Chapter 16 of 36
Chapter 16 — An Ordinary Day
1.1k words
Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar.
Leo membuka mata perlahan.
Ia menatap langit-langit selama beberapa detik.
Hening.
Tidak ada suara ledakan.
Tidak ada jeritan.
Tidak ada Blighted.
Tidak ada Arcana Guard.
Tidak ada sosok berjubah.
Hanya suara alarm dari meja di samping tempat tidurnya.
BEEP. BEEP. BEEP.
Leo mengulurkan tangan.
Meleset.
Tangannya justru menghantam meja.
Alarm jatuh ke lantai.
BRAK.
Leo langsung bangun.
Ia duduk di tepi tempat tidur dan mengusap wajahnya.
Kemudian matanya tertuju pada jam.
06:47.
Leo terdiam.
"...Sial."
Ia langsung berdiri.
Hari sekolah sudah dimulai.
Beberapa menit kemudian, Leo berlari menyusuri trotoar dengan tas tergantung di satu bahu.
Kemejanya belum benar-benar rapi.
Rambutnya berantakan.
Bahkan tali sepatunya belum terikat sempurna.
"Kenapa semalam harus sepanjang itu..."
Ia mempercepat langkah.
Tubuhnya masih terasa berat.
Bukan hanya karena kurang tidur.
Sejak kejadian di perpustakaan, ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.
Shard itu.
Bisikan tersebut.
Mine...
Leo menggeleng.
"Fokus."
Ia menepuk pipinya sendiri.
"Hari ini sekolah."
Masalahnya, otaknya tidak sepakat.
Setiap kali mencoba memikirkan pelajaran, bayangan shard kembali muncul.
Setiap kali mengingat shard, ia teringat sosok berjubah.
Dan setiap kali mengingat sosok itu—
ia kembali teringat bayangannya sendiri yang bergerak tanpa perintah.
Leo menarik napas panjang.
Untuk beberapa jam ke depan, aku cuma Leo.
Bukan Phantom Cipher.
Bukan pengguna Arcana.
Bukan seseorang yang sedang mengejar misteri Blight.
Hanya seorang siswa.
"Leo!"
Leo baru saja melewati gerbang sekolah ketika sebuah suara memanggilnya.
Ia menoleh.
Seorang pemuda melambaikan tangan dari dekat koridor.
Ethan Parker.
Teman Leo yang hampir selalu punya sesuatu untuk dibicarakan.
"Kau hampir terlambat lagi!" teriak Ethan.
Leo berjalan mendekat.
"Hampir?"
Ethan menunjuk jam di tangannya.
"Kalau satpam menutup gerbang dua menit lebih cepat, kau sudah tamat."
Leo melihat gerbang di belakangnya.
Kemudian tersenyum santai.
"Berarti aku beruntung."
"Beruntung apanya? Lihat rambutmu."
Leo refleks menyentuh rambutnya.
Ia langsung sadar rambutnya memang berantakan.
"Ah."
Ethan tertawa.
"Kau begadang lagi?"
Leo terdiam sesaat.
"Kurang lebih."
"Game?"
Leo mengangguk.
"Game."
Dari belakang Ethan, seorang siswa lain berjalan mendekat.
Ryan Cole.
Berbeda dengan Ethan yang banyak bicara, Ryan lebih tenang dan biasanya hanya berbicara ketika memang ada sesuatu yang menurutnya penting.
Ryan melihat Leo dari atas sampai bawah.
"Kau kelihatan seperti belum tidur."
Leo menghela napas.
"Terima kasih atas perhatiannya."
"Itu bukan pujian."
"Aku tahu."
Ethan tertawa.
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju kelas.
Untuk beberapa saat, Leo merasa semuanya normal.
Dan ia menyukai perasaan itu.
Pelajaran pertama berjalan jauh lebih buruk daripada yang ia harapkan.
Leo menatap papan tulis.
Guru menjelaskan materi dengan serius.
Sementara pikirannya...
berada di tempat lain.
Kalau shard itu bisa bereaksi terhadap Arcana-ku...
"Leo."
Ia tidak menjawab.
"Leo."
Masih tidak.
Sebuah penghapus kecil melayang ke mejanya.
TOK.
Leo tersentak.
"Ya?"
Beberapa siswa tertawa.
Guru menatapnya.
"Kalau memang sangat tertarik dengan dunia lain, mungkin kau bisa sekalian menjelaskan jawabannya."
Leo melihat papan.
Kemudian bukunya.
Kemudian papan lagi.
Ia bahkan tidak tahu pertanyaannya.
"...Boleh saya lihat soalnya sekali lagi, Pak?"
Kelas kembali tertawa.
Guru menghela napas.
"Perhatikan pelajaran."
"Iya, Pak."
Leo menunduk.
Ethan yang duduk tidak terlalu jauh darinya menahan tawa.
Ryan hanya menggeleng.
Leo mengambil pensil.
Ia mencoba fokus.
Benar-benar mencoba.
Namun beberapa menit kemudian—
Mine...
Tangannya berhenti.
Leo menggenggam pensil sedikit lebih kuat.
Berhenti.
Ia menarik napas.
Kemudian mulai mencatat apa pun yang dijelaskan guru.
Yang penting pikirannya kembali ke kelas.
Saat jam istirahat, Leo, Ethan, dan Ryan duduk di kantin.
Meja mereka dipenuhi makanan dan minuman.
Suasana jauh berbeda dengan perpustakaan tadi malam.
Tidak ada monster.
Tidak ada pertempuran.
Hanya suara siswa berbicara, tertawa, dan saling mengejek.
Ethan sedang membuka ponselnya ketika ekspresinya tiba-tiba berubah.
"Eh."
Ryan melirik.
"Apa?"
"Kalian sudah lihat berita semalam?"
Leo yang sedang makan berhenti sesaat.
"Berita apa?"
Ethan memutar layar ponselnya.
Di layar muncul gambar sebuah bangunan tua yang rusak.
Judul berita membahas insiden di Sector 4, termasuk bentrokan antara Arcana Guard dan Blighted.
Ryan ikut melihat.
"Parah."
Leo menatap layar beberapa detik.
Ia mengenali tempat itu.
Perpustakaan.
Tempat yang beberapa jam lalu menjadi medan pertarungan.
Tempat ia bertemu sosok berjubah.
Tempat shard itu menghilang.
Leo segera mengalihkan pandangan.
"Katanya ada Phantom Cipher juga."
Leo hampir tersedak.
Ia buru-buru mengambil minum.
Ethan tertawa.
"Kenapa? Kaget?"
"Sedikit."
Ryan mengambil ponsel Ethan.
"Di sini juga disebutkan kalau identitas Phantom Cipher masih belum diketahui."
Leo diam.
Ethan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Menurut kalian, Phantom Cipher itu orang baik?"
Ryan mengangkat bahu.
"Belum tentu."
Leo menatap keduanya.
Ethan melanjutkan.
"Arcana Guard bilang dia pengguna Arcana ilegal."
Ryan menjawab tenang.
"Tapi dia juga beberapa kali terlihat melawan Blighted."
Ethan mengangguk.
"Nah, itu."
Ia menatap Leo.
"Menurutmu?"
Leo terdiam beberapa detik.
Pertanyaan sederhana.
Namun bagi dirinya, jawabannya tidak sederhana sama sekali.
Ia tahu Phantom Cipher bukan monster.
Ia tahu alasan dirinya turun ke jalan setiap malam.
Ia tahu apa yang sudah ia lihat.
Tetapi ia juga tahu bahwa dirinya mulai kehilangan kepastian terhadap kekuatannya sendiri.
Akhirnya Leo hanya berkata,
"Mungkin... dia cuma mencoba melakukan apa yang menurutnya benar."
Ethan mengangkat alis.
"Jawaban aman."
Leo tersenyum.
"Aku memang orang aman."
Ryan tertawa kecil.
"Pembohong."
Leo ikut tertawa.
Untuk beberapa saat, ia lupa tentang semua masalahnya.
Hanya beberapa saat.
Pelajaran berikutnya berlalu.
Kemudian pelajaran berikutnya lagi.
Hingga akhirnya bel pulang berbunyi.
TRING!
Ethan langsung berdiri.
"Akhirnya bebas."
Ryan memasukkan buku ke tas.
"Kau bilang begitu setiap hari."
"Karena setiap hari benar."
Leo tersenyum melihat mereka.
"Besok kalian tetap masuk, kan?"
Ethan menunjuk Leo.
"Justru kau yang jangan terlambat."
Leo mengangkat tangan.
"Janji."
Mereka berpisah di gerbang sekolah.
Leo berjalan sendirian menuju rumah.
Langkahnya santai.
Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, pikirannya terasa sedikit lebih ringan.
Di tengah perjalanan, Leo berhenti di sebuah toko kecil.
Ia membeli minuman dingin.
Kemudian duduk di bangku depan toko.
Orang-orang berlalu-lalang di depannya.
Seorang anak kecil berlari mengejar bola.
Seorang pedagang sedang membereskan dagangannya.
Beberapa siswa berjalan pulang bersama.
Sederhana.
Normal.
Leo memperhatikan semuanya.
Kemudian tersenyum kecil.
Beginilah seharusnya hidup.
Untuk sesaat, ia tidak ingin memikirkan apa pun.
Tidak tentang Blight.
Tidak tentang Arcana Guard.
Tidak tentang Eclipse Academy.
Tidak tentang shard.
Tidak tentang sosok berjubah.
Hanya kehidupan biasa.
Ia berdiri dan melanjutkan perjalanan.
Namun setelah beberapa langkah—
Dum.
Leo berhenti.
Tangannya perlahan menyentuh dada.
Jantungnya berdetak sedikit lebih kuat.
Dum.
Ia menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya jalanan yang mulai dipenuhi bayangan sore.
Leo menatap salah satu bayangan di dekat kakinya.
Tidak bergerak.
Normal.
Ia menghela napas.
"Mungkin cuma lelah."
Leo kembali berjalan.
Tanpa mengetahui bahwa jauh di dalam bayangannya—
sesuatu bergerak sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Kemudian kembali diam.
Dan untuk satu hari penuh, Leo berhasil menjalani kehidupan normalnya.
Sekolah.
Teman.
Tugas.
Makan siang.
Pulang.
Seolah-olah dirinya hanyalah siswa biasa.
Namun jauh di dalam dirinya, satu pertanyaan mulai tumbuh.
Berapa lama kehidupan normal itu bisa bertahan?