Chapter 20 of 36

Chapter 20 — Intruder's Message

520 words

Kegelapan menyelimuti markas tersembunyi Phantom Cipher. Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak. Tubuhnya tetap diam, tetapi bayangan di sekeliling kakinya mulai bergerak sendiri. Perlahan. Kemudian semakin cepat. Bayangan hitam menjalar ke lantai dan melingkar di sekeliling tubuhnya, membentuk lapisan perlindungan tanpa menunggu perintah. Naluri. Sesuatu di dalam dirinya telah mengenali bahaya. Phantom mempersempit pandangan. “Siapa di sana?” Tidak ada jawaban. Hanya keheningan. Ia memutar tubuhnya perlahan, mencoba menangkap suara sekecil apa pun. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada napas. Tidak ada suara pintu terbuka. Sistem keamanannya juga tidak memberikan peringatan. Itulah yang membuat situasinya jauh lebih mengganggu. Seseorang telah masuk. Atau sesuatu telah masuk. Dan sistemnya bahkan tidak menyadarinya. Bayangan di sekitar Phantom semakin rapat. Ia mengangkat satu tangan. Energi Arcana berkumpul di telapak tangannya. “Keluar.” Tetap tidak ada jawaban. Phantom menunggu. Satu detik. Dua detik. Lima detik. Kemudian suara itu terdengar lagi. Bukan dari satu arah. Seolah-olah berasal dari seluruh ruangan. Namun kali ini... tidak ada kalimat. Hanya bisikan yang semakin samar. Lalu menghilang sepenuhnya. Phantom tetap bersiap. Matanya terus menyapu kegelapan. Tidak ada apa pun. “...Pergi?” Bayangannya bergerak perlahan ke sudut-sudut ruangan, menyentuh dinding, meja, pintu, bahkan langit-langit. Tidak ada jejak. Tidak ada penyusup. Tidak ada energi asing yang berhasil ia tangkap. Beberapa saat kemudian— Klik. Lampu kembali menyala. Phantom langsung menoleh ke seluruh ruangan. Semuanya tampak sama. Meja kerja. Monitor. Peralatan. Pintu masuk. Sistem keamanan. Tidak ada kerusakan. Tidak ada tanda perkelahian. Tidak ada apa pun yang menunjukkan bahwa seseorang baru saja berada di sana. Namun Phantom tidak menurunkan pertahanannya. Ia tahu sesuatu telah terjadi. Markas ini seharusnya menjadi tempat paling aman yang ia miliki. Tempat yang ia sembunyikan dari dunia. Tempat yang hanya sedikit orang tahu. Dan seseorang baru saja membuktikan bahwa semua pertahanannya mungkin tidak cukup. Phantom perlahan berjalan menuju meja kerjanya. Langkahnya berhenti. Data chip masih berada di sana. Ia mengingat bagaimana rekrut Arcana Guard memberikannya. Kemudian pandangannya berpindah ke sebelah chip. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada kini tergeletak di atas meja. Sebuah bulu. Bulu hitam. Phantom tidak langsung menyentuhnya. Benda itu terlihat sederhana. Namun di bawah cahaya lampu, permukaannya memantulkan kilau aneh. Energi Arcana samar bergerak di antara helaian bulu tersebut. Phantom memperhatikan lebih dekat. Tidak ada tanda terbakar. Tidak ada bekas jatuh. Tidak ada jejak kaki. Bulu itu hanya... ada. Tepat di samping data chip. Phantom menatap keduanya dalam diam. Data chip berisi jejak sosok berjubah. Dan sekarang seseorang meninggalkan bulu hitam di sampingnya. Sebuah pesan? Ancaman? Atau tanda bahwa penyusup tadi memang sengaja ingin menunjukkan bahwa ia bisa masuk kapan saja? Bayangan Phantom bergerak sedikit. Ia langsung menahannya. “Jangan.” Untuk sesaat, ia hanya berdiri di sana. Kemudian Phantom menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa semakin berat. Penyusup itu tidak perlu menghancurkan apa pun. Tidak perlu mencuri apa pun. Ia hanya perlu membuktikan satu hal. Ia bisa masuk. Dan keluar tanpa meninggalkan apa pun selain sebuah pesan. Phantom menatap bulu hitam itu. Kilau energi Arcana di permukaannya perlahan berdenyut. Sekali. Dua kali. Seirama dengan denyut yang pernah ia rasakan dari relic. Phantom tidak menyentuhnya. Belum. Karena untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah benda yang berada di hadapannya adalah petunjuk... atau jebakan.

End of Chapter 20