Chapter 13 of 36

Chapter 13 — The Observer's Intent

812 words

Debu masih memenuhi udara. Dinding perpustakaan yang sudah rapuh kini terbuka lebar setelah dihantam tubuh raksasa Blighted. Pecahan batu dan kayu berserakan di lantai, sementara cahaya redup dari luar menembus celah-celah bangunan yang hancur. Leo berdiri beberapa meter dari Valerius. Tatapannya tidak lagi tertuju kepada sang komandan. Ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu perhatiannya. Sosok berjubah yang berdiri di balik makhluk itu. Ia tidak bergerak. Tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyerang. Bahkan ketika Blighted raksasa itu menggeram dan menghantam salah satu anggota Arcana Guard hingga terpental, sosok tersebut hanya memiringkan kepalanya sedikit. Seolah-olah sedang mengamati sebuah percobaan. Leo menyipitkan mata di balik topengnya. "Dia terlalu tenang." Di sekelilingnya, para anggota Guard berusaha mempertahankan posisi. Beberapa melepaskan serangan Arcana untuk menahan makhluk itu, tetapi serangan mereka hanya memperlambat pergerakannya. Valerius mengangkat pedangnya. "Formasi kedua! Jangan biarkan makhluk itu mendekati lorong!" Para prajurit bergerak. Makhluk Blighted kembali mengayunkan lengannya. BOOM! Lantai bergetar. Leo melompat ke samping. Namun matanya tetap tertuju pada sosok berjubah itu. Ada sesuatu yang terasa salah. Bukan sekadar karena sosok itu muncul tanpa diketahui siapa pun. Bukan juga karena ia berdiri begitu dekat dengan Blighted tanpa menunjukkan rasa takut. Melainkan karena matanya. Dari balik bayangan tudung, Leo bisa melihat sepasang mata yang terus mengikuti setiap gerakan makhluk tersebut. Ketika Blighted mengangkat tangan— Matanya mengikuti. Ketika makhluk itu mengubah arah serangan— Matanya mengikuti. Ketika seorang prajurit Guard berhasil memancingnya menjauh dari lorong— Matanya kembali mengikuti. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada kebingungan. Hanya pengamatan. Leo perlahan menyadari sesuatu. "Dia tahu apa yang akan dilakukan makhluk itu." Sebuah serangan menghantam lantai di dekatnya. Leo segera mundur. Namun pikirannya tidak berhenti bekerja. Selama beberapa detik terakhir, sosok itu tidak pernah benar-benar memperhatikan Valerius. Tidak memperhatikan para Guard. Bahkan tidak terlalu memperhatikannya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Blighted. Seakan-akan makhluk itu adalah sesuatu yang sudah dikenalnya. Leo menatap makhluk tersebut. Mata violet. Kabut hitam yang mengalir di tubuhnya. Energi aneh yang berdenyut di balik permukaan kulitnya. Sama seperti makhluk-makhluk yang ia temui sebelumnya. Namun yang satu ini berbeda. Jauh lebih kuat. Dan mungkin... Jauh lebih penting. "Siapa sebenarnya kalian?" Suara Valerius memecahkan pikirannya. "Phantom!" Leo menoleh. Valerius sedang berdiri beberapa meter di depannya, pedangnya masih terangkat. "Kau lihat sendiri apa yang terjadi. Jangan menghalangi pasukanku." Leo tidak menjawab. Tatapannya kembali berpindah kepada sosok berjubah. Valerius mengikuti arah pandangannya. "Jangan pedulikan dia." Leo menatap Valerius. "Kenapa?" "Karena kita punya masalah yang lebih besar." Leo hampir tertawa kecil. "Justru itu masalahnya." Valerius mengernyit. "Apa maksudmu?" "Dia tahu sesuatu." Valerius terdiam sesaat. "Kau tidak tahu siapa dia." "Aku juga tidak bilang aku tahu." Leo kembali melihat sosok itu. "Tapi aku tahu satu hal." Makhluk Blighted kembali menyerang. Sosok berjubah itu bahkan tidak bergeming. Leo melanjutkan, "Dia tidak melihat makhluk itu seperti kita." Valerius memperhatikan sosok tersebut dengan lebih serius. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun— Blighted itu tiba-tiba mengubah arah. Gerakannya menjadi lebih cepat. Leo langsung bersiap. Makhluk tersebut menerjang. DUARR! Valerius menahan serangan dengan penghalang Arcana. Retakan menjalar pada permukaan penghalang. "Kapten!" "Jangan mundur!" Valerius mendorong tubuh makhluk itu menjauh. Namun monster tersebut kembali bangkit. Tidak terluka. Tidak lelah. Hanya semakin agresif. Leo memperhatikan perubahan itu. "Barusan..." Ada sesuatu yang berbeda. Gerakannya. Tekanan energinya. Bahkan cara makhluk itu mengatur napas. Seolah-olah seseorang baru saja menarik sebuah tali yang tak terlihat. Leo menoleh cepat ke arah sosok berjubah. Sosok itu masih berdiri. Diam. Mengamati. Leo mulai merasakan ketegangan di dalam tubuhnya. "Jangan bilang..." Sosok tersebut akhirnya bergerak. Perlahan. Ia mengangkat satu tangannya. Para Guard tidak menyadarinya. Valerius masih sibuk menghadapi Blighted. Tetapi Leo melihatnya dengan jelas. Jari-jari sosok itu membentuk pola tertentu. Bukan gerakan menyerang. Bukan pula gerakan bertahan. Lebih mirip seseorang yang sedang mengaktifkan sesuatu yang sudah dikenalnya. Leo menahan napas. "Hei..." Sosok itu tidak menjawab. Kemudian sebuah bisikan keluar dari balik tudungnya. Sangat pelan. Hampir tidak terdengar di tengah kekacauan. Sebuah incantation. Begitu kata terakhir diucapkan— Blighted itu berhenti. Mendadak. Tubuh raksasanya membeku di tengah gerakan. Valerius terkejut. "Apa—?" Para anggota Guard ikut berhenti. Makhluk itu tidak bergerak sama sekali. Mata violetnya perlahan meredup. Leo menatapnya tanpa berkedip. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tidak ada yang terjadi. Kemudian... Mata violet itu kembali menyala. Lebih terang. Lebih liar. Dan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya— ROOOAAARRR! Makhluk itu kembali menyerang. Valerius nyaris kehilangan keseimbangan akibat hantaman berikutnya. "Formasi bertahan!" Para Guard kembali bertarung. Namun Leo tidak bergerak. Ia hanya menatap sosok berjubah itu. Sosok tersebut menurunkan tangannya. Tidak ada ekspresi kemenangan. Tidak ada amarah. Tidak ada kepanikan. Hanya ketenangan yang sama. Seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah hasil yang ingin ia lihat. Leo mengepalkan tangannya. "Dia menghentikannya..." Matanya menyipit. "Lalu membiarkannya menyerang lagi." Untuk pertama kalinya sejak sosok itu muncul, Leo tidak lagi bertanya apakah orang tersebut adalah sekutu atau musuh. Ada pertanyaan yang jauh lebih mengkhawatirkan. "Apa yang sebenarnya sedang dia uji?" Dan lebih buruk lagi— "Kenapa kami semua ada di dalam pengujiannya?"

End of Chapter 13