Chapter 1 of 36
Bab 1 — Echoes in the City Alleys
1.1k words
Malam selalu membawa sisi lain dari kota.
Ketika matahari tenggelam di balik gedung-gedung tinggi, lampu jalan mulai menyala satu per satu. Toko-toko menutup pintunya, kendaraan perlahan berkurang, dan sebagian besar warga memilih pulang sebelum malam semakin larut.
Bukan karena kota itu tidak aman.
Setidaknya, bukan hanya karena kejahatan.
Di dunia ini, manusia tidak hidup sendirian.
Berbagai jenis monster menghuni hutan, pegunungan, reruntuhan, bahkan wilayah bawah tanah yang belum pernah dijamah manusia. Sebagian besar memilih menjauh dari pemukiman, tetapi tidak semuanya begitu.
Beberapa monster justru menjadikan kota sebagai tempat berburu.
Dan salah satu yang paling sering muncul setelah matahari terbenam adalah Batkin.
Ras monster yang memiliki tubuh menyerupai manusia dengan ciri khas kelelawar. Mereka mampu terbang, memiliki pendengaran yang sangat tajam, dan bergerak dengan cepat dalam kegelapan.
Namun malam itu, bukan Batkin yang menjadi ancaman.
Sebuah suara raungan mengguncang salah satu gang di distrik timur.
ROARRR!
Seorang pria berlari tanpa menoleh ke belakang.
Napasnya terengah-engah. Kakinya hampir tidak mampu menopang tubuhnya sendiri, tetapi rasa takut membuatnya terus bergerak.
Di belakangnya terdengar suara langkah berat.
BOOM!
Sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan terlempar begitu saja.
Pria itu menoleh.
Matanya melebar.
Seekor Feral Behemoth berdiri di tengah jalan.
Tubuhnya besar dan dipenuhi otot, dengan kulit kasar yang ditutupi tonjolan keras. Dua matanya memancarkan cahaya merah samar ketika menatap mangsanya.
Pria itu kembali berlari.
Namun sebuah pecahan beton jatuh tepat di depannya.
BRAK!
Ia terjatuh.
Tangannya gemetar ketika mencoba bangkit.
Behemoth mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Setiap hentakannya membuat tanah bergetar.
Pria itu mundur sampai punggungnya membentur dinding.
Tidak ada jalan keluar.
Behemoth mengangkat lengannya.
Serangan berikutnya seharusnya mengakhiri semuanya.
Namun—
Bayangan di belakang monster itu bergerak.
Sebuah siluet hitam muncul dari dalam kegelapan.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada peringatan.
Hanya sepasang mata yang terlihat dari balik topeng berbentuk burung hantu.
Phantom Cipher.
Sosok misterius yang telah beberapa bulan terakhir menjadi pembicaraan warga ketika malam tiba.
Behemoth menghentikan gerakannya.
Phantom Cipher berdiri beberapa meter di belakangnya.
Jubah hitamnya bergerak perlahan tertiup angin.
“Grrr...”
Behemoth berbalik.
Phantom Cipher tidak menjawab.
Bayangan di bawah kakinya mulai menyebar.
Hitam pekat.
Seperti tinta yang tumpah ke permukaan jalan.
Dalam sekejap, bayangan tersebut menjalar ke seluruh tubuhnya.
Kemudian membentuk sebuah bilah panjang di tangan kanan Phantom Cipher.
Behemoth menggeram dan menyerang.
BOOM!
Tinju besar menghantam tempat Phantom Cipher berdiri.
Namun tidak ada siapa-siapa.
Sosok itu telah menghilang.
Behemoth menoleh ke kanan.
Kosong.
Ke kiri.
Kosong.
Kemudian—
SRAK!
Sebuah tebasan mengenai sisi tubuhnya.
Phantom Cipher muncul dari bayangan di belakang monster.
Behemoth mengaum dan berbalik dengan cepat.
Serangan berikutnya datang bertubi-tubi.
Phantom Cipher terus menghindar.
Ia tidak mencoba menandingi kekuatan monster tersebut.
Ia memanfaatkan kegelapan.
Setiap kali Behemoth menyerang, Phantom Cipher berpindah dari satu bayangan ke bayangan lainnya.
Satu langkah.
Menghilang.
Muncul kembali.
Menyerang.
Menghilang lagi.
Gerakannya membuat monster itu semakin kehilangan kendali.
Akhirnya, Phantom Cipher berhenti beberapa meter di depannya.
Bilah bayangan di tangannya berubah bentuk.
Menjadi lebih besar.
Behemoth meraung dan menyerang untuk terakhir kalinya.
Phantom Cipher menarik tubuhnya ke belakang.
Kemudian melesat maju.
SRAK!
Satu tebasan lurus mengenai bagian utama tubuh Behemoth.
Monster itu berhenti.
Tubuhnya bergetar.
Retakan hitam muncul di permukaan kulitnya.
Beberapa detik kemudian, tubuh besar tersebut perlahan runtuh menjadi serpihan hitam yang terbawa angin.
Gang itu kembali sunyi.
Phantom Cipher mengembalikan bilahnya menjadi bayangan sebelum menghilang.
Pria yang tadi hampir menjadi korban masih terduduk di tanah.
Ia menatap sosok bertopeng burung hantu tersebut.
“Ka-kau...”
Phantom Cipher hanya menoleh.
“...Phantom Cipher?”
Tidak ada jawaban.
Sosok itu berjalan melewatinya.
Pria tersebut buru-buru berdiri.
“Terima kasih!”
Phantom Cipher berhenti sejenak.
Ia tidak menoleh.
Kemudian tubuhnya kembali larut ke dalam bayangan.
Dalam hitungan detik, ia menghilang dari gang.
Pria itu hanya bisa berdiri sendirian.
Sejak kemunculannya beberapa bulan lalu, warga mulai memberinya berbagai nama.
Sebagian menyebutnya Shadow Walker.
Sebagian lagi menyebutnya Night Guardian.
Namun satu nama yang paling sering digunakan oleh masyarakat akhirnya menjadi julukannya.
The Owl of Midnight.
Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Phantom Cipher.
Tidak ada yang tahu dari mana kekuatannya berasal.
Dan tidak ada yang tahu mengapa ia selalu muncul ketika malam semakin gelap.
Namun malam itu, sesuatu yang jauh lebih aneh sedang terjadi.
Beberapa blok dari tempat pertarungan berlangsung, Phantom Cipher berdiri di atas sebuah gedung.
Angin malam menerpa jubahnya.
Dari tempat setinggi itu, seluruh kota terlihat di bawahnya.
Lampu-lampu gedung.
Jalanan.
Kendaraan.
Rumah-rumah.
Semuanya tampak normal.
Terlalu normal.
Phantom Cipher menatap langit.
Sebuah suara samar terdengar.
Hummm...
Ia mengerutkan kening.
Suara itu kembali terdengar.
Lebih jelas.
Hummmmmm...
Bukan suara monster.
Bukan suara kendaraan.
Suara tersebut seperti berasal dari udara itu sendiri.
Kemudian—
KRRRKKK...
Langit retak.
Phantom Cipher langsung berdiri tegak.
Di antara awan malam, sebuah garis hitam muncul.
Awalnya hanya sebesar goresan.
Namun perlahan garis itu melebar.
Satu meter.
Dua meter.
Lima meter.
Sebuah retakan raksasa terbentuk di langit.
Phantom Cipher tidak bergerak.
Bayangan di sekitar tubuhnya mulai bergerak secara refleks.
Sesuatu ada di balik retakan itu.
Sesuatu yang tidak seharusnya berada di dunia mereka.
Untuk beberapa detik, tidak terjadi apa-apa.
Kemudian sebuah cahaya merah muncul dari balik kegelapan.
Satu titik.
Lalu titik kedua.
Phantom Cipher menatapnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak bergerak mendekati ancaman.
Ia justru mundur satu langkah.
Retakan tersebut bergetar.
BOOM!
Gelombang energi menghantam seluruh kota.
Lampu-lampu gedung padam secara bersamaan.
Sirene mulai berbunyi dari kejauhan.
Dan dari balik retakan langit—
terdengar suara sesuatu yang sangat besar.
Phantom Cipher mengepalkan tangannya.
“...Apa itu?”
Retakan tersebut semakin terbuka.
Namun sebelum ia dapat melihat apa yang berada di baliknya—
semuanya tiba-tiba berhenti.
Retakan menghilang.
Langit kembali normal.
Cahaya bulan kembali menyinari kota.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Phantom Cipher tetap berdiri di atas gedung.
Menatap langit yang kini kosong.
Ia tahu satu hal.
Sesuatu telah berubah malam itu.
Dan ia belum tahu apa.
Pagi Hari
Matahari terbit.
Suara alarm berbunyi di sebuah kamar sederhana.
BEEP! BEEP! BEEP!
Sebuah tangan keluar dari balik selimut dan memukul alarm tersebut.
Diam.
Lima detik kemudian—
BEEP! BEEP! BEEP!
Tangan itu kembali muncul.
Kali ini alarm benar-benar mati.
Seorang pemuda membuka matanya dengan malas.
Rambutnya berantakan.
Wajahnya masih penuh kantuk.
Ia melihat jam di meja.
Matanya langsung membesar.
“...Sial.”
Pemuda itu bangkit dari tempat tidur.
Namanya adalah Leo Sterling.
Seorang siswa biasa.
Ia bergegas menuju kamar mandi, kemudian kembali dengan seragam sekolah yang belum sepenuhnya rapi.
Tasnya hampir terjatuh ketika ia mengambilnya.
Ia bahkan lupa sarapan.
Begitu keluar dari rumah, Leo berlari menuju sekolah.
Tidak ada yang melihat sesuatu yang aneh darinya.
Tidak ada yang tahu bahwa beberapa jam sebelumnya, di atas salah satu gedung tertinggi kota, seorang pahlawan bertopeng burung hantu sedang menyaksikan sebuah retakan misterius di langit.
Bagi dunia pada pagi hari itu—
Leo Sterling hanyalah seorang siswa biasa.
Dan seperti remaja lainnya, ia hanya memiliki satu masalah untuk dipikirkan pagi itu.
Bagaimana caranya agar tidak terlambat masuk kelas.