Chapter 19 of 36

Chapter 19 — Sky-Etched Blight

486 words

Rekaman itu terus berulang. Menara tertinggi Eclipse Academy. Sosok berjubah. Dan ratusan glyph yang memenuhi langit. Phantom Cipher menatap layar tanpa berkedip. Semakin lama ia melihatnya, semakin sulit baginya menganggap semua itu sebagai kebetulan. Glyph pertama muncul sebagai gangguan. Glyph kedua ditemukan di Eclipse Academy. Kemudian relic. Sosok berjubah. Dan sekarang— Langit yang dipenuhi ratusan glyph. Phantom memperbesar gambar sekali lagi. Tidak ada perubahan. Ratusan simbol itu tetap berada di sana, seolah-olah telah terukir langsung pada langit malam. “Sebanyak ini...” gumamnya. Pikirannya bergerak cepat. Jika satu glyph saja mampu beresonansi dengan Arcana miliknya, apa yang akan terjadi jika ratusan glyph tersebut aktif secara bersamaan? Sebuah sensasi dingin menjalar di sepanjang tubuhnya. Bukan karena suhu. Melainkan karena sebuah kemungkinan. Phantom perlahan menurunkan perangkat analisisnya. “Ini bukan sekadar eksperimen.” Sosok berjubah itu tidak sedang mencari satu relic. Tidak sedang membuat satu monster. Dan mungkin bahkan tidak sedang menyerang satu distrik. Apa pun yang sedang dipersiapkan... skalanya jauh lebih besar. Pandangannya beralih ke jendela kecil di sisi markas bawah tanahnya. Di luar, kota masih terlihat normal. Lampu jalan menyala. Kendaraan bergerak. Orang-orang berjalan pulang. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Phantom mengepalkan tangannya. Kalau ratusan glyph itu benar-benar berkaitan dengan Blight... maka seluruh kota mungkin sedang berdiri di atas sesuatu yang belum mereka sadari. “Kalau itu aktif...” Ia berhenti. Tidak melanjutkan kalimatnya. Karena bahkan dirinya sendiri tidak ingin membayangkan kemungkinan berikutnya. Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian ini dimulai, Phantom tidak hanya takut pada apa yang mungkin terjadi padanya. Ia takut pada apa yang mungkin terjadi pada semua orang. Ia kembali melihat rekaman. Sosok berjubah itu berdiri diam di puncak menara. Tidak menyerang. Tidak bergerak. Hanya mengawasi. Phantom memperhatikan satu detail kecil. Di bawah kaki sosok tersebut, terdapat pola yang hampir tidak terlihat. Sebuah glyph lain. Lebih besar. Lebih kompleks. Dan bentuknya... terlihat seperti pusat dari ratusan glyph di langit. Phantom mendekatkan wajahnya ke layar. “Jadi kau bukan sekadar meninggalkan simbol.” Ia memperbesar gambar. “Kau sedang membangun sesuatu.” Layar tiba-tiba berkedip. ERROR. Phantom mengerutkan kening. Rekaman berhenti. Kemudian kembali berjalan. Berhenti lagi. Berjalan. Berhenti. Seolah-olah sesuatu sedang mengganggu sistem. “Bukan sekarang...” Ia mengetuk perangkat analisisnya. Tidak ada respons. Lampu indikator di markas berkedip. Sekali. Dua kali. Phantom langsung berdiri. Ada sesuatu yang salah. Sistem keamanan tidak pernah melakukan itu. Lampu di langit-langit berkedip lagi. Tik. Phantom mengangkat kepalanya. Tik. Seluruh layar di ruangan ikut berkedip. Tik. Kemudian— padam. Semua lampu mati bersamaan. Layar. Monitor. Sistem keamanan. Bahkan lampu darurat. Semuanya menghilang. Markas itu tenggelam dalam kegelapan absolut. Phantom tidak bergerak. Tangannya perlahan membentuk energi bayangan. Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun— sebuah suara terdengar dari dalam ruangan. Dingin. Pelan. Begitu dekat hingga terasa seperti berbisik tepat di samping telinganya. > “You seek what you cannot comprehend, Phantom.” Mata Phantom melebar. Ia berbalik. Tidak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan. Dan untuk pertama kalinya malam itu... Phantom Cipher tidak yakin bahwa markas rahasianya masih menjadi tempat yang aman.

End of Chapter 19