Jari Leo tinggal beberapa sentimeter dari permukaan pecahan obsidian itu.
Denyut merah dari dalam relic semakin kuat.
Sekali.
Dua kali.
Lalu—
Denyut.
Cahaya merah menyelimuti pandangannya.
Dalam sekejap, perpustakaan yang runtuh itu menghilang.
Tidak ada rak buku.
Tidak ada lantai batu.
Tidak ada suara pertempuran dari Arcana Guard.
Tidak ada apa pun.
Hanya kegelapan.
Leo berdiri sendirian di tengah ruang kosong yang tidak memiliki ujung.
Ia menoleh ke belakang.
Tidak ada jalan kembali.
“Di mana...?”
Suara Leo terdengar aneh di dalam ruang itu. Gema suaranya memantul berkali-kali sebelum akhirnya menghilang.
Kemudian ia mendengar sesuatu.
Langkah kaki.
Pelan.
Berat.
Dari balik kegelapan.
Leo langsung berbalik.
Sosok itu muncul.
Awalnya hanya berupa bayangan.
Kemudian bentuknya perlahan menjadi jelas.
Tubuh tinggi dengan bentuk yang menyerupai manusia, tetapi seluruh tubuhnya diselimuti kegelapan pekat. Bayangan bergerak di permukaannya seperti sesuatu yang hidup. Retakan merah menyebar dari bagian dada hingga ke lengannya.
Leo tidak bergerak.
Tatapannya terpaku pada makhluk tersebut.
Ada sesuatu yang terasa salah.
Bukan karena bentuknya mengerikan.
Bukan karena auranya.
Melainkan karena...
Leo mengenali kekuatannya.
Makhluk itu mengangkat tangannya.
Bayangan berkumpul di telapak tangannya.
Leo langsung mengenali gerakan tersebut.
Ia pernah melakukan hal yang sama.
Berkali-kali.
Makhluk itu menggerakkan tangannya sedikit ke samping.
Bayangan mengikuti gerakannya.
Persis seperti Arcana milik Leo.
Leo mundur satu langkah.
“Tidak...”
Makhluk itu berhenti.
Kepalanya perlahan terangkat.
Matanya yang menyala merah menatap tepat ke arah Leo.
Tidak ada ekspresi.
Namun tatapan itu membuat tubuh Leo menegang.
Seolah-olah makhluk tersebut tidak sedang melihat seorang musuh.
Melainkan...
melihat sesuatu yang sudah dikenalnya sejak lama.
Leo mencoba memanggil Arcana-nya.
Bayangan muncul di sekitar tangannya.
Tetapi ketika melihat bayangan miliknya sendiri, ia kembali melihat sosok di hadapannya.
Keduanya memiliki sifat yang sama.
Gerakannya sama.
Energinya sama.
Hanya saja, milik makhluk itu jauh lebih liar.
Jauh lebih gelap.
Dan jauh lebih mengerikan.
Leo menggertakkan giginya.
“Siapa kau?”
Makhluk itu tidak menjawab.
Ia hanya melangkah maju.
Satu langkah.
Leo mundur.
Satu langkah lagi.
Leo kembali mundur.
Untuk pertama kalinya, insting bertarung yang selama ini selalu menyelamatkannya justru berteriak untuk melakukan sesuatu yang berbeda.
Pergi.
Bukan menyerang.
Bukan bertahan.
Lari.
Leo membeku.
Ia tidak pernah membiarkan rasa takut mengendalikan dirinya seperti ini.
Bahkan ketika berhadapan dengan monster yang jauh lebih besar darinya, pikirannya selalu bekerja.
Mencari kelemahan.
Mencari pola.
Mencari cara untuk menang.
Namun sekarang pikirannya kosong.
Karena untuk pertama kalinya, musuh di hadapannya memiliki sesuatu yang tidak bisa ia pahami.
Kemiripan.
Makhluk itu kembali mengangkat tangannya.
Bayangan mulai berkumpul.
Leo secara refleks melakukan hal yang sama.
Kegelapan mengelilingi lengannya.
Dua kekuatan yang serupa saling berhadapan.
Lalu makhluk itu menyerang.
WHOOOM!
Gelombang bayangan melesat ke arah Leo.
Leo mengangkat tangan.
Penghalang terbentuk.
Benturan terjadi.
Namun bukannya terdorong mundur, makhluk itu justru terus menekan.
Bayangan hitam memenuhi seluruh penglihatan Leo.
Ia mencoba memperkuat pertahanannya.
Tetapi semakin kuat ia menggunakan Arcana-nya, semakin jelas sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Makhluk itu tidak hanya memiliki kekuatan yang serupa.
Ia menggunakan kekuatan tersebut seolah-olah kekuatan itu adalah bagian alami dari dirinya.
Seolah-olah ia tidak sedang menggunakan Arcana.
Seolah-olah...
ia memang tercipta dari Arcana itu sendiri.
Pertahanan Leo mulai retak.
Ia terlempar beberapa meter.
Tubuhnya menghantam sesuatu yang tidak terlihat.
Leo terengah.
Makhluk itu masih berdiri.
Tidak terluka.
Tidak terganggu.
Kemudian tubuhnya mulai berubah.
Bayangan di sekitar tubuhnya menjadi semakin tebal.
Bentuknya semakin besar.
Lebih liar.
Lebih mengerikan.
Dan semakin mirip dengan bentuk yang selama ini Leo takutkan tanpa pernah benar-benar bisa menjelaskannya.
Leo menatapnya dengan mata melebar.
“Ini...”
Napasnya tercekat.
Ia tidak tahu kenapa.
Namun sesuatu di dalam dirinya berteriak bahwa ia tidak seharusnya melihat wujud tersebut.
Seolah-olah ada bagian dari dirinya yang mengenalinya.
Seolah-olah ada ingatan yang terkubur jauh di dalam pikirannya dan sekarang sedang berusaha muncul ke permukaan.
Makhluk itu membuka mulut.
Suara yang keluar bukanlah suara manusia.
Bukan pula raungan monster biasa.
Suara itu seperti jeritan yang berasal dari tempat yang sangat jauh.
Tetapi Leo mendengarnya dengan jelas.
Dan semakin lama ia mendengarnya, semakin kuat rasa takut itu.
Bukan takut terhadap kematian.
Bukan takut terhadap monster.
Melainkan takut terhadap kemungkinan yang jauh lebih buruk.
Bagaimana jika kekuatan yang selama ini ia gunakan untuk melindungi orang lain sebenarnya mampu menghancurkan mereka?
Pikiran itu menghantam Leo lebih keras daripada serangan apa pun.
Ia melihat kembali tangannya.
Bayangan masih menyelimutinya.
Kekuatan yang sama yang pernah menyelamatkannya.
Kekuatan yang membuatnya mampu menjadi Phantom Cipher.
Kekuatan yang selama ini ia anggap sebagai bagian dari dirinya.
Untuk pertama kalinya, Leo mempertanyakan semuanya.
Bagaimana jika ia kehilangan kendali?
Bagaimana jika suatu hari nanti Arcana itu mengambil alih?
Bagaimana jika monster di hadapannya bukan sekadar gambaran tentang kekuatan yang rusak?
Bagaimana jika itu adalah sesuatu yang lebih dekat dari yang ia bayangkan?
Leo tidak mampu bergerak.
Tubuhnya membeku.
Pikirannya berhenti bekerja.
Makhluk itu mendekat.
Semakin dekat.
Sampai akhirnya berdiri hanya beberapa langkah di hadapannya.
Leo menatap wajahnya.
Untuk sepersekian detik, ia merasa seolah-olah sedang menatap sebuah cermin.
Bukan cermin yang menunjukkan wajahnya.
Melainkan cermin yang menunjukkan sesuatu yang selama ini tersembunyi di baliknya.
Sesuatu yang tidak ingin ia kenali.
Makhluk itu mengangkat tangannya.
Jarinya perlahan mendekati wajah Leo.
Leo ingin bergerak.
Namun tubuhnya tidak merespons.
Ketakutan itu telah mengambil alih.
Lalu—
CRACK!
Semuanya pecah.
Vision tersebut hancur seperti kaca.
Leo tersentak.
Udara kembali memenuhi paru-parunya.
Ia masih berada di perpustakaan.
Pecahan obsidian masih berada di hadapannya.
Tangannya masih terulur.
Tetapi ia segera menariknya kembali.
Leo terengah-engah.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Ia menatap tangannya sendiri.
Bayangan di sana perlahan menghilang.
Tidak ada monster.
Tidak ada ruang gelap.
Tidak ada suara jeritan.
Namun perasaan itu masih ada.
Ketakutan tersebut belum pergi.
Leo menatap relic.
“...Apa yang sebenarnya kau tunjukkan kepadaku?”
Tidak ada jawaban.
Hanya cahaya merah yang berdenyut lemah dari dalam pecahan obsidian itu.
Leo mengatupkan rahangnya.
Ia tidak tahu apa yang baru saja dilihatnya.
Ia tidak tahu apakah itu masa lalu.
Masa depan.
Kemungkinan lain.
Atau bahkan sesuatu yang sama sekali berbeda.
Tetapi satu hal kini jelas.
Relic itu tidak menunjukkan sesuatu secara acak.
Ia menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.
Dan kemungkinan itu jauh lebih menakutkan daripada makhluk mana pun yang pernah ia hadapi.
Leo mencoba menarik napas dan menenangkan pikirannya.
Ia harus pergi.
Ia membutuhkan waktu untuk memahami apa yang baru saja terjadi.
Namun sebelum ia sempat bergerak—
“Phantom Cipher!”
Suara keras menggema di seluruh ruangan.
Leo langsung menoleh.
Di ujung ruangan, beberapa anggota Arcana Guard berdiri dengan senjata mereka siap.
Di belakang mereka, Commander Valerius melangkah maju.
Tatapannya langsung tertuju kepada Phantom.
Leo terdiam.
Valerius mengangkat senjatanya.
“Jangan bergerak.”
Bayangan perlahan muncul di sekitar kaki Leo.
Tatapan keduanya bertemu.
Valerius menarik napas pendek sebelum memberikan perintah terakhir.
“Phantom Cipher! Menyerah, atau hadapi konsekuensinya!”
Leo tidak menjawab.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya.
Bukan hanya karena Valerius telah menemukannya.
Bukan hanya karena Arcana Guard mengepungnya.
Melainkan karena di dalam pikirannya, sosok dari vision tadi masih berdiri.
Menatapnya.
Seolah-olah menunggu Leo menemukan jawaban atas satu pertanyaan yang belum mampu ia ucapkan.
Jika itu bukan dirinya...
lalu mengapa rasanya seperti sedang melihat bayangannya sendiri?