Chapter 23 of 36
Chapter 23 — Ghost of the Past
550 words
Nama itu masih terngiang di kepala Phantom Cipher.
Dr. Aris Thorne.
Tidak.
Itu tidak mungkin.
Phantom menatap layar yang kini telah kembali gelap.
Tidak ada lagi rekaman.
Tidak ada lagi wajah.
Hanya pantulan dirinya sendiri yang samar di permukaan layar.
Namun ia masih bisa melihatnya.
Wajah pria itu.
Rambut yang mulai memutih.
Kacamata tipis.
Tatapan yang dulu selalu terasa tenang.
Seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya.
Seseorang yang pernah ia percaya.
Dr. Aris Thorne.
Dulu, sebelum semuanya berubah, Aris bukan sekadar seorang peneliti bagi Leo.
Ia adalah mentor.
Orang yang sering mengajarinya tentang dunia Arcana dengan cara yang tidak pernah dilakukan orang lain.
Aris tidak hanya menjelaskan bagaimana kekuatan bekerja.
Ia mengajarkan Leo untuk bertanya.
Untuk tidak menerima sesuatu hanya karena orang lain mengatakan bahwa itu benar.
Untuk memahami sesuatu sebelum menghakiminya.
Dan kemudian...
semuanya berakhir.
Insiden yang menghancurkan keluarganya.
Api.
Kekacauan.
Suara-suara yang saling bertumpuk.
Kemudian kehilangan.
Aris menghilang dalam kejadian tersebut.
Tidak pernah kembali.
Tidak pernah ditemukan.
Leo akhirnya menerima satu-satunya kesimpulan yang masuk akal saat itu.
Aris Thorne telah meninggal.
Namun sekarang...
Phantom mengepalkan tangan.
“Kalau itu benar-benar kau...”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
“Kenapa?”
Tidak ada jawaban.
Ia menatap data chip di meja.
Kemudian bulu hitam.
Lalu layar.
Semua petunjuk itu seolah-olah sedang menariknya menuju satu titik yang sama.
Dan semakin dekat ia mendekat...
semakin banyak bagian masa lalunya yang terasa salah.
Phantom berjalan mundur dan duduk di kursinya.
Pikirannya berusaha menyusun kembali kejadian bertahun-tahun lalu.
Jika Aris berada di sana ketika insiden terjadi...
Jika ia memang terlibat dengan Shadow Blight...
Jika sosok berjubah itu benar-benar dirinya...
Maka selama ini Leo mungkin telah salah memahami malam yang menghancurkan keluarganya.
Sebuah rasa dingin menjalar di dadanya.
Bukan hanya ketakutan.
Ada sesuatu yang lebih dalam.
Pengkhianatan.
Orang yang pernah ia percaya.
Orang yang pernah membimbingnya.
Mungkin selama ini mengetahui sesuatu yang tidak pernah diberitahukan kepadanya.
Phantom menutup matanya.
“Jadi selama ini... apa yang sebenarnya terjadi?”
Ia tidak tahu.
Dan ketidaktahuan itu terasa lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Tiba-tiba—
DUM.
Phantom membuka mata.
Suara itu sangat pelan.
Hampir tidak terdengar.
Ia menatap lantai.
Tidak ada apa-apa.
Kemudian—
DUM.
Getaran kecil kembali terasa.
Bukan dari markas.
Dari bawah tanah.
Phantom berdiri.
Sistem pemantauan otomatis langsung menyala.
Beberapa indikator mulai berkedip.
SEISMIC ANOMALY DETECTED.
Phantom menatap layar.
“Gempa?”
Data berubah.
SOURCE: UNKNOWN.
Getaran berikutnya terasa sedikit lebih kuat.
Rak di dekat dinding bergetar.
Beberapa benda kecil jatuh ke lantai.
Lalu...
sebuah suara terdengar dari kejauhan.
WEEEE—
Satu sirene.
Phantom menoleh ke arah jendela.
Beberapa detik kemudian—
WEEEE—
Sirene kedua.
Kemudian ketiga.
Keempat.
Kelima.
Suara-suara itu mulai memenuhi kota.
Bukan lagi satu sirene.
Bukan dua.
Melainkan puluhan.
Phantom berdiri di tengah markas, mendengarkan suara yang semakin keras dari luar.
Kota yang beberapa menit lalu masih terlihat normal...
sekarang mulai berubah.
Lampu-lampu di kejauhan menyala satu demi satu.
Orang-orang keluar dari bangunan.
Kendaraan berhenti.
Suara alarm mulai terdengar dari berbagai penjuru.
Dan di balik semuanya—
tanah kembali bergetar.
DUM.
Phantom menatap layar yang menampilkan peta kota.
Beberapa titik merah baru muncul.
Satu.
Dua.
Lima.
Kemudian lebih banyak.
Matanya melebar.
“...Jangan bilang...”
Ia teringat kalimat dari rekaman.
The time of the Shadow Blight's awakening is at hand.
Phantom menatap kota melalui jendela.
Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak lagi terdengar seperti ancaman dari masa depan.
Melainkan peringatan bahwa waktunya...
mungkin telah tiba.