bercahaya yang ukurannya jauh lebih besar daripada yang pernah Phantom bayangkan.
Energi Arcana mengalir di sekelilingnya seperti sungai cahaya.
Namun ada seseorang yang berdiri tepat di hadapannya.
Phantom tidak perlu melihat wajahnya untuk mengenalinya.
Jubahnya.
Siluetnya.
Auranya.
Thorne.
Namun kali ini...
ia tidak mengenakan tudung.
Wajahnya terlihat jelas.
Lebih tua daripada yang Phantom ingat.
Rambutnya telah memutih sebagian.
Wajahnya menunjukkan garis-garis usia yang tidak pernah Phantom lihat sebelumnya.
Namun matanya—
mata itu masih sama.
Phantom mendekati layar.
“Dr. Thorne...”
Thorne mengangkat tangannya.
Di antara jemarinya terdapat benda yang langsung dikenali Phantom.
Obsidian shard.
Relic yang dicuri dari Eclipse Academy.
Shard itu memancarkan cahaya hitam yang berdenyut perlahan.
Thorne menatap inti Arcana di hadapannya.
Kemudian tersenyum.
Bukan senyum ramah yang pernah Phantom kenal.
Bukan pula ekspresi tenang seorang peneliti.
Senyum itu dipenuhi kegembiraan yang membuat Phantom merasakan sesuatu yang dingin di dalam dirinya.
Seolah-olah Thorne akhirnya berdiri di depan hasil dari sesuatu yang telah ia tunggu selama bertahun-tahun.
Ia mengangkat shard tinggi-tinggi.
Energi hitam mulai menyebar ke seluruh ruangan.
Phantom membeku.
“Jangan...”
Di layar, Thorne menatap inti Arcana.
Dan tersenyum semakin lebar.
Ia akhirnya tidak lagi bersembunyi.