Chapter 14 of 36
Chapter 14 — A Test of Will
802 words
Dentuman demi dentuman mengguncang perpustakaan tua.
Blighted raksasa itu kembali mengamuk.
Setiap langkahnya membuat lantai bergetar, sementara para anggota Arcana Guard berusaha menahannya dari berbagai arah. Serangan-serangan Arcana menghantam tubuh makhluk itu, tetapi sebagian besar hanya tenggelam ke dalam kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya.
Valerius mengayunkan pedangnya.
Sebuah tebasan energi menghantam bahu makhluk itu.
BOOM!
Blighted terdorong beberapa meter.
Namun sebelum siapa pun sempat bereaksi, makhluk itu kembali menerjang.
Lebih cepat.
Lebih kuat.
Lebih brutal.
Phantom Cipher berdiri di antara reruntuhan, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya tertuju pada pertarungan.
Tatapannya masih tertuju kepada sosok berjubah itu.
Orang tersebut baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya mustahil.
Tanpa menyentuh makhluk tersebut.
Tanpa menyerang.
Tanpa menunjukkan kekuatan besar yang terlihat jelas.
Hanya sebuah gerakan tangan dan bisikan singkat.
Lalu Blighted itu berhenti.
Bukan karena terluka.
Bukan karena kalah.
Ia hanya... berhenti.
Seolah tubuhnya menerima sebuah perintah.
Phantom Cipher merasakan hawa dingin menjalar di sepanjang punggungnya.
Itu bukan kebetulan.
Matanya mengikuti setiap gerakan sosok tersebut.
Namun orang itu kembali diam.
Seakan apa yang baru saja dilakukan bukan sesuatu yang luar biasa.
Justru ketenangan itulah yang membuat Phantom Cipher semakin waspada.
Orang yang memiliki kekuatan besar biasanya menunjukkannya.
Orang ini tidak.
Ia bahkan tidak terlihat tertarik untuk memenangkan pertarungan.
Ia hanya mengamati.
Menguji.
Menunggu.
Phantom Cipher melirik Blighted.
Makhluk itu kembali menyerang Valerius.
Namun kali ini ia melihat sesuatu yang sebelumnya tidak disadarinya.
Setiap kali gerakan makhluk tersebut berubah, sosok berjubah itu memperhatikannya.
Bukan sekadar melihat.
Menganalisis.
Seolah ia sedang mempelajari hubungan antara energi, gerakan, dan respons makhluk itu.
Kalau dia pengendalinya...
Phantom Cipher menghentikan pikirannya.
Kenapa dia membiarkannya menyerang?
Pertanyaan lain muncul.
Tapi kalau dia bukan pengendalinya...
Tatapannya semakin tajam.
Bagaimana dia bisa membuatnya berhenti?
Tidak ada jawaban.
Hanya suara benturan dan jeritan pertempuran.
Seorang anggota Guard terlempar melewati Phantom Cipher.
Ia segera menangkap prajurit itu dengan bayangan yang memanjang dari lantai.
"Jangan berdiri terlalu dekat."
Prajurit itu terkejut.
"Phantom..."
Phantom Cipher melepaskannya.
"Pergi."
Ia kembali menatap medan pertempuran.
Valerius sedang berhadapan langsung dengan Blighted.
"Kau!"
Suara Valerius terdengar keras.
"Jika kau punya cara untuk menghentikan makhluk itu, gunakan sekarang!"
Phantom Cipher tidak yakin apakah perintah itu ditujukan kepadanya atau kepada sosok berjubah.
Namun tidak ada jawaban.
Sosok itu hanya memiringkan kepalanya.
Kemudian tatapannya beralih kepada Phantom Cipher.
Untuk pertama kalinya, kedua tatapan mereka bertemu.
Phantom Cipher membeku sepersekian detik.
Ada sesuatu dalam tatapan itu.
Bukan kebencian.
Bukan permusuhan.
Melainkan rasa ingin tahu.
Seolah sosok tersebut sedang melihat sesuatu yang jauh lebih menarik daripada pertarungan di sekeliling mereka.
Bayangan di bawah kaki Phantom Cipher bergerak tipis.
Refleks.
Ia langsung mengendalikan Arcana-nya.
Dia melihatku seperti objek penelitian.
Sosok itu akhirnya berbicara.
"Menarik."
Hanya satu kata.
Suara yang tenang.
Phantom Cipher mengepalkan tangannya.
"Kalau mau bicara, buka tudungmu."
Tidak ada jawaban.
"Atau setidaknya jelaskan apa yang baru saja kau lakukan."
Sosok tersebut kembali melihat Blighted.
"Aku hanya memberinya sedikit dorongan."
Phantom Cipher terdiam.
"Sedikit...?"
Sosok itu mengangkat satu tangan.
Jari telunjuknya bergerak pelan.
Blighted yang sedang menyerang Valerius tiba-tiba berhenti sepersekian detik.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi cukup untuk membuat Valerius menyadarinya.
Ekspresi sang komandan berubah.
"Dia mengendalikan gerakannya..."
Phantom Cipher segera menyela.
"Belum tentu."
Valerius menoleh.
"Apa?"
Phantom Cipher tidak mengalihkan pandangan dari sosok berjubah.
"Kalau dia benar-benar mengendalikannya, kenapa dia membiarkannya menyerang kita?"
Valerius terdiam.
Sosok berjubah itu tertawa kecil.
Bukan tawa mengejek.
Lebih seperti seseorang yang baru saja mendengar jawaban menarik.
Phantom Cipher merasakan sesuatu yang tidak ia sukai.
Dia sengaja membiarkan kami berpikir begitu.
Pertarungan kembali meledak.
Blighted menghantam lantai.
KRAAAK!
Retakan menjalar ke seluruh ruangan.
Phantom Cipher melompat ke atas reruntuhan.
Dari sana, ia melihat seluruh perpustakaan.
Guard.
Blighted.
Sosok berjubah.
Pedestal.
Dan—
Shard obsidian.
Phantom Cipher terdiam.
Benda itu masih berada di tempatnya.
Sejak awal ia tidak benar-benar memperhatikannya lagi karena kekacauan.
Namun sekarang...
Ada sesuatu yang berbeda.
Sangat berbeda.
Permukaan hitam shard itu mulai memancarkan cahaya.
Bukan cahaya biasa.
Cahaya merah keunguan merembes dari dalamnya.
Dum.
Jantung Phantom Cipher berdetak.
Dum.
Cahaya itu semakin kuat.
Dum.
Bayangan di bawah kakinya bergerak sendiri.
Phantom Cipher memegang dadanya.
Apa...?
Detak jantungnya semakin cepat.
Shard itu merespons.
Bukan terhadap Blighted.
Bukan terhadap Valerius.
Tetapi—
terhadap dirinya.
Cahaya di dalam shard semakin terang.
DUM.
Satu denyut.
DUM.
Dua denyut.
Setiap denyut jantung Phantom Cipher diikuti oleh pulsasi shard tersebut.
Sosok berjubah itu berhenti bergerak.
Untuk pertama kalinya, ketenangannya menghilang.
Kepalanya perlahan berbalik menuju pedestal.
Phantom Cipher melihat perubahan itu.
Dia juga tidak menduga ini.
Kemudian sebuah suara terdengar di dalam kepalanya.
Bukan suara dari luar.
Bukan suara sosok berjubah.
Bukan suara Valerius.
Suara itu berasal dari tempat yang jauh lebih dekat.
Jauh lebih dalam.
Suara yang terdistorsi.
Serak.
Hampir seperti bisikan dari sesuatu yang sedang berbicara melalui mimpi.
Phantom Cipher menahan napas.
Lalu—
"Mine..."
Matanya melebar.
Shard obsidian menyala dengan kekuatan penuh.
Untuk sesaat, seluruh perpustakaan dipenuhi cahaya merah keunguan.
Dan bayangan Phantom Cipher...
bergerak tanpa perintahnya.