Chapter 10 of 36

Chapter 10 — The Relic's Gaze

767 words

Perpustakaan tua Eclipse Academy terasa jauh lebih sunyi dibandingkan bagian bangunan lainnya. Phantom Cipher bergerak perlahan di antara rak-rak yang dipenuhi debu. Di kejauhan terdengar suara benturan. BOOM! Lantai bergetar. Phantom berhenti. Suara itu berasal dari ruang utama perpustakaan. “Sudah mulai...” Ia bergerak mendekat. Dari balik rak besar, Phantom mengintip. Pemandangan di hadapannya membuatnya terdiam. Beberapa anggota Arcana Guard sedang bertarung. Bukan melawan Arcana Beast biasa. Makhluk-makhluk yang mereka hadapi memiliki tubuh yang diselimuti noda hitam seperti kabut pekat. Mata mereka menyala dengan warna merah keunguan, sementara energi gelap mengalir dari tubuh mereka. Blighted creatures. Salah satu makhluk menerjang seorang Guard. “Formasi!” Tiga Guard mengangkat senjata Arcana mereka secara bersamaan. Ledakan cahaya menghantam makhluk itu dan melemparkannya ke rak buku. Rak tersebut runtuh. Buku-buku berjatuhan ke lantai. Namun makhluk itu kembali bangkit. Phantom menyipitkan mata. “Mereka... sama seperti yang kulihat di District Seven.” Jadi makhluk-makhluk itu sudah berada di sini sebelum Arcana Guard tiba. Atau mungkin— mereka memang muncul karena sesuatu di tempat ini. Phantom tidak punya waktu untuk mencari tahu. Pertarungan membuat perhatian para Guard terpecah. Itu kesempatannya. Ia bergerak. Bayangannya menyelimuti tubuh. Dalam sekejap, Phantom melesat melewati sisi ruangan tanpa menarik perhatian. Satu langkah. Dua langkah. Ia melewati seorang Guard yang sedang membantu rekannya. Kemudian masuk lebih dalam. --- Suara pertarungan perlahan menjauh. Phantom tiba di bagian terdalam perpustakaan. Di sana, suasananya berbeda. Tidak ada debu yang beterbangan. Tidak ada rak yang runtuh. Tidak ada suara pertempuran. Hanya sebuah ruangan bundar dengan langit-langit tinggi. Di tengah ruangan berdiri sebuah pedestal batu. Dan di atasnya— sebuah pecahan batu berwarna hitam pekat. Bentuknya tidak beraturan. Permukaannya menyerupai obsidian, tetapi terlalu halus untuk menjadi batu biasa. Di dalamnya terdapat cahaya gelap yang bergerak perlahan. Denyut. Cahaya itu berdenyut. Phantom berhenti. “Itu... relic?” Sama seperti yang disebut Valerius. Ia melangkah mendekat. Denyut. Semakin dekat ia bergerak, semakin kuat resonansi yang ia rasakan dari dalam tubuhnya. Bayangan di bawah kakinya mulai bergerak sendiri. Phantom menatap tangannya. “Ini sama seperti glyph.” Satu langkah lagi. Dadanya terasa berat. Namun anehnya, ia tidak merasa ingin mundur. Sebaliknya— ia merasa seperti sedang dipanggil. Seolah benda itu telah menunggunya. Phantom berdiri tepat di depan pedestal. Energi hitam dari relic perlahan melayang di udara. Tidak menyerang. Tidak mengancam. Hanya... menariknya. Pikirannya mulai terasa kosong. Suara pertarungan di kejauhan menghilang. Suara langkah para Guard menghilang. Bahkan suara napasnya sendiri terasa semakin jauh. Yang tersisa hanya relic tersebut. Denyut. Denyut. Phantom mengangkat tangannya. “Kalau kau memang terhubung dengan Arcana-ku...” Tangannya semakin dekat. “...tunjukkan alasannya.” Jarinya tinggal beberapa sentimeter dari permukaan relic. Lalu— KRAK! Udara di sekelilingnya bergetar. Phantom tersentak. Cahaya hitam meledak dari dalam relic. “—!” Seluruh ruangan menghilang. --- Leo berdiri di tengah kegelapan. Tidak ada lantai. Tidak ada dinding. Tidak ada langit. Hanya dirinya. Dan sesuatu di hadapannya. Sosok itu memiliki bentuk yang sama dengan Arcana miliknya. Bayangan. Siluet yang seharusnya ia kenal. Namun bentuknya telah berubah. Tubuhnya jauh lebih besar. Bayangannya memanjang seperti makhluk hidup. Bagian wajahnya tidak memiliki bentuk yang jelas. Dari tubuh hitam itu muncul retakan-retakan crimson. Kemudian— makhluk tersebut membuka mulut. Dan menjerit. AAAAAAARGH—! Leo menutup telinganya. Namun suara itu tidak datang dari luar. Suara itu muncul langsung di dalam pikirannya. Leo menatap makhluk tersebut dengan wajah pucat. “Tidak...” Makhluk itu terus menjerit. Bayangan yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya berubah menjadi sesuatu yang asing. Sesuatu yang liar. Sesuatu yang seolah kehilangan kendali. Leo mundur satu langkah. “Bukan...” Makhluk itu mengangkat kepalanya. Tatapannya— jika itu bisa disebut tatapan— langsung mengarah kepada Leo. Dan untuk sesaat, Leo merasa seperti sedang melihat kemungkinan dirinya sendiri. Kemungkinan tentang apa yang bisa terjadi pada Arcana-nya. Kemungkinan yang selama ini tidak pernah ia pikirkan. Bayangan itu menjerit sekali lagi. Leo membuka matanya lebar. “APA KAU...?” Gambaran tersebut tiba-tiba mendekat. Wajah monster bayangan itu memenuhi seluruh pandangannya. Lalu sebuah suara berbisik dari dalam kegelapan. “...ingat.” --- CRACK! Leo tersentak kembali. Ia berdiri di depan pedestal. Tangannya masih terulur. Relic tersebut bergetar hebat. Napasnya memburu. Untuk beberapa detik, Phantom hanya mampu menatap pecahan obsidian itu. Ia tidak tahu apa yang baru saja dilihatnya. Namun satu hal jelas. Relic itu tidak sekadar menunjukkan gambar. Ia menunjukkan sesuatu yang berkaitan langsung dengan Arcana miliknya. Dan mungkin... dengan dirinya sendiri. Dari kejauhan terdengar suara Guard. “Commander! Kami menemukan jejak energi di ruang utama!” Phantom langsung tersadar. Arcana Guard semakin dekat. Ia menarik tangannya. Tatapannya tetap tertuju pada relic. “Belum selesai.” Ia mundur satu langkah. Namun sebelum ia pergi— relic itu kembali berdenyut. Denyut. Phantom berhenti. Seolah benda itu masih menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah relic tersebut adalah kunci menuju jawaban— atau sesuatu yang sejak awal memang sedang menunggunya.

End of Chapter 10