Chapter 12 of 36
Chapter 12 — CLASH OF IDEALS
1.1k words
“Phantom Cipher! Menyerah, atau hadapi konsekuensinya!”
Suara Valerius menggema di antara rak-rak buku tua.
Leo berdiri diam.
Beberapa anggota Arcana Guard telah menyebar di sekitar ruangan, menutup jalur keluar. Senjata mereka terarah kepadanya, sementara Valerius berdiri paling depan.
Namun perhatian Leo tidak sepenuhnya tertuju kepada mereka.
Matanya masih tertuju pada pecahan obsidian di atas pedestal.
Relic itu.
Satu-satunya benda yang mungkin bisa memberinya jawaban tentang apa yang baru saja ia lihat.
Dan sekarang Valerius berdiri di antara dirinya dan jawaban tersebut.
“Jangan membuat ini lebih sulit,” ujar Valerius.
Leo perlahan menoleh kepadanya.
“Lebih sulit?”
Valerius tidak menjawab.
Leo tertawa kecil, tetapi tidak ada humor dalam suaranya.
“Kalian masuk ke tempat ini, menyerang makhluk-makhluk itu, lalu mengarahkan senjata kepadaku.”
Ia menunjuk relic.
“Aku cuma ingin mengambil benda itu.”
“Dan menurutmu kami akan membiarkanmu?”
“Kenapa tidak?”
“Karena kami tidak tahu apa yang akan kau lakukan dengannya.”
Leo terdiam.
Jawaban itu membuatnya semakin frustrasi.
“Jadi itu masalahnya?”
Valerius menatapnya tajam.
“Kau adalah pengguna Arcana yang tidak terdaftar. Kau muncul setiap kali terjadi kekacauan, beroperasi sendirian, dan sekarang kami menemukanmu tepat di depan relic yang sedang kami amankan.”
Leo mengatupkan rahangnya.
“Dan kesimpulan kalian?”
“Kau adalah ancaman yang harus kami hentikan.”
Hening.
Kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada yang seharusnya.
Leo menatap Valerius beberapa detik.
“Jadi kalian bahkan tidak mau bertanya.”
Valerius tetap diam.
“Kalian cuma melihat apa yang kalian mau lihat.”
“Phantom—”
“Aku sudah melihat apa yang ada di dalam relic itu.”
Valerius sedikit menyipitkan mata.
Leo menyadari dirinya hampir mengatakan terlalu banyak.
Ia tidak tahu apakah Valerius akan percaya.
Kemungkinan besar tidak.
Dan ia tidak punya waktu untuk menjelaskan.
Leo kembali melihat pecahan obsidian.
Jika vision tadi memang memiliki hubungan dengan Arcana miliknya, ia tidak bisa meninggalkan relic tersebut.
Bukan sekarang.
Bukan ketika ia akhirnya menemukan petunjuk.
“Aku akan mengambilnya.”
Valerius langsung mengangkat senjata.
“Jangan.”
Leo tidak berhenti.
Bayangan muncul di bawah kakinya.
Valerius memberi isyarat.
“Sekarang!”
Beberapa anggota Guard bergerak bersamaan.
Leo menghilang ke dalam bayangan.
WHOOSH!
Satu penjaga mengayunkan senjatanya ke tempat Leo berdiri beberapa detik sebelumnya.
Kosong.
Leo muncul di sisi lain ruangan.
Ia langsung melesat menuju pedestal.
“Berhenti!”
Sebuah ledakan energi menghantam lantai di depannya.
Leo melompat.
Pecahan batu beterbangan.
Ia mendarat dengan satu tangan menyentuh lantai.
Bayangan menyebar dari tubuhnya.
Dua penjaga menyerang dari sisi kiri dan kanan.
Leo berputar, menghindari serangan pertama, lalu menahan serangan kedua dengan lapisan bayangan.
CLANG!
Benturan itu membuat lengannya terdorong.
Leo mundur beberapa langkah.
“Kenapa kalian selalu memilih cara ini?”
Salah satu penjaga menyerang lagi.
Leo menangkis.
“Karena kau tidak memberi kami pilihan!”
“Justru kalian yang tidak memberiku pilihan!”
Leo melepaskan gelombang bayangan.
Para penjaga terpaksa mundur.
Tidak ada yang terluka parah, tetapi ruangan semakin kacau.
Valerius maju.
Ia bergerak jauh lebih cepat daripada pasukannya.
Serangannya datang lurus ke arah Leo.
Leo menghindar ke samping.
Valerius berbalik dan menyerang lagi.
Leo menahan serangannya.
Keduanya saling berhadapan dalam jarak dekat.
“Berhenti melawan!” bentak Valerius.
“Kalau kau berhenti menghalangiku!”
“Kau tidak tahu apa yang kau hadapi!”
Leo menatap matanya.
“Begitu juga kalian.”
Valerius terdiam sepersekian detik.
Leo memanfaatkan celah itu.
Ia mendorong Valerius dengan ledakan bayangan dan melompat menuju pedestal.
Tangannya hampir menyentuh relic.
Namun sebuah serangan kembali datang.
Leo menarik tangannya.
BOOM!
Pedestal bergetar.
Pecahan obsidian hampir terjatuh.
Leo segera menangkapnya.
Begitu jarinya menyentuh permukaannya—
Denyut.
Cahaya merah menyala.
Leo tersentak.
Vision tadi hampir kembali.
Makhluk itu.
Mata merahnya.
Tubuh yang dipenuhi bayangan.
Leo langsung menarik tangannya.
Relic kembali diam.
Valerius melihat kejadian tersebut.
“Apa yang terjadi?”
Leo tidak menjawab.
Ia menggenggam tangannya sendiri.
Valerius menatap relic, kemudian Leo.
“Kau melihat sesuatu.”
Leo mengangkat kepala.
“Bukan urusanmu.”
“Kalau benda itu bereaksi terhadapmu, justru itu urusanku.”
Leo tertawa pendek.
“Itulah masalah kalian.”
Ia berdiri.
“Kalian selalu berpikir bahwa sesuatu harus menjadi urusan kalian hanya karena kalian punya seragam dan wewenang.”
Valerius menatapnya tajam.
“Dan kau berpikir kau bisa menyelesaikan semuanya sendirian?”
Leo terdiam.
Kalimat itu mengenai sesuatu yang lebih dalam dari yang Valerius sadari.
Namun ia tetap menjawab.
“Aku setidaknya mencoba mencari tahu sebelum menghancurkan sesuatu yang tidak kupahami.”
Valerius mengangkat senjatanya lagi.
“Dan aku mencoba memastikan benda itu tidak jatuh ke tangan yang salah.”
Leo menatapnya.
“Bagaimana kau tahu tanganku adalah tangan yang salah?”
Valerius tidak menjawab.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
Leo menghela napas.
“Lihat?”
Ia menatap seluruh anggota Guard.
“Bahkan sekarang kalian tidak punya bukti.”
Bayangan mulai berkumpul di sekeliling tubuhnya.
“Aku tidak punya waktu untuk berdebat dengan kalian.”
Valerius bersiap.
“Kalau begitu, kau sudah memilih.”
Leo menatapnya.
“Bukan.”
Ia mengambil posisi.
“Kalian yang membuatku memilih.”
Dalam sekejap, keduanya bergerak.
Bayangan Leo bertabrakan dengan energi Valerius.
BOOM!
Gelombang tekanan menyapu ruangan.
Rak-rak buku runtuh.
Debu memenuhi udara.
Para anggota Guard mundur untuk menghindari benturan.
Leo bergerak cepat di antara mereka, berusaha mencapai pintu keluar.
Namun Valerius terus mengejarnya.
Satu serangan.
Dua.
Tiga.
Leo menghindar, memblokir, lalu membalas.
Pertarungan itu berlangsung singkat tetapi sengit.
Bukan karena salah satu dari mereka ingin membunuh yang lain.
Melainkan karena keduanya memiliki keyakinan berbeda tentang bagaimana dunia seharusnya ditangani.
Valerius percaya bahwa kekuatan berbahaya harus dikendalikan sebelum menimbulkan bencana.
Leo percaya bahwa ketakutan dan ketidaktahuan bukan alasan untuk menghukum seseorang.
Dan keduanya tidak mau mengalah.
Leo akhirnya berhasil menciptakan jarak.
Ia menatap Valerius dengan frustrasi.
“Kalau terus begini, kalian tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi!”
Valerius hendak menjawab—
ketika tiba-tiba terdengar suara dari dinding.
KRRRRAAAAK!
Semua orang berhenti.
Leo menoleh.
Valerius juga.
Dinding perpustakaan bergetar.
Debu jatuh dari langit-langit.
Kemudian—
BRAAAK!
Sesuatu menghantam dinding dari luar.
Batu dan kayu beterbangan.
Para penjaga langsung mengangkat senjata.
Dari balik lubang besar yang baru terbentuk, terdengar suara geraman rendah.
Sesuatu yang jauh lebih besar daripada makhluk Blighted sebelumnya perlahan masuk ke dalam perpustakaan.
Tubuhnya memenuhi hampir seluruh celah dinding.
Bayangan hitam menyelimuti tubuhnya.
Matanya menyala merah keunguan.
Semua orang terdiam.
Leo menatapnya.
“...Itu bukan yang tadi.”
Makhluk tersebut mengangkat kepalanya.
Satu gerakan saja membuat lantai bergetar.
Para penjaga mulai mundur.
Namun sebelum siapa pun sempat menyerang—
Seseorang muncul dari balik debu.
Sosok berjubah panjang berjalan perlahan di belakang makhluk tersebut.
Tidak terburu-buru.
Tidak terlihat takut.
Bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bertarung.
Ia hanya berdiri di tengah kehancuran.
Kemudian kepalanya sedikit miring.
Seolah-olah sedang mengamati sebuah eksperimen yang baru saja menghasilkan sesuatu yang menarik.
Tatapannya berpindah dari makhluk Blighted...
kepada Valerius...
lalu berhenti pada Leo.
Sosok itu tidak mengatakan apa-apa.
Namun ketenangannya justru membuat suasana menjadi semakin tidak nyaman.
Seolah-olah seluruh kekacauan di ruangan tersebut bukanlah sesuatu yang mengejutkan baginya.
Melainkan...
sebuah hasil yang sudah lama ingin ia lihat.