Chapter 22 of 36

Chapter 22 — Proclamation of Doom

550 words

Ruangan itu terasa jauh lebih dingin setelah rekaman berhenti. Phantom Cipher masih berdiri di depan layar. Kalimat terakhir dari sosok berjubah itu terus terngiang di kepalanya. “The time of the Shadow Blight's awakening is at hand!” Shadow Blight. Selama ini, Phantom mengira semua kejadian tersebut hanyalah rangkaian serangan yang saling berkaitan. Makhluk-makhluk aneh. Glyph. Relic. Sosok berjubah. Namun sekarang semuanya memiliki satu nama. Dan nama itu membuat semuanya terasa jauh lebih besar. Phantom kembali memutar beberapa detik terakhir rekaman. Sosok berjubah berdiri di hadapan kumpulan bayangan. Tidak ada keraguan dalam suaranya. Ia berbicara seperti seseorang yang yakin bahwa sesuatu telah dipersiapkan sejak lama. Phantom mengepalkan tangannya. “Kalau kebangkitan itu benar-benar akan terjadi...” Pandangannya beralih ke jendela kecil markas. Kota masih menyala di kejauhan. Orang-orang masih menjalani malam mereka. Tidak seorang pun tahu bahwa sesuatu mungkin sedang mendekat. “Berapa lama lagi?” Tidak ada jawaban. Phantom kembali menatap layar. Ia memikirkan Eclipse Academy. Ratusan glyph yang memenuhi langit. Relic yang dicuri. Makhluk-makhluk Blighted. Dan energi yang kini mulai terasa semakin dekat dengan Arcana miliknya. Semua petunjuk itu mengarah ke satu kemungkinan yang tidak ingin ia akui. Serangan besar mungkin bukan sesuatu yang akan terjadi suatu hari nanti. Serangan itu mungkin sudah dimulai. Phantom segera membuka peta kota. Beberapa titik merah muncul. District Seven. Sector Four. Eclipse Academy. Lokasi-lokasi yang sebelumnya ia anggap sebagai kejadian terpisah kini terlihat seperti bagian dari pola yang lebih besar. Ia memperbesar peta. Kemudian menyadari sesuatu. Titik-titik tersebut hampir membentuk sebuah lingkaran. “...Tidak.” Phantom menggeser peta lagi. Di tengah pola itu terdapat pusat kota. Jika glyph-glyph tersebut terhubung dengan pola ini— Ia berhenti. Pikirannya langsung dipenuhi kemungkinan buruk. Jika Shadow Blight benar-benar dibangkitkan di seluruh wilayah... kota tidak akan menghadapi satu monster. Mereka akan menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar. Phantom menutup peta. Ia tidak punya waktu untuk menunggu Arcana Guard menemukan jawabannya. Tidak punya waktu untuk memahami semuanya. Dan mungkin... tidak punya waktu untuk tetap sendirian. Tangannya bergerak menuju perangkat komunikasi. Namun sebelum ia mengaktifkannya— KRRRZZT! Layar kembali mengalami gangguan. Phantom langsung menoleh. “Jangan bercanda...” Rekaman yang tadi berhenti tiba-tiba berjalan kembali. Namun gambar kali ini jauh lebih rusak. Warna hitam memenuhi layar. Garis-garis statis melintas. Sosok berjubah muncul kembali. Phantom mendekat. “Siapa kau?” Gambar berkedip. Wajah sosok itu mulai terlihat. Untuk pertama kalinya, Phantom bisa melihat bagian wajah di balik tudungnya. Namun gambar tersebut terlalu terdistorsi. Bentuk wajahnya berubah. Sesaat tampak seperti wajah orang asing. Kemudian berubah lagi. Phantom membeku. Wajah itu... Ia mengenalnya. Tidak mungkin. Gambar berkedip sekali lagi. Kali ini lebih jelas. Rambut yang mulai memutih. Kacamata tipis. Garis wajah yang sudah ia kenal dari bertahun-tahun lalu. Wajah seorang peneliti yang pernah muncul dalam ingatan masa lalunya. Seseorang yang seharusnya sudah tidak mungkin muncul lagi. Phantom mundur satu langkah. “...Tidak.” Layar kembali berubah. Hanya sepersekian detik. Namun itu cukup. Nama tersebut muncul dalam pikirannya sebelum ia sempat menghentikannya. Dr. Aris Thorne. Seorang peneliti yang selama ini ia yakini telah meninggal. Wajah itu menghilang. Sosok berjubah kembali muncul. Rekaman berakhir. Layar menjadi hitam. Phantom berdiri terpaku. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, misteri tersebut tidak lagi terasa seperti sesuatu yang berada jauh di luar dirinya. Seseorang dari masa lalunya... mungkin berada tepat di tengah semuanya. Dan jika wajah itu bukan sekadar gangguan— maka satu pertanyaan baru muncul. Bagaimana mungkin Dr. Aris Thorne masih hidup?

End of Chapter 22