Chapter 17 of 36
Chapter 17 — Stolen Shadow
901 words
beberapa jam sebelumnya........
Debu perlahan mulai menghilang.
Phantom Cipher berdiri di tengah reruntuhan, masih menatap pedestal yang kini kosong.
Tidak ada shard.
Tidak ada sosok berjubah.
Hanya bekas retakan di lantai dan serpihan batu yang berserakan.
Untuk beberapa detik, Phantom Cipher tidak bergerak.
Pikirannya mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Sosok itu berhasil mengambil relic tepat di depan matanya.
Bahkan setelah semua yang terjadi—
setelah glyph.
Setelah perpustakaan.
Setelah penglihatan mengerikan di dalam relic.
Setelah suara yang berbisik di kepalanya.
Sekarang benda itu hilang.
Tidak...
Phantom Cipher mengepalkan tangannya.
Ia memaksa pikirannya bekerja.
Ke mana sosok itu pergi?
Bagaimana ia bisa menghilang begitu cepat?
Kenapa shard langsung kehilangan cahayanya saat disentuh olehnya?
Dan yang paling mengganggu—
kenapa shard yang sebelumnya seolah terhubung dengan dirinya justru tidak menunjukkan perlawanan?
Mine...
Bisikan itu kembali terngiang.
Phantom Cipher memejamkan mata sesaat.
Ia masih bisa merasakan sisa denyutnya di dalam dada.
Seolah sesuatu telah ditarik keluar dari dirinya.
Bukan secara fisik.
Lebih seperti...
sebagian dari sesuatu yang selama ini tidak ia pahami telah ikut pergi bersama shard tersebut.
Ia membuka mata.
"Kejar."
Phantom Cipher langsung bergerak.
Bayangannya menyebar ke lantai.
Ia melesat melewati reruntuhan dan menuju tempat terakhir sosok itu terlihat.
Kosong.
Tidak ada jejak.
Tidak ada energi yang cukup jelas untuk dilacak.
Phantom Cipher menghentikan langkah.
Tangannya mengepal semakin kuat.
"Aku membiarkannya pergi."
Untuk seseorang yang selalu bekerja sendirian, kesalahan itu terasa lebih berat daripada seharusnya.
Ia terbiasa memperhitungkan semuanya.
Memilih jalur.
Menganalisis lawan.
Menunggu kesempatan.
Namun kali ini—
ia terlambat.
Satu keputusan.
Satu keraguan.
Dan relic yang mungkin menjadi kunci dari semua misteri itu sekarang berada di tangan seseorang yang bahkan tidak ia kenal.
BOOM!
Ledakan kembali terdengar dari belakang.
Phantom Cipher menoleh.
Blighted masih berdiri.
Valerius dan pasukannya masih bertarung.
Ia seharusnya membantu.
Namun pikirannya terus tertarik kepada lorong tempat sosok berjubah menghilang.
Kalau aku mengejarnya sekarang...
Ia melihat Blighted.
Kemudian melihat para Guard.
Jika ia pergi, mereka bisa kewalahan.
Jika ia tinggal—
sosok itu akan semakin jauh.
Phantom Cipher menggeram pelan.
"Brengsek..."
Ia akhirnya berbalik.
Bayangannya melesat menuju medan pertempuran.
Ia harus memastikan Blighted tidak menelan korban lebih banyak.
Namun rasa gagal itu tetap menempel di pikirannya.
Blighted mengamuk di tengah ruangan.
Salah satu anggota Guard terlempar dan menghantam dinding.
Valerius berdiri di depannya.
"Bangun!"
Prajurit itu mencoba berdiri.
Makhluk tersebut kembali menerjang.
Phantom Cipher muncul dari sisi lain.
Bayangan hitam membentuk bilah di tangannya.
SHRAK!
Serangannya menghantam lengan Blighted dan mengubah arah serangannya.
Valerius langsung memanfaatkan celah itu.
Pedangnya memancarkan energi.
"Menjauh!"
Phantom Cipher melompat.
Valerius mengayunkan pedangnya.
BOOOOM!
Gelombang energi menghantam tubuh Blighted.
Makhluk itu terdorong hingga menabrak dinding.
Namun ia kembali bangkit.
Phantom Cipher bersiap menyerang lagi.
Tetapi sesuatu membuatnya berhenti.
Blighted itu menatapnya.
Mata violetnya berdenyut.
Untuk sesaat, Phantom Cipher merasa seolah makhluk itu sedang melihat sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Bukan dirinya sebagai manusia.
Bukan topengnya.
Tetapi...
bayangannya.
Phantom Cipher mempersempit mata.
Apakah karena shard?
Makhluk itu menggeram.
Kemudian menyerang.
Phantom Cipher dan Valerius bergerak bersamaan.
Keduanya menyerang dari arah berbeda.
Bayangan Phantom menembus sisi tubuh makhluk itu.
Pedang Valerius menghantam pusat energinya.
KRAAAK!
Retakan hitam menyebar ke seluruh tubuh Blighted.
Makhluk itu meraung.
Kabut hitam keluar dari tubuhnya.
Kemudian tubuh raksasanya runtuh.
BOOM.
Hening.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, perpustakaan menjadi sunyi.
Phantom Cipher berdiri dengan napas berat.
Ia menatap tubuh Blighted yang perlahan berubah menjadi debu hitam.
Kemudian pandangannya kembali menuju pedestal kosong.
Rasa sesak kembali muncul di dadanya.
Shard itu hilang.
Ia gagal mendapatkannya.
Dan sekarang ia bahkan tidak tahu siapa yang membawanya pergi.
Langkah kaki terdengar.
Phantom Cipher menoleh.
Valerius berjalan mendekat.
Wajahnya penuh debu.
Pedangnya masih berada di tangannya.
Ia berhenti beberapa meter di depan Phantom Cipher.
Tidak mengatakan apa pun.
Phantom Cipher menatapnya.
"Kalau kau mau menyalahkanku, lakukan nanti."
Valerius tidak menjawab.
Ia hanya melihat pedestal kosong.
Kemudian melihat Phantom Cipher.
Tatapannya mengeras.
"Kau tahu apa yang baru saja hilang?"
Phantom Cipher terdiam.
"Ya."
"Relic itu mungkin satu-satunya petunjuk yang kita punya tentang apa yang sedang terjadi."
"Aku tahu."
Valerius mendekat.
"Dan kau membiarkannya pergi."
Phantom Cipher mengepalkan tangan.
"Aku mencoba mengejarnya."
"Tapi kau gagal."
Kalimat itu langsung mengenai titik yang paling ia benci.
Phantom Cipher menatap Valerius.
"Aku tidak perlu kau mengingatkannya."
Valerius menggeleng.
"Kau selalu bekerja sendiri."
"Aku tidak membutuhkan pasukan."
"Dan sekarang lihat hasilnya."
Phantom Cipher tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya—
ia tidak memiliki bantahan.
Ia memang gagal.
Ia telah memiliki kesempatan.
Ia telah berdiri begitu dekat dengan shard.
Namun ia membiarkan keraguan mengambil sepersekian detik dari dirinya.
Dan sepersekian detik itu cukup.
Valerius menatapnya dengan dingin.
"Semua ini terjadi karena kau."
Phantom Cipher mengangkat kepala.
"Jaga ucapanmu."
"Kau masuk ke sini tanpa izin."
Valerius menunjuk pedestal.
"Kau mengacaukan operasi kami."
Kemudian tatapannya berpindah kepada lorong tempat sosok berjubah menghilang.
"Dan ketika target sebenarnya muncul..."
Valerius kembali menatap Phantom Cipher.
"...kau membiarkannya kabur."
Phantom Cipher diam.
Valerius menggenggam pedangnya.
Kemudian berkata dengan nada penuh kemarahan—
"You let them escape, Cipher! This just proves you're a liability!"
Kata-kata itu menggema di seluruh perpustakaan.
Phantom Cipher tidak langsung membalas.
Ia hanya menatap Valerius.
Di dalam kepalanya, satu hal terus berputar.
Bukan perkataan Valerius.
Bukan kegagalannya.
Melainkan suara yang terakhir kali ia dengar dari shard.
Mine...
Phantom Cipher perlahan mengepalkan tangannya.
Jika shard itu memang terhubung dengan dirinya...
dan sosok berjubah berhasil membawanya pergi—
maka mungkin yang baru saja dicuri bukan sekadar sebuah relic.
Mungkin sesuatu yang selama ini berada di dalam bayangannya telah ikut dicuri bersamanya.